Simple Template For Entertainment News


Tempat Informasi Kegiatan Kader DPC PKS Gajahmungkur


GALLERY


Minggu, 29 November 2009

Urgensi Syahadat (2)

Berikut ini adalah lanjutan seri Materi Tarbiyah yang berjudul Urgensi Syahadat. Karena pembahasannya cukup panjang, maka sengaja dibagi menjadi 3 postingan. Semoga bermanfaat buat kawan-kawan pembaca, dan mohon maaf bila kurang nyaman karena tidak ditulis secara keseluruhan dalam satu posting.
***

Landasan Perubahan (Asas Al-inqilab)

Bagi umat manusia yang semenjak awal hidupnya telah dituntun oleh syahadat dan dibimbing Islam, syahadat merupakan tonggak dan memandu jalan. Namun bagi umat manusia yang telah tersesat jalan, syahadat adalah prinsip yang menjadi titik tolak perubahan, baik secara individual maupun kolektif, menuju kehidupan yang sesungguhnya dikehendaki oleh sang Khaliq. Syahadat mengubah manusia secara total, karena terdapat prinsip dasar yang mengubah cara pandang manusia akan hakikat diri, alam semesta, dan tuhannya. Ibaratnya, syahadat membuat orang kafir kembali dilahirkan untuk kedua kali, karena ia mendapati kehidupannya yang sama sekali baru. Masyarakat jahiliyah yang telah sedemikian pekat kesesatan mereka, berhasil diubah oleh Nabi SAW dengan syahadat ini, baik orang per orang maupun masyarakat secara umum.

Perubahan Individual

Dalam konteks individual, bisa kita saksikan perubahan total yang terjadi pada masing-masing pribadi sahabat Nabi SAW. Umar bin Khattab yang selama masa jahiliyahnya begitu banyak melakukan kejahatan, setelah mengikrarkan kalimat syahadat, akhirnya berubah menjadi seorang Umar yang salih dan pembela kebenaran Islam. Sebelum Islam, Umar hanya dikenal sebagai jawara gulat yang selalu menjadi bintang di pasar Ukazh. Ia juga pembunuh salah satu anak perempuannya, pemabuk, pembenci Rasulullah dan para pengikutnya, hingga dikisahkan bahwa kejahatannya seorang diri lebih menakutkan dibanding kejahatan kaum Quraisy seluruh Makkah. Setelah beliau bersyahadat, lahirlah Umar dengan sosok yang dulu namun dengan kepribadian dan cara pandang yang berubah total.

Setelah bersyahadat, ia merupakan pembela Islam yang amat tangguh, pengasih sesama Muslim, pembeda antara yang hak dan yang batil, hingga mendapatkan julukan Al-Faruq. Ia merupakan manusia yang karena keimanannya yang teguh ditakuti bukan saja oleh orang kafir, bahkan setan pun lebih memilih jalan lain jika berpapasan dengan Umar. Ia juga yang didoakan Rasulullah agar masuk Islam, karena padanya terdapat kekuatan yang berarti bagi dakwah. Akhirnya, manusia yang sejarah masa lalunya penuh dengan cerita kelam itu, dengan syahadat bahkan akhirnya menjadi khalifah, amirul mukminin, di mana posisi itu tidak diberikan kepada semua orang.

Umar adalah contoh paling nyata sabda Rasulullah SAW,
“Sebaik-baik kalian di masa jahiliyah adalah sebaik-baik kalian di masa Islam” (HR. Ahmad)

Khalid bin Walid yang dahulu sedemikian gigih memerangi Islam semenjak di Makkah hingga hijrahnya Nabi ke Madinah, begitu membaca syahadat dan masuk Islam, berubah total menjadi pejuang kebenaran dan Islam hingga mendapatkan julukan Saifullah Al-Maslul (Pedang Allah yang terhunus). Pada perang Badar, Uhud, dan Khandaq, ia masih berperang melawan kaum muslimin. Pada tahun 8 H, Khalid baru masuk Islam, dan ia pantang meletakkan pedangnya yang basah oleh darah kaum muslimin karena harus menebus kesalahannya. Kini pedangnya itu basah oleh darah orang-orang kafir, karena ia bertempur di pihak kaum muslimin. Lihatlah, bagaimana ia menjadi pembela Islam setelah mengucap syahadat.

Ketika berkecamuk Perang Muktah, Khalid hanyalah prajurit biasa. Ia ikut berperang di bawah pimpinan tigas panglima Islam, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Atas kehendak Allah, satu per satu panglima Islam tersebut syahid di medan Muktah. Ketika panji perang diambil oleh Tsabit bin Arqam untuk diangkat tinggi-tinggi agar kaum muslimin tidak kacau balau. Dengan gesitnya, Tsabit melarikan kudanya menuju Khalid bin Walid, sembari menyerahkan bendera kepadanya.

“Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman!” kata Tsabit.

“Aku tidak pantas memegangnya, Andalah yang lebih berhak, karena Anda lebih tua dan telah menyertai Perang Badar,” jawab Khalid.

“Ambillah, engkau lebih tahu siasat perang dari pada aku, dan demi Allah, aku tidak akan mengambil panji perang ini kecuali untuk aku serahkan kepadamu.”

Setelah berkata demikian, Tsabit berseru kepada pasukan Islam, “Bersediakah kalian dipimpin oleh Khalid?” Serempak pasukan Islam menjawab, “Bersedia!” Akhirnya diambillah bendera perang tersebut dan Khalid memimpin pasukan Islam dengan gagah perkasa, dilandasi oleh pengalaman perang yang telah ia miliki sebelumnya. Inilah pembalikan total pada diri Khalid, dan musuh Islam yang banyak membunuh kaum muslimin dalam berbagai peperangan, hingga menjadi seorang panglima perang Islam.

Thufail bin Amr Ad-Dausi, seorang pemuda yang terlahir dari keluarga terhormat. Ia sering peringatan dan keluarganya, agar sekali-kali tidak mendengar perkataan Muhammad. Keluarganya selalu khawatir kalau Thufail menjadi pengikut Muhammad. Setiap Thufail ke Kakbah selalu menutup kedua telinganya dengan kapas, agar tidak mendengar perkataan Muhammad. Akan tetapi, takdir Allah menghendaki, suatu saat ketika di dekat Kakbah ia mendengar sebagian apa yang dibaca oleh Nabi SAW.

Sebagai ahli syair, Thufail bisa membedakan mana kalimat yang indah dan tidak indah. Begitu mendengar sebagian bacaan Rasulullah SAW tatkala shalat, bertambah kuatlah keinginannya untuk mengetahui ajaran Islam. Segera ia datang ke rumah Nabi dan meminta agar mendapatkan menyampaikan beberapa kalimat dan membacakan beberapa ayat Al-Qur’an. Demi mendengar penjelasan Nabi, tidak ragu lagi Thufail segera masuk Islam dengan membaca kalimat syahadat di depan Nabi SAW.

Lihatlah, bagaimana perubahan besar terjadi dalam dirinya! Baru saja ia mengucap dua kalimat syahadat, yang terbayang di benaknya adalah kewajiban untuk mendakwahi keluarga dan lingkungannya agar masuk Islam. Bergegas ia pulang kampung halamannya untuk menunaikan tugas besar tersebut. Orang yang pertama kali dijumpainya adalah bapaknya, untuk disampaikan kebenaran Islam. Luar biasa, tugas dakwah pertama ini berhasil. Bapaknya masuk Islam atas izin Allah, setelah mendengar keterangan Thufail. Orang kedua yang ia temui adalah ibunya dan disampaikan kalimat dakwah. Kembali ia berhasil melaksanakan tugas dakwah, ibunya pun segera masuk Islam.

Dakwah berlanjut kepada istrinya. Subhanallah, keterangan Thufail telah membuat istrinya berketetapan hati untuk masuk Islam. Selesailah tugas dakwah yang besar di lingkungan keluarganya sendiri. Bapak, ibu, dan istrinya telah masuk Islam. Thufail tidak berhenti. Segera ia sebar luaskan dakwah kepada tetangga dan seluruh masyarakat Daus. Betapa sedih hatinya tatkala dakwah kali ini tidak ada yang menyambut. Tidak ada masyarakat Daus yang mau masuk Islam atas dakwahnya, kecuali Abu Hurairah.

Segera Thufail pergi ke Makkah dan menjumpai Nabi SAW. ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak kuasa menghadapi banyaknya perjudian dan perzinaan di Desa Daus. Mohonkanlah kepada Allah agar Dia menghancurkan penduduk Daus.” Tetapi apakah yang dilakukan Nabi? Segera beliau menengadahkan tangan sembari memohon kepada Allah, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada penduduk Daus dan datangkanlah mereka kepadaku dengan memeluk Islam.” Setelah itu, beliau bersabda, “Kembalilah engkau kepada kaummu, dakwahilah mereka dan bersikap lembutlah kepada mereka.”

Ucapan Nabi pada pertemuan kedua ini amat menakjubkan bagi diri Thufail. Kata-kata yang amat indah, mencerminkan kepribadian yang amat luhur. Segera ia kembali ke kampung halamannya dan kembali melakukan dakwah kepada masyarakat Daus. Hari berganti hari, hingga Nabi SAW melaksanakan hijrah ke Madinah dan terjadilah Perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Pada saat Nabi SAW berada di Khaibar –setelah negeri itu sudah dikuasai kaum muslimin- satu rombongan besar penduduk Daus datang menghadap Nabi untuk menyatakan masuk Islam.

Subhanallah, ketekunan dakwah Thufail kembali membuahkan hasil. Delapan puluh kepala keluarga beserta seluruh penghuni rumahnya menghadap Nabi dan mengucapkan syahadat di depan beliau. Inilah contoh perubahan besar pada orang yang telah berikrar syahadat. Baru saja Thufail masuk Islam, ia segera bergerak tanpa menunggu besok, untuk mengajak orang lain menuju keindahan Islam. Syahadat adalah awal mula perubahan yang besar pada diri Thufail bin Amr ad-Dausi.

Kalimat Laa ilaaha ilallah telah membongkar mentalitas dan kejiwaan setiap manusia, dari penghambaan kepada sesama manusia dan penghambaan kepada benda-benda, menuju penghambaan hanya kepada Allah semata. Inilah kunci perubahan total yang terjadi pada individu dan masyarakat. Penghambaan kepada benda-benda telah membuat manusia menjadi hina dan tiada berharga, menyebabkan manusia menjadi kehilangan harkat kemanusiaannya.

Perubahan Sosial

Dalam konteks sosial, bisa kita saksikan perubahan total yang terjadi pada masyarakat paganis penyembah berhala di masa Nabi dibangkitkan. Di masa jahiliyah, mereka saling bermusuhan satu dengan yang lain, saling bermusuhan satu dengan yang lain, saling merampas hak, pencurian dan perampokan merajalela, gemar melakukan pembunuhan terhadap anak-anak perempuan, perzinaan dan mabuk-mabukan menjadi tradisi yang berkembang luas. Setelah mereka dicelup dalam shibghah Islam, terjadilah perubahan total.

Masyarakat Islam yang terbentuk setelah diutusnya Nabi SAW, diliputi oleh cinta dan kasih sayang sesama mereka, saling menjaga hak, menjaga martabat kemanusiaan, mengangkat dan memberikan penghormatan kepada kaum perempuan yang semula direndahkan, dan mereka tunduk kepada aturan Allah SWT dalam segala aspeknya. Tradisi minum khamr yang selama bertahun-tahun menjadi kebiasaan hidup masyarakat jahiliyah, masih terbawa pada sebagian masyarakat Islam. Namun begitu turun ayat-ayat yang melarang minum khamr, serentak masyarakat Islam meninggalkannya, tanpa ada yang membantah dan melanggar.

Anas bin Malik, seorang budak dari Abu thalhah, sat itu sedang melayani tamu-tamu tuannya, diantaranya Ubai bin Ka’ab, Suhail bin Baidha, Abu Ubaidah, dan lain-lain. Tiba-tiba ada yang mengabarkan bahwa telah turun ayat yang mengharamkan minum khamr. Sat itu pula para sahabat yang memegang botol minuman langsung memecahkannya, yang sudah melekatkan gelas di bibirnya langsung membuangnya dan yang telah terlanjur meminumnya memasukkan jari tangannya ke dalam mulut agar dapat memuntahkannya kembali. Simpanan-simpanan khamr yang ada di rumah langsung dibuang di jalan-jalan. Madinah, laksana banjri khamr. Mereka keluar rumah dan berteriak, “kami telah tinggalkan, wahai tuhan kami! Kami telah tinggalkan, wahai tuhan kami!”

Kaisaan, seorang sahabat pedagang khamr datang dari negeri Syam sambil membawa khamr dalam beberapa kantong kulit untuk dagangan. Dia menghadap Rasulullah SAW sambil membawa khamrnya.

“Wahai Rasulullah, aku datang membawa untukmu minuman yang lezat.” Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Kaisaan, khamr telah diharamkan sepeninggalmu.” “Lalu apa boleh saya menjualnya, wahai Rasulullah?” tanya Kaisaan. “Ia telah diharamkan diminum dan diharamkan untuk diambil harganya,” jawab Rasulullah SAW.

Segera Kaisaan keluar mengambil kantong-kantong khamr dagangannya dan ditendangnya kuat-kuat hingga hancur berantakan.

Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari pekerjaan-pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah : 91)

Dengan pengumuman itu, orang-orang yang semula di tangannya masih memgang botol dan gelas berisi minuman keras segera membuangnya; yang di dalam mulutnya ada seteguk arak segera memuntahkannya; yang masih menyimpan persediaan arak di rumah-rumahnya segera mengambil untuk membuangnya. Semua orang berseru, “Wahai tuhan kami, kami telah berhenti!” sebagai jawaban atas perintah Allah, …Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah : 91)

Demikianlah, perubahan dan pembalikan total terjadi pada masyarakat setelah mengikrarkan kelimat syahadat. Mereka mudah menerima dan melaksanakan aturan yang Allah berikan, tanpa tawar-menawar, tanpa keberatan, dan tanpa penolakan. (bersambung ke Urgensi Syahadat (3)) [sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]



READ MORE >>

Urgensi Syahadat

Alhamdulillah, Allah SWT mengijinkan blog ini untuk menampilkan conten baru dengan kategori Materi Tarbiyah. Diharapkan, materi tarbiyah yang diambilkan dari buku Seri Materi Tarbiyah, dll ini bermanfaat bagi para murabbi maupun mutarabbi. Pada postingan pertama ini akan dibahas tema Urgensi Syahadat. Selamat membaca.
***

Ajaran Islam adalah ajaran yang lengkap. Ia menyentuh semua segi kehidupan duniawi, baik lahir maupun batin. Untuk menjadi seorang muslim seutuhnya, seseorang harus memiliki komitmen yang utuh terhadap ajaran Islam. Keislaman yang hanya da di lahir namun batinnya kafir, maka tidaklah diterima. Kesilaman yang hanya di hati namun fisiknya tidak mau tunduk untuk mengamalkan perintah agama, juga tidak dibenarkan. Atau, mengamalkan sebagian ajaran agama dan meninggalkan sebagian yang lain, tidak juga dibenarkan.

Untuk menjadi sah keislaman seseorang, selain harus memiliki komitmen yang utuh, maka ia harus mendasari keislamannya dengan dua syahadat. Keislaman itu hanya dianggap benar manakala ditegakkan di atas fondasi syahadat. Apakah syahadat itu? Ia adalah ucapan persaksian atau pernyataan yang harus diucapkan seseorang untuk dianggap sebagai muslim. Dua syahadat itu terdiri dari syahadat tauhid dan syahadat risalah. Syahadat tauhid adalah pengakuan dan persaksian bahwa “Tidak ada tuhan selain Allah”, dan syahadat risalah adalah pengakuan dan persaksian bahwa “Muhammad adalah utusan Allah.”

Seorang anak yang lahir sebagai seorang Muslim dengan lingkungan yang islami dan tumbuh berkembang juga dengan didikan Islam, mereka tidak dituntut untuk mengucapkan syahadat itu secara formal, karena ia memang terlahir sebagai Muslim. Akan tetapi, bagi mereka yang lahir dari orang tua non-muslim, lalu tumbuh dan berkembang dengan didikan non-Islam pula, tatkala ia dewasa dan menjadi sadar dan kembali kepada Islam, ia harus mengucapkan syahadat itu. meskipun pengucapan syahadat itu sebenarnya tidak membutuhkan persaksian dari seorang pun –karena cukuplah Allah sebagai saksi- namun terkadang ia dihajatkan mengucapkan syahadat di hadapan orang banyak , agar secara sosial diketahui dan diterima kehadirannya sebagai Muslim.

Berikut ini akan dijelaskan urgensi seorang Muslim bersyahadat secara lebih terperinci.

Pintu Masuk dalam Islam (Al-Madkhal ila Al-Islam)

Jika seseorang memasuki ruang yang tetrutup, dia memerlukan password atau kunci untuk membuka pintunya. Demikian juga untuk masuk Islam, seseorang harus terlebih dahulu harus mengucapkan kalimat syahadatain (dua syahadat), yaitu laa ilaaha illallah dan Muhammadurrasuulullah. Inilah kunci Islam itu. Dengannya, seorang Muslim bisa mendapatkan semua yang dijanjikan Allah SWT, baik berupa diterimanya amal di dunia hingga pahala yang melimpah ruah di akhirat kelak. Tanpa kunci itu, semua amal –sebaik apapun dalam pandangan manusia- tidak ada nilainya di hadapan Allah SWT.

Seseorang yang beramal sebaik apapun, belum dianggap sebagai seorang Muslim jika belum mengucapkan dua kalimat syahadat. Meskipun seseorang menjalankan shalat, zakat, puasa, haji, hingga pun berjihad membela agama, akan tetapi bila dia belum mengucapkan kalimat syahadat, maka semua amalan tersebut akan tertolak. Dia belum disebut seorang Muslim, sehingga amalannya pun tidak dihitung sebagai amal shalih.

Abu Thalib, paman Rasulullah SAW adalah seorang yang berjuang membela Rasulullah SAW, keponakannya. Ketika menasihati keponakannya agar berhenti berdakwah menyebarkan Islam, maka Abu Thalib berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai keponakanku, kaummu telah datang kepadaku. Mereka mengatakan kepadaku begini dan begini. Sayangilah diriku dan dirimu, janganlah membebani diriku dengan persoalan yang berada di luar kesanggupanku.”

Rasulullah SAW menjawab, “Wahai paman, demi Allah, seandainya mereka itu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku menghentikan urusan ini, maka aku tidak akan berhenti sebelum Allah memenangkan agama-Nya atau aku binasa karenanya.” Kemudian Rasulullah SAW bangkjit dari duduk dan berlinang air matanya.

Melihat hal itu, Abu Thalib kemudian berkata, “Keponakanku, pergilah dan katakan apa saja yang kamu sukai. Demi Allah, kamu tidak akan kuserahkan kepada siappun juga, selamanya.”

Sejak saat itu, tiada hari yang dilalui oleh Abu Thalib kecuali untuk membela keponakannya dalam mendakwahkan Islam. Sayangnya, Abu Thalib sedikitpun tidak mau mengucapkan dua kalimat syahadat hingga menjelang sakaratul maut.

Menjelang kematian Abu Thalib, para pemuka kafir Quraisy berkumpul di sekelilingnya. Ketika itu Rasulullah SAW mencoba membimbing pamannya dengan berkata, “Wahai paman, katakan laa ilaaha illallah, satu kalimat yang dapat saya jadikan hujah untuk membela Anda di sisi Allah.”

Setelah Rasulullah SAW berkata seperti itu, Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah langsung menimpali, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?”

Begitulah detik-detik kematian Abu Thalib hingga kematiannya. Dia tidak mengucapkan kalimat syahadat. Rasulullah SAW masih berusaha memintakan ampunan kepada Allah SWT untuk pamannya dengan berkata, “Aku akan memohonkan ampunan untukmu selama tidak dilarang.”

Kemudian Allah SWT menurunkan dua ayat-Nya berikut ini dalam Al-Qur’an.

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam..” (QS. At-Taubah : 113)

Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi…” (QS. Al-Qashah : 56)

Sebagus apapun amalan seseorang, jika tidak pernah mengucapkan syahadat, maka akan sia-sia, sebagaimana amalan Abu Thalib. Umar bin Khattab pernah menangis ketika melihat para pastor dan rahib sambil membaca ayat,
“bekerja keras lagi kepayahan, memasuki apa yang sangat panas (neraka)”. (QS. Al-Ghassiyah : 3-4)

Konklusi Ajaran Islam (Khulaashah Ta’alim Al-Islam)

Materi dua kalimat syahadat terdiri dari dua prinsip. Pertama, pengakuan akan tiadanya tuhan (ilah) selain Allah dan kedua, pengakuan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kedua prinsip ini mengandung dua konklusi ajaran Islam, yang keduanya menjadi landasan bagi diterimanya amal. Jika seorang Muslim mengamalkan suatu amalan, baik itu berupa ibadah mahdhah (khusus), seperti shalat, atau ibadah amah (umum) seperti sedekah, maka kedua landasan itu harus melekat padanya. Pertama, ikhlas karena Allah dan kedua, sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.

Ikhlas Karena Allah SWT

Kalimat laa ilaaha illallah, mengandung prinsip ikhlas. Demikian itu karena kata ilah, yang umumnya diterjemahkan dengan “tuhan” ternyata mengandung pengertian yang jauh lebih spesifik. Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan arti kata “ilah” dengan mengatakan, “Segala sesuatu yang dicenderungi hati dengan seluruh perasaan cinta, pengagungan, penghormatan, pemuliaan, rasa takut, rasa harap, dan lainnya.”

Maka kalimat laa ilaaha illallah berarti tidak ada sesuatu yang dicenderungi oleh hati dengan seluruh perasaan cinta, kecuali Allah SWT. Dalam kalimat ini terkandung hakikat ikhlas itu, di mana seseorang hanya mengharapkan ridha dan pahala Allah dalam beramal, sebelum mendapatkan berbagai tujuan duniawi.

Jadi, bila seseorang beramal disertai hati yang cenderung kepada selain Allah, maka sesungguhnya dia telah melanggar prinsip ikhlas itu.

Ikhlas memang rumit, karena ini menyangkut perasaan dan niat. Ada ketidakikhlasan (riya’) yang jelas, namun ada pula yang samar dan mudah menipu kita.

Jika Anda mengerjakan shalat sunah Dhuha, namun tujuannya agar disebut ahli ibadah sunah oleh mereka yang menyaksikan, maka jelaslah bahwa amalan Anda tidak berpahala karena tidak ditujukan bagi Allah.

Demikian pula jika Anda bersedekah kepada orang lain dengan mengharapkan balasan kebaikan dari orang yang Anda sedekahi, maka jelas bahwa amalan Anda tidak ada pahalanya di sisi Allah, karena memang Anda tidak menghendaki itu. Hal ini relatif jelas unsur riya’nya.

Jika Anda bersedekah dan merasa ikhlas, namun di kemudian hari orang yang Anda sedekahi berbuat sesuatu yang menyakiti hati Anda dan Anda tidak suka dengan mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah diberikan kepadanya, maka sesungguhnya Anda telah gagal mempertahankan ikhlas. Ternyata Anda tidak semata-mata mengharap ridha Allah SWT sebagaimana perkiraan Anda semula, namun juga ingin dibalas oleh orang yang Anda sedekahi. Keadaan perasaan seperti ini jelas meruntuhkan ikhlas itu. Anda hanya disebut ikhlas jika tidak ada bersitan perasaan sedikitpun dengan kebaikan yang pernah Anda berikan, meskipun ia membalas Anda dengan perilaku yang buruk. Di sinilah letak rumit dan sulitnya ikhlas karena Allah, namun ia harus tetap ditegakkan dan diperjuangkan kaehadirannya. sebenarnya, perasaan riya’ merupakan benih dari syirik, yaitu mempersekutukan Allah. Na’udzubillah min dzaalik.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW besdabda,
“Sesunggunya sesuatu yang paling ringan namun paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah SWT berfriman pada hari kiamat, ketika memberikan balasan kepada manusia atas amalan mereka, “Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Perhatikan apakah kamu mendapatkan balasan dari mereka?” (HR Ahmad)

Riya’ bukan saja atas amal yang kita lakukan, namun riya’ juga bisa berjangkit ketika seseorang meninggalkan amal namun tujuannya justru agar disebut sebagai orang yang tidak berbuat syirik atau riya’.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Melakukan amal karena manusia itu syirik. Meninggalkan amal karena manusia itu riya’. Sedangkan ikhlas adalah ketika Allah melepaskan kalian dari keduanya.”

Ar-Raghib Al-Asfahani dalam kitabnya Mufradat Alfadz Al-Qur’an mengartikan ikhlas dengan “Melepaskan (hati) dari segala sesuatu selain Allah SWT”

Allah SWT berfriman,
“Dan tiadalah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah : 5)

Mengikuti Petunjuk Rasulullah SAW

Kalimat syahadat yang kedua adalah Muhammadurrasuulullah yang artinya “Muhammad adalah utusan Allah.” Syahadat kedua ini juga mengandung prinsip dasar ajaran bahwa Muhammad SAW adalah ikutan dan rujukan dalam praktik ibadah kepada Allah SWT, karena beliaulah wasiithah (perantara) yang menghubungkan umat manusia dengan Allah SWT.

Untuk dapat menegakkan prinsip ini, seorang Muslim harus ittiba’ (mengikuti) petunjuk Rasulullah dalam setiap gerak dan amalannya. Allah SWT berfirman,
“Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku…” (QS. Ali Imran : 31)

Ittiba’ kepada Rasulullah SAW adalah menjadikan Rasul sebagai uswah (teladan) dalam menjalankan perintah Allah SWT. Dengan kata lain, mengaplikasikan sunah Rasul dalam kehidupan praktis sehari-hari, baik dalam kaitan amal ibadah khusus maupun ibadah secara umum. Dimulai membuka mata bangun tidur, hingga menutup mata untuk tidur. Mulai membuka mata ketika lahir di dunia, hingga menutup mata menuju kematian.

Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab : 21)

Rasulullah SAW bersabda,
“Wajib atas kalian mengikuti Sunahku dan sunah para khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk. peganglah kuat-kuat sunah itu dan tinggalkanlah perkara-perkara yang baru. Maka sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Tirmidzi)

Hanya saja perlu dipahami bahwa amal ibadah itu ada dua kategori, yaitu: mahdhah dan ammah.

Pertama, mahdhah
Kata “mahdhah” berarti “murni”. Maksudnya adalah amal-amal ibadah yang bersifat ritual. Biasanya ia datang dalam bentuk paket amal dengan kaifiyah (detail teknis)-nya, misalnya: shalat dan haji. Kedua amalan ini sarat dengan tuntunan teknis, dari gerakan-gerakan hingga waktu yang telah ditetapkan secara ketat. Ada syarat-syarat dan rukun-rukun yang secara disiplin harus dikerjakan, di mana jika kita tidak memenuhi salah satu dari berbagai syarat atau rukun itu, shalat dan haji tidak sah hukumnya.

Untuk ibadah jenis ini berlaku kaidah, “Prinsip dasar untuk ibadah adalah dilarang, hingga datangnya dalil yang memerintah.”

Ittiba’ Rasulullah dalam ibadah jenis ini adalah mengikuti teks-teks dalil secara detail, baik dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW. Jika mau mengamalkan, maka pertanyaannya adalah: adakah dalil yang memerintahkan? Jika tidak ada, maka amalan itu haram hukumnya dilakukan. Namun jika ada dalilnya, maka barulah amal itu disyariatkan. Yang disyariatkan iini pun masih memiliki kemungkinan hukum yang beragam, bisa bersifat perintah (wajib) atau anjuran (sunnah). Untuk mengetahuinya, perlu mengkaji buku-buku fiqih ibadah.

Kedua, ‘ammah.

Kata “ammah” berarti “umum”, maksudnya adalah jenis-jenis ibadah yang tidak secara ketat dituntunkan kaifiyahnya. Jenis ibadah ini sangat banyak, meliputi semua perbuatan yang diakui kebaikannya oleh nurani umat manusia. Oleh karenanya, disebut amalan yang makruf (dikenal) dan lawannya adalah mungkar (diingkari).

Dalam ibadah jenis ini berlaku kaidah, “Prinsip dasar untuk segala sesuatu itu boleh, hingga ada dalil yang melarangnya.” Kaidah ini menjelaskan bahwa untuk hal-hal yang bersifat ammah, maka hukum dasarnya adalah boleh. Misalnya, Allah SWT mempersilakan umat manusia untuk memakan makanan apa saja, baik daging binatang maupun buah dan sayuran –tentu yang layak dan patut dimakan- kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya.

Demikian juga dengan cara bergaul dengan orang lain. Manusia sesuai dengan tabiatnya membutuhkan interaksi sosial. Cara manusia melakukan hubungan sosial itu sudah ada semenjak dulu, sesuai dengan tata cara dan tradisi yang disepakati mereka, dengan beberapa perbedaan dan varian kecil antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Islam pun datang dalam urusan ini tidak dengan membuat cara dan aturan yang detail, namun hanya memberikan rambu-rambu larangan agar rambu itu tidak dilanggar. Jika pun ada aturan yang khas Islam dan benar-benar baru, jumlahnya sangat sedikit. Misalnya mengucapkan salam jika bertemu. Selebihnya, sesuaikan dengan kondisi setempat dan hindari larangan syariat.

Oleh karenanya, ittiba’ Rasulullah dalam ibadah jenis ini adalah tatkala perbuatan kita tidak melanggar larangan syariat. Semua itu disebut sebagai amalan dan kegiatan yang syar’i. Dengan demikian, kita bisa mendapatkan pahala dari amalan itu selama dikerjakan dalam rangka mencari ridha Allah SWT.

Pertanyaan untuk ibadah jenis ini adalah: apakah ada dalil yang melarang? Jika tidak ada berarti boleh dilakukan, namun jika ada maka tidak boleh dikerjakan, itu pun masih dalam ragam larangan, bisa berupa larangan mutlak (haram) atau dibenci (makruh).

Kedua prinsip dalam ibadah ini, yaitu ikhlas karena Allah dan ittiba’ Rasulullah, merupakan konklusi dari seluruh ajaran Islam. Semua amal di sisi Allah hanya akan ditimbang dengan dua timbangan ini, yakni ikhlas (berarti: lurus) dan ittiba’ Rasul (berarti: benar atau shawab). Ikhlas adalah buah dari syahadat pertama, sedangkan ittiba’ adalah buah dari syahadat kedua.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan, “Sesungguhnya sebuah amal jika dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka akan ditolak Allah SWT. Jika sebuah amal dilakukan dengan benar tetapi tidak ikhlas, maka akan ditolak Allah SWT. Ikhlas maksudnya adalah karena Allah dan benar maksudnya sesuai sunnah Rasulullah SAW.” (bersambung ke Urgensi Syahdat (2)) [sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]



READ MORE >>

muhasabah untuk para perindu angin segar

dikirim : Faqieh Putra Irawan (lewat pesan Facebook DPC Pks Gajahmungkur Semarang)



Adalah seorang pemuda yang tengah berjalan- jalan ditepi hutan untuk mencari udara segar, ketika dia tengah berjalan, tiba -tiba terdengarlah Bunyi auman suara harimau…
Auuuummmm… .!!!!!
Seekor harimau yang sedang lapar Dan mencari mangsa untuk mengisi perutnya Dan tiba-tiba Sudah berada dihadapan pemuda . pemuda tadi karena takut, diapun berlari semampu dia bisa, Harimau yang sedang lapar tentunya tidak Begitu saja melepas mangsa empuk di depan matanya, harimau itupun mengejar pemuda tadi. Ditengah kepanikkannya, pemuda tadi masih sempat Berdoa, agar diselamatkan dari terkaman harimau,…rupanya doanya dikabulkan, dalam pelariannya dia melihat sebuah sumur tua,..terlintas Dibenaknya untuk masuk kedalam sumur itu,..karena harimau pasti tidak akan mengejarnya ikut masuk kesumur
tersebut.

Beruntungnya lagi ternyata sumur tersebut ditengahnya Ada tali menjulur ke bawah, jadi pemuda tadi tidak harus melompat yang mungkin saja bisa membuat kakinya patah karena dalamnya sumur tersebut. Tapi ternyata tali itu pendek Dan takkan sanggup membantu dia sampai kedasar sumur, hingga akhirnya dia bergelayutditengah- tengah sumur, ketika tengah bergelayut.
Dia menengadahkan mukanya keatas ternyata harimau tadi masih menunggunya dibibir sumur, Dan ketika dia menunduk kebawah, terdengar suara kecipak air,..setelah diamati ternyata Ada 2 ekor buaya yang ganas yang berusaha menggapai badannya,.

Ya Allah bagaimana ini, diatas aku ditunggu harimau, dibawah buaya siap menerkamku, ketika dia tengah berpikir caranya keluar, tiba-tiba dari Pinggir sumur yang Ada lobangnya keluarlah seekor tikus putih
..ciiit…ciiit. .. ….ciit…yang naik meniti tali pemuda tadi Dan mulAI menggerogoti tali pemuda tadi,..belum hilang keterkejutannya dari lobang Satunya lagi muncul seekor tikus hitam yang melakukan hal sama seperti tikus putih menggerogoti tali yang dipakai pemuda tuk bergelantungan. Waduh …jika tali ini putus, .habislah riwayatku dimakan
buaya..!!! Cemas dia berpikir,… jika aku naik keatas ….sudah pasti harimau menerkamku,. ..jika menunggu disini…lama- lama tali ini akan putus Dan Buaya dibawah siap menyongsongku. .. Saat itulah dia mendengar dengungan rombongan lebah yang sedang mengangkut madu untuk dibawa kesarang mereka,..dia mendongakkan wajahnya ke atas..Dan tiba-tiba jatuhlah setetes madu dari lebah itu langsung tertelan ke mulut pemuda tadi. Spontan pemuda tadi berkata…Subhanall ah ..Alangkah manisnya madu Ini,..baru sekali ini aku merasakan
madu semanis Dan selezat ini…!!! Dia lupa akan ancaman buaya Dan harimau tadi.

Tahukah kamu, inti dari cerita diatas…Huh
Pemuda tadi adalah Kita semua, harimau yang mengejar adalah maut Kita, ajal memang selalu mengejar. Kita. Jadi ingatlah akan mati. Dua ekor buaya adalah malaikat munkar Dan nakir yang menunggu Kita di alam kubur Kita nantinya . Tali tempat pemuda bergelayut adalah panjang umur Kita,..jika talinya panjang maka pendeklah umur Kita,
jika talinya pendek maka panjanglah Umur Kita. Tikus putih Dan tikus hitam adalah dunia Kita siang Dan juga malam yang senantiasa mengikis umur Kita.Diibaratkan di cerita tadi tikus yang menggerogoti tali pemuda.Madu setetes adalah nikmat dunia yang hanya sebentar. Bayangkan madu setetes tadi masuk ke mul UT pemuda,…sampai dia lupa akan ancaman harimau Dan buaya,.. begitulah Kita, ketika Kita menerima nikmat sedikit, Kita lupa kepada Allah.Ketika susah baru ingat kepada Allah.. Astaghfirullah

1 menit untuk mengingat Allah...

Sebutlah dengan sepenuh hati dan lidah yang fasih akan:
SUBHANA’LLAH...ALHAMDULI’LLAH...LA I LAHA ILLA’LLAH..ALLAHU AKBAR...
ASTAGHFIRU LLAH...LA ILAH ILLA’LLAH, MUHAMMAD RASULULLAH..
READ MORE >>

Haji Momentum Hilangkan Segala Perpecahan

Dr. Muhammad Mahdi Akif
Pada momen muktamar terbesar yang disaksikan dunia, pada Haji Wada' Rasulullah Saw. berdiri tegak di hadapan lebih dari 100.000 muslim; umat yang disatukan oleh Islam




Puji syukur kepada Allah. Shalawat beriring salam kepada Rasulullah Saw, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Yang kami cintai, para penunai haji ke rumah Allah, yang bertaubat (kembali) kepada Allah, meninggalkan rumah mereka, menghadapi segala rintangan dunia, untuk memenuhi panggilan Allah Swt.. Menuju haji dengan kerinduan, kecintaan, dan ketaatan akan perintah Allah. Berbondong-bondong mengumandangkan syiar memenuhi panggilan pencipta dengan bertalbiah: Labbaikallâhumma labbaik, labbaika lâ syarîka laka labbaik.

Assalâmu‘alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh

Pada momen muktamar terbesar yang disaksikan dunia, pada Haji Wada' Rasulullah Saw. berdiri tegak di hadapan lebih dari 100.000 muslim; umat yang disatukan oleh Islam, di mana sebelumnya mereka bergelimang antara kubang hitam perpecahan dan kobaran api fanatisme.

Di hari Haji Wada' itu, Rasulullah berdiri, mengingatkan umat Islam akan bahaya upaya setan untuk mengembalikan umat Islam ke jurang perpecahan dan fanatisme jahiliah. Saat itu Rasulullah Saw. menyeru,

"أَلاَ لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ، أَلاَ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ وَلَكِنَّهُ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَكُمْ" (مسند أحمد)

"Setelah aku tiada, janganlah sekali-kali kalian kembali kepada kekafiran, di mana sebagian kalian membunuh sebagian yang lain. Sungguh setan telah putus asa karena ia tidak lagi disembah oleh orang-orang yang melakukan shalat. Akan tetapi, ia selalu berupaya keras untuk menghasut di antara kalian." (HR. Imam Amad).

Maksudnya, makar setan atas umat yang bersatu ini adalah, menghasut (memprovokasi) sesama mereka dengan permusuhan, dengki, perang, fitnah, dan lainnya.

Dan pada haji terakhir itu, Rasulullah Saw. juga meminta umat Islam yang hadir untuk menyampaikan isi khutbah kepada seluruh umat Islam. Rasulullah Saw. bersabda,

"لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ؛ ‏رُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ" (صحيح البخاري)

"Hendaknya orang-orang yang hadir (mendengar khutbah haji Wada' ini) menyampaikan kepada yang tidak hadir. Bisa jadi orang yang disampaikan itu lebih mengerti dari pada orang yang mendengar langsung." (Sahih Bukhari).

Hingga saat ini, umat Islam masih bergembira dengan taujihat nabawiah ini. Seluruh umat Islam berkumpul melakukan ibadah haji tahun demi tahun, mendeklarasikan totalitas ibadah, ikhlas karena Allah, dan menanggalkan seluruh sebab-sebab perpecahan. Sehingga tidak berkibar kecuali bendera persatuan Islam. Tidak dikumandangkan kecuali seruan persaudaraan.

Kumandangan persatuan ini berlangsung di saat kondisi ruhiah seorang hamba yang melakukan haji memuncak. Sehingga, munajat saat itu sendu. Ketaatan menjadi manis. Cahaya iman mengalir ke seluruh tubuh. Saat itu seorang muslim berada lebih tinggi dari pada alam manusia. Dosa-dosa diampunkan. Setiap langkah orang melakukan haji ditulis oleh malaikat sebagai satu kebaikan, dan menghilangkan satu keburukan.

Orang-orang yang melakukan ibadah haji tidak disibukkan kecuali beribadah kepada Allah. Raungan mereka takbir. Teriakan mereka, tasbih. Panggilan mereka, talbiah. Langkah mereka, ibadah. Jalan mereka, shalat. Berpergian mereka, hijrah kepada Allah. Tujuan mereka, maghfirah dan keridhaan Allah. Anda melihat mereka bersatu dan teratur, walau berbeda jenis, bahasa, dan negara.

Inilah gambaran persatuan umat Islam itu, yang direpresentasikan oleh umat Islam di saat mereka melakukan ibadah haji yang sangat mulia.

Maka bergembiralah wahai tamu-tamu Allah. Orang-orang yang memenuhi panggilan khalil Allah, Nabi Ibrahim a.s. Oleh karena itu, dari ibadah haji ini, hendaknya umat Islam menanggalkan sebab perpecahan, menjauhi sebab perbedaan, menolak upaya hasut dan provokasi setan, meninggalkan seluruh bendera dan syiar kecuali bendera tauhid dan syiar talbiah. Berobsesilah untuk terus berzikir dan taat, sibukkan diri di setiap saat dengan talbiah dan doa.

Saya juga mengingatkan Anda sekalian untuk berdoa untuk umat Islam, agar Allah menjauhkan umat Islam dari fitnah. Menunjukkan umat jalan yang lurus. Menjaga umat dari makar musuh dan orang-orang yang tidak mengerti. Berdoa agar tempat-tempat suci kita dibebaskan dari tangan-tangan perampas. Rumah-rumah umat Islam terbebas dari tangan-tangan penjajah. Memberikan umat Islam ketinggian. Memperbaiki rakyat dan pemimpin. Menyatukan hati mereka dalam kebaikan. Menghilangkan keburukan di antara mereka. Menjadikan mereka satu barisan dalam melawan musuh-musuh Allah.

Semoga Allah menerima haji Anda sekalian. Semoga Allah memberi ampunan bagi Anda sekalian dan orang-orang yang Anda mohon ampun untuknya. Semoga Allah menjaga Anda sekalian dari setiap bala. Dan semoga Anda sekalian kembali ke negara masing-masing dengan ibadah yang diterima, ampunan, kesenangan, dan keridaan Allah Swt..

Wallâhu akbar, walillâhilhamd. Washallâllahu wa sallam ‘alâ Nabiyyina Muahmmad, wa ‘alâ alihi wa shahbihi ajma‘în.

READ MORE >>

Sabtu, 28 November 2009

Depkominfo Segera Pertemuan Bahas TV Jaringan

Padang (ANTARA News) - Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) Republik Indonesia akan segera melakukan pertemuan dengan semua pemangku kepentingan (stakeholder) penyiaran televisi untuk membahas TV jaringan.

Menkominfo Tiffatul Sembiring menyampaikan pertemuan itu saat menjawab pertanyaan wartawan soal penundaan realisasi televisi jaringan, usai menjadi imam dan khatib shalat Idul Adha 1430 Hijriah di halaman Kantor Gubernur Sumbar di Padang, Jumat.

Menkominfo menjelaskan, pihaknya akan gelar pertemuan dengan "stakeholders", semua penyelenggara televisi karena menurut Permen sebelumnya batas akhirnya pada 28 Desember 2009.

Selain itu, ia mengatakan perlunya berkumpul untuk mendengarkan semua unsur mengenai pembicaraan TV jaringan tersebut.

Menkominfo mengatakan, banyak masuk usulan pada Temu Nasional untuk merevisi Undang-undang (UU) Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.

Usulan pada Temu Nasional beberapa waktu lalu, katanya, juga untuk merevisi UU Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi.

"Kita sudah bertemu di `National Summit` (Temu Nasional) dan telah bertemu dengan Komisi I DPR, semuanya diterima. Karenanya masih perlu pihak penyiaran dikumpulkan,"katanya.

Jadi, tambah Menkominfo, setelah mendengarkan bagaimana dari penyelenggara, secara rasionalnya bagaimana nanti.

"Jangan pakai jaringan tetapi jadinya Alibaba --Ali di depan dan Baba-nya di belakang--," kata Menkominfo sembari berkelakar.

Sebelumnya disiarkan ANTARA, pemerintah menetapkan penyelenggaraan siaran televisi jaringan dilakukan secara bertahap mulai November 2009, setelah sebelumnya memberi tenggang waktu dua tahun.

Penundaan itu dilakukan karena penyelenggaraan televisi jaringan memerlukan banyak peraturan yang menjadi pendukung Undang-undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.

Selain itu, penundaan juga karena infrastrukturnya berupa saluran frekuensi melalui satelit jumlahnya terbatas, sehingga setiap perusahaan siaran televisi harus memiliki jaringan sendiri.

Target pemerintah penyelenggaraan siaran televisi jaringan adalah agar siaran televisi tidak terpusat, dan diharapkan terjadi pertumbuhan industri siaran televisi di daerah.

Ketentuannya, katanya, adalah perusahaan televisi nasional untuk bisa siaran di daerah harus bermitra dengan televisi lokal.(*)


READ MORE >>

KARAKTERISISTIK KADER PILIHAN


khwah fillah rahimakumullah,
Dakwah yang efektif, semakin lama ia dikumandangkan semakin luas pula pengaruhnya. Gerakan dakwah yang efektif –dengan demikian- semakin tua usianya, semakin dewasa dalam menyikapi tantangan-tantangan yang dihadapinya sekaligus semakin banyak pendukungnya. Ini bisa diibaratkan dengan pohon kebaikan yang memiliki akar yang kokoh, pohonnya tinggi menjulang, dan buah-buahnya bisa dinikmati oleh umat manusia.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25)

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim : 24-25)

Untuk menjadi gerakan dakwah yang efektif, dibutuhkan prasyarat yang tidak ringan. Di samping manhaj yang jelas dan pemimpin yang handal, ia juga membutuhkan kader-kader pilihan. Kader-kader pilihan yang menjadi prasyarat ketiga ini setidaknya memiliki lima karakter (خصائص الرجال الخيارية) sebagai berikut :

Membangun Ruh Kegairahan (بناء روح القيرة)

Ikhwatal iman,
Kader-kader pilihan adalah mereka yang senantiasa membangun ruh kegairahan; sehingga tertanam ghirah (semangat, gairah) dalam setiap aktifitasnya. Maka, setiap kali mengemban suatu amanah dakwah, kader itu dengan rasa ikhlas dan penuh antusias melakukannya. Dalam setiap aktifitas tarbawi ia selalu 'menikmati' bukan terbebani.

Pasca perhelatan siyasi 2009, ruh kegairahan ini mutlak diperlukan. Tahun pertama dalam siklus perjuangan dakwah berarti tahun pembinaan; hari-hari di mana kita konsentrasi dalam aktifitas tarbawi, menguatkan kembali halaqah, tatsqif, daurah, dan sebagainya. Di samping untuk kader-kader yang telah bergabung sejak lama, waktu kita sekarang juga harus dimanfaatkan untuk melayani konstituen dengan memberikan hak tarbiyah pada mereka. Ini semua membutuhkan ruh kegairahan kader.

Yang lebih penting lagi, di penghujung mihwar muassasi ini kader-kader dakwah harus lebih bersemangat dan bergairah dalam beribadah kepada Allah SWT. Untuk apakah dakwah kita selama ini jika bukan untuk menggapai ridho-Nya? Apakah kebaikan yang akan kita dapatkan jika kita sendiri telah kehilangan ruh semangat dan kegairahan bertaqarrub kepada Allah Azza wa Jalla?

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (139) إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (140) [آل عمران/139، 140]

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ali Imran : 139-140)

Membangkitkan Semangat Inisiatif (تشجيع المبادرة)

Ikhwah fillah hafidzakumullah,
Tidak semua rencana kita bisa berjalan 100%. Tidak semua yang terjadi dan dilalui dakwah sesuai dengan langkah-langkah yang telah diprediksi sebelumnya. Tidak semua antisipasi jamaah mampu meng-cover segala yang datang di masa mendatang. Karenanya, semangat inisiatif mutlak diperlukan. Dan ini perlu dilatih untuk bisa dimiliki oleh kader-kader dakwah.

Terlebih saat dakwah kita telah bersentuhan langsung dengan ranah politik. Dinamika perpolitikan yang tidak terduga kerap terjadi. Tidak mungkin semuanya bisa diprediksi secara tepat dan disiapkan langkah menghadapinya step by step. Tanpa kemampuan inisiasi, kader-kader dakwah kita akan gagap setiap menghadapi masalah baru dan hal-hal di luar dugaan. Inilah mengapa setiap kader dakwah, juga harus menyediakan ruang ketidakterdugaan dalam dirinya.

Inisiatif ini tidak hanya diperlukan dalam konteks amal siyasi. Dalam setiap amanah dakwah yang diemban kader, sering kali ada tuntutan untuk melakukan inisiasi. Misalnya ketika seorang kader dimanahi sebagai panitia daurah sementara muwajjih yang sudah tiba jadwalnya belum juga datang. Jika tidak memiliki inisiatif, peserta bisa bosan karena dibiarkan tanpa kegiatan. Itu memerlukan inisiatif kader untuk memanfaatkan waktu tersebut atau mengganti muwajjih jika memang berhalangan tetap. Demikian pula dalam aktifitas halaqah; jika murabbi tidak juga datang sementara hp-nya tidak bisa dihubungi, perlu inisiatif para mutarabbi untuk memulai halaqah dengan barnamaij yang telah disepakati bersama. Demikian juga jika dalam sebuah struktur ketua bidang tidak juga mau mengaktifkan syura dan programnya, staf-nya perlu mengambil inisiatif untuk mendorongnya agar syura dan program-program diaktifkan kembali.

Ikhwah fillah,
Inisiatif ini harus dimiliki oleh kader dakwah. Sudah bukan saatnya lagi kader dakwah diam menunggu ta'limat lalu waktunya berlalu begitu saja, tanpa ada manfaat bagi umat. Inisiatif harus dikembangkan; selama tidak bertentangan dengan syariat dan tsawabit dalam jamaah serta berbasis maslahat.

Lihatlah betapa dakwah menuai banyak manfaat dari inisiatif kader-kadernya. Saat Perang Badar, Habab bin Al-Mundzir mengambil inisiatif dan menyampaikannya kepada Rasulullah agar pasukan Islam mengambil posisi di dekat mata air badar. Inisiatif ini membawa kontribusi bagi kemenangan perang badar! Pun saat Perang Ahzab, Salman Al Farisi mengambil inisiatif dan mengusulkannya kepada Rasulullah agar membuat khandaq (parit). Perang ini pun dimenangkan oleh umat Islam dan ia dikenal dengan Perang Khandaq.

Inisiatif merupakan satu langkah maju dalam rangka i'daadul quwwah; menyiapkan dan membangun kekuatan Islam.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ [الأنفال/60]

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. (QS. Al-Anfal : 60)

Membangun Jiwa Tanggung Jawab (بناء روح المسؤولية)

Ikhwah fiddin yahdiikumullah,
Kader-kader pilihan adalah mereka yang juga membangun jiwa tanggung jawab dalam dirinya. Kader sejati bukanlah mereka yang selalu menghindari amanah; dan pada saat yang sama juga tidak berambisi mengemban amanah! Sikap pertengahan yang harus diambil; siap menjalankan segala amanah, siap melaksanakan setiap tanggungjawab yang dipercayakan jamaah.

Mihwar daulah yang sebentar lagi kita masuki membutuhkan banyak kader-kader dakwah yang teruji kepemimpinan dan tanggungjawabnya di segala ranah kehidupan. Dakwah membutuhkan kader-kader yang siap mengemban tanggungjawab di eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Namun dakwah juga tidak boleh kekurangan kader yang berperan memikul tanggung jawab pada amal thulabi, amal niqabi, dan amal mihani. Semua kader, tidak boleh tidak, harus mau dan mampu mengambil tanggung jawab sesuai kapasitasnya. Tapi semuanya harus terlibat dalam tanggungjawab menolong agama Allah, sebagaimana para hawariyyin telah mengambil tanggungjawab itu dan mendeklarasikannya di hadapan Nabi dan qiyadah mereka; Isa Al-Masih.

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ [آل عمران/52]

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (QS. Ali Imran : 52)


Membangun Semangat Pengorbanan (بناء روح البذل والتضحية)

Ikhwah fillah,
Karakter lain yang harus ada pada kader-kader pilihan adalah semangat berkorban (At-Tadhiyyah). Perjuangan dakwah pasti membutuhkan pengorbanan. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Pengorbanan itu bisa berupa pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa. Sementara perjuangan tertinggi –jihad fii sabiilillah- mengharuskan kombinasi pengorbanan semua hal itu.

Jika dalam mengarungi dakwah ini kita belum berkurban, maka peran kita dalam dakwah perlu dipertanyakan. Bahkan, pengorbanan (at-tadhiyah) merupakan salah satu rukun baiat (arkanul baiat) yang disyaratkan Hasan Al-Banna bagi kader-kader dakwah. Tentu saja, pengorbanan yang diterima Allah SWT adalah pengorbanan yang ikhlas, dari hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ [المائدة/27]

"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Maidah : 27)

Pengorbanan di jalan dakwah merupakan konsekuensi perjuangan Islam. Dan jika dengan keikhlasan kader dakwah mengorbankan diri dan hartanya, inilah transaksi yang akan dibeli Allah dengan surga-Nya.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [التوبة/111]

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah : 111)

Meningkatkan Potensi Diri (ترقية الطاقة الذاتية)

Karakter kelima bagi kader-kader pilihan adalah meningkatkan potensi diri (Tarqiyyah Ath-Thaqah Adz-Dzaatiyah). Setiap ikhwah –sebagaimana manusia umumnya- adalah pribadi yang unik. Masing-masing memiliki potensi yang tidak seragam. Ada yang potensinya pada seni. Ada yang potensinya terletak pada bidang komunikasi. Ada yang potensinya pada bidang teknik, ekonomi, dan sebagainya. Potensi-potensi ini harus dikembangkan. Kalaupun saat ini baru disadari potensinya tidak sesuai dengan profesi yang digeluti, ia bukan halangan untuk dikembangkan.

Karenanya dalam trabiyah sering terjadi perputaran amanah, restrukturisasi, dan sebagainya. Sebenarnya, selain menyegarkan semangat dan menguatkan ketaatan pada jamaah dan qiyadah, proses itu juga dibutuhkan untuk mengetahui potensi ikhwah. Jangan-jangan ada potensi tersembunyi yang selama ini tidak pernah tersentuh. Karenanya kita dapatkan, seseorang yang kurang berhasil sebagai bendahara, berkembang sangat cepat justru setelah ia ditunjuk sebagai ketua. Ternyata potensinya adalah memimpin orang; bukan mengatur uang! Demikian pula banyak orator handal yang kita temukan dalam jamaah dakwah ini saat mereka ditunjuk secara tiba-tiba menggantikan orator yang berhalangan.

Jangan sampai kita mengulangi kesalahan penduduk Madyan yang memiliki potensi kebaikan, namun ia terpendam dan tidak pernah dikembangkan.

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ [هود/84]

Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." (QS. Huud : 84)

Semoga kita mampu menumbuhkan lima karakter kader pilihan dalam diri kita sehingga langkah kita semakin mantap dalam menyambut mihwar daulah, dan hanya kepada Allah kita mengharapkan rahmat, taufiq, dan hidayah. Wallaahu a'lam bish shawab. [sumber: E-Book Taujih Pekanan Menuju Mihwar Dauli]



READ MORE >>

Bingkai Kehidupan

"Save Palestine" Demonstration in Semarang

"Save Palestine" Demonstration in Semarang
Semarang, 21 Maret 2010

Mars PKS

Mars Partai Keadilan SEJAHTERA - Watch more Videos at Vodpod.

Harapan Masih Ada

Aktifitas Aleg DPRD Kota Semarang


Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur

Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur
Evendi Sunarko, SPd dan Sutopo, SE

Sekretariat DPC

Dewan Pengurus Cabang
Partai Keadilan Sejahtera
Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang
Jl. Menoreh Utara I/7 Semarang-Jawa Tengah
Telp (024)8501042

Jadwal Sholat

 

Copyright © 2009 by DPC PKS Gajahmungkur Rindu Semarang Berubah Powered By Blogger Design by PKSGM-Team