Simple Template For Entertainment News


Tempat Informasi Kegiatan Kader DPC PKS Gajahmungkur


GALLERY


Tampilkan postingan dengan label tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Mei 2010

Syukur Terhadap Ni’mat Allah

Ustadz Drs. H. Mahfud Siddiq, M.Si,


Banyak ni’mat yg harus kita syukuri yang Allah berikan kepada kita: ni’mat sbg hamba-Nya, ni’mat sebagai manusia, bukan hanya dalam konteks kita sebagai pribadi (individu) namun juga dlm konteks kita sebagai bagian dari ummat. Keberadaan seorang muslim sebagai makhluq ciptaan Allah mengemban tanggungjawab sosial, dimana dalam hal ini seorang muslim selain secara khusus sebagai bagian dari ‘umat Islam’ juga secara umum sebagai bagian dari manusia. Konteks secara umum ini penting untuk kita sadari karena ni’mat yg Allah limpahkan kepada kita nantinya akan dimintakan pertanggungjawabannya di yaumil hisab (hari pembalasan), baik dalam konteks pertanggungjawaban pribadi maupun pertanggungjawaban sosial.
Oleh karena itu tujuan dari taujih kali ini adalah dalam rangka upaya penyegaran, peningkatan, pengokohan, dan pemeliharaan iman untuk mensyukuri ni’mat Allah sebaik-baiknya.

Pada saat penciptaan manusia - yang mana kemudian Allah memberikan manusia itu beragam ni’mat, termasuk dlm hal ini adalah ni’mat hidayah - lalu Allah menjelaskan bahwa pada akhirnya hanya ada 2 golongan manusia, dimana setiap dari kita hanya akan masuk di dalam salah satu golongan tersebut. Tidak ada golongan ke-3, dan juga tidak ada golongan yg duduk di antara keduanya. Dua golongan itu adalah:

1. Orang2 yg ‘syakiran’ (org2 yg mampu bersyukur)
2. Orang2 yg ‘kafuran’ (org2 yg kufur, terutama atas ni’mat Allah)

Setiap perbuatan (amal) yang kita lakukan, akan menggiring kita masuk kepada salah satu dari dua golongan (kondisi) ini. Di yaumil hisab nanti, orang-orang yg syakiran akan disempurnakan ni’matnya dgn mendapat balasan ‘jannatul na’im’ (surga yg penuh ni’mat). Sementara itu orang yg kafuran mendapat balasan ‘naaru jahannam’ (neraka jahannam) – QS Ibrahim : 28-29.

Allah berfirman : Tiadakah kau lihat orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran, Dan membawa kaumnya ke dalam lembah kebinasaan. yaitu neraka jahanam? Didalamnya mereka dipanggang dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman (QS. 14 :28-29)

Allah Swt menjelaskan di dalam salah satu ayat Al Qur’an bhw sesudah manusia itu diciptakan, maka Allah akan menyempurnakan ni’mat kepada manusia itu berupa penciptaan yg selengkap-lengkapnya. Hal ini menunjukkan begitu besarnya ni’mat Allah. Dan Allah telah mengatakan bahwa jika manusia berusaha utk menghitung ni’mat Allah tsb, maka niscaya manusia tidak akan sanggup menghitungnya (QS Ibrahim:34).

Dan Ia berikan kepadamu segala yang kamu minta kepada-Nya. Jika kamu hendak menghitung nikmat Allah, Tiada kamu dapat menghitungnya. Sungguh, manusia tiada adil, dan tiada tahu berterima kasih. (QS 14:34)

Salah satu contoh kecil dari ni’mat Allah ini adalah ni’mat kesehatan. Bagaimana menderitanya seorang manusia jika dia tidak bisa ‘buang angin’. Berapa yang harus kita bayar selama hidup kita, jika ternyata kita harus membayar ni’mat semacam itu. ‘Buang angin’ adalah salah satu ni’mat dari Allah yg kebanyakan manusia tidak suka ketika kita menggunakannya, namun ternyata sangat penting dalam hidup kita.

Bagi orang-orang yg beriman, dan orang-orang yang meyakini keluasan rizqi Allah, maka mereka tidak akan pernah sedetikpun mengeluh akan kekurangan ni’mat Allah, karena mereka meyakini bahwa ni’mat Allah sangat besar, luas dan banyak.
Sikap kita sebagai muslim dalam konteks pribadi adalah bagaimana ni’mat yg tlh Allah berikan kpd kita, bisa kita terima, kelola dan dayagunakan sebaik-baiknya untuk kebaikan dan ketinggian derajat kita di sisi Allah dan juga di sisi manusia.

Allah mempersilakan kepada manusia untuk mengambil apa saja ni’mat dari Allah itu sebanyak-banyaknya. Adapun ni’mat Allah yang dikaruniakan kepada manusia terbagi atas 3, yaitu:

1. Ni’matil Wujud (ni’mat existensi/hidup)

Allah berfirman : "Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan, karena itu Kami jadikan mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. Sungguh, kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala." QS Al Insan 76 : (1-4)

menceritakan fase-fase kehidupan manusia, dari ada menjadi tidak ada. Manusia tidak pernah meminta ni’mat ini, tapi Allah memberikannya kepada kita ‘free of charge’ (secara cuma-cuma). Dan ternyata manusia sangat mencintai ‘ni’matil wujud’ ini. Adakah di antara kita yg menyesal bahwa Allah telah menciptakn kita di muka bumi ini? Adakah di antara kita yg pernah berfikir bahwa lebih baik saya tidak ada di muka bumi ini? Bukan hanya orang2 yg beriman yang mencintai ni’matil wujud ini, tapi juga org2 yang tdk beriman mencintai ni’matil wujud ini, bahkan ada yg ingin hidup 1000 tahun lagi. Orang yg sengaja bunuh diri adalah orang yg sesungguhnya cinta dunia, karena mereka tidak tahan (putus asa dan frustasi) menghadapi tekanan berat kehidupan dunia.

2. Ni’matul Insan (ni’mat sebagai manusia).

Merupakan ni’mat yg setingkat lebih tinggi dari ni’matil wujud. Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

"Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (QS At Tiin:4).

Bahkan monyet yang paling baguspun masih kalah tampan dan ganteng dibandingkan manusia yg berperawakan buruk sekalipun. Manusia merupakan mahluq yg terbaik dan sempurna dibandingkan ciptaan Allah yg lain (termasuk Malaikat dan jin). Manusia dipilih oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi – (sejak penciptaan Adam) QS Albaqarah 2 : 30

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Dan ini memicu kecemburuan mahluq Allah yg lain yg bernama bangsa jin (yg diwakili oleh iblis) yang merasa lebih tinggi statusnya dari manusia karena diciptakan dari api sdgkan manusia hanya dari tanah

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." - (Qs Al-A'raaf(7) : 12)

"kecuali iblis. Ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?" Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk" (Al-Hijr (15) : 31- 33)

Dan sudah menjadi komitmen jin utk senantiasa memusuhi dan menjerumukan anak Adam (manusia) ke dalam jurang kesesatan

Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS : Al-A'raaf (7) : 16-17)

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (QS : Al-Hijr (7) : 39)

Dengan kecenderungan, watak dan syahwatnya manusia digoda setan untuk menjauh dari ajaran Allah dan lupa akan ni’mat Allah. Dan banyak dari manusia yg justru menghancurkan potensi kemanusiaan (fitrah insaniyah) yg ada dalam dirinya, dan mensublimasinya menjadi lebih rendah (derajatnya) dibandingkan makhluq Allah yg lain. Banyak muslim yg melepaskan pakaian insaniyahnya, seperti kisah Nabi Adam dan Hawa yg ditanggalkan pakaian (ketaqwaan)nya oleh setan.

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS Al-A'raaf (7) 26-27)

Ada org yg makan, mencari nafkah dan melampiaskan kebutuhan biologisnya sudah seperti binatang. Dan oleh Allah dikatakan mereka telah sesat dan menyesatkan dirinya sehingga mereka dikatakan oleh Allah sudah seperti hewan atau binatang ternak bahkan lebih sesat dari hewan-hewan itu.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A'raaf (7) : 179)

Banyak sebagian dari manusia yg tidak bisa mempertahankan statusnya dibandingkan makhluq Allah yang lain. Seekor burung tidak pernah resah atau takut akan kekurangan rizqi Allah, dan mereka senantiasa berupaya setiap hari untuk bisa survive. Jadi sangat tidak patut jika ada manusia yg sesungguhnya lebih tinggi derajatnya dari binatang, merasa resah dan takut akan kemiskinan, bahkan sampai membunuh anak-anak mereka.

3. Ni’matul Islam (ni’mat diturunkannya Islam).

Allah menyempurnakan ni’mat-ni’mat yang lain dengan mengaruniakan ni’matul Islam. Ni’mat ke-Islaman dikokohkan oleh Allah melalui ajaran (agama) yg dibawa oleh para anbiya-’ulmursalin, bukan yg dibawa oleh manusia biasa atau oleh iblis. Dan Allah telah menjamin bahwa agama (dien) yang diterima di sisi Allah adalah Islam

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS. Ali-Imron (3) : 19)

Adapun status manusia sejak dilahirkan telah membawa fitrah ke-Islaman

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Ar-Ruum (30) : 30).

Orangtua dan lingkunganlah yg berperan mengubah fitrah Islam pada diri seorang anak – apakah tetap menjadi Islam ataukah berpaling ke agama lain yg tdk diterima Allah.

Apakah kita sudah mensyukuri ni’mat dari Allah tersebut? Wujud dari rasa syukur kita atas ni’mat Allah di refleksikan dari gerak pola pikir, tingkah laku, cara bekerja kita senantiasa diorientasikan utk mendapat rahmat Allah (hidup secara Islami). Kita dituntut utk menyempurnakan syakhsiyah Islamiyah kita.

Adapun terkait dengan misi seorang muslim atas ni’mat Allah ini dan juga sebagai tanggungjawab sosialnya

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Qs. Al-Baqarah (2) :177),

maka tidaklah patut seorang muslim mempunyai misi hanya utk mewujudkan kepentingan pribadi. Tapi sebaliknya kita dituntut utk mengemban misi yg lbh luas yaitu utk memberikan kebaikan kepada seluruh umat manusia yang lain, menyebarkan kebaikan bagi semesta alam. Hal ini berdasarkan acuan bahwa Rasul sendiri ditugaskan untuk menyebarkan Tauhidullah dan rahmat bagi semesta alam

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
(Qs. Al-Anbiyaa' (21):107),

dan kita sebagai org yg mengaku beriman kepada Allah dan meneruskan risalah Islam, mempunyai tanggungjawab memelihara risalah itu dgn turut menyebarkan kebaikan.

‘Sebaik-baik manusia adalah yang bisa mendatangkan kebaikan bagi orang yang lain’ (Hadits)

Seorang muslim adalah produsen dan distributor kebaikan. Jangan hanya menjadi konsumen kebaikan, apalagi menjadi produsen dan distributor keburukan. Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Allah memerintahkan Nabi untuk menyerukan manusia agar menjadi orang rabbani yaitu orang yang mengajarkan Al Kitab dan mempelajarinya

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (QS Ali-Imran (3):79).

Bila kita senantiasa mewujudkan peran kita sebagai produsen dan distributor kebaikan, dan kebaikan kita menyebar kepada seluruh umat, umatpun dibangkitkan utk senantiasa berbuat kebaikan. Utk menjadi produsen dan distributor kebaikan ini kita hrs kembali kepada Islam, dimana segala tindak tanduk dan dasar perbuatan kita senantiasa berlandaskan dan sesuai syariat yang telah diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Bila umat ini telah bangkit kembali dan bersama-sama melaksanakan risalah-Nya, maka janji Allah bahwa kita adalah umat terbaik (Khaira Ummah) –

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
(QS. Ali-Imron (3) : 110)

, Insya Allah akan terwujud.

dipublikasikan kembali oleh : pks-gajahmungkur.blogspot.com
READ MORE >>

Rabu, 14 April 2010

MEMAHAMI ASSYAHADATAIN التعريف بالشهادتي

Muqadimah



Syahadat merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang, yang akan menentukan perjalanan kehidupannya. Dengan syahadat, orientasi duniawi (baca; materiil) akan berubah menjadi orientasi ukhrawi yang secara langsung atau tidak dapat merubah tujuan dan perjalanan hidup seseorang. Dan dengan syahadat ini pulalah, Rasulullah SAW mengubah kondisi masyarakat Arab, dari kehidupan yang jahili menuju kehidupan yang Islami.

Syahadat membawa perubahan mendasar dalam jiwa setiap insan. Syahadat merubah kondisi masyarakat dari akarnya yang paling bawah; yaitu dari sisi relung hatinya yang paling dalam. Ketika hati telah berubah, maka segala gerak gerik, tingkah laku, pola pikir, kejiwaan dan segala tindak tanduk akan berubah pula.

Namun tentulah untuk dapat mewujudkan perubahan seperti itu, harus terlebih dahulu memahami hakekat yang terkandung dalam kalimat yang membawa perubahan itu. Para sahabat, yang mereka semua sebagian besar orang Arab, sangat memahami makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Sehingga ketika mereka mengucapkannya, merekapun mengetahui dan memahami konsekwensi yang bakal mereka terima dari ucapannya. Oleh karena itulah, tidak sedikit kasus adanya penolakan dari mereka untuk mengucapkan kalimat tersebut. Bahkan diantara mereka ada yang mengatakan akan dapat mengatakan sepuluh kalimat, asalkan bukan kalimat yang satu itu.

Urgensi Syahadatain



Dari sinilah, kita dapat memetik urgensi (baca ; ahamiyah) dari syahadat. Dan terdapat beberapa urgensi syahadat penting lainnya. Diantaranya adalah:

1.(مَدْخَلٌ إِلَى اْلإِسْلاَمِ)


Syahadat merupakan pintu gerbang masuk ke dalam Islam.
Karena pada hakekatnya, syahadat merupakan pemisah seseorang dari kekafiran menuju Iman. Artinya dengan sekedar mengucapkan syahadat, seseorang telah dapat dikatakan sebagai seorang muslim. Demikian pula sebaliknya, tanpa mengucapkan syahadat, seseorang belum dapat dikatakan sebagai seorang muslim, kendatipun baiknya orang tersebut.
Dalam syahadat seseorang akan mengakui bahwa hanya Allah lah satu-satunya Dzat yang mengatur segala sesuatu yang ada di jagad raya, termasuk mengatur segala aspek kehidupan manusia dengan mengutus seorang rasul yang ditugaskan untuk membimbing umat manusia, yaitu nabi Muhammad SAW.

2.(خُلاَصَةُ تَعَالِيْمِ اْلإِسْلاَمِ)


Syahadat merupakan intisari dari ajaran Islam.
Karena syahadat mencakup dua hal: Pertama konsep la ilaha ilallah; merealisasikan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah, baik yang dilakukan secara pribadi maupun secara bersamaan (berjamaah). Dari sini akan melahirkan keikhlasan kepada Allah SWT. Kedua, konsep Muhammad adalah utusan Allah, mengantarkan pada makna bahwa konsep ini menjadi konsep yang mengharuskan kita untuk mengikuti tatacara penyembahan kepada Allah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Atau dengan kata lain sering disebut dengan ittiba’.

3.(أَسَاسُ اْلإِنْقِلاَبِ)


Syahadat merupakan dasar perubahan total, baik pribadi maupun masyarakat.
Karena syahadat dapat merubah kondisi suatu masyarakat, bangsa dan negara secara menyeluruh, dengan sentuhan yang sangat dalam yaitu dari dalam tiap diri insan. Karena jika seseorang dapat berubah, maka ia akan menjadi perubah yang akan merubah masyarakatnya. Allah berfirman dalam (QS. 13 : 11) :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ


“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum, hingga mereka mau merubah diri mereka sendiri.”

4.(حَقِيْقَةُ دَعْوَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)


Syahadat merupakan hakekat da’wah Rasulullah SAW.
Karena pada hekekatnya da’wah Rasulullah SAW adalah da’wah untuk menegakkan dua hal; yaitu mentauhidkan Allah. Dan kedua menggunakan metode Rasulullah SAW dalam merealisasikan ibadah kepada Allah SWT.

5.(فَضَائِلٌ عَظِيْمَةٌ)


Syahadat memiliki keutamaan yang besar.
Diantaranya keutamaanya adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ


“Dari Ubadah bin al-Shamit, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah akan mengharamkam neraka baginya”. (HR. Muslim)


Arti Kata Syahadat



Ditinjau dari segi bahasa, sedikitnya terdapat tiga arti dari kata syahadat, ketiga makna tersebut adalah :

1.(الإعلان/ الإقرار) Pernyataan
Mengenai makna ini, Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an (QS. 3 : 18) :

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ


“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Seseorang yang bersyahadat, berarti ia telah menyatakan sesuatu, sesuai dengan apa yang dinyatakannya. Dalam hal ini seseorang menyatakan bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwanya Muhammad adalah utusan Allah.

2.(القسم / الحلف) Sumpah


Allah berfirfirman (QS. 24 : 6):

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلاَّ أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ


“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.”

Seseorang yang bersyahadat, maka ia sesungguhnya telah menyatakan diri dengan bersumpah, bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

3.(العهد / الوعد) Perjanjian


Allah berfirman (QS. 2 : 84) :

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لاَ تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلاَ تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ


“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.”

Seorang yang bersyahadat, sesungguhnya ia telah berjanji kepada Allah SWT untuk mentauhidkannya (tiada tuhan selain Allah), demikian juga berjanji untuk menjadikan nabi Muhammad adalah benar-benar utusan Allah, yang harus ia ikuti.

Syarat Diterimanya Syahadat



Melihat makna syahadat di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ternyata syahadat bukanlah merupakan hal sepele yang ringan diucapkan oleh lisan. Namun syahadat memiliki konsekwensi yang demikian besarnya di hadapan Allah SWT. Oleh karena itulah, kita melihat para sahabat Rasulullah SAW yang langsung memiliki perubahan yang besar dalam diri mereka, setelah mengucapkan kalimat tersebut.

Berkenaan dengan hal ini, kita perlu melihat sejauh mana batasan-batasan yang dapat menjadikan syahadat kita dapat diterima oleh Allah SWT. Para ulama memberikan beberapa batasan, agar syahadat seseorang dapat diterima. Diantaranya adalah:

1.(العلم المنافي للجهل) Didasari dengan ilmu.


Yaitu (pengetahuan) tentang makna yang dikandung dalam syahadat, dengan pengetahuan yang menghilangkan rasa ketidaktahuan tentang syahadat yang akan diucapkannya itu. Allah berfirman (QS. 47 : 19) :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ


“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.”

2.(اليقين المنافي للشك) Didasari dengan keyakinan


Artinya seseorang ketika mengucapkan syahadat, tidak hanya sekedar didasari rasa tahu bahwa tiada tuhan selain Allah, namun rasa ‘tahu’ tersebut harus menjadi sebuah keyakinan dalam dirinya bahwa memang benar-benar hanya Allah Rab semesta alam. Allah berfirman (QS. 49 : 15):

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”

3.(الإخلاص المنافي للشرك) Didasari dengan keikhlasan


Keyakinan mengenai keesaan Allah itupun harus dilandasi dengan keikhlasan dalam hatinya bahwa hanya Allah lah yang ia jadikan sebagai Rab, tiada sekutu, tiada sesuatu apapun yang dapat menyamainya dalam hatinya. Keiklasana seperti ini akan menghilangkan rasa syirik kepada sesuatu apapun juga. Allah berfirman (QS. 98 : 5):

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ


“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

4.(الصدق المنافي للكذب) Didasari dengan kejujuran


Persaksian itu juga harus dilandasi dengan kejujuran, artinya apa yang diucapkannya oleh lisannya itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam hatinya. Karena jika lisannya mengucapkan syahadat, kemudian hatinya meyakini sesuatu yang lain atau bertentangan dengan syahadat itu, maka ini merupakan sifat munafik. Allah berfirman (QS. 2 : 8 – 9):

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ* يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ*


“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”

5.(المحبة المنافية للبغض والكراهة) Didasari dengan rasa cinta/ keridhaan


Maknanya adalah bahwa seseorang harus memiliki rasa kecintaan kepada Allah SWTdalam bersyahadat. Karena dengan adanya rasa cinta ini, akan dapat menghilangkan rasa kebencian kepada Allah dan al-Islam. Allah SWT berfirman (QS. 2 : 165):

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ


“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

6.(القبول المنافي للرد) Didasari dengan rasa penerimaan


Syahadat yang diucapkan juga harus diiringi dengan rasa penerimaan terhadap segala makna yang terkandung di dalamnya, yang sekaligus akan menghilangkan rasa “ketidak penerimaan” terhadap makna yang dikandung syahadat tersebut. Allah berfirman (QS. 33 : 36):

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا


“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

7.(الإنقياد المنافي للإمتناع والترك وعدم العمل)


Didasari dengan rasa kepatuhan (terhadap konsekwensi syahadat).
Terakhir adalah bahwa syahadat memiliki konsekwensi dalam segala aspek kehidupan seorang muslim. Oleh karenanya seorang muslim harus patuh terhadap segala konseksensi yang ada, yang sekaligus menghilangkan rasa ‘ketidakpatuhan’ serta keengganan untuk tidak melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah dan Rasulullah SAW. Allah berfirman (QS. 24 : 51):

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”


Makna Syahadatain



1.Uraian makna dan fungsi kata La ilaha ilallah (لآ إله إلا الله)



Kata > Makna > Fungsi
La (لا) > Tiada/ Tidak > Nafi (النفي): Peniadaan
Ilaha (إله) > Tuhan (yang disembah) > Manfa (المنفى): yang dinafikan/ ditiadakan.
Illa (إلا) > Kecuali > Adatul Istisna’ (أداة الإستثناء): pengecualian.
Allah (الله) > Allah SWT > Al-Mustasyna (المستثناء) : yang dikecualikan

2.Arti la ilaha ilallah



Ilah secara bahasa memiliki arti sesuatu yang disembah. Dimensi Ilah dalam kehidupan ini dapat mencakup makna yang luas, diantaranya adalah :

a)Malik (المالك) raja/ pemiliki :


Tiada Pemiliki/ Raja selain Allah SWT/ Tiada kerajaan selain untuk Allah SWT. Allah SWT berfirman (QS. 4: 131):

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا


“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

b)Hakim (الحاكم) ; Pembuat hukum.


Tiada pembuat hukum selain Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam (QS. 6 : 114) :

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلاً وَالَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ


“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.”

Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 6 : 57):

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ


“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”

c)Amir (الأمير) : Pemerintah (yang berhak memberikan perintah)


Tiada pemerintah (yang berhak memberikan perintah atau larangan) selain Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah mengatakan (QS. 7 :54):

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ


“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”

d)Wali (الولي) : Pelindung/pemimpin.


Tiada pelindung/pemimpin selain Allah SWT. Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 2:257):

اللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

e)Mahbub (المحبوب) : Yang dicintai.


Tiada yang dicintai selain Allah SWT Dalam Al-Qur’an Allah SWT mengatakan (QS. 2 : 165):

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ


“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

f)Marhub (المرهوب): Yang ditakuti.


Tiada yang ditakuti selain Allah SWT. Allah berfirman (QS. 9 : 18):

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ


“Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

g)Marghub (المرغوب): Yang diharapkan


Tiada yang diharapkan selain Allah SWT. Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 94 : 8) :

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ


“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

h)Haul wal Quwah (الحول والقوة) : Daya dan kekuatan


Tiada daya dan tiada kekuatan selain Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 51 : 58) :

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ


Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

i)Mu’dzam (المعظم) :


Tiada yang diagungkan selain Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah SWT mengatakan (QS. 22 : 32):

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ


Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.

j)Mustaan bihi (المستعان به) : tempat dimintai pertolongan.


Tiada yang dimintai pertolongan selain Allah SWT. Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 1 : 5) :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ


Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan


Hal-Hal yang Membatalkan Syahadat



Terdapat hal-hal yang dapat membatalkan syahadat yang telah kita ikrarkan di hadapan Allah SWT. Uzt. Said Hawa menyebutkannya ada 20 bentuk. Berikut adalah beberapa hal yang dapat membatalkan syahadat kita, yang memiliki konsekwensi kekufuran kepada Allah:

1.Bertawakal dan bergantung pada selain Allah.


Allah berfirman (QS. 5 : 23):

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ


“Dan hanya kepada Allah lah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

2.Bekerja/ beraktivitas dengan tujuan selain Allah.


Karena sebagai seorang muslim, seyogyanya kita memiliki prinsip: (QS.6:162):

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


“Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”

3.Membuat hukum/ perundangan selain dari hukum Allah


Allah berfirman (QS. 5 : 57):

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ


“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”

4.Menjalankan hukum selain hukum Allah


Allah berfirman (QS. 5 : 44):

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ


Dan barang siapa yang tidak menughukum dengan apa yang telah ditirunkan Allah (Al-Qur’an), maka mereka itu adalah orang-orang kafir.”

5.Lebih mencintai kehidupan dunia dari pada akhirat.


Allah berfirman (QS. 14 : 2-3):

اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ * الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلاَلٍ بَعِيدٍ*


“Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.”

Dalam ayat lain Allah berfirman (QS. 9 : 24) :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ


“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

6.Mengimani sebagian ajaran Islam dan mengkufuri (baca; tidak mengimani) sebagian yang lain.


Allah berfirman (QS. 2 : 85):

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ


“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”

7.Menjadikan orang kafir sebagai pemimpin.


Allah berfirman (QS. 5: 51):

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Penutup



Pada intinya, jika seseorang memahami dan mengetahui dengan baik apa yang terkandung dalam kalimat syahadat, tentulah mereka akan dapat memiliki keimanan dan komitmen yang tinggi kepada Allah, yang dapat mengantarkannya pada derajat ketaqwaan sebagaimana para sahabat Rasulullah SAW. Barangkali kualitas keimanan kita yang rendah adalah karena kurangnya pemahaman yang utuh mengenai kalimat ini. Sehingga meskipun sering diucapkan lisan, namun belum dapat diterjemahkan dalam kehidupan rill sehari-hari.

Dengan memahami kembali makna syahadat beserta hal-hal lain yang terkait dengan dua kalimat ini, semoga dapat menjadikan keimanan dan keislaman kita lebih baik lagi. Wajar, jika terdapat beberapa hal yang masih kurang dalam keimanan kita. Karena kita adalah manusia dengan segala kekurangan yang kita miliki. Oleh karena itulah, marilah kita memperbaiki hal-hal tersebut dengan yang lebih baik lagi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.


READ MORE >>

Rabu, 31 Maret 2010

Muroqobatullah

materi Muroqobatullah melalui YouTube


READ MORE >>

Rahasia Menikmati Perjalanan Halaqah, Menghilangkan Kejenuhan dan Meningkatkan Produktivitas


by : Ustadz Suherman Pks

Bagaimana agar halaqah dapat berjalan secara dinamis dan meningkat produktivitasnya serta tidak terjebak dalam kejemuan? Sebab suasana jemu dapat berdampak pada antusiasnya peserta dan murabbi untuk mengikuti halaqah. Inilah beberapa kiat yang dapat diterapkan sesuai kondisi dan situsi halaqah agar dapat mewujudkan halaqah yang muntijah (sukes).


I . Urgensi Halaqoh

Halaqah adalah sebagai wadah pengkaderan. Urgensi halaqah adalah:

1. Melaksanakan perintah Allah SWT untuk belajar seumur hidup.
2. Mengikuti sunnah Rasul dalam membina para sahabat dengan metode halaqoh.
3. Sarana efektif untuk mengembangkan kepribadian Islam.
4. Melatih amal jama�i dalam mempertahankan eksistensi jama�ah Islamiyah.
5. Jalan untuk membentuk ummat (takwinul ummah) yang Islami.


II. Halaqah Muntijah (sukses)

Musthafa Mansyhur, pernah berkata: �eksistensi halaqah (tarbiyah islamiyah) tak boleh berakhir, walau daulah islamiyah telah berhasil ditegakkan.�

Bebagai Tipe Halaqoh :

1. Halaqoh sukses (muntijah)
Yaitu halaqoh yang dinamisasinya dan produktifitasnya tinggi.

2. Halaqoh paguyuban
Yaitu halaqoh yang dinamisasinya tinggi tapi produktifitasnya rendah.
Contohnya, Halaqoh yang kebanyakan isinya berupa games, rujak party, jalan-jalan, dll.

3. Halaqoh jenuh
Yaitu halaqoh yang produktifitasnya tinggi tapi dinamisasinya rendah.
Contohnya, Halaqoh yang sering ada penugasan namun jarang ada variasi dalam halaqohnya.

4. Halaqoh sedang
Yaitu halaqoh yang dinamisasi dan prodkutifitasnya sedang.

5. Halaqoh tipe rendah
Yaitu halaqoh yang dinamisasi dan produktifitasnya rendah.

Dinamisasi adalah jalannya halaqoh berlangsung dengan menggairahkan dan tidak menjemukan. Produktifitas adalah tujuan halaqoh tercapai.

Murobbi memiliki peran yang sangat penting supaya halaqoh menjadi muntijah. Hal ini karena murobbi yang memimpin halaqoh, sekaligus yang memotivasi, mengarahkan, membimbing, dan mengendalikan halaqoh.

Sistem Halaqah adalah input (paham manhaj, murabbi handal, mutarabbi potensial), proses yang dinamis, output yang produktif, dan akhirnya outcome mampu beramal jama�i dan pribadi yang islami.

Sebab Kurang Seriusnya Murobbi melakukan dinamisasi dan produktivitas halaqah:

1. Terjebak dengan rutinitas.
2. Sibuk dengan da�wah �ammah yang lebih tenar dan ramai.
3. Sibuk dengan urusan dunia.
4. Terpesona dengan jumlah.
5. Merasa bahwa halaqohnya tidak ada masalah.
6. Kurangnya motivasi dan pengingatan dari ikhwah di sekelilingnya.
7. Terlena dengan cara yang digunakan pada masa lalu (conventional method).

III. Halaqah Dinamis

Manfaat Halaqoh yang Dinamis:

1. Kehadiran peserta yang rutin. (QS. Al Kahfi : 28)
2. Semangat yang tinggi. (QS. Al Anfal : 65)
3. Tanggung jawab yang besar.
4. Mempercepat pencapaian tujuan. (QS. Faathir : 32)
5. Meningkatkan kreativitas. (QS. Al Ankabut : 69)
6. Menghindari kemaksiatan. (QS. Al Hadiid : 16)
7. Memperkecil konflik atau masalah. (QS. Al Hujuurat : 10)
8. Mempererat ukhuwah. (QS. Al Anfal : 63)

Sebab � Sebab Munculnya Kejenuhan dalam Halaqah:

1. Suasana yang monoton.
2. Tiada keteladanan.
3. Kurangnya upaya untuk saling mengingatkan.
4. Konflik yang berkepanjangan dan tidak segera diselesaikan.
5. Kurangnya keikhlasan.
6. Perbuatan maksiat.
7. Kurangnya pemahaman.

Tahapan Kejenuhan:

1. Monoton.
2. Tidak memberi nilai tambah pada dirinya (eliminasi makna)
3. Menghindar dari kehadiran.
4. Tidak nyaman.
5. Apatis atau tidak peduli.

Dampak Kejenuhan:

A. Peserta: (7K)

1. Kehadiran yang tidak rutin.
2. Kedisplinan yang menurun.
3. Keterlibatan yang minim.
4. Ketidakpuasan yang meningkat.
5. Kemaksiatan yang muncul.
6. Konflik / masalah yang bertambah.
7. Keterlambatan pencapaian tujuan.

B. Murobbi

1. Malas melakukan persiapan.
2. Penyampaian yang kurang berisi.
3. Lupa pada tujuan.

Ciri � Ciri halaqoh yang Dinamis:

1. Suasana yang dinamis dan inovatif.
2. Komentar-komentar kerinduan pada pertemuan berikutnya.
3. Ingin berlama-lama.
4. Kehadiran yang rutin.


IV. Halaqah Produktif

�Tujuan usroh (halaqah) adalah menyiapkan orang-orang pilihan untuk memikul tanggung jawab yang amat besar� (Dr. Ali Abdul Halim Mahmud)

Pencapaian produktivitas harus diiringi pencapaian dinamisasi. Keduanya sama penting bagi kelompok dan individu. Sebagaimana tercantum dalam QS. Ali Imran : 102 (produktivitas) dan QS. Ali Imran: 103 (dinamisasi).

Produktivitas adalah banyaknya hasil (tujuan) yang ingin dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang. Produktivitas dapat dilihat dari dua sisi: kuantitas dan kualitas.

Tujuan (sasaran) halaqah adalah:

1. Tercapainya Muwashofat/kenaikan jenjang
2. Tercapainya pembentukan murabbi
3. Tercapainya pengembangan potensi

Dr. Abdullah Qadiri berkata, �Sesungguhnya seorang ikhwan yang benar tidak bisa tidak kecuali dia harus menjadi murabbi/naqib�

Kaidah fiqih mengatakan: �Jika untuk mewujudkan sesuatu yang wajib dibutuhkan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.� Dan takwinul ummah adalah wajib, karena itu cara mewujudkannya juga wajib. (QS. Ali Imran : 79).

3. Tercapainya pengembangan potensi
Yaitu potensi umum dan potensi khusus.

Manfaat Halaqah yang produktif:

1. Akselerasi peningkatan kualitas jamaah atau ummat.
2. Umat akan memiliki para pelopor yang tangguh untuk membawa umat keluar dari keterpurukannya.
3. Masa depan Islam akan cerah karena umat telah memiliki kader-kader yang produktif dan �haus� akan kemajuan menuju ridho Allah SWT.

Sebab-sebab tidak produktivitasnya halaqah:

INTERNAL

1. Tidak memahami tujuan
2. Terlena dengan proses
3. Kurangnya semangat bersaing (QS. Al Baqarah: 148)
4. Percaya dengan �takdir� yang salah.

EKSTERNAL

1. Kurangnya motivasi
2. Kurangnya penjelasan tujuan

Tahap-tahap Tidak Produktifnya Halaqah

1. Tidak jelasnya tujuan
2. Terjebak dengan tujuan �palsu�
3. Disorientasi
4. Stagnan

Peran Murabbi dalam meningkatkan produktivitas halaqah:

1. Sebagai motivator
2. Sebagai koordinator
3. Sebagai evaluator


V. Keseimbangan Dinamisasi dan Produktivitas Halaqah

Bahaya Hanya Berorientasi pada Dinamisasi:

1. Lambat mencapai tujuan
2. Mengabaikan prioritas
3. Keberhasilan semu
4. Fanatisme/figuritas

Bahaya Hanya Berorientasi Pada Produktivitas:

1. Kejenuhan yang Kronis
2. Hilangnya antusiasme
3. Kehadiran yang tidak rutin
4. Keringnya iman dan lemahnya kontrol diri
5. Tumpulnya kreativitas
6. Lemahnya ikatan ukhuwah
7. Kalah bersaing
8. Prestasi yang tidak maksimal


VI. Rumus Meningkatkan Dinamisasi Halaqah

1. Rumus Dinamisasi Halaqah:

D = n(Pb) ( I + K + T )

Keterangan:

D = Dinamisasi
n(Pb) = Jumlah variasi perubahan
I = Keikhlasan
K = Keteladanan
T = Semangat mencapai Tujuan

2. Rumus Produktivitas Halaqah (dalam segitiga)

- Evaluasi
- Kemenangan kecil
- Tujuan

Formula Terjadinya Kejenuhan dalam Halaqah/Usroh:

J = n(Pt)/n(Pb) - ( I + K + T )

Keterangan:
J = Kejenuhan
n(Pt) = Jumlah Pertemuan
n(Pb) = Jumlah Variasi Perubahan
I = Keikhlasan
K = Keteladanan
T = Semangat mencapai Tujuan

Variasi perubahan tersebut dapat terjadi dalam :
1. Sistem belajar
2. Metode penyampaian
3. Media/alat belajar
4. Materi/madah
5. Agenda Acara
6. Waktu pertemuan
7. Tempat pertemuan
8. Komposisi peserta

Kiat meningkatkan nilai n(Pb) adalah dengan kreativitas dalam sistem belajar, metode penyampaian, agenda acara, alat belajar, dll. Agar kreativitas menjadi kultur baru, maka Murabbi perlu melakukan :

1. Memberi motivasi terus menerus kepada peserta untuk meningkatkan kreativitas.
2. Melakukan kegiatan dalam halaqah yang dapat menambah keakraban dan keterbukaan.
3. Membuat suasana halaqah yang santai dan menyenangkan, tapi serius agar peserta berani menyampaikan ide-idenya.
4. Menghargai prakarsa dan kritik peserta serta tidak melulu melakukan kecaman atau celaan terhadap pendapat-pendapat mereka.


READ MORE >>

Itsar


Oleh Sholeh Ibnu Munawwir


Seseorang datang bertamu kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun ketika Rasul bertanya kepada istri-istrinya, tak seorangpun di antara mereka yang mempunyai simpanan makanan untuk menjamu tamu tersebut. Akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menawarkan kepada para shahabatnya, beliau bersabda, "Barangsiapa di antara kalian yang mau menjamu tamu ini, maka Allah akan merahmatinya." Berdirilah seorang sahabat dari kalangan Anshar, seraya berkata, "Saya akan menjamunya wahai Rasulullah."

Akhirnya, diajaknyalah tamu tersebut pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, sahabat Anshar ini bertanya kepada istrinya, “Wahai istriku, apakah engkau masih memiliki sesuatu (makanan)?” Sang istri pun menjawab, “Tidak, selain sedikit persediaan (makanan) untuk anak-anak kita.” Maka spontan ia berkata kepada istrinya, “Rayulah anak-anak agar mereka bermain-main, sehingga lupa akan rasa lapar, lalu matikanlah lampu pada waktu makan, dan berpura-puralah bahwa kita juga sedang makan, pada saat tamu kita makan.”

Maka, pada waktu makan malam, dimatikanlah lampu di rumah tersebut, dan dihidangkannya makanan yang semestinya untuk anak-anak mereka, lalu mereka berpura-pura menyantap hidangan bersama sang tamu yang sedang menikmati makan malamnya.

Hingga pada pagi hari, ketika shahabat Anshar ini menghadap kepada Rasulullah, beliau berkata, "Allah heran dengan tingkah kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam," Lalu turunlah surat al-Hasyr ayat 9, berkaitan dengan kisah sahabat Anshar ini.

Mengutamakan Kebutuhan Saudaranya

Sungguh, kisah di atas bukanlah dongeng yang biasa diceritakan untuk anak-anak menjelang tidur, atau cerita-cerita fiksi yang ada di film dan sinetron di televisi. Kisah yang sangat menggugah dan mengagumkan di atas adalah teladan nyata yang dipertontonkan oleh salah satu generasi terbaik yang dimiliki oleh dunia, sebagaimana termaktub di dalam hadits Bukhari Muslim. Kisah yang sulit ditemukan padanannya, terlebih pada zaman modern ini yang mana manusia sudah terjangkiti penyakit egois dan individualis (Ananiyah). “Jangankan untuk berbagi kepada orang lain, untuk diri sendiri saja masih kurang,” begitu kita sering berdalih.

Padahal persediaan makanan dan bekal lain yang ada di rumah kita, bukan hanya cukup untuk satu hari atau satu minggu, namun persediaan untuk beberapa bulan ke depan pun sudah kita punyai, tetapi tak timbul sedikitpun rasa belas kasih dan keinginan berbagi kepada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan. Sementara sudah sama-sama kita hafal sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa kita belum beriman jika kita dalam keadaan kenyang (atau kekenyangan?), dan kita acuh dan abai terhadap orang-orang di sekitar kita yang bermalam dalam keadaan perut kosong karena tak mempunyai sedikitpun makanan di rumahnya.

Betapa shahabat Anshar ini begitu ikhlas dan hanya mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, dengan mengutamakan agar kebutuhan saudaranya (bahkan orang yang baru dikenalnya) terpenuhi dengan mengabaikan dirinya dan keluarganya, Allah menurunkan ayat, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Q.S Al-Hasyr : 9)

Itulah itsar, mendahulukan dan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan orang lain dari diri sendiri, sedang diri sendiri juga dalam keadaan yang sangat membutuhkan. Sebuah akhlak mulia yang diukir dengan tinta emas dalam sejarah bagi pelaku-pelakunya, menembus ke langit hingga Allah Swt heran dan takjub.

Lebih Memilih Dunia

Sesungguhnya itsar bukanlah sesuatu yang utopia dan tidak mungkin kita hiaskan pada diri kita sebagai akhlak dan sifat kita, namun terkadang nafsu akan dunia sangat dominan bercokol di hati dan fikiran kita. Pertimbangan dan perhitungan untung rugi yang bersifat materi dan keduniaan sering kali membuat kita merasa berat jika kita ingin memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan yang pada saat yang sama kita juga membutuhkan.

Hitunglah betapa seringnya kita memberikan isyarat dengan tangan kita kepada orang yang meminta-minta, sebagai tanda kalau kita tak hendak memberi, betapa seringnya kita menerima tamu di rumah kita sebagai beban yang merepotkan, padahal Rasulullah sudah mengingatkan kita barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya. Atau betapa seringnya tetangga sebelah rumah kita hanya mencium harum dan sedapnya aroma makanan yang kita masak, tanpa pernah terfikir di benak kita untuk berbagi dengan mereka.

Kita tahu bahwa seberat dzarrah pun kebaikan, pasti Allah akan memberikan ganjaran dan pahalanya di akhirat nanti, namun perasaan kurang yakin dan egoisme yang ada di dada kita senantiasa menghalangi kita untuk berbuat baik, sehingga kita lebih mementingkan kebahagiaan di dunia dan mengabaikan kebahagiaan yang abadi di akhirat. Angan dan khayal kita tentang dunia senantiasa membumbung tinggi, sehingga lalai mempersiapkan kehidupan di akhirat dengan amal-amal shalih.

Bagi para pemujanya, dunia adalah segala-galanya. Yang mereka cari dan usahakan adalah kebahagiaan dunia an sich, dengan melupakan Allah dan akhirat. Sehingga saat kematian menjemputnya, kebahagiaanya terhenti sampai di situ, yang tinggal hanyalah sesal dan sengsara. Allah Swt berfirman tentang orang-orang ini, “Tetapi kalian lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Q.S al-A’la : 16-17)

Itsar yang sering kita anggap sebagai sesuatu yang sulit dan berat kita lakukan, telah diabadikan dalam sejarah dengan tinta emas oleh para shahabat Rasul dengan sangat mengagumkan. Bukan hanya sebatas lapar dan haus yang mereka tanggung demi saudaranya, namun nyawa mereka persembahkan untuk Allah Swt, demi itsar terhadap saudaranya, sebagai teladan dan hikmah untuk kita. Insya Allah.

Dalam perang Yarmuk, dari Abdullah bin Mush'ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit, keduanya menceritakan, "Telah syahid al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr. Mereka ketika itu akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis, namun kesemuanya saling menolak. Ketika salah satu dari mereka akan diberi minum dia berkata, "Berikan dahulu kepada si fulan, demikian seterusnya sehingga semuanya meninggal dan mereka belum sempat meminum air itu.

Dalam riwayat lain perawi menceritakan, "Ikrimah meminta air minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah berkata, "Berikan air itu kepadanya." Dan ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, "Berikan air itu kepadanya (al Harits). Namun belum sampai air itu kepada al Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut (setetespun).

Wallahu A’lam.


sumber : eramuslim.com



READ MORE >>

Kamis, 25 Maret 2010

10 PESAN IMAM SYAHID HASAN AL-BANNA

by : Dpra Pks Sidoharjo, Pekalongan Indonesia

Imam syahid Hasan Al-banna meupakan Seorang ulama Islam yang memiliki pengaruh besaar di abad ini.
beliau adalah pendiri dari salah satu Harakah Islam Ikhwanul Muslimin.
ada sepuluh wasiat Imam Syahid Hasan Al-Banna yang ter kenal di kalangan aktivis maupun simpatisan IOkhwanul Muslimin.
wejangan Imam Syahid Hasan Al-Banna ini bersifat sederhana dan mudah dihafal.
layaknya kiat2 aktifitas rutin harian yang setiap saat harus dihayati dan dilaksanakan oleh setiap anggota jamaah Ikhwanul Muslimin.

sepuluh wasiat Imam Syahid Hasan Al-Banna sebagai berikut:

1. bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.

2. baca, telaah, dan dengarlah Al-Quran, berdzikirlah kepada Alloh SWT dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedahnya.

3. bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa arab dengan fasih.

4. jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan, karna hal itu tidak akan membawa kebaikan.

5. jangan banyak tertAWA, karna hati yang selalu berkomunikasi dengan Alloh (berdzikir0 adalah tenang dan tentram.

6. jangan suka bergurau, karena umat yang bejihad tidak berbuat kecuali dengan bersumgguh-sumgguh terus menerus.

7. jangan mengeraskan suara diatas yang diperlukan pendengar, karena hal itu akan mengganggu dan menyakiti.

8. jauhilah ghibah (mengguncing) atau menyakiti hati orang lain dalam bentuk apapun, dan jangan bicara kecuali yang baik.

9. berkenalanlah dengan saudaramu yang engkau temui walaupun dia tidak meminta, karena prinsip da'wah kita adalah cinta dan ta'awun (kerjasama).

10. pekerjaan rumah (PR) kita sebenarnya lebih tertumpuk dari pada waktu yang tersedia, maka tolonglah sodaramu untuk memanfaatkan waktunya, dan apabila kalian mempunyai keperluan maka sederhanakan dan cepatlah diselesaikan.

{IMAM SYAHID HASAN AL-BANNA}



READ MORE >>

Sabtu, 06 Maret 2010

At-Tarbiyah wat Takwin Thariqunaa lit Tamkin

Ayyuhal ikhwah hafidzakumullah…

Puncak jihad siyasi dalam siklus lima tahunan telah kita lalui. Kita telah melihat hasil perjuangan kita dalam bentuk angka, namun nilai sebenarnya ada di sisi Allah SWT. Dan nilai itu tidak tergantung pada hasil akhir, tetapi yang lebih dinilai oleh Allah SWT adalah prosesnya; perjuangan kita, amal kita, jihad kita.




وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ [التوبة/105]
Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu,.." (QS. At-Taubah : 105)

Dengan demikian, kader dakwah yang telah beramal dan berjihad dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, bagi mereka pahala di sisi Allah SWT. Sementara bagi kader dakwah yang belum optimal dalam beramal masih ada kesempatan untuk membuktikan komitmennya pada dakwah.

Ikhwati fillah rahimakumullah,

Semakin padatnya aktifitas siyasi tidak boleh membuat kita mengesampingkan tarbiyah dan takwin. Memang setelah kita mengambil keputusan berjuang melalui jalur siyasi, setiap lima tahun tenaga dan dana kita dikuras minimal 4 kali; Pemilu Legislatif, Pemilu Pilpres, Pilkada Provinsi, dan Pilkada Kab/Kota. Belum lagi aktifitas parlemen dan eksekutif yang membutuhkan energi ekstra dan banyak menyedot waktu untuk berkiprah di sana. Itulah konsekeunsi dari Mihwar Muassasi yang kita jalani saat ini, dan ia akan meningkat lagi saat kita nanti memasuki mihwar Dauli. Yang perlu disadari adalah, justru dengan meningkatnya aktifitas siyasi, kita membutuhkan bekal tarbiyah yang lebih besar dan lebih banyak. Justru dengan semakin dekatnya mihwar daulah, kita memerlukan kualitas yang lebih baik dalam tarbiyah.

Lebih dari itu, jalan kita dalam menggapai kemenangan Islam adalah jalan tarbiyah. التربية والتكوين طريقنا للتمكين . Karenanya, Hasan Al-Banna, seorang pelopor kebangkitan umat dan pendiri Ikhwanul Muslimin menegaskan:

فاعلم أن الغرض الأول الذي ترمى إليه جمعيات الإخوان المسلمين (التربية الصحيحة ) : تربية الأمة على النفس الفاضلة والخلق النبيل السامي ، وإيقاظ ذلك الشعور الحي الذي يسوق الأمم إلى الذود على كرامتها والجد في استرداد مجدها وتحمل كل عنت ومشقة في سبيل الوصول إلى الغاية ..
Maka ketahuilah bahwa tujuan pertama yang digariskan oleh Ikhwanul Muslimin adalah tarbiyah shahihah, yakni pembinaan umat untuk mengantarkannya menuju kepribadian yang utama dan mentalitas yang luhur. Pembinaan -untuk membangun jiwa yang dinamis- itu ditegakkan dalam rangka merebut kembali kemuliaan dan kejayaan umat dan untuk memikul beban tanggung jawab di jalan yang mengantarkan kepada tujuan. (Risalah Hal Nahnu Qaumun Amaliyun)

Mengapa? Sebab tarbiyah akan membentuk dua unsur utama yang dibutuhkan dalam menegakkan Dinullah; para dai sebagai basis operasional dan masyarakat sebagai basis pendukung. Kita memerlukan para dai dalam jumlah yang banyak dalam rangka mempelopori perubahan Islami di masyarakat. Namun, tanpa masyarakat yang tersentuh dakwah, proyek itu tidak hanya tidak mendapat dukungan, bisa jadi malah akan ditentang dan dilawan.

Inilah yang tidak disadari oleh beberapa harakah Islam saat mereka menyeru penegakan khilafah tanpa melihat kesiapan masyarakatnya. Begitu seruan ini dimulai, masyarakat segera membuat tembok penghalang misi itu dan seketika menjadi lawan dakwah itu. Khilafah memang seketika didengar, tapi oleh telinga yang panas. Khilafah memang dikenal, tetapi dikenal sebagai sesuatu yang menakutkan dan angker. Akibatnya, kegagalan dakwah begitu banyak memenuhi lembar sejarah.

Pengalaman kita beberapa tahun terakhir juga mengajarkan hal yang sama. Meskipun suatu daerah telah dimenangkan oleh partai dakwah dan Kepala Daerahnya juga seorang ikhwah, tidak otomatis masyarakat mendukung pelaksanaan perda-perda Islami. Masyarakat masih belum siap untuk bersama-sama menegakkan Dinul Islam.

Tarbiyah dan Kader Dakwah
Saudaraku,
Bukankah tujuan kita dalam jamaah dakwah ini adalah dalam rangka bersama-sama menegakkan kalimat Allah? Tujuan yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh para sahabat dan salafus shalih serta para mujahidin fii sabiilillah,
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ [الأنفال/39]
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah (QS. Al-Anfal : 39)

Tujuan yang mulia ini tidak bisa terealisir kecuali ia dimulai dari orang-orang yang telah menyatu dengan tujuan itu. Dan bagaimana mungkin seseorang mengumumkan sebuah tujuan dan mengajak manusia menempuh jalan ke sana sementara ia tidak berada di jalan yang sama? Mengapa orang-orang Arab berbondong-bondong mengikuti Rasulullah SAW adalah karena mereka melihat kebenaran Islam dan melihat dengan mata kepala mereka sendiri keteguhan Rasulullah SAW dan para shahabatnya dalam menapaki jalan Islam. Sekali saja manusia melihat ketidakkonsistenan pada penyeru dakwah, mereka akan ragu dan mempertanyakan kebenaran dakwah.

Mereka yang istiqamah menjadi pengemban dakwah di masa Rasulullah SAW itu adalah mereka yang telah ditarbiyah Rasulullah SAW. Semakin intensif tarbiyah itu, semakin tinggi kualitas mereka. Maka sejarah mencatat, para assabiquunal awwaluun adalah orang-orang terbaik, dan dari merekalah lahir pemimpin-pemimpin umat. Semua khulafaurrasyidin adalah produk tarbiyah fase Makkah. Sahabat-sahabat yang mengikuti tarbiyah sejak di rumah Arqam bin Abi Arqam telah menjadi penggerak-penggerak utama dakwah. Semakin intensif tarbiyah itu, semakin tinggi kualitas mereka. Namun, intensifitas tidak sama dengan lamanya masa tarbiyah.

Tarbiyah adalah jalan kita dalam meraih kemenangan. Maka, sesibuk apapun kita dalam amal siyasi, tidak boleh membuat kita me-nomor dua-kan amal tarbawi. Saat kita melanggar prinsip ini, akan terjadi musykilah yang membuat kita semakin jauh dari kemenangan dakwah. Inilah yang terjadi saat kader dakwah sibuk dengan aktifitas-aktifitas politik, lalu ia mulai terlambah datang saat halaqah. Kemudian ia mulai tidak hadir dalam halaqah, sering absen. Perlahan-lahan, nuansa rabbani dalam dirinya akan hilang. Kegersangan ruhani mulai dirasakan. Futur pun melanda.

Bagaimana mungkin kita bisa menggapai kemenangan, jika kita tidak memenuhi syarat-syaratnya. Dan diantara syarat terpenting adalah tersedianya kader-kader rabbani dalam jumlah yang masif.

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ [آل عمران/146]
Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut nya yang rabbani. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran : 146)

Maka, selepas Ramadhan ini kita perlu meningkatkan intensifitas kita pada amal tarbawi. Kita maknai bulan syawal yang berarti peningkatan ini dengan peningkatan kualitas aktifitas tarbawi kita. Wasailut tarbiyah (sarana-sarana tarbiyah) yang ada hendaklah dioptimalkan dan dipenuhi secara seimbang.

Halaqah
Halaqah sebagai sarana utama tarbiyah tidak boleh dilewatkan oleh seorang ikhwah, sesibuk apapun dia. Tanpa udzur syar'i, sakit misalnya, jangan coba-coba absen dari forum liqa' yang menjadi inti tarbiyah ini. Kedisiplinan mengikuti halaqah menjadi tolak ukur loyalitas kader pada dakwah. Dan, keseriusannya dalam halaqah menjadi bukti komitmennya pada dakwah.

Ikhwah yang benar tidak hanya selalu datang tepat waktu dalam halaqah. Tetapi ia juga telah menyiapkan diri dan memiliki bekal berupa pengamalan madah tarbiyah sebelumnya dan bersiap dengan madah tarbiyah selanjutnya. Ia juga sudah siap dengan seluruh barnamaij yang disepakati grupnya. Grup halaqah yang benar tentu memiliki barnamaij yang baik. Jangan sampai halaqah hanya sekedar berkumpul, bertemu, lalu membahas kondisi politik, setelah itu bubar. Tidak ada nilai ruhiyah. Malah menambah masalah. Bukan seperti itu.

Tilawah harus diperbaiki dalam halaqah, selain dalam forum lain yang lebih intensif. Materi tarbiyah yang diberikan Murabbi haruslah mengacu pada kurikulum tarbiyah, sehingga ia memiliki nuansa rabbani dan seimbang dalam memenuhi kapasitas yang hendak dibangun dalam tarbiyah. Taujih yang diberikan murabbi maupun yang disampaikan semua anggota grup diharapkan menjadi tazkiyah, sehingga selesai halaqah, ruhani mendapatkan apa yang dirindukannya; berupa ketenangan dan kesejukan jiwa. Pun, dengan mutabaah yang menjadi alat kontrol kualitas kita. Ia bukan buku yang harus ditakuti dan menjadi beban. Bersyukurlah. Dengan adanya mutabaah kita lebih stabil dan terjaga.

Mabit
Inilah sarana mensucikan jiwa kita. Inilah sarana tarbiyah ruhiyah yang sangat efektif untuk meng-up grade taqarrub kita kepada Allah SWT. Materi ruhiyah atau tazkiyatun nafs, qiyamullail, dzikir dan muhasabah dalam mabit ini sangat diperlukan oleh kader dakwah dalam rangka menuju kader-kader yang rabbani. Dalam kondisi normal, kita memerlukan mabit satu bulan sekali. Sungguh miris mendengar ungkapan kader dakwah yang merasa terbebani dengan aktifitas tarbawi seraya mengatakan (meskipun sambil bergurau): "Liqa' liqo'.... mobat mabit..."

Kita terlupakan tentang keberuntungan yang akan Allah anugerahkan kepada orang yang mensucikan jiwanya.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10) [الشمس/9، 10]
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams : 9-10)

Daurah
Sarana tarbiyah lainnya yang sangat penting adalah daurah. Kurikulum tarbiyah kita telah menentukan materi-materi yang perlu disampaikan melalui halaqah dan mana yang perlu disampaikan melalui daurah. Subhaanallah, kerja keras masayikh kita dalam merancang kurikulum dan madah tarbiyah adalah pekerjaan besar yang luar biasa. Kita tinggal menikmati, seraya mendoakan mereka. Semoga Allah memberikan pahala yang mengalir tiada terputus bagi mereka.

Daurah juga diperlukan untuk melakukan akselerasi tsaqafah kader dakwah. Jangan sampai kader dakwah tidak memahami Islam secara komperehensif. Jangan sampai kader dakwah tidak memiliki ilmu dasar tentang Al-Qur'an dan Sunnah. Jangan sampai kader dakwah tidak mengerti sirah nabawiyah, yang dari sana kita banyak mengambil fiqih dakwah. Dan jangan sampai kader dakwah tidak memahami fikrah dakwah jamaah ini. Itu semua bisa di-akselerasi melalui daurah.

Masih banyak wasailut tarbiyah seperti mukhayam, rihlah, dan lain-lain. Kiranya tiga sarana tarbiyah di atas menjadi perhatian utama kita dalam menyiapkan diri menjadi kader-kader dakwah.

Mentarbiyah Masyarakat
Sekarang ini banyak orang yang bergabung pasca pemilu. Mereka adalah simpatisan-simpatisan yang ingin memperdalam Islam dan mendapatkan bekal ruhiyah. Atau mereka yang mulai tersentuh dakwah dan memiliki azzam untuk berkontribusi dalam dakwah. Struktur dakwah yang ada, khususnya elemen tarbiyah, baik eleman tarbiyah daerah, elemen tarbiyah cabang, maupun elemen tarbiyah ranting hendaknya tanggap dengan hal ini dan bersegera menjemput mereka dan memasukkanyya dalam dakwah khas, masuk dalam lingkaran tarbiyah kader.

Adapun masyarakat secara umum, kita perlu memberikan tarbiyah dalam bentuknya yang umum. Di sinilah pentingnya kader menjalankan fungsinya sebagai dai. Dan kita membutuhkan jumlah yang sangat besar. Banyak daerah yang masyarakatnya membutuhkan mubaligh untuk memberikan taklim, mengajarkan Islam kepada mereka. Tetapi, ketersediaan kader dalam kapasitas seperti itu masih terbatas. Terlebih, setelah banyaknya Ustadz-ustadz kita yang mendapatkan amanah jabatan publik.

Bukan berarti kita berpikir secara salah bahwa para Ustadz harus ditarik lagi ke barak, agar kembali mengisi taklim-taklim, pengajian-pengajian, tabligh-tabligh, dan sebagainya. Mereka sudah tepat ada di jabatan publik sebab mereka orang-orang yang memiliki pemaham agama yang mumpuni. Bukankah pada masa Rasulullah, khulafaur rasyidin, bahkan kekhilafahan berikutnya para pemegang jabatan adalah orang-orang terbaik dalam agama?

Yang harus kita pikir dan lakukan adalah mencetak ustadz-ustdaz baru yang siap menggantikan mereka dalam mendakwahi umat secara massal seperti taklim dan tabligh. Sambil, dengan tenaga yang tersedia saat ini kita optimalkan untuk berinteraksi dengan masyarakat dan mendakwahi mereka. Kita membutuhkan masyarakat yang terwarnai dengan dakwah sama seperti kita membutuhkan suara dalam pemilu, bahkan lebih urgen lagi. Mengapa? Karena itulah sasaran dakwah ini. Mengubah masyarakat menjadi islami. Ishlahul mujtama'. Dan, hanya dengan adanya masyarakat yang mendukung program dakwah kita, kita bisa meraih kemenangan dalam mihwar muassasi ini, lalu memasuki mihwar dauli, dan menegakkan dinullah di muka bumi.

Wallaahu a’lam. [sumber: E-Book Taujih Pekanan Menuju Mihwar Dauli]

dari : pks2014.blogspot.com
READ MORE >>

Jumat, 22 Januari 2010

ADAB AL ISTI’DZAN

Meminta izin sekilas tampaknya sepele, padahal sangat penting pengaruhnya bagi kedisiplinan, keteraturan, kejelasan kabar dan informasi dsb. Hal itu sangat diperlukan dalam kehidupan berjamaah, agar kegiatan dakwah dapat berjalan dengan lancar, terevaluasi dan efektif.



Meminta izin dalam Islam
Islam sebagai dien yang lengkap dan sempurna tentunya tidak akan alpa mengatur sekecil apapun urusan hidup dan kehidupan manusia. Hal itu telah jelas diatur dan dijamin oleh pemiliknya, yaitu Allah SWT. Dari urusan yang paling ringan sampai kepada urusan yang paling berat sekalipun (menurut ukuran manusia), semuanya diatur di dalam Islam, termasuk juga dalam masalah izin dan perizinan.
Allah SWT di dalam Kitab Nya yang suci, telah mengatur masalah ini, baik sebagai etika dalam hubungan sosial kemasyarakatan seperti :
o Etika meminta izin: 24:27, 24:28, 24:58, 24:59, 33:53
o Lafaz dan cara meminta izin: 24:61
o Meminta izin untuk menghindari pandangan (yang dilarang): 24:58
o Meminta izin di hotel dan tempat-tempat umum: 24:29
o Meminta izin ketika akan keluar: 24:62
Sampai kepada hal yang terkait dengan urusan yang sulit, seperti dalam hal peperangan, jihad atau kerja besar lainnya, QS. at-Taubah : 44-45, 83; an-Nuur : 62-63
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat." QS. 24:27

"Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " QS. 24:28

Bagaimana para sahabat ra. Memberikan contoh tentang masalah ini?
Dari Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: "Minta izin itu sampai tiga kali. Apabila diizinkan, maka masuklah kamu, dan apabila tidak diizinkan, maka pulanglah kamu" (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Sahal bin Sa'ad ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya minta izin itu dijadikan ketentuan karena untuk menjaga pandangan mata." (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Kildah bin Hanbal ra., ia berkata: "Saya datang ke rumah Nabi saw. Dan langsung masuk tanpa mengcapkan salam, kemudian Nabi saw. Bersabda: "Kembalilah, dan ucapkanlah: "Assalaamu'alaikum, bolehkan saya masuk?"
(HR.Abu Dawud dan Turmudzi, dan dia berkata hadits ini hasan)

Kita perhatikan taujih robbani tentang masalah ini :
Ibnu Ishak meriwayatkan tentang asbabun nuzul 'sebab turunnya' ayat-ayat ini. Disebutkan bahwa setelah orang-orang Quraisy dan sekutu-sekutu mereka (al ahzab) berhimpun dan menggalang kekuatan di perang Khandaq (parit), dan setelah Rasulullah mendengar mereka akan melakukan serangan,…atas ide seorang sahabat 'Salman Al Farisi' … maka Rosulullah menyuruh untuk menggali parit di sekitar Madinah. Rasulullah pun ikut terlibat langsung dalam penggalian itu untuk memberikan contoh dan menyemangati kaum mu'minin untuk mendapatkan pahala. Maka orang-orang yang beriman ikut serta bersama Rasulullah dan berlomba-berlomba.
Namun ada beberapa orang munafik yang setengah-setengah dan terlambat datang bersama Rasulullah dan kaum mu'minin dalam membuat parit itu. Mereka hanya ikut terlibat dengan sekedarnya dan pekerjaan yang sangat kecil/ringan. Kemudian mereka mencari-cari celah untuk pergi ke rumah-rumah mereka tanpa sepengetahuan Rasulullah dan juga tanpa izinnya.

Sementara itu orang-orang yang beriman bila ada hajat yang harus ditunaikan, dia menyebutkan hajat itu di hadapan Rasulullah dan meminta izin untuk menunaikan hajatnya tersebut. Maka Rasulullah pun memberikannya izin. Bila dia selsai menunaikan hajatnya, maka diapun segera kembali menerusakan pekerjaan mengali parit, karena ingin mendapatkan pahala dan mengharapkan kebaikan. Allah pun menurunkan ayat kepada orang-orang beriman itu, sebagaiman ditulis pada surat An Nuur : 62.
"Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Allah berfirman kepada orang-orang munafik yang mencari-cari celah untuk pergi ke rumah-rumah mereka tanpa sepengetahuan Rasulullah dan juga tanpa izinnya. Hal ini dapat dilihat dari ayat 63-nya :
"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."
Apapun sebab turunnya ayat-ayat ini, ia tetap mengandung adab-adab mental yang mengatur komunitas orang-orang yang beriman dengan pemimpin mereka. Urusan komunitas orang-orang yang beriman tidak akan pernah beres sebelum adab-adab ini melekat dalam perasaan-perasaan, kecenderungan-kecenderungan mereka, dan lubuk-lubuk hati mereka yang paling dalam. Kemudian adab-adab itu juga harus bersemayam dalam kehidupan komunitas orang-orang yang beriman, sehingga menjadi panutan dan aturan yang dipatuhi. Bila tidak tercipta, maka yang akan terjadi adlah kekacauan yang tiada terhingga.

Dalam ayat 62 tadi dikatakan bahwa, bukanlah orang beriman, orang-orang yang hanya berkata dengan mulut mereka, namun tidak membuktikannya dengan tanda-tanda kesejatian perkataan mereka dan mereka tidak taat kepada Allah dan Rasulullah.
"… apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya…"
Urusan bersama adlah urusan yang sangat penting, yang membutuhkan keikutsertaan semua komponen dalam jamaah, untuk mengatasi sebuah pandangan atau peperangan atau pekerjaan umum yang dilakukan bersama-sama. Orang-orang yang beriman tidak akan pergi meninggalkannya sampai mereka meminta izin kepada pemimpin mereka. Sehingga urusan tidak menjadi kacau tanpa kestabilan dan keorganisasian.

Orang-orang yang beriman dengan iman seperti ini dan berperilaku dengan adab seperti ini, tidak akan pernah minta izin kecuali untuk sebuah urusan yang sangat darurat dan penting. Mereka memiliki daya selektivitas dan pencegahan dari iman dan adab mereka yang menjaga mereka dari bersikap berpaling dari urusan bersama itu yang telah mengusik hati semua jamaah dan mengharuskan mereka sepakat atas semua keputusan bersama. Bersama dengan ini, alqur'an tetap meletakkan hak memberi izin atau tidak, kepada pendapat Rasulullah sebagai pemimpin jamaah. Hal itu dianugerahkan kepada Rasulullah setelah setiap individu diberi hak yang sama dalam meminta izin.
"… maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka…"
(Rasulullah telah disalahkan oleh Allah karena memberi izin kepada orang-orang munafik sebelumnya, maka Allah berfirman kepada beliau dalam surah at-Taubah ayat 43,
"Semoga Allah mema'afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?"

Allah memberikan hak penuh kepada pandangan Rasulullah. Bila beliau ingin mengizinkan, maka hak beliau untuk mengizinkannya. Dan, bila beliau tidak ingin memberikan izin, juga merupakan hak hak beliau. Allah menghilangkan perasaan bersalah dari Rasulullah karena tidak memberikan, walaupun kadangkala di sana ada kebutuhan yang sangat mendesak. Jadi kebebasan sepenuhnya diberikan kepada pemimpin dalam menimbang antara maslahat orang tetap berada di tempat tugasnya dan maslahat bila dia pergi meninggalkannya. Seorang pemimpin diberikan keleluasaan untuk menentukan keputusan dalam masalah kepemimpinan ini sesuai dengan pandangannya.
Dari sini tersirat bahwa keputusan untuk meninggalkan kepentingan darurat itu; dan tidak pergi meninggalkan tugas itulah yang paling utama. Meminta izin dan pergi meninggalkan tugas dalam kondisi itu merupakan kesalahan yang kemudian membuat nabi SAW harus memohon ampunan bagi orang-orang yang memiliki uzur.
"…dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Dengan permohonan ampunan itu, ia mengikat hati orang-orang yang beriman. Sehingga, mereka tidak berusaha meminta izin walaupun punya pilihan untuk itu, karena mereka mampu menguasai uzur yang mendorongnya untuk meminta izin.
Kemudian Allah memperingatkan orang-orang munafik dari sikap mencari-cari celah dan pergi meninggalkan Rasulullahtanpa izin, dengan berlindung kepada sebagian teman mereka yang lain dan saling menyembunyikan diri. Mereka harus yakin bahwa mata Allah selalu mengintai mereka, walaupun mata Rasulullah tidak melihat mereka.
"…Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya)…"

Ungkapan itu menggambarkan tentang upaya melepaskan diri dan mencari-cari celah dari perhatian majelis. Di situ jelas tergambar ketakutan mereka untuk berhadapan, serta kehinaan gerakan dan perasaan yang menimpa jiwa-jiwa mereka.
"…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."

Jadi, ternyata meminta izin adalah simbol komunikasi yang efektif, sementara komunikasi adalah alat yang penting dalam bekerja secara kelompok. Kelompok yang membiasakan minta izin terlebih dahulu, menunjukan pribadi dan kelompok yang solid dan memiliki aturan main.
Adab minta izin ini sangat terkait dengan disiplin, sistem, dan aturan jamaah serta ketaatan kepada pemimpin. Jika kita menyepelekan hal 'meminta izin' ini, maka keinginan menjadi jamaah yang solid, sulit untuk diwujudkan.
Wallahu a'lam.
MARAJI’
1. Al Qur'an al-karim
2. Fiqh Shirah
3. Sikap Mata, Jilid II




READ MORE >>

Bingkai Kehidupan

"Save Palestine" Demonstration in Semarang

"Save Palestine" Demonstration in Semarang
Semarang, 21 Maret 2010

Mars PKS

Mars Partai Keadilan SEJAHTERA - Watch more Videos at Vodpod.

Harapan Masih Ada

Aktifitas Aleg DPRD Kota Semarang


Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur

Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur
Evendi Sunarko, SPd dan Sutopo, SE

Sekretariat DPC

Dewan Pengurus Cabang
Partai Keadilan Sejahtera
Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang
Jl. Menoreh Utara I/7 Semarang-Jawa Tengah
Telp (024)8501042

Jadwal Sholat

 

Copyright © 2009 by DPC PKS Gajahmungkur Rindu Semarang Berubah Powered By Blogger Design by PKSGM-Team