Ustadz Drs. H. Mahfud Siddiq, M.Si,Banyak ni’mat yg harus kita syukuri yang Allah berikan kepada kita: ni’mat sbg hamba-Nya, ni’mat sebagai manusia, bukan hanya dalam konteks kita sebagai pribadi (individu) namun juga dlm konteks kita sebagai bagian dari ummat. Keberadaan seorang muslim sebagai makhluq ciptaan Allah mengemban tanggungjawab sosial, dimana dalam hal ini seorang muslim selain secara khusus sebagai bagian dari ‘umat Islam’ juga secara umum sebagai bagian dari manusia. Konteks secara umum ini penting untuk kita sadari karena ni’mat yg Allah limpahkan kepada kita nantinya akan dimintakan pertanggungjawabannya di yaumil hisab (hari pembalasan), baik dalam konteks pertanggungjawaban pribadi maupun pertanggungjawaban sosial.
Oleh karena itu tujuan dari taujih kali ini adalah dalam rangka upaya penyegaran, peningkatan, pengokohan, dan pemeliharaan iman untuk mensyukuri ni’mat Allah sebaik-baiknya.
Pada saat penciptaan manusia - yang mana kemudian Allah memberikan manusia itu beragam ni’mat, termasuk dlm hal ini adalah ni’mat hidayah - lalu Allah menjelaskan bahwa pada akhirnya hanya ada 2 golongan manusia, dimana setiap dari kita hanya akan masuk di dalam salah satu golongan tersebut. Tidak ada golongan ke-3, dan juga tidak ada golongan yg duduk di antara keduanya. Dua golongan itu adalah:
1. Orang2 yg ‘syakiran’ (org2 yg mampu bersyukur)
2. Orang2 yg ‘kafuran’ (org2 yg kufur, terutama atas ni’mat Allah)
Setiap perbuatan (amal) yang kita lakukan, akan menggiring kita masuk kepada salah satu dari dua golongan (kondisi) ini. Di yaumil hisab nanti, orang-orang yg syakiran akan disempurnakan ni’matnya dgn mendapat balasan ‘jannatul na’im’ (surga yg penuh ni’mat). Sementara itu orang yg kafuran mendapat balasan ‘naaru jahannam’ (neraka jahannam) – QS Ibrahim : 28-29.
Allah berfirman : Tiadakah kau lihat orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran, Dan membawa kaumnya ke dalam lembah kebinasaan. yaitu neraka jahanam? Didalamnya mereka dipanggang dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman (QS. 14 :28-29)
Allah Swt menjelaskan di dalam salah satu ayat Al Qur’an bhw sesudah manusia itu diciptakan, maka Allah akan menyempurnakan ni’mat kepada manusia itu berupa penciptaan yg selengkap-lengkapnya. Hal ini menunjukkan begitu besarnya ni’mat Allah. Dan Allah telah mengatakan bahwa jika manusia berusaha utk menghitung ni’mat Allah tsb, maka niscaya manusia tidak akan sanggup menghitungnya (QS Ibrahim:34).
Allah Swt menjelaskan di dalam salah satu ayat Al Qur’an bhw sesudah manusia itu diciptakan, maka Allah akan menyempurnakan ni’mat kepada manusia itu berupa penciptaan yg selengkap-lengkapnya. Hal ini menunjukkan begitu besarnya ni’mat Allah. Dan Allah telah mengatakan bahwa jika manusia berusaha utk menghitung ni’mat Allah tsb, maka niscaya manusia tidak akan sanggup menghitungnya (QS Ibrahim:34).
Dan Ia berikan kepadamu segala yang kamu minta kepada-Nya. Jika kamu hendak menghitung nikmat Allah, Tiada kamu dapat menghitungnya. Sungguh, manusia tiada adil, dan tiada tahu berterima kasih. (QS 14:34)
Salah satu contoh kecil dari ni’mat Allah ini adalah ni’mat kesehatan. Bagaimana menderitanya seorang manusia jika dia tidak bisa ‘buang angin’. Berapa yang harus kita bayar selama hidup kita, jika ternyata kita harus membayar ni’mat semacam itu. ‘Buang angin’ adalah salah satu ni’mat dari Allah yg kebanyakan manusia tidak suka ketika kita menggunakannya, namun ternyata sangat penting dalam hidup kita.
Bagi orang-orang yg beriman, dan orang-orang yang meyakini keluasan rizqi Allah, maka mereka tidak akan pernah sedetikpun mengeluh akan kekurangan ni’mat Allah, karena mereka meyakini bahwa ni’mat Allah sangat besar, luas dan banyak.
Sikap kita sebagai muslim dalam konteks pribadi adalah bagaimana ni’mat yg tlh Allah berikan kpd kita, bisa kita terima, kelola dan dayagunakan sebaik-baiknya untuk kebaikan dan ketinggian derajat kita di sisi Allah dan juga di sisi manusia.
Allah mempersilakan kepada manusia untuk mengambil apa saja ni’mat dari Allah itu sebanyak-banyaknya. Adapun ni’mat Allah yang dikaruniakan kepada manusia terbagi atas 3, yaitu:
1. Ni’matil Wujud (ni’mat existensi/hidup)
Bagi orang-orang yg beriman, dan orang-orang yang meyakini keluasan rizqi Allah, maka mereka tidak akan pernah sedetikpun mengeluh akan kekurangan ni’mat Allah, karena mereka meyakini bahwa ni’mat Allah sangat besar, luas dan banyak.
Sikap kita sebagai muslim dalam konteks pribadi adalah bagaimana ni’mat yg tlh Allah berikan kpd kita, bisa kita terima, kelola dan dayagunakan sebaik-baiknya untuk kebaikan dan ketinggian derajat kita di sisi Allah dan juga di sisi manusia.
Allah mempersilakan kepada manusia untuk mengambil apa saja ni’mat dari Allah itu sebanyak-banyaknya. Adapun ni’mat Allah yang dikaruniakan kepada manusia terbagi atas 3, yaitu:
1. Ni’matil Wujud (ni’mat existensi/hidup)
Allah berfirman : "Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan, karena itu Kami jadikan mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. Sungguh, kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala." QS Al Insan 76 : (1-4)
menceritakan fase-fase kehidupan manusia, dari ada menjadi tidak ada. Manusia tidak pernah meminta ni’mat ini, tapi Allah memberikannya kepada kita ‘free of charge’ (secara cuma-cuma). Dan ternyata manusia sangat mencintai ‘ni’matil wujud’ ini. Adakah di antara kita yg menyesal bahwa Allah telah menciptakn kita di muka bumi ini? Adakah di antara kita yg pernah berfikir bahwa lebih baik saya tidak ada di muka bumi ini? Bukan hanya orang2 yg beriman yang mencintai ni’matil wujud ini, tapi juga org2 yang tdk beriman mencintai ni’matil wujud ini, bahkan ada yg ingin hidup 1000 tahun lagi. Orang yg sengaja bunuh diri adalah orang yg sesungguhnya cinta dunia, karena mereka tidak tahan (putus asa dan frustasi) menghadapi tekanan berat kehidupan dunia.
2. Ni’matul Insan (ni’mat sebagai manusia).
Merupakan ni’mat yg setingkat lebih tinggi dari ni’matil wujud. Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
"Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (QS At Tiin:4).
Bahkan monyet yang paling baguspun masih kalah tampan dan ganteng dibandingkan manusia yg berperawakan buruk sekalipun. Manusia merupakan mahluq yg terbaik dan sempurna dibandingkan ciptaan Allah yg lain (termasuk Malaikat dan jin). Manusia dipilih oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi – (sejak penciptaan Adam) QS Albaqarah 2 : 30
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Dan ini memicu kecemburuan mahluq Allah yg lain yg bernama bangsa jin (yg diwakili oleh iblis) yang merasa lebih tinggi statusnya dari manusia karena diciptakan dari api sdgkan manusia hanya dari tanah
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." - (Qs Al-A'raaf(7) : 12)
"kecuali iblis. Ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?" Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk" (Al-Hijr (15) : 31- 33)
Dan sudah menjadi komitmen jin utk senantiasa memusuhi dan menjerumukan anak Adam (manusia) ke dalam jurang kesesatan
Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS : Al-A'raaf (7) : 16-17)
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (QS : Al-Hijr (7) : 39)
Dengan kecenderungan, watak dan syahwatnya manusia digoda setan untuk menjauh dari ajaran Allah dan lupa akan ni’mat Allah. Dan banyak dari manusia yg justru menghancurkan potensi kemanusiaan (fitrah insaniyah) yg ada dalam dirinya, dan mensublimasinya menjadi lebih rendah (derajatnya) dibandingkan makhluq Allah yg lain. Banyak muslim yg melepaskan pakaian insaniyahnya, seperti kisah Nabi Adam dan Hawa yg ditanggalkan pakaian (ketaqwaan)nya oleh setan.
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS Al-A'raaf (7) 26-27)
Ada org yg makan, mencari nafkah dan melampiaskan kebutuhan biologisnya sudah seperti binatang. Dan oleh Allah dikatakan mereka telah sesat dan menyesatkan dirinya sehingga mereka dikatakan oleh Allah sudah seperti hewan atau binatang ternak bahkan lebih sesat dari hewan-hewan itu.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A'raaf (7) : 179)
Banyak sebagian dari manusia yg tidak bisa mempertahankan statusnya dibandingkan makhluq Allah yang lain. Seekor burung tidak pernah resah atau takut akan kekurangan rizqi Allah, dan mereka senantiasa berupaya setiap hari untuk bisa survive. Jadi sangat tidak patut jika ada manusia yg sesungguhnya lebih tinggi derajatnya dari binatang, merasa resah dan takut akan kemiskinan, bahkan sampai membunuh anak-anak mereka.
3. Ni’matul Islam (ni’mat diturunkannya Islam).
Allah menyempurnakan ni’mat-ni’mat yang lain dengan mengaruniakan ni’matul Islam. Ni’mat ke-Islaman dikokohkan oleh Allah melalui ajaran (agama) yg dibawa oleh para anbiya-’ulmursalin, bukan yg dibawa oleh manusia biasa atau oleh iblis. Dan Allah telah menjamin bahwa agama (dien) yang diterima di sisi Allah adalah Islam
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS. Ali-Imron (3) : 19)
Adapun status manusia sejak dilahirkan telah membawa fitrah ke-Islaman
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Ar-Ruum (30) : 30).
Orangtua dan lingkunganlah yg berperan mengubah fitrah Islam pada diri seorang anak – apakah tetap menjadi Islam ataukah berpaling ke agama lain yg tdk diterima Allah.
Apakah kita sudah mensyukuri ni’mat dari Allah tersebut? Wujud dari rasa syukur kita atas ni’mat Allah di refleksikan dari gerak pola pikir, tingkah laku, cara bekerja kita senantiasa diorientasikan utk mendapat rahmat Allah (hidup secara Islami). Kita dituntut utk menyempurnakan syakhsiyah Islamiyah kita.
Adapun terkait dengan misi seorang muslim atas ni’mat Allah ini dan juga sebagai tanggungjawab sosialnya
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Qs. Al-Baqarah (2) :177),
maka tidaklah patut seorang muslim mempunyai misi hanya utk mewujudkan kepentingan pribadi. Tapi sebaliknya kita dituntut utk mengemban misi yg lbh luas yaitu utk memberikan kebaikan kepada seluruh umat manusia yang lain, menyebarkan kebaikan bagi semesta alam. Hal ini berdasarkan acuan bahwa Rasul sendiri ditugaskan untuk menyebarkan Tauhidullah dan rahmat bagi semesta alam
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
(Qs. Al-Anbiyaa' (21):107),
dan kita sebagai org yg mengaku beriman kepada Allah dan meneruskan risalah Islam, mempunyai tanggungjawab memelihara risalah itu dgn turut menyebarkan kebaikan.
‘Sebaik-baik manusia adalah yang bisa mendatangkan kebaikan bagi orang yang lain’ (Hadits)
Seorang muslim adalah produsen dan distributor kebaikan. Jangan hanya menjadi konsumen kebaikan, apalagi menjadi produsen dan distributor keburukan. Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Allah memerintahkan Nabi untuk menyerukan manusia agar menjadi orang rabbani yaitu orang yang mengajarkan Al Kitab dan mempelajarinya
Bila kita senantiasa mewujudkan peran kita sebagai produsen dan distributor kebaikan, dan kebaikan kita menyebar kepada seluruh umat, umatpun dibangkitkan utk senantiasa berbuat kebaikan. Utk menjadi produsen dan distributor kebaikan ini kita hrs kembali kepada Islam, dimana segala tindak tanduk dan dasar perbuatan kita senantiasa berlandaskan dan sesuai syariat yang telah diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Bila umat ini telah bangkit kembali dan bersama-sama melaksanakan risalah-Nya, maka janji Allah bahwa kita adalah umat terbaik (Khaira Ummah) –
(QS. Ali-Imron (3) : 110)
, Insya Allah akan terwujud.
dipublikasikan kembali oleh : pks-gajahmungkur.blogspot.com
Comments :
0 komentar to “Syukur Terhadap Ni’mat Allah”
Posting Komentar