Simple Template For Entertainment News


Tempat Informasi Kegiatan Kader DPC PKS Gajahmungkur


GALLERY


Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Juni 2010

Kader; Kunci Kemenangan Dakwah

Manusia adalah unsur inti dari kehidupan. Peningkatan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) senantiasa menjadi isu penting semua organisasi. Bahkan disaat teknologi dianggap sebagai parameter sebuah negara dikatakan maju, SDM tetap menjadi persoalan penting yang diyakini mempengaruhi secara signifikan eksistensi negara tersebut dalam peradaban dunia. “The man behind the gun”, begitu kira-kira orang sana membahasakan betapa pentingnya unsur manusia disamping teknologi. Bagaimanapun canggihnya teknologi, tidak akan bermanfaat bila tidak ada manusia yang bisa menggunakannya. Bahkan ia dapat menjadi bencana bila manusia menyalah gunakannya.

Dari sini, kita memperoleh dua kata kunci tentang SDM ini. Pertama, dan ini yang terpenting, adalah persoalan pembentukan kepribadian manusia, sehingga ia tak menyalah gunakan apapun yang berada ditangannya. Kedua,peningkatan kemampuan, kompetensi dan kapabilitas manusia sesuai bakat, minat dan spesialisasinya. Bahwa pengembangan dalam teknologi, metodologi atau apapun tak akan berarti apa-apa jika tak diiringi dengan peningkatan kemampuan manusianya. Singkatnya, kita dapat mengatakan bahwa teknologi, metodologi dan kawan-kawannya hanyalah tools atau alat, manusialah yang menentukan apakah ia bermanfaat atau justru menjadi bencana.

Dua aspek penting yang terkait SDM, pembentukan kepribadian dan peningkatan kemampuan manusia inilah yang menjadi core kerja tarbiyah kita. Keduanya harus berjalan seiring dan seimbang. Jadi kerja tarbiyah intinya adalah membentuk kepribadian manusia secara bertahap sehingga menjadi pribadi yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya, lalu meningkatkan kemampuannya hingga menjadi kader yang mampu melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadanya dalam rangka mengembalikan kejayaan Islam dan kaum muslimin.

Disinilah letak persoalannya. Tarbiyah merupakan metodologi, cara, sarana, alat atau tools. Tarbiyah memerlukan unsur lain agar dapat diaplikasikan. Kita asumsikan unsur lain itu adalah manhaj, idarah (manajemen), Murabbidan Mutarabbi.

Mari kita renungkan lebih dalam. Untuk aspek manhaj, kita sudah memilikinya. Bahkan untuk menjaga ta’shil(orisinalitas) dan mengikuti perkembangan lapangan,manhaj tarbiyah terus dievaluasi dan direvisi secara berkala. Lebih jauh, seluruh kader dapat secara langsung memiliki dan mengakses manhaj itu karena telah dibukukan. Untuk aspek idarah pun demikian, kader dapat mengakses sistem itu dengan mudah, apalagi idarah ini bukanlah suatu konsep yang sulit dan rumit bagi rata-rata kader.

Tetapi sebagaimana “kaidah” diawal tulisan ini, betapapun bagus dan lengkapnya manhaj atau idarah yang dimiliki, tak akan berarti apa-apa jika tak ada yang mampu dan mau mengaplikasikannya. Jadi, suka tidak suka kita harus kembali kepada pentingnya unsur manusia (dalam konteks ini adalah Murabbi dan Mutarabbi) untuk membuat tarbiyah berjalan dengan baik.

Maka, upaya merevisi manhaj dan idarah harus diiringi dengan upaya penyiapan dan peningkatan kemampuan para Murabbi. Ini karena para Murabbi adalah “The man behind The Manhaj and The Idarah”. Lalu, siapa yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan program penyiapan dan peningkatan kemampuan para Murabbi? Ya, jawabannya adalah struktur yang memiliki program tersebut. Dan siapa yang berada di struktur itu? Manusia juga kan? Maka upaya yang harus dilakukan juga adalah meng up grade mereka yang berada di struktur tarbiyah hingga punya kemampuan dan kemauan melaksanakan program yang menjadi tanggung jawabnya.

Demikianlah persoalan ini akan saling terkait satu dengan lainnya. Tetapi pada intinya, faktor manusia (kader) senantiasa menjadi yang sangat signifikan mempengaruhi keberhasilan dakwah, bersama faktor tools lainnya tadi.

Tengoklah sejarah. Keberhasilan dakwah Rasulullah bisa dikatakan sangat didukung oleh dua faktor SDM, disamping tentu saja faktor bimbingan manhaj Alllah SWT. Faktor pertama adalah beliau sendiri sebagai SDM Murabbi yang handal, dan faktor kedua yang tak boleh diabaikan, adalah adanya SDM mutarabbi kader-kader yang berkualitas, yang dalam istilah Syaikh Sayyid Quthb disebut sebagai al-Jiil al-Qur’an al-Fariid (Generasi Qur’ani Yang Unik). Itulah Abu Bakr ash-Sidq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amr bin Yasir, Abdullah bin Mas’ud dan masih banyak lagi. Merekalah generasi shahabat Rasululllah SAW yang mempersembahkan hidup mati mereka demi tegaknya izzul Islam wal muslimin.

Jadi, jika ingin meraih kembali kemenangan dakwah, kita harus membenahi kader disemua jenjang dan lapisnya. Kader jajaran pimpinan, kader fungsionaris struktur, kader yang berada di lembaga legislatif atau eksekutif, kader kepala daerah, kader birokrat, kader profesional, kader Murabbi dan kader Mutarabbi, semuanya harus dikokohkan secara terus menerus tarbiyahnya. Konsekwensinya adalah program-program yang berorientasi pada pengokohan tarbiyah kader harus menjadi prioritas kita. Agar kader memiliki energi dahsyat untuk melakukan kerja-kerja dakwah. Agar Allah memberikan pertolongan- Nya. Maka dengan kekuatan kader dan pertolongan Allah, insya Allah dakwah ini akan mengembalikan izzul islam wal muslimin. Allahu Akbar!

di publikasikan kembali : pks-gajahmungkur.blogspot.com

READ MORE >>

Senin, 03 Mei 2010

Mentarbiyah Dengan Cinta


DR. Maisarah Thahir berkata: Sarana tarbiyah dengan cinta, atau bahasa cinta, atau abcd cinta, ada delapan:

1. Kosa kata cinta

2. Pandang mata cinta

3. Suapan cinta

4. Sentuhan cinta

5. Selimut cinta

6. Pelukan cinta

7. Ciuman cinta

8. Senyum cinta

Pertama: Kosa kata cinta

Berapa kosa kata cinta kita ucapkan kepada anak-anak kita?

Dalam sebuah kajian dikatakan: seorang anak dari bayi sampai ABG telah mendengar tidak kurang dari 16 ribu kosa kata buruk, namun, ia hanya mendengar ratusan kosa kata baik!

Image yang tergambar dalam pikiran seorang anak tentang dirinya merupakan salah satu hasil dari omongan yang didengarnya, seakan sebuah kosa kata adalah sebuah kuas di tangan seorang pelukis, bisa jadi ia melukiskannya dengan warna hitam, bisa juga melukiskannya dengan berbagai warna indah. Jadi, kosa kata-kosa kata yang ingin kita ucapkan kepada anak-anak kita, harus yang baik, kalau tidak baik, jangan kita ucapkan.

Sebagian orang tua, sebagian kosa katanya (merendahkan, menjelek-jelekkan, merendahkan ciptaan Allah), akibatnya terhadap anak adalah (mengurung diri, permusuhan, ketakutan, tidak percaya diri).

Kedua: pandang mata cinta

Jadikan kedua matamu tepat pada kedua mata anakmu, disertai senyuman, dan bergumamlah dengan suara tidak terdengar: “aku mencintaimu wahai si fulan”, 3 atau 5 atau 10 kali, jika hal itu disikapi oleh anakmu celaan, atau merasa aneh, dan ia berkata: “apa yang kamu lakukan wahai ayahku”, maka jawablah: “aku rindu kepadamu wahai fulan”. Jadi, pandangan mata, dan cara ini, mempunyai dampak dan hasil yang luar biasa.

Ketiga: Suapan cinta

Cara ini tidak bisa dilakukan kecuali seluruh anggota keluarga berkumpul di satu meja makan. [nasihat: janganlah menempatkan tv di ruang makan], agar terjadi interaksi dan pertukaran pandangan mata. Dan saat menikmati santapan makan, hendaklah orang tua berusaha menyuapkan beberapa suap ke mulut anaknya [dengan catatan, anak kelas V atau VI SD ke atas, pasti merasa bahwa cara ini tidak bisa mereka terima], jika sang anak menolak menerima suapan itu di mulutnya, maka letakkan pada sendok atau piringnya. Hendaklah saat menyuapi disertai dengan pandangan mata cinta diiringi senyuman, kosa kata indah dan suara pelan: “demi Allah wahai anakku, saya sangat ingin menyuapimu dengan suapan ini, ini adalah kurir cintaku wahai sayangku”, setelah ini, pasti dia mau menerimanya.

Keempat: Sentuhan cinta

DR. Maisarah berkata: saya naihatkan agar orang tua memperbanyak sentuhan terhadap anaknya. Bukan sebuah kebijakan jika seorang ayah berbicara dengan anaknya pada dua kursi yang berbeda. Sebaiknya sang anak ada di sampingnya, dan hendaklah tangan sang ayah menempel di bahu anaknya (tangan kana nada di bahu kanan). Kemudian DR. Maisarah menjelaskan cara nabi SAW menghadapi lawan bicaranya: “Nabi Muhammad SAW menempelkan kedua lututnya dengan lutut lawan bicaranya, dan meletakkan kedua tangan beliau di atas kedua paha lawan bicaranya, dan posisi menghadap secara penuh”. Sekarang terbukti bahwa sekedar sentuhan seseorang merasa dicintai dan kehangatan hubungan meningkat ke puncak tertinggi. Karenanya, jika hendak berbicara dengan sang anak, atau hendak menasihatinya, janganlah duduk berjauhan, sebab, dengan begini, terpaksa harus bersuara keras, dan [suara keras membuat sang anak lari] dan jika sang anak itu laki-laki, maka peganglah bagian pahanya, dan jika sang anak perempuan, maka peganglah bahunya, dan peganglah tangannya dengan penuh kasih saying, letakkan kepala sang anak pada bahu sang ayah, agar ia merasa dekat, aman, dan tersayang, sambil katakana: “Aku bersamamu, aku akan memohonkan pengampunan untukmu jika kamu bersalah”.

Kelima: selimut cinta

Hendaklah setiap malam seorang ayah atau ibu melakukannya, jika sang anak telah tidur, maka datangilah ia dan ciumlah, niscaya dia akan merasakan kehadiranmu, karena jenggot wajahmu yang biasa engkau bercanda dengannya, jika ia membuka satu matanya sedangkan yang lainnya masih meram dan ia berkata: “engkau datang wahai ayahku?”

Maka katakan kepadanya: “Betul, aku datang wahai sayangku!”. Dan selimutilah dia

Dalam pemandangan ini, sang anak akan berada dalam kondisi setengah sadar antara tidur dan tidak, dan pemandangan tadi akan tetanam dalam pikirannya, dan saat ia terbangun pada esok harinya, ia akan teringat bahwa semalam ayahnya datang dan melakukan ini dan itu.

Dengan perbuatan seperti ini, menjadi dekatlah jarak antara orang tua dan anak dan kita wajib dekat dengan anak dengan pisik dan hati kita.

Keenam: Dekapan cinta

Janganlah kalian pelit dengan dekapan terhadap anak. Sebab, keperluan anak kepada dekapan sama dengan keperluannya kepada makanan, minuman dan udara, setiap kali ada yang terkonsumsi, niscaya diperlukan yang lainnya.

Ketujuh: ciuman cinta

Rasulullah SAW mencium salah seorang cucunya; Hasan atau Husain. Perbuatan ini terlihat oleh al-Aqra’ bin Habis, maka ia berkata: “Apakah engkau mencium anak-anak kecil?!! Demi Allah, saya mempunyai sepuluh anak, tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka!! Maka Rasulullah SAW bersabda: “Kalau saja aku mempunyai kemampuan untuk mencabut kasih sayang dari dalam hatimu”

Wahai para orang tua, ciuman kepada anak merupakan satu ekspresi kasih sayang, betul, kasih sayang yang menjadi focus ajaran Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa ia merupakan rahasian ketertarikan manusia kepada suatu keyakinan, dan jika kasih sayang ini hilang dari perilaku kita terhadap anak-anak kita, berarti kita telah menjauhkan mereka dari kita, baik kita sebagai perseorangan maupun kita sebagai para da’i, da’i Islam.

Kedelapan: Senyum cinta

Inilah sarana-sarana cinta, siapa yang menerapkannya, niscaya mendapatkan cinta dari mereka yang berinteraksi dengannya.

Sebagian orang tua saat dinasihati demikian berkomentar: “Kami tidak terbiasa”.

Subhanallah!! Adakah kebiasaan itu Qur’an yang turun dari langit yang kita tidak bisa merubahnya!!

Sarana-sarana ini ibarat air, dengannya tanaman cinta akan tumbuh di dalam hati. Dan jika kita ingin dibaiki oleh anak kita, baikilah anak kita, dan sayangilah mereka.

Perlu diketahui bahwa cinta tidak sama dengan tutup mata atau membiarkan kesalahan.


pks-gajahmungkur.blogspot.com
READ MORE >>

Minggu, 03 Januari 2010

55 Kisah Qiyamullail Para Salafusshalih

Al-Ikhwan.net-Ketahuilah –wahai yang selalu mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Allah- bahwa kebanyakan dari orang-orang yang malas dan menganggur jika mendengar berita (kisah) kesungguhan para salafussalih dalam menunaikan ibadah qiyamullail, mereka menduga sebagai perbuatan berlebihan dan tasyaddud (keras) dan taklif (beban) yang berlebihan dan melampaui batas pada jiwa mereka.

Ini adalah suatu kejahilan dan kesesatan, karena ketika lemah keimanan kita, menurun azimah kita, kecil rasa rindu kita kepada surga dan sedikit rasa takut kita pada neraka maka akan mudah tunduk pada kenikmatan dan rasa senang yang diiringi sikap malas, tidur dan lalai. Akhirnya kitapun menjadi seseorang yang jika mendengar para ahli zuhud dan ahli ibadah serta apa yang mereka lakukan dari berbagai kesungguhan dan kegigihan dalam beribadah dan ketaatan terasa asing dan bahkan berusaha mengingkarinya. Tentunya tidak asing, karena setiap ada bejana yang ada di dalamnya pasti akan masak (matang), dan ketika hati para salaf bergantung pada Zat yang Maha Lembut dan Maha Pemaksa, keinginan mereka hanya tertuju pada tempat yang kekal. Seharusnya tertulis pada diri kita akan kebanggaan yang sangat mulia tersebut, karena mereka telah memberikan teladan yang mulia kepada kita. Namun ketika kita tunduk pada dunia dan berlomba-lomba menggapainya, mka kita akan menjadi jahat dibuatnya. Karena itu, sadarlah wahai saudaraku yang tercinta dari kelalaian ini, karena mereka pada ahli ibadah yang memiliki kesungguhan dalam beribadah di malam hari seakan seperti rahib, sementara kita tetap berada dalam kemalasan dan tenang berada diatas bantal!!

Berikut ini kisah para salafussalih dalam menunaikan ibadah qiyamullail dan sikap mereka terhadapnya:

1. Sa’id bin Musayyib berkata: Sungguh seseorang yang bangun pada malam hari lalu menunaikan shalat malam, Allah akan memberikan kepadanya wajah yang berseri sehingga dicintai oleh setiap muslim, dan melihatnya sebagai sosok yang belum pernah dilihat sebelumnya. Lalu beliau berkata: “Sungguh saya sangat senang kepada orang ini”

2. Disebutkan ketika Al-Hasan Al-Bashri ditanya: Kenapa orang-orang yang rajin menunaikan ibadah qiyamullail mendapatkan wajah yang berseri-seri? Beliau menjawab: karena mereka telah meluangkan waktu mereka untuk Yang Maha Rahman maka Allah memberikan kepada mereka cahaya-Nya.

3. Seorang penghulu tabi’in Sa’id bun Al-Musayyib menunaikan shalat fajar selama 50 tahun dengan wudhu shalat Isya dan beliau selalu melakukan ibadah puasa.

4. Syuraih bin Hani berkata: tidaklah seseorang kehilangan sesuatu lebih hina dari rasa kantuk yang ditinggalkannya!!! (maksudnya untuk menunaikan qiyamullail).

5. Tsabit Al-Banani berkata: tidaklah seorang hamba disebut ahli ibadah selamanya, sekalipun memiliki banyak kebaikan sehingga ia memiliki dua kebaikan ini: puasa dan shalat, karena kedunya seakan seperti daging dan darah!!

6. Imam Thawus bin Kaisan berkata: ketahuilah bahwa seseorang yang menunaikan qiyamullail dengan membaca 10 ayat Al-Qur’an hingga pagi akan ditulis untuknya 100 kebaikan atau lebih dari itu.

7. Imam Sulaiman bin Tharkhan berkata: Sesungguhnya mata jika dibiasakan tidur akan terbiasa tidur, dan jika dibiasakan bangun malam akan terbiasa untuk itu.

8. Yazid bin Aban Al-Ruqosyi berkata: Jika Saya tidur lalu bangun kemudian tidur lagi maka Allah tidak membuatku tidur lagi setelahnya.

9. Al-Fudhail bin Iyadh menggenggam tangan Al-Husain bin Ziyad, lalu berkata kepadanya; Wahai Husain, Sesungguhnya Allah turun pada setiap malam ke langit dunia lalu berkata: sungguh berdusta orang yang mengaku mencintaiku jika datang waktu malam namun terlelap tidur?!! Bukankah setiap orang yang dicintai akan meluangkan waktu kepada yang dicintainya?!!! Inilah Aku muncul melihat orang yang mencintai-KU pada saat tiba waktu malam kepada mereka,…., besok akan Aku tetapkan mata kekasih-KU di surga-KU.

10. Ibnu Al-Jauzi berkata: Ketika mendengar ucapan orang yang bersungguh-sungguh akan celaan (sungguh berdusta orang yang mengaku mencintaiku jika datang waktu malam namun terlelap tidur) dirinya bersumpah untuk tidak tidur selamanya.

11. Muhammad bin Al-Mukandar berkata: Aku mengikrarkan diriku untuk bersungguh-sungguh selama 40 tahun (maksudnya adalah bersungguh-sungguh dan gigih beribadah) sehingga aku dapat istiqamah!!

12. Tsabit bin Al-Banani berkata: Aku mengikrarkan diriku untuk bersungguh-sungguh selama 20 tahun!! Dan aku menikmatinya dengannya selama 20 tahun pula.

13. Salah seorang yang shalih menunaikan shalat sampai kakinya pecah lalu dia memukul kedua kakinya dan berkata wahai kaki yang selalu mengajak pada kejahatan engkau tidak diciptakan kecuali untuk beribadah.

14. Seorang hamba yang shalih Abdul Aziz bin Abi Rawwad menghamparkan dipannya untuk tidur pada malam hari, lalu dia meletakkan tangannya diatas kasurnya dan merasakannya, lalu dia berkata: Sungguh lembut nian engkau!! Namun dipan di surga lebih lembut darimu!! Kemudian dia bangun dan menunaika shalat.

15. Al-Fudhail bin Iyadh berkata: Jika anda tidak mampu menunaikan qiyamullail dan puasa disiang hari maka ketahuilah bahwa anda telah diharamkan darinya, anda telah dikuasai oleh banyak kesalahan dirimu.

16. Muammar berkata: Sulaiman At-tamimi shalat disampingku pada bagian terakhir shalat Isya lalu saya mendengar beliau membaca ayat “Tabarakalladzi biyadihil mulku wa huwa ala kulli syain qadir” lalu beliau mengulanginya sampai orang yang ada dimasjid pergi, kemudian sayapun pergi kerumah, dan ketika aku pergi ke masjid untuk azan subuh Sulaiman At-tamimi masih ditempatnya seperti saat aku tinggalkan sebelumnya!! Sementara dia berdiri dan mengulangi ayat tidak lebih dari “Falamma roawhu zulfatan siiat wujuhulladzina kafaru”.

17. Istri Masruq bin Al-Ajda’ pernah berkata: “Demi Allah, tidaklah Masruq bangun dari satu malam pada malam-malam lainnya kecuali betisnya bengkak karena benyak melakukan qiyamullail!!.. dan beliau juga melakukan qiyamullail jika keletihan shalat sambil duduk dan tidak pernah meninggalkan shalat, dan jika selesai menunaikan shalat maka dia pergi (pergi ke tempat tidurnya seperti perginya seekor unta ke kandangnya!!

18. Mukhlid bin Al-Husain pernah berkata: Sungguh saya memiliki perhatian terhadap qiyamullail kecuali aku mendapatkan Ibrahim bin Adham selalu berdzikir kepada Allah dan shalat lalu akupun melakukannya untuk itu, kemudian aku membaca ayat ini “Demikianlah karunia yang telah diberikan Allah kepada siapa yang Dia Kehendaki”.

19. Abu Hazim pernah berkata: Sungguh kami pernah menjumpai suatu kaum yang rajin berizin pada batas yang tidak dapat diungguli tambahannya!!

20. Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: Aku Pernah melakukan qiyam selama 5 malam berturut-turut dengan satu ayat saja, selalu saya ulangi dan terus meminta kepada Allah agar bisa mengamalkan kandungan ayat yang ada di dalamnya!! Sekiranya Allah tidak mengecam saya dengan lalai maka tidak akan aku tinggalkan ayat tersebut sepanjang hidupku, karena setiap aku mentadabburkan ayat tersebut aku mendapatkan ilmu baru, dan Al-Qur’an tidak akan pernah habis kemukjizatannya!!

21. As-Sari As-Saqti jika datang waktu malam beliau bangun dan salat hingga mendorong dirinya untuk menangis pada malam pertamanya, kemudian begitu lagi dan begitu lagi, jika telah merasa letih maka bertambahlah tangisnya.

22. Seseorang pernah bertanya kepada Ibrahim bin Adham: Sungguh Aku tidak sanggup menunaikan qiyamullail maka berikanlah kepadaku obatnya?!!! Lalu beliau berkata: Janganlah engkau melakukan maksiat pada siang harinya sehigga Allah akan membangunkanmu pada malam harinya, dan ketahuilah bahwa berdirimu dihadapan Allah pada malam hari sangatlah mulia disisi-Nya dan orang yang selalu bermaksiat tidak berhak mendapatkan kemuliaan-Nya.

23. Sufyan At-Tsauri berkata: Aku pernah diharamkan melakukan qiyamullail selama 5 bulan karena perbuatan dosa yang pernah aku lakukan.

24. Seseorang pernah berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri: wahai Abu Said: sesungguhnya aku pernah mengabaikan permintaan maaf dan senang melakukan qiyamullail, dan aku kembalikan kesucianku namun kenapa aku tidak bisa melakukan qiyamullail?!!! Al-Hasan berkata: Dosa-dosamu telah mengekang dirimu!!

25. Seseorang juga pernah berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri: tolonglah saya untuk bisa melakukan qiyamullail?!! Beliau menjawab: dosa-dosamu telah mengekang dirimu dari melakukan qiyamullail.

26. Ibnu Umar berkata: pertama kali yang akan berkurang dalam ibadah adalah tahajjud dimalam hari, dan meninggikan suara pada saat membaca Al-Qur’an.

27. Atha Al-Khurasani berkata: sesungguhnya seseorang jika menunaikan qiyamullail untuk bertahajjud akan mendapatkan kegembiraan di dalam hatinya, namun jika matanya terkuasai oleh rasa kantuk dan tidur hingga lalai dari hizbnya (melakukan qiyamullail) maka pada pagi harinya akan merasa sedih dan hati yang hancur, seakan dirinya telah kehilangan sesuatu, dan sungguh dirinya telah kehilangan sesuatu yang paling berharga dan bermanfaat (qiyamullail).

28. Ma’qal bin Habin pernah melihat suatu kaum yang banyak makannya, lalu beliau berkata; tidak tampak pada saudara-saudara kita yang memiliki keinginan melakukan qiyamullail.

29. Mis’ar bin Kidam pernah berkata dalam syairnya yang berambisi untuk tidak banyak makan:

Aku dapatkan diriku rasa lapar yang menolak sepotong roti ** dan memenuhi kerongkongan dengan air tawar nan sejuk

Sungguh sedikit makan dapat menolong orang yang ingin shalat ** sementara banyak makan akan menolong orang yang malas.

30. Seorang hamba yang shalih, Ali bin Kidar dihamparkan oleh pembantunya dipan lalu beliau mengelusnya dengan tangannya lalu berkata: Sungguh engkau sangatlah indah!! Sungguhnya engkau sangatlah lembut dan sejuk!! Demi Allah engkau tidak akan bisa menghilangkan malam-malamku (jangan matikan aku malam mini) kemudian beliau bengun dan shalat hingga fajar!!

31. Al-Fudhail bun Iyadh berkata: Aku dapati suatu kaum merasa malu kepada Allah pada gelapnya malam hari dari terlalu banyak tidur!!
Yang demikian adalah ketika tidur, dan jika bergerak (bangun dari tidurnya) dia berkata: bukankah ini untukmu!! Bangunlah dan terimalah nasib baikmu diakhirat kelak!!

32. Hisyam Ad-Dustuai berkata: Sesungguhnya Allah memiliki hamba menolak untuk tidur karena takut meninggal dalam keadaan tertidur.

32. Dari Ja’far bin Zaid berkata: kami pernah keluar untuk berperang menuju (Kabul) dan dalam pasukan (hubungan antara Aisyam Al-Adwi), beliau berkata: maka manusiapun meninggalkan sesuatu setelah kegelapan (yaitu ba’da isya) kemudian tidur dan mendapatkan kelalaian manusia, sampai ketika semua pasukan tidur Shilah bangkit lalu kayu yang ada di pohon yang lebat yang sebagiannya telah patah, lalu akupun masuk pada atsarnya, lalu beliau berwudhu kemudian bangun untuk shalat, dan ketika beliau shalat datang seekor singa yang besar lalu mendekat sedang dirinya dalam keadaan shalat!! Maka akupun loncat dan ketakutan dari terkaman singa lalu naik ke pohon yang terdekat, namun Shilah, demi Allah dia tidak menoleh sedikitpun ke singa!! Beliau tidak takut akan terkamannya dan tidak peduli dengannya!! Kemudian ketika bersujud singa tersebut mendekat darinya. Lalu aku berkata: sekarang pasti akan diterkam olehnya!! Namun singa itu hanya berputar mengitarinya dan sama sekali tidak menyakitinya, kemudian setelah selesai shalat dan mengucapkan salam, dia menoleh pada singa tersebut dan berkata: wahai hewan liar carilah rezkimu di tempat yang lain!! Maka singa itupun pergi dan mengaung yang terdengar hingga pegunungan!! Sementara Shilah masih melanjutkan shalatnya hingga waktu fajar!! Lalu beliau duduk dan membaca puji-pujian yang aku tidak bisa mendengarnya kecuali atas kehendak Allah, kemudian dia berkata: Ya Allah aku memohon kepada Engkau untuk menyelamatkan diriku dari api neraka, atau beranikan pada diriku untuk memohon kepada-MU surga!!! Kemudian beliau kembali ke tempat tidurnya (maksudnya pasukan menduga bahwa dirinya tidur semalam suntuk) lalu bangun pagi dan seakan dirinya tidur diatas dipan yang wangi (yaitu dipan yang lembut dan wangi, maksudnya adalah bahwa dirinya begitu gesit dan semangat) dan akupun kembali ketempat tidurku dan menjadikan diriku dan rasa malasku dan kelalaianku ada sesuatu dari Allah yang Maha Mengetahui.

34. Seorang hamba yang shalih Amru bin Atbah bin Farqad pernah keluar untuk berjuang di jalan Allah, dan ketika datang waktu malam beliau meluruskan kakinya untuk bermunajat kepada Tuhannya dan menangis dihadapan-Nya, sementara pemimpin pasukan yang keluar bersamanya Amru tidak membebani seorangpun untuk melakukan hirasah (jaga malam/ronda); karena Amru merasa cukup dengan dirinya dalam melakukan ibadah shalat malam, dan pada suatu malam ketika Amru bin Atabah shalat malam dan semua tentara tertidur lelap, terdengar aungan singa yang menakutkan, sehingga semua tentara berlarian sementara Amru tetap berdiri pada shalatnya dan sama sekali tidak menghentikan shalatnya!! Dan bahkan tidak menoleh sedikitpun pada singa tersebut!! Dan ketika singa itu pergi meninggalkannya maka merekapun kembali dan berkata kepada Amru: Tidakkah engkau merasa takut pada singa saat engkau shalat?!!! Beliau berkata: Sungguh saya merasa malu kepada Allah jika saya takut kepada selain-Nya.

35. Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: sebaik-baik perbuatan adalah sesuatu yang paling dibenci oleh jiwa.

36. Abu Ja’far Al-Baqal berkata: Aku pernah bertemu pada Ahmad bin Yahya, aku melihat dirinya menangis dengan keras seakan dirinya tidak menahan jiwanya!! Lalu saya berkata: sampaikan kepada saya bagaimana kondisimu?!! Namun dia ingin menyembunyikan kepada saya namun saya tidak menghiraukannya, lalu dia berkata kepada saya: saya telah kehilangan hizb saya kemarin!! Dan saya mengira itu tidak terjadi kecuali suatu perkara yang aku lakukan lalu dihukum terhalang melakukan hizbku!! Kemudian dia kembali menangis!! Maka akupun merasa kasihan dan ingin menghiburnya, dan saya katakan kepadanya: sungguh menakjubkan urusanmu!! Engkau tidak ridha kepada Allah pada tidur yang telah diberikan kepadamu sampai engkau menangis seperti itu!! Lalu dia berkata kepadaku: hiraukan saja hal itu wahai Abu Ja’far!! Aku tidak mengira itu terjadi kecuali karena perbuatan yang aku lakukan!! Kemudian dirinya kembali menangis!! Dan ketika aku melihat dirinya tidak menerima ucapan dariku maka akupun pergi meninggalkannya.

37. Dari Abu Ghalib berkata: bahwa Ibnu Umar pernah bersama kami di Mekkah, dan beliau adalah orang yang paling banyak melakukan tahajjud pada malam hari, dan pada suatu hari sebelum waktu subuh tiba beliau berkata: wahai Abu Ghalib: tidakkah engkau shalat walau hanya dengan membaca sepertiga Al-Qur’an. Akupun berkata” Wahai Abu Abdurrahman, waktu subuh telah dekat bagaimana aku bisa membaca sepertiga Al-Qur’an?!! Lalu beliau berkata: bahwa Al-Ikhlas adalah sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

38. Abu Ishaq As-Sabi’i berkata: wahai pemuda bersungguh-sungguhlah dan bergiatlah, dan manfaatkan kekuatan dan potensi kalian, gunakan masa muda kalian sebelum datang kondisi lemah, karena sedikit sekali dari waktu malam yang saya lalui kecuali saya membaca di dalamnya seribu ayat!!

39. Seorang hamba yang salih Abdul Wahid bin Yazid berkata kepada keluarganya pada setiap malam: wahai penghuni rumah berhati-hatilah!! (Maksudnya dari tidur kalian) tidaklah ini (dunia) merupakan tempat untuk tidur, telah dekat masa yang diri kalian akan dimakan oleh ulat!!

40. Muhammad bin Yusuf berkata: bahwa Sufyan At-Tsauri mengajak kami untuk bangun malam dan beliau berkata: bangunlah wahai pemuda!! Shalatlah kalian selama kalian masih muda!! Jika tidak hari ini kalian shalat maka kapan lagi?!!

41. Saya pernah masuk pada salah seorang istri imam Al-Auza’I maka orang tersebut melihat ada basah di tempat sujudnya Al-Auza’I, kemudian istrinya berkata Al-Auza’I” celakalah ibumu!! Tampak darimu telah lalai terhadap sebagian anak-anak sampai kencing di masjid Syaikh (Maksudnya tempat shalatnya di malam hari) maka dia berkata kepadanya istri Al-Auza’i: begaiamana ini bisa terjadi pada malam hari!! Ini merupakan bekas tangisnya syaikh dalam sujudnya.

42. Ibrahim bin Syamas pernah berkata: saya pernah melihat Ahmad bin Hambal menghidupkan malam pada saat masih kecil.

43. Abu Zaid Al-Mu’anni berkata bahwa Sufyan At-Tsauri jika datang waktu pagi membentangkan kakinya ke tembok dan kepalanya dibawah agar darahnya kembali normal akibat lama berdiri sepanjang malam!!

44. Abu Muslim Al-Khaulani pernah menunaikan shalat malam dan ketika menimpanya kefuturan atau malas maka ia berkata pada dirinya: apakah boleh menduga para sahabat Muhammad mendahulukan kita, demi Allah aku tidak akan berdesak-desakan atasnya, sampai mereka tahu bahwa mereka ada dan berada dibelakang setelah saya para generasi!! Kemudian berdiri menunaikan shalat hingga datang waktu fajar.

45. Salah seorang ulama shalih pernah bermimpi dalam tidurnya berada di dalam kemah, maka beliau bertanya: milik siapakah ini? Dikatakan bahwa ini adalah kemah orang-orang yang sibuk dengan Al-Qur’an!! Kemudian setelah itu beliau tidak pernah tidur di waktu malam!!

46. Disebutkan bahwa Syaddad bin Aus pernah masuk pada tempat tidurnya bolak balik seperti gandum yang sedang dipanggang diatas bara api!! Dan beliau berdoa: “Ya Allah sungguh api neraka telah menghilangkan aku dari tidur!! Lalu dia bangun dan shalat hingga waktu fajar.

47. Disebutkan bahwa Amir bun Abdullah jika bangun malam menunaikan shalat dan berkata: kedua mataku aku abaikan untuk merasakan nikmatnya tempat tidur sambil melakukan dzikir tidur.

48. Al-Fudhail bin Iyadh berkata: Sungguh saya menerima awal waktu malam, maka akupun mengabaikan panjangnya lalu aku buka Al-Qur’an maka tibalah waktu pagi dan tidak ada sedikipun yang merasa kenyang (maksudnya adalah merasa kenyang dengan bacaan Al-Quran dan shalat).

49. Ketika ada seorang hamba yang shalih Abu As-Sya’sya menangis, maka dikatakan padanya: Apa yang membuatmu menangis!! Maka beliau berkata: sungguh aku tidak pernah mendapat kenikmatan dari melakukan qiyam!!

50. Al-Fudhail bin Iyadh berkata: disebutkan padanya: diantara akhlak para nabi dan orang-orang bersih yang menjadi pilhan yang suci di hari mereka, manusia ada tiga macam: lemah lembut, suka bertobat dan menunaikan shalat dari sebagian waktu malam untuk qiyam.

51. Tsabit ak-Banani melakukan shalat dengan berdiri hingga letih, dan jika merasa letih beliau shalat dengan cara duduk.

52. As-Syirri Al-Saqati berkata: saya melihat beberapa faedah yang terdapat pada kegelapan malam.

53. Sebagian para shalihin berdiri pada sebagian pemuda yang sedang menghambakan diri jika meletakkan sebagian makanannya, dan kemudian berkata kepada mereka: Janganlah kalian banyak makan, minum terlalu banyak dan tidur yang banyak sehingga kalian akan banyak menyesal dan merugi!!

54. Hasan bin Shalih berkata: Sungguh saya malu kepada Allah jika tidur terlalu banyak (berlebihan) maksudnya adalah berbaring diatas dipan (bukan untuk tidur) sampai pada tidurlah yang mengalahkan diriku dan ketika aku tertidur dan kembali bangun kemudian kembali untuk tidur maka Allah tidak akan membangunkan diriku.

55. Seorang hamba shalih Sulaiman At-Tamimi mendapatkan dirinya dan anaknya sedang berputar di keheningan malam di dalam masjid, kemudian keduanya shalat pada satu masjid beberapa saat, kemudian di masjid yang lain sampai tiba waktu pagi!!

Terakhir wahai saudaraku tercinta, bangunlah untuk shalat walau hanya satu rakaat dan saya akhiri tulisan ini hadits ini dengan hadits nabi saw :

مَنْ قَام بعشر آيات لم يُكتب من الغافلين ، ومن قام بمائة آية كُتب من القانتين ، ومن قام بألف آية كتب من المقنطرين

“Barangsiapa yang bangun dengan membaca 10 ayat maka tidak akan ditulis untuknya bagian dari orang yang lalai, dan barangsiapa yang bangun lalu shalat dan membaca 100 ayat maka akan ditulis untuknya bagian dari ahli ibadah, dan barangsiapa yang bangun lalu shalat dan membaca 1000 ayat akan ditulis sebagai Al-Muqantirun . (Abu Daud dan ditashih oleh Al-Bani) maksud dari Al-Muqantirun adalah mereka yang akan melintasi jembatan dengan mudah oleh karena ganjaran yang diberikan untuknya.

READ MORE >>

Selasa, 29 Desember 2009

Menjadi Politisi Dakwah

Oleh: Al-Ikhwan.net

Apakah politisi dapat menjadi da’i?; Atau apakah dai dapat menjadi politisi?; Dan apakah mungkin kegiatan dakwah menjadi kegiatan politik?; Atau sebaliknya kegiatan politik menjadi kegiatan dakwah?. Menjawab beberapa pertanyaan di atas tidaklah mudah, apabila kita melihat persepsi masyarakat tentang dakwah dan politik. Dakwah dan politik adalah dua ‘kata’ yang kontra bagi mereka. Hal itu karena politik dipahami sebagai aktifitas dunia, sedang dakwah dipahami sebagai aktifitas akhirat. Yang pada gilirannya dipahami bahwa dakwah tidak pantas memasuki wilayah politik, dan politik haram memasuki wilayah dakwah. Dakwah adalah pekerjaan para ustadz, dan politik pakerjaan para politisi. Jika seorang ustadz yang menjadi politisi, ia harus menanggalkan segala atribut dan prilaku ke-ustadz-annya, dan harus mengikuti atau beradaptasi dengan perilaku para politisi. Demikian pula apabila seorang politisi menjadi ustadz ia pun harus menanggalkan baju politiknya, dan jika tidak, ia akan tetap dicurigai menggunakan agama sebagai alat politik.

Tapi, pertanyaan di atas akan menjadi mudah untuk dijawab, apabila politik dipahami sesuai dengan definisi aristoteles bahwa politik adalah: “Segala sesuatu yang sifatnya dapat merealisasikan kebaikan di tengah masyarakat.” Definisi ini meliputi semua urusan masyarakat, temasuk di dalamnya masalah akhlak yang selama ini menjadi wilayah kerja dakwah, sebagaimana dipahami masyarakat.

Dan atau apabila dipahami definisi politik menurut Al-Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, yaitu, “Politik adalah hal memikirkan tentang persoalan-persoalan internal maupun eksternal umat.” Intermal politik adalah “mengurus persoalan pemerintahan, menjelaskan fungsi-fungsinya, merinci kewajiban dan hak-haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan, dan dikritik jika mereka melakukan kekeliruan.” Sedang yang dimaksud dengan eksternal politik adalah “memelihara kemerdekaan dan kebebasan bangsa, mengantarkannya mencapai tujuan yang akan menempatkan kedudukannya di tengah-tengah bangsa lain, serta membebaskannya dari penindasan den intervensi pihak lain dalam urusan-urusannya.”

Baik internal maupun eksternal politik, sama-sama mencakup ajakan kepada kebaikan, seruan berbuat ma’ruf dan pencegahan dari kezhaliman, yang selama ini menjadi wilayah kerja dakwah.

Dengan pemahaman 2 definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa politik dan dakwah adalah dua kegiatan yang sangat terkait, dan sangat mungkin dakwah menjadi kegiatan politik, atau politik menjadi kegiatan dakwah, atau dapat disebut two in one. Bahwa dakwah adalah politik apabila ia berperan memahamkan masyarakat kepada hak dan kewajiban mereka. Dan bahwa politik adalah dakwah jika ia berperan mengajak masyarakat berbuat baik, memfasilitasi mereka berbuat ma’ruf dan menutup semua pintu bagi masyarakat untuk berbuat zalim dan dizalimi.

Secara operasional, bahwa dakwah adalah politik dan politik adalah dakwah dapat dipahami dengan baik oleh setiap muslim apabila:

Pertama, memahami universalitas Islam;

Kedua, memmahami risalah penciptaan manusia;

Ketiga, mengatahui cara merealisasikan risalah tersebut sesuai dengan ajaran Islam.

Sehingga setiap muslim harus menjadi da’i sekaligus menjadi politisi.

Karena itulah Hasan Al Banna mengatakan, “Sesungguhnya seorang muslim belum sempurna keislamannya kecuali jika ia menjadi seorang politisi, mempunyai pandangan jauh ke depan dan memberikan perhatian penuh kepada persoalan bangsanya.”

Lalu bagaimana menjadi politisi dakwah?

Berikut ini sub-sub bahasan yang menjelaskan lebih rinci mengenai masalah ini:

1. Kedudukan Politik Dalam Islam

Islam agama sempurna, mencakup seluruh urusan kehidupan manusia yang terdiri dari kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan negara, serta segala aktifitas yang meliputnya, seperti ekonomi, politik, pendidikan, hukum dan lain sebagainya. Islam tidak memilah antara kehidupan dunia dan akhirat. Dalam setiap aktifitas mengandung unsur dunia dan akhirat sekaligus.

Shalat misalnya, dalam persepsi banyak orang ia adalah amalan akhirat an sih. Tapi jika ditelaah lebih dalam, dapat ditemukan bahwa shalat adalah amalan akhirat sekaligus amalan dunia.

Ia menjadi demikian karena:

pertama, shalat dilaksanakan di dunia, pahalanya saja yang diperoleh di akhirat;

Kedua, shalat itu dzikir, dan setiap yang berdzikir pasti mendapatkan ketenangan, dan ketenangan itu kebutuhan asasi manusia dalam beraktifitas. Rasulullah saw jika sedang gundah, beliau berkata kepada Bilal: “Tenangkanlah kami dengan shalat hai Bilal!”

Ketiga, shalat sangat dianjurkan dilaksanakan dengan berjamaah, dan bagi yang melaksanakannya mendapatkan derajat 27 kali lipat dari pada yang shalat sendirian. Shalat berjamaah membuat kita – dengan sendirinya – bersilaturahim, mendidik kita hidup bermasyarakat dan bernegara yang teratur dan rapi. Dalam shalat berjamaah harus ada imam dan makmum yang semua tindakannya harus sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, makmum harus taat pada imam, mengikuti semua gerakan dan perintah imam, apabila tidak maka shalat sang makmum tidak sah. Dan apabila sang imam salah atau khilaf, maka wajib bagi makmum untuk menegurnya sampai imam kembali kepada yang benar. Demikian pula seharusnya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Contoh yang lain, kegiatan jual beli, dalam persepsi banyak orang, ia adalah kegiatan dunia an-sih. Padahal jika ditelaah lebih mendalam, maka ia pun sekaligus menjadi kegiatan akhirat. Hal itu, karena walaupun zhahirnya jual beli adalah amalan dunia, tapi karena di dalamnya ada aturan main yang harus di patuhi oleh masing-masing penjual dan pembeli, dan jika mereka patuh pada atauran itu, maka keduanya mendapatkan pahala yang akan diperolehnya di akhirat, tapi jika salah satu atau keduanya menyalahi atuaran tersebut, maka yang berbuat salah mendapatkan dosa, yang hukumannya akan ia dapatkan pula di akhirat. Oleh karena itu Rasulullah saw besabda,

“pedagang yang jujur mendapatkan naungan arasy pada hari kiamat.”

Dengan demikian, semua amalan, baik mahdhah maupun gairu mahdhah di dalam Islam, memiliki kedudukan yang sama, termasuk di dalamnya politik. Bahkan jika politik berarti kekuasaan, Utsman bin ‘Affan ra berkata: “Al Qur’an lebih memerlukan kekuasaan dari pada kekuasaan membutuhkan Al Qur’an.”

Karena politik bagian dari keuniversalan Islam, maka setiap muslim meyakini bahwa Islam memiliki sistem politik yang bersumber dari Allah, dicontohkan oleh Rasulullah dan dikembangkan oleh para sahabat dan salafussaleh, sesuai dengan dinamika perkembangan hidup manusia setiap masa. Berikutnya setiap muslim pun siap menjalankan sistem itu, dan tidak akan menjalankan sistem yang lain, karena kahawatir akan tergelincir pada langkah-langkah syaitan. Itulah bagian dari pengertian firman Allah SWT;

“Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh). Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syatan. Sesungguhnya syaitan itu bagi kalian adalah musuh yang nyata.” (Al-Baqarah: 208).

2. Peran Politik Dalam Dakwah

Allah telah menetapkan risalah penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada-Nya, kemudian menjadikannya khalifah dalam rangka membangun kemakmuran di muka bumi bagi para penghuninya yang terdiri dari manusia dan alam semesta.

Agar risalah ini menjadi abadi dalam sejarah peradaban manusia, Allah SWT ‘merekayasa’ agar dalam kehidupan terjadi hubungan interaksi ‘positif’ dan ‘negatif’ di antara semua makhluk-Nya secara umum, dan di antara manusia secara khusus. Yang dimaksud dengan interaksi positif ialah, adanya hubungan tolong menolong sesama makhluk. Sedangkan interaksi negatif ialah, adanya hubungan perang dan permusuhan sesama makhluk. Allah SWT berfirman:

“…Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai yang dicurahkan atas semesta alam.” (Al-Baqarah: 251).

Keabadian risalah tersebut sangat tergantung pada hasil dari setiap interaksi baik yang positif maupun negatif. Jika yang melakukan tolong menolong adalah orang-orang saleh, yang pada gilirannya mereka saling menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan; dan jika berada dalam peperangan, dimenangkan pula oleh orang-orang saleh itu, maka pasti yang akan terjadi adalah keabadian risalah.

Tapi jika yang melakukan tolong menolong adalah orang-orang buruk yang bersepakat melaksanakan kejahatan dan permusuhan, dan selanjutnya mereka pula yang memenangkan peperangan, maka pasti yang akan terjadi adalah kehancuran.

Disinilah letak politik berperan dalam dakwah. Dakwah mengajak pada kebaikan, melaksanakan risalah penciptaan manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah semua bentuk kemungkaran, sementara politik berperan memberikan motivasi, perlindungan, pengamanan, fasilitas, dan pengayoman untuk terealisasinya risalah tersebut.

Sejarah telah membuktikan, bahwa naskah-naskah Al-Qur’an yang sangat ideal pernah menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Pada zaman Nabi saw, seorang Bilal bin Rabah yang hamba sahaya pada masa jahiliyah menjadi orang merdeka pada masa Islam, dan memiliki kedudukan yang sama dengan para bangsawan Quraisy, seperti Abubakar Siddiq dan Umar bin Khattab. Ini karena Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah saw mengajarkan persamaan derajat, sekaligus beliau sebagai pemimpin umat – dan tidak salah jika dikatakan pemimpin politik umat – menjamin realisasi persamaan derajat itu sendiri.Sehingga pernah suatu ketika beliau marah kepada seorang shabatnya yang mencela warna kulit Bilal.

Pada zaman yang sama, ketika Nabi saw mengirim pasukannya ke negeri Syam, beliau berpesan agar pasukan itu tidak menebang pohon kecuali untuk kebutuhan masak, melarang membunuh anak-anak, perempuan, orang tua yang tidak ikut berperang dan orang yang telah menyerah, beliau juga melarang membunuh orang yang sedang beribadah di gereja, dst. Ini semua adalah buah dari ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an.

Sepeninggalan beliau, Rasulullah digantikan oleh Abubakar Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib secara berurutan. Pada zaman keempat sahabat itu, keadaan yang telah dibangun oleh Rasulullah saw tidak berubah, semua warga dibawa kepemimpinan khilafah menjalankan hak dan kewajiban, mendapatkan persamaan derajat, tidak ada yang dizalimi kecuali mendapatkan haknya, atau berbuat zalim kecuali telah mendapatkan sangsi. Keadaan ini berlangsung sampai masa keemasan Islam di Damaskus, kemudian di Bagdad dan Andalusia.
Tapi seirng dengan perkembangan berikutnya, umat menjauh dari agamanya, kegiatan agama dijauhkan dari kegiatan realitas kehidupan masyarakat sehari-hari, demikian pula sebaliknya, hingga sampailah zaman itu pada generasi kita.

Kita bersedih dengan keadaan kita, umat Islam sebagai umat terbesar di alam raya ini, tapi terzalimi hak-haknya, umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri tercinta ini, tapi terbantai di Maluku dan di Poso, tidak boleh menjalankan syariat agamanya secara kaffah, dihambat para pemimpinya yang saleh untuk memimpin bangsanya, tidak diberi kesempatan yang sama dalam mengembangkan ekonominya, dst.

Mungkinkah sejarah kita hari ini berulang seperti sejarah generasi pertama umat ini. Sangat mungkin! Tentu apabila kita mau memenuhi syarat-syaratnya. Sebagiannya telah kami sebutkan dalam makalah ini, yaitu dakwah dan politik sebagai instrumen terlaksananya ajaran Islam harus menyatu menjadi karakter setiap muslim, atau dengan kata lain menjadi poltisi dakwah.

3. Karakteristik Politisi Dakwah

Setiap muslim berkewajiban menjadi da’i, paling tidak, untuk dirinya dan keluarganya, sebagaimana Rasulullah saw berwasiat:

“Sampaikanlah tentang ajaranku walaupun satu ayat.”

Dan sekaligus secara perlahan menjadi politisi dakwah, sebagaimana telah kami ungkapkan sebelumnya. Adapun sifat dan karakter yang dimiliki para politisi dakwah adalah sebagai berikut:

A. Memiliki keperibadian politik.

Kepribadian politik adalah sekumpulan orientasi politik yang terbentuk pada diri seseorang dalam menyikapi dunia politik. Ia memiliki tiga aspek.

Pertama, Doktrin-doktrin yang menagndung makna politis, baik secara langsung maupun tidak langsung. Doktrin-doktrin yang tidak langsung meliputi:

(a) Doktrin khusus yang berkaitan dengan ketuhanan, manusia, alam semesta, pengetahuan dan nilai-nilai. Yaitu:

• Keyakianan bahwa Allah swt adalah musyarri’ (Pembuat hukum).

• Keyakinan bahwa al wala’ (loyalitas) dan al bara’ (anti loyalitas) adalah konsekuensi aqidah, loyal hanya kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman. Dan kepada selainnya tidak akan pernah loyal.

• Keyakinan bahwa semua manusia sama dalam hal penciptaan, hak dan kewajibannya.

• Keyakinan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi, dengan tujuan memakmurkan bumi sesuai dengan syariat Allah, dan bahwa alam ini ditundukkan untuknya.

• Keyakinan bahwa sumber nilai-nilai adalah wahyu.

(b) Doktrin khusus tentang masyarakat, perubahan sosial, dan perempuan. Yaitu:

• Keyakinan bahwa karakteristik dan prinsip masyarakat muslim adalah akhlak.

• Keyakinan bahwa perubahan sosial adalah atas dasar kemauan dan gerak manusia itu sendiri, berangkat dari pembinaan individu, kemudian keluarga, masyarakat dan negara.

• Keyakianan bahwa perempuan memiliki hak-hak politik sama dengan hak-hak politik laki-laki.

Sedang doktrin-doktrin yang mengandung makna politis secara langsung adalah:

(a) Doktrin khusus tentang keadilan dan kedamaian sosial.

(b) Doktrin tentang strtegi moneter, kemerdekaan dan kebangkitan ekonomi.

(c) Doktrin khusus tentang hukum dan kekuasaan, bahwa hukum Islam sebagai sumber kekuasaan; umat sebagai lembaga pengawas dan yang mengangkat dan menurunkan pemerintah; syura adalah keniscayaan; keadilan ditegakkan; kebebasan dan persamaan derajat adalah hak dan kebutuhan setiap orang.

(d) Doktrin khusus tentang kepahlawanan dan kewarganegaraan.

(e) Doktrin khusus tentang kemerdekaan kultural; kewajiban membebaskan diri dari penjajahan; dan kewajiban berjihad di jalan Allah.

Kedua, Pengetahuan dan wawasan politik, masalah ini akan dibahas pada point memiliki kesadaran politik.

Ketiga, Orientasi dan perasaan politik. Para politisi dakwah yang telah meyakini doktrin-doktrin di atas, disertai dengan pengetahuan dan wawasan yang luas tentang politik, maka pasti ia memiliki orientasi dan perasaan politik. Diantaranya: Loyal kepada pemerintah yang menegakkan syariat Islam; rasa ukhuwah insaniyah dan islamiyah, serta rasa persamaan derajat dengan orang lain; hasrat melakukan perubahan sosial dengan ishlah dan tarbiyah; menghindari kekerasan; menghargai pendapat orang-orang berpengalaman; sikap positif terhadap aktivitas positif; benci kesewenang-wenangan; cinta kemerdekaan; rasa kewarganegaraan dan kepahlawanan; rasa benci dan tunduk kepada bangsa lain; mendukung gerakan-gerakan kemerdekaan di seluruh dunia; bermusuhan dengan penjajah dan seterusnya.

Kesemua orientasi dan perasaan politik tersebut sangat penting, dan seharusnya politisi dakwah membangunnya pada dirinya dan pada umat Islam serta pada masyarakat umum.

B. Memiliki kesadaran politik.

Kesadaran poltik yang mesti dimiliki oleh seorang politisi dakwah adalah:

Pertama, Kesadaran misi,

yaitu kesadaran terhadap ajaran Islam itu sendiri, atau kesadaran akan doktrin-doktrin yang telah disebutkan di depan. Ia meliputi pada penyadaran akan dasar-dasar aqidah, akhlak, sosial, ekonomi dan plitik Islam; Juga meliputi pada penyadaran akan pentingnya aplikasi Islam, sebagai asas identitas umat; Selanjuntnya meliputi pula pada penyadaran terhadap karakteristik konseptualnya. Misalnya ia adalah konsep universal untuk seluruh zaman dan tempat.

Kedua, Kesadaran gerakan,

yaitu kesadaran terhadap ajaran islam tidak akan terwujud di tengah masyarakat dan negara kecuali ada organisasi pergerakan yang berkomitmen dengan asas Islam, dan bekerja untuk mewujudkannya.

Ketiga, Kesadaran akan problematika politik yang terjadi di masyarakat, yang meliputi probelematika politik nasional, regional dan internasional. Contoh untuk problematika nasional adalah penegakan hukum Islam dengan usulan agar UUD 1945 pasal 29 diamandemen, dan memasukkan ke dalamnya tujuh kata piagam Jakarta.

Keempat, Kesadaran akan hakikat dan sikap politik, yaitu kemampuan politisi dakwah memahami peristiwa poltik dan sadar akan sikap kekuatan-kekuatan politik dalam menghadapi berbagai peristiwa politik itu sendiri. Kesadaran semacam ini tidak mungkin ada tanpa kemampuan mutabaah terhadap berbagai peristiwa dan berbagai kekuatan politik baik melalui media massa maupun kajian-kajian.

Keempat kesadaran poltik tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesadaran misi adalah kesadaran permanen; kesadaran gerakan adalah kesadaran permanen dan fleksibel; kesadaran problematika politik adalah kesadaran fleksibel berdasarkan pandangan yang permanen; dan kesadaran sikap politik adalah kesadaran fleksibel sesuai jenis peristiwa.

C. Berpatisipasi dalam kegiatan-kegiatan politik.

Partisipasi politik seseorang sangat bergantung orientasi politiknya yang telah terbentuk oleh doktrin-doktrin politik yang telah diyakininya. Maka seorang politisi dakwah yang telah meyakini bahwa menegakkan pemerintahan Islam dalah kewajiban, pasti akan berparisipasi pada setiap kegiatan politik yang kan menuju ke sana. Dalam rangka menggapai keyakinan tersebut, seorang politisi dakwah dapat berpartisipasi;

Pertama, dalam bentuk individu dengan menjadi anggota organisasi politik;

Kedua, dalam bentuk memberikan solusi atas realita dan problematika masyarakat.

Contoh untuk bentuk yang pertama adalah, lahirnya partai-partai politik yang sebelumnya hanya berbentuk gerakan-gerakan dakwah yang terorganisir rapi dan sistematis, yang kemudian setiap anggota gerakan menjadi anggota partai politik secara otomatis. Dan mensukseskan setiap kegiatan partai tersebut pada setiap jenjang struktur yang menjadi hak dan wewenangnya.

Sedang contoh untuk bentuk yang kedua adalah, keikutsertaan seorang politisi dakwah dalam aksi-aksi politik, seperti demonsntrasi menentang kebijakan nasional ataupun internasional yang merugikan agama Islam, atau keikutsertaan seorang politisi dakwah dalam pelayanan sosial, misalnya dengan membantu warga yang sedang mendapatkan musibah atau bencana alam, atau dengan melakukan upaya menghilangkan buta huruf di masyarakat, atau dengan mengadakan aksi mengangkat masyarakat dari bawah garis kemiskinan dan lain-lainnya.

4. Langkah-langkah Menjadi Politisi Dakwah

Semoga dengan uraian di depan dapat menghilangkan keterbelahan pemahaman bahwa dakwah dan poltik adalah sesuatu yang kontra, dan tidak dapat disatukan dalam satu aktifitas. Semoga pula dapat ‘menggoda’ kita untuk menanam saham kebaikan dalam rangka membangun peradaban dunia, yang sesuai kehendak Allah, melaui aktifitas dakwah dan politik. Akan tetapi dari mana kita memulai?

Pertama, Membangun kembali pemahaman kegamaan kita,

Bahwa agama Islam itu agama yang syamil, mencakup seluruh aspek kehidupan; bahwa agama Islam itu asasnya aqidah, batangnya amal ibadah dan buahnya adalah akhlak; bahwa agama Islam itu diamalkan di dunia dan pahalanya diperoleh di akhirat; bahwa agama Islam itu diturunkan Allah untuk semua manusia, dan sterusnya. Pemahaman ini harus dibangun melalui peroses belajar mengajar. Islam mengajarkan bahwa belajar dilakukan dengan dua hal: Satu, dengan membaca fenomena-fenomena alam dan literatur-literatur; dan dua, dengan belajar melalui guru.

Kedua metode tersebut harus dilakukan oleh stiap muslim, tidak boleh hanya salah satunya.

Sebab dengan membaca saja seseorang dapat tersesat, atau dengan melalui guru saja, seseorang memiliki wawasan yang sempit. Karena dengan demikian, kita sebagai politisi dakwah dapat mengamalkan Islam penuh tanggung jawab, tidak berdasarkan hawa nafsu.

Ketiga, Membangun kembali kebersamaan kita,

Bahwa kita itu bersaudara, tidak dipisahkan oleh batasan darah, suku dan bangsa, apalagi hanya dibatasi oleh perbedaan organisasi keagamaan atau perbedaan madzahab; bahwa kita itu perlu kerjasama dan berjamaah, karena memang setiap amalan dalam agama Islam sangat dianjurkan dilakukan dalam berjamaah; bahwa kita tidak dapat merealisasikan sebagian besar ajaran agama Islam kecuali dengan bersama-sama.

Kebersamaan dapat dibangun dengan kemampuan kita melepaskan egoisme individu masing-masing kita, sehingga kita dapat menerima dan memberi nasehat orang lain, serta mampu bersabar atas kekurangan dan perbedaan dalam kebersamaan. Sehingga kebersamaan ini membuat politisi dakwah menjadi kuat dan dapat segera mencapai cita-citanya.

Keempat, Mengenal kembali potensi dan kelebihan diri kita;

Bahwa masing-masing kita memiliki kelebihan yang berbeda dengan orang lain; bahwa kelebihan kita dapat menjadi keunggulan yang menutupi kekurangan orang lain; bahwa keunggulan kita dapat menghapus kelemahan kita. Yang penting, dengan keunggulan itu dapat kita jadikan sebagai sarana yang memanjangkan umur pahala kita. Sehingga kita menumbuhkannya secara terus dan menjadi politisi dakwah melalui keunggulan tersebut.

Kelima, Memahami kembali realitas kehidupan kita;

Bahwa kita hidup pada hari ini, bukan hari kemarin yang sangat mungkin kulturnya jauh berbeda dengan hari ini; bahwa kehidupan itu penuh dengan dinamika, sehingga kita politisi dakwah dituntut memiliki kemampuan mengaktualisasikan ajaran Islam, dalam bentuk sarana, metode, dan cara sesuai zaman, tanpa harus keluar dari frame dasar agama ini.

Akhirnya, telah menjadi harapan kami, semoga kita dapat menjadi politisi dakwah yang mempelopori pelaksanaan ajaran Islam, secara bersama-sama, berangkat dari keunggulan kita masing-masing, dalam nuansa memperhatikan keadaan, perubahan dan dinamika zaman, yang pada gilirannya Islam tidak hanya tertulis dalam Al Qur’an, tergambar dalam Sunnah dan tertarjamah dalam buku-buku, tapi menjadi kenyataan di muka bumi. Atau tidak hanya menjadi gambar dan maket, tapi dapat menjadi bangunan yang kokoh, yang semua orang dan makhluk dapat bernaun dan tinggal dengan damai dalam bangunan tersebut.

READ MORE >>

Senin, 28 Desember 2009

Ormas Islam Harus Perkuat Pembinaan Umat

JAKARTA--Memasuki tahun baru Masehi beberapa hari lagi, merupakan momentum bagi ormas Islam untuk melakukan evaluasi. Memasuki tahun-tahun mendatang, ormnas Islam diharapkan memperkuat pembinaan dan perhatiannya pada umat. Ini ditegaskan Ketua PP Muhammadiyah KH Yunahar Ilyas dalam perbincangan dengan Republika di Jakarta, Senin (28/12).

Dikatakan Yunahar, jumlah umat Islam di Indonesia sangat besar, yaitu sekitar 190 juta orang. ''Dari jumlah tersebut, yang bergabung dengan ormas Islam ada sekitar 90 juta orang,'' papar Yunahar. Tentunya menurut Yunahar, Ormas Islam tidak boleh hanya membina dan memperhatikan umat yang tergabung dalam ormas saja, namun juga seluruh umat Muslim yang ada. ''Berikan perhatian dan pembinaan pada masalah-masalah pendidikan, kaitannya dalam upaya memberantas kebodohan dan kemiskinan. Ini tugas kita semua,'' papar Yunahar.

Selain itu, menurut Yunahar, omas Islam juga harus berkontribusi pada persoalan-persoalan kebangsaan dan kenegaraan. ''Memberi masukan-masukan pada pemerintah serta juga melakukan pengawasan terhadap kinerja pemerintah,'' tegas Yunahar.

Sementara di internal Muhammadiyah sendiri menurut Yunahar, momentum pergantian tahun selalu digunakan Muhammadiyah sebagai momentum evaluasi. Menilai perjalanan satu tahun yang telah dilewati dan melihat aspek-aspek mana saja yang perlu dilakukan pembenahan dan mana saja yang sudah baik dan diteuskan di tahun berikutnya.

Menurut Yunahar, setidaknya perlu adanya revitalisasi atau penguatan dalam tiga aspek di kalangan Muhammadiyah. ''Yaitu penguatan pada aspek ideologi, aspek organisasi serta aspek kaderisasi,'' ungkap Yunahar.

Dalam hal aspek ideologi, menurut Yunahar di tengah arus globalisasi saat ini, banyak paham-paham pemikiran baru yang dikhawatirkan dapat tergelincirnya umat dari pemahaman Muhammadiyah yang benar. ''Artinya memperkuat faham agama menurut Muhammadiyah pada warganya, bagaimana memahami Islam melalui Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW,'' papar Yunahar.

Pada aspek organisasi, menurut Yunahar, bagaimana agar struktur organisasi yang ada dari pusat hingga tingakt cabang dan ranting dapat berjalan dengan baik. ''Perlu adanya revitalisasi untuk tingkat cabang dan ranting,'' papar Yunahar.

Sedangkan pada aspek kaderisasi, Muhammadiyah perlu terus melakukan kaderisasi, Baik secara tradisional melalui keluarga, melalui badan-badan amal usaha serta melalui ortom-ortom atau organisasi di bawah Muhammadiyah. ''Kaderisasi sangat penting karena Muhammadiyah sudah menjadi organisasi yang besar dan memiliki aset yang banyak. Tentunya perlu kader-kader yang siap untuk menerima tongkat estafet,'' ungkap Yunahar. osa/taq

READ MORE >>

Kamis, 24 Desember 2009

PEMILU DALAM PANDANGAN MUSLIM

ISLAM dalam artian yang spesifik adalah wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw berupa ajaran dan tuntunan hidup untuk keselamatan umat manusia di dunia dan akhirat. Islam agama yang sempurna, firmanNya : "Hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agamamu…." ( QS. Al-Maidah: 3). Islam agama yang universal mencakup semua aspek kehidupan, firmanNya: "Masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaffah (menyeluruh) dan jangan mengikuti langkah-langkah setan.." (QS. Al-Baqarah: 208). Dan Islam adalah agama yang adil, seimbang, karenanya umatnya pun adalah umat yang berkeadilan, firmanNya: "dan demikianlah Kami jadikan kalian umat yang adil…" (QS. Al-Baqarah: 208).

Maka tidak dibenarkan bagi seorang muslim melontarkan ungkapan-ungkapan seperti: "Saya muslim dalam ibadah", atau "saya muslim dalam akhlak", atau "saya mukmin dalam masyarakat ", "muslim yang penting hatinya…", sebab ungkapan-ungkapan tersebut memberikan makna parsialisme, atau sikap dikotomi antar ajaran-ajaran Islam.
Sebagaimana tidak benar ungkapan-ungkapan bernada 'sektarianisme' seperti: "Islam Spiritualis", atau "Islam Fundamentalis", atau "Islam Eksklusif", atau "Islam Inklusif", atau "Islam Reaksionis", atau "Islam Revolusionis", atau "Islam Kanan" dan "Islam Kiri" dan sebagainya. Sebab ungkapan-ungkapan tersebut menyeret kepada sikap persekatan Islam, yang mungkin saja dilakukan sebagian orang lain yang tidak bertanggung jawab pada aspek kedaerahan, kesukuan dan seterusnya.

Muslim & Politik
Mungkin sebagian kita sempat mendengar ungkapan "Islam Politis", sebenarnya ungkapan ini bagi umat Islam tidak dapat diterima, ia salah satu ungkapan yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak senang dengan Islam. Mereka ingin memenggal Islam dalam beberapa sekte idiologis. Seperti halnya ungkapan "Islam Sosialis", "Islam Idiologis" dan seterusnya.
Ungkapan yang lebih relevan dalam perspektif Islam adalah "Islam dalam Politik" yang maksudnya Islam memberikan shibghoh (celupan) pada aspek politik, atau ungkapan "Politik Islam" yang maksudnya "politik adalah bagian dari Islam yang terkait dengan ajaran-ajaran Islam yang lain seperti aspek akidah, ibadah, akhlak dst".
Sebab menilik esensi politik, Islam yang disyariatkan Allah sebenarmya berwawasan politik, artinya Islam mengatur hubungan manusia dengan Khaliqnya dan hubungan antara manusia dalam masyarakat dan negara.
Politik dalam bahasa Arab disebut "Siyasah" yakni mengatur, mengurus, mentadbir, yakni mengatur urusan orang banyak dan mengurus masalah-masalah kehidupan, agar lebih tertib dan bermakna. Jangankan masalah-masalah muamalah, kajian ibadah seperti zakat juga berada dalam bidang politik, terbukti Abu Bakar ash-Shiddiq r.a memerangi orang-orang Islam yang tidak mau membayar zakat. Demikian dalam shalat mengandung makna dan nilai politik, seperti bacaan ayat-ayat tentang politik (syura, keadilan, persamaan hak dsb), gerakan-gerakan imam dan makmum yang menggambarkan hubungan antara pemimpin dan rakyatnya.

Partisipasi Politik Dalam Alam Demokrasi :
Dalam Islam mencegah kerusakan dan melawan kezhaliman adalah bentuk jihad fi sabillah, firman Allah SWT" " (4: 97-99). Kisah-kisah al-Qur'an tentang para tirani penguasa lalim diungkapkan untuk maksud agar setiap muslim mampu menentang sepak terjang mereka dan membenci kezhaliman dengan cara memberikan bantuan dan pembelaan terhadap kaum tertindas. Sementara merubah kemungkaran merupakan kewajiban bagi setiap muslim, sebagaimana firman Allah SWT: "(QS. 5: 78-79, 3: 110).
Di alam demokrasi setiap muslim dapat memperoleh kesempatan untuk melakukan sikapnya terhadap fenomena kehidupan di lingkungannya, jika fenomena tersebut merupakan sebuah kebaikan maka ia membela dan menyuarakan kebaikan tersebut lewat media kebebasan berpendapat dalam alam demokrasi. Jika fenomena di lingkungannya berupa kemungkaran maka dia juga memperoleh peluang untuk berpartisipasi mencegah kemungkaran tersebut agar tidak menyebar dan merajalela di tengah masyarakat.
Namun masyarakat muslim bisa berbeda dalam menyalurkan aspirasi keislamannya, sebagian dalam wadah legal formal berupa organisasi massa, sebagian lagi lewat organisasi politik; perbedaan tersebut merupakan dinamika pemikiran dalam Islam dapat menjadi rahmat dan nikmat jika perbedaan itu disikapi dengan cara-cara yang etis dan bermoral tanpa memojokkan orang lain (sukhriyah), sebagaimana bisa menjadi laknat dan niqmat jika perbedaan itu malah menimbulkan keresahan dan konflik (furqoh) antara umat Islam.
Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya Fiqh Daulah menyimpulkan, bahwa multi partai dalam politik sama dengan ragam mazhab dalam fiqih. Bagi umat Islam hendaknya keorganisasian politik tersebut mengacu kepada prinsip-prinsip Islam yang benar dan untuk kemaslahatan umat pada umumnya. Seperti loyalitas kepada siapa diberikan? Prinsip dasar pergerakannya apa? Cara dan program aktifitasnya bagaimana?

Muslim & PEMILU
Rasulullah saw memberikan kriteria pemimpin dalam Islam dalam sabdanya: "Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kamu cintai dan mereka mencintaimu, mereka yang kalian hubungkan silaturahimnya dan mereka juga menghubungkan silaturahim kepada kalian….." (HR Muslim).
Hadits tersebut memberikan pemahaman implisit kepada kita, bahwa hendaknya kita memilih seorang pemimpin yang memiliki motivasi bersih dan sikap peduli. Rakyat tentunya tidak mengangkat orang yang tidak disukai dan tidak pula memilih system yang tidak diinginkan. Bahkan mereka berhak mencopot dan mengganti pemimpin yang melakukan kesalahan fatal dalam negara.
Bila hal itu dikaitkan dengan PEMILU, maka Pemilu (Pemilihan Umum) adalah salah satu bentuk dan system praktis dari konsepsi demokrasi sebagaimana bentuk-bentuk dan system yang lain seperti meminta pendapat rakyat, ketetapan mayoritas, multi-partai, kebebasan pers dst.
PEMILU ibarat sebuah kesaksian kelayakan yang diberikan kepada kandidat; maka pemilih harus memenuhi syarat sebagai saksi antara lain: adil, diridhoi perilkunya (baca: QS ath-Thalaq: 2 dan 2: 282). Memilih kandidat tanpa standar pemilihan (membeli kucing dalam karung) adalah serupa dengan memberikan persaksian tidak benar dalam kepemimpinan. Maka memilih kandidat yang tidak layak adalah perbuatan dosa karena ia memberikan saksi palsu (QS. Al-Hajj: 30).
Demikian pula motivasi memilih yang salah mengakibatkan bencana bagi para pemilih itu sendiri ( baca: QS. ath-Thalaq: 2 ). Motivasi salah tersebut seperti: menerima suap, memilih karena saudara atau karena kawan dekat dsb, bukan karena kriteria yang semestinya sebagai calon pemimpin dan negarawan sejati.
Seorang muslim jika dimintai persaksiannya, maka ia harus memberikan kesaksian yang benar (baca: QS al-Baqarah: 282-283); maka hendaknya setiap muslim merenung akibat dari ketidakikutannya dalam pemilihan umum.


Dr. Muhammad Idris Abdul Shamad

READ MORE >>

Feminisme Tak Membuat Perempuan Bahagia

Persamaan hak kaum perempuan dan laki-laki menjadi isu yang tidak pernah berhenti dibahas di kalangan aktivis perempuan.

Kalangan feminis memanfaatkan istilah "hak asasi" dan "pemberdayaan" perempuan untuk menyuarakan gerakan feminisme.

Sekilas, konsep feminisme tidak bermasalah karena bertujuan untuk mengangkat derajat kaum perempuan yang selama ini dianggap didiskriminasikan dan dilanggar hak-haknya oleh kaum lelaki.

Tapi konsep feminisme yang notabene berasal dari Barat dan menggunakan standar-standar kehidupan perempuan Barat yang cenderung bebas.

Belakangan diketahui banyak menimbulkan masalah bagi kaum perempuan itu sendiri. Mereka justeru tidak bahagia dalam hidupnya, bahkan banyak diantara kaum perempuan yang terjerumus dalam tindak kriminal.

Sahar El-Nadi, seorang instruktur profesional dan penceramah di bidang komunikasi antar budaya dalam artikelnya "The Other Side of Feminism" mengungkap konsep feminisme ala Barat yang bermasalah itu.

Ia mengatakan, konsep feminisme jadi problem karena dengan alasan persamaan hak dan kesetaraan, sadar atau tidak sadar perempuan ditanamkan pemikiran dan pandangan bahwa kaum lelaki adalah manusia yang agresif, emosional, memonopoli lapangan kerja dan menutup kesempatan bagi kaum perempuan untuk memiliki banyak pilihan selain hanya mengurusi urusan rumah tangga.

Agenda feminisme yang dikedepankan kaum feminis sekarang ini, tulis El-Nadi, adalah persamaan hak yang cenderung membuat perempuan "identik" dengan laki-laki.

Mereka menolak argumen bahwa kaum lelaki dan perempuan memiliki perilaku yang berbeda karena peran mereka dalam hidup pun berbeda. Kaum feminis akan menyebut orang-orang yang beragumen demikian sebagai orang yang 'seksis', dikriminatif, pendukung "agenda chauvinis kaum lelaki" dan ingin mengendalikan kaum perempuan dalam sebuah sistem masyarakat yang patriarkis.

Kesetaraan menurut konsep feminisme, bahwa laki-laki dan perempuan harus memiliki kehidupan yang sama, tanggung jawab yang sama dan pada akhirnya mengalami tekanan hidup yang sama. Apakah konsep itu membuat kaum perempuan bahagia? Ternyata tidak.

Semakin perempuan merasa berhasil menjalankan standar-standar feminisme itu, kenyataannya semakin mereka merasa sengsara. Lembaga General Social Survey pernah melakukan penelitian tentang hal ini di kalangan masyarakat AS.

Mereka meneliti bagaimana mood masyarakat AS dari mulai tahun 1972 hingga sekarang, dan hasilnya, kaum perempuan AS yang notabene menganut konsep feminisme, kehidupannya lebih suram dibandingkan kaum lelaki.

Perempuan mengalami kondisi yang lebih buruk, karena mereka diminta untuk memainkan dua peran bukan satu peran bahwa tugas perempuan di dalam rumah dan tugas laki-laki mencari nafkah di luar.

Dibawa 'revolusi feminisme' kaum perempuan menang dalam mendapatkan apa yang disebut kebebasan dalam dunia laki-laki, sementara kaum lelaki banyak yang mengalami krisis jati diri.

Sehingga tak heran jika sekarang banyak kaum lelaki yang 'feminim', berpakaian dan bertingkah laku seperti perempuan. Perubahan semacam ini bisa dipahami, karena konsep kesetaraan itu, sejak kecil anak-anak perempuan didorong untuk belajar berani dan agresif seperti anak-anak laki.

Gaya mendidik seperti ini akan terbawa sampai anak perempuan tadi dewasa. Mereka akan tumbuh dengan pendekatan untuk menjadi "manusia yang egois" di dunia.

Konsep feminisme yang sekarang berkembang, membuat kaum perempuan, utamanya di negara-negara maju jadi meremehkan peran perempuan sebagai isteri dan ibu.

Banyak diantara mereka yang tidak mau direpotkan dengan kewajiban-kewajiban sebagai isteri dan ibu sehingga mereka cenderung memilih melakukan seks bebas tanpa komitmen, memilih membesarkan anak-anak tanpa kehadiran seorang ayah bahkan menikah sesama jenis.

Semuanya dilakukan atas nama "hak asasi perempuan." Jika sudah demikian, maka lenyaplah perang kaum perempuan dalam masyarakat.

"Sebagai seorang muslim, saya sedih melihat makin banyak kaum perempuan di berbagai penjuru dunia yang berlomba-lomba mengikuti jalan feminisme akhirnya jatuh ke jurang yang sama.

Bagi para muslimah, Al-Quran dengan jelas menyebutkan bahwa Allah Swt menciptakan berbeda antara kaum lelaki dan kaum perempuan. Masing-masing dianugerahkan peran yang berbeda pula untuk saling mendukung sebagai satu tim, dan bukan untuk saling bersaing," tulis El-Nadi.

"Tak seorang pun yang ingin mencerabut hak-hak kaum perempuan, tapi kita harus memahami bahwa kebebasan bukan berarti harus mendegradasikan kaum perempuan dan persamaan hak bukan berarti harus 'identik'.

Kaum perempuan membawa karunia dan nilai-nilai yang unik bagi dunia. Peran perempuan dalam memulihkan nilai-nilai keluarga dalam kehidupan masyarakat yang modern bisa membuat kaum lelaki, anak-anak bahkan perempuan itu sendiri, hidup bahagia," papar El-Nadi.

Nah, para muslimah, rasanya tak perlu silau dengan propaganda kesetaraan gender dan persamaan hak asasi yang digaungkan para aktivis feminisme. (ln/iol)

READ MORE >>

Kamis, 17 Desember 2009

Riwayat Kalender Islam

Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari.
Hampir seluruh umat Islam di seluruh dunia mengenal sistem kalender masehi (M). Bahkan, ketika diminta untuk menyebutkan nama-nama bulan masehi, mereka dengan mudah mengucapkannya.


Sebaliknya, ketika dimintai pendapatnya tentang kalender Islam atau hijriyah, kebanyakan mereka akan menggelengkan kepala, tanda tak tahu. Sungguh, itu sangat memprihatinkan sebab mereka tidak mengetahui kalendernya sendiri. Bahkan, mereka tak tahu bulan apa yang pertama dari kalender hijriyah.

''Ini disebabkan minimnya sosialisasi keberadaan kalender hijriyah pada umat Islam,'' jelas dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo, Semarang, Muhammad Izzudin MAg.

Izzuddin menjelaskan, sistem penanggalan Islam dimulai pada saat Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah. Perpindahan (hijrahnya) Rasulullah ini, kata dia, menunjukkan adanya tujuan dalam menggapai kedamaian bagi umat Islam. ''Meninggalkan keburukan menuju kebaikan,'' tegasnya.

Seperti diketahui, peristiwa hijrah Rasulullah itu terjadi pada hari Kamis, bertepatan dengan 15 Juli 622 M. Mulai tahun itulah dihitung sebagai tahun hijriyah. Berbeda dengan tahun masehi yang dimulai pada 1 Januari, sistem penanggalan Islam diawali pada 1 Muharram. Dan, dalam setahun, sama-sama berisi 12 bulan.

Kendati penerapan kalender hijriyah merujuk pada tahun hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah, penanggalan tersebut resmi digunakan setelah 17 tahun kemudian saat sistem pemerintahan Islam dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Penetapan awal tahun hijriyah yang dilakukan Khalifah Umar ini merupakan upaya dalam merasionalisasikan berbagai sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya. Kadang, sistem penanggalan yang satu tidak sesuai dengan sistem penanggalan yang lain sehingga sering menimbulkan persoalan dalam kehidupan umat.

Bila menilik sejarahnya, sebelum datangnya Islam, bangsa Arab telah menggunakan kalender tersendiri. Mereka belum menetapkan tahun, namun sudah mengenal nama-nama bulan dan hari. Kalaupun harus menggunakan tahun, itu hanya berkaitan dengan peristiwa yang terjadi, seperti Tahun Gajah yang dinisbatkan pada masa penyerbuan Abrahah ketika akan menghancurkan Ka'bah.

Karena kesulitan dalam menetapkan tahun tersebut dan seiring dengan makin banyaknya persoalan yang ada terkait dengan sistem kalender yang baku, Khalifah Umar pun berinisiatif menetapkan awal hijrah sebagai permulaan tahun masehi setelah melakukan musyawarah dengan sejumlah sahabat.

Dari sini, disepakati bahwa tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Makkah ke Madinah adalah tahun pertama dalam kalender Islam. Sedangkan, nama-nama bulan tetap digunakan sebagaimana sebelumnya, yakni diawali pada bulan Muharram dan diakhiri pada bulan Dzulhijjah.

Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta para pengikutnya dari Makkah ke Madinah yang dipilih sebagai titik awal perhitungan tahun tentunya mempunyai makna yang amat dalam bagi umat Islam.

Peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah, kata Izzudin, merupakan peristiwa besar dalam sejarah awal perkembangan Islam. Peristiwa hijrah adalah pengorbanan besar pertama yang dilakukan nabi dan umatnya untuk keyakinan Islam, terutama dalam masa awal perkembangannya. Peristiwa hijrah ini juga melatarbelakangi pendirian kota Muslim pertama.

Tahun baru dalam Islam mengingatkan umat Islam pada kemenangan atau kejayaan Islam serta pengorbanan dan perjuangan tanpa akhir di dunia ini.

Rotasi bulan
Bila tahun masehi terdapat sekitar 365-366 hari dalam setahun, tahun hijriyah hanya berjumlah sekitar 354-355 hari. Menurut Izzudin, perbedaan ini disebabkan adanya konsistensi penghitungan hari dalam kalender hijriyah.

''Rata-rata, jumlah hari dalam tahun hijriyah antara 29-30 hari. Sedangkan, tahun masehi berjumlah 28-31 hari. Inilah yang membedakan jumlah hari antara tahun masehi dan tahun hijriyah,'' jelas anggota Badan Hisab dan Rukyah PWNU Jawa Tengah ini.

Pada sistem kalender hijriyah, sebuah hari atau tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Kalender hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan yang memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari). Hal inilah yang menjelaskan hitungan satu tahun kalender hijriyah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan penghitungan satu tahun dalam kalender masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender hijriyah bergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi; kemudian pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion).

Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). Dari sini, terlihat bahwa usia bulan tidak tetap, melainkan berubah-ubah (antara 29 hingga 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (bulan, bumi, dan matahari).

Penentuan awal bulan ditandai dengan munculnya penampakan bulan sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari sehingga posisi hilal berada di ufuk barat.

Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal. sya/dia/berbagai sumber


Percampuran Islam-Jawa dalam Penanggalan Hijriyah

Kedatangan agama Islam di tanah Jawa membawa bermacam-macam produk budaya dari pusat penyebaran Islam. Di antara produk budaya yang dibawa Islam ketika itu adalah sistem penanggalan berdasarkan revolusi bulan terhadap bumi (qomariah), yang dikenal dengan penanggalan hijriyah. Sesungguhnya, masyarakat Jawa sendiri sudah punya sistem penanggalan yang mapan, yaitu penanggalan saka.

Ada beberapa perbedaan antara kalender saka dengan kalender hijriyah, seperti perbedaan nama-nama bulan dan penetapan permulaan hari. Namun kemudian, terjadi percampuran kedua kalender--kalender Jawa-Islam--yang masih digunakan hingga saat ini. Percampuran ini memunculkan sejumlah pertanyaan. Apakah telah terjadi Jawanisasi Islam atau Islamisasi Jawa?

Lalu, jika memang telah terjadi percampuran, bagaimana proses itu berjalan sehingga tidak menimbulkan penolakan terhadap ajaran Islam yang ketika itu masih relatif baru? Tema perbincangan seputar percampuran Jawa-Islam ini sangat menarik. Karena, di satu sisi, itu menunjukkan sikap terbuka masyarakat Jawa. Di sisi lain, hal itu membuktikan Islam sebagai agama rahmatan li al-alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Menurut sejarah, munculnya kalender Jawa-Islam tidak lepas dari peran Sultan Agung (1613-1645), sultan Mataram Islam ketiga yang bergelar Senapati Ing Alaga Sayiddin Panatagama Kalifatullah. Beliau mengakulturasikan (menggabungkan) penanggalan Jawa (saka) yang berdasarkan sistem kalender matahari dan bulan (kalender lunisolar) dengan penanggalan hijriyah. Menurut Prof Dr MC Ricklefs, dalam artikelnya "Pengaruh Islam terhadap Budaya Jawa Terutama pada Abad ke XIX", upaya percampuran itu terjadi pada tahun 1633 M.

Ricklefs mengisahkan, pada tahun 1633 M, Sultan Agung berziarah ke pesarean (kuburan) Sunan Bayat di Tembayat. Disebutkan dalam Babad Nitik, Sultan Agung diterima oleh arwah Sunan Bayat. Sultan Agung yang masih berada di pesarean Tembayat diperintahkan untuk mengganti kalender Jawa. Sebelum itu, kalender saka (yang berasal dari kebudayaan Hindu) adalah kalender yang masih dipakai dalam lingkungan keraton. Kemudian, kalender itu diganti dengan kalender qamariah yang berisi bulan-bulan Islam. Maka, terciptalah kalender baru yang unik, yaitu kalender Jawa-Islam.

Bulan-bulan dalam kalender Jawa-Islam adalah Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar. Ada bulan yang masih menggunakan istilah Arab, yaitu Jumadilawal dan Jumadilakir. Warna Jawa pada kalender Jawa-Islam lebih kentara pada lima hari pasar atau Pancawara (Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi).

Menurut Dr Purwadi, peneliti budaya Jawa asal Yogyakarta, lima hari pasar sangat penting bagi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Jawa, terutama bagi mereka yang hidup di pedesaan atau yang masih memegang kepercayaan tradisional. ''Coba, kita lihat bagaimana masyarakat Jawa mendasarkan aktivitasnya pada lima hari pasar itu. Kalau mau bepergian, mereka terlebih dahulu menghitung hari baik, apakah Pon, Wage, Kliwon, atau hari lainnya,'' ungkapnya

Menurut Purwadi, dari kalangan umat Islam sendiri, umat nahdliyin adalah umat yang masih kuat menggunakan penanggalan Jawa-Islam. ''Pada papan pengumuman di masjid-masjid NU, biasanya terdapat jadwal khatib Jumat berdasarkan hari-hari pasaran. Misalnya, pada Jumat Pon yang khatib adalah kiai A, Jumat Wage kiai B, Jumat Kliwon kiai C dan seterusnya,'' lanjutnya.

Lima hari pasar, jelasnya, juga sangat penting dalam kegiatan perekonomian masyarakat Jawa sehingga seseorang akan melakukan aktivitas ekonomi pada hari tertentu dan tidak melakukannya pada hari lain. Hal itu tercermin pada nama-nama pasar di daerah-daerah Jawa. Ada Pasar Legi, Pasar Kliwon, dan Pasar Wage. Ini berbeda dengan masyarakat Melayu yang menamakan pasar dengan nama-nama hari biasa, seperti Pasar Jumat, Pasar Rabu, atau Pasar Minggu.

Menurut Purwadi, sistem penanggalan Jawa-Islam akan tetap dipakai oleh umat Islam Jawa karena di dalamnya terdapat kepercayaan-kepercayaan mistis. Teknologi informasi saat ini malah semakin menguatkan fungsi klasifikasi Pancawara itu. Contohnya, iklan yang ditayangkan di televisi lebih banyak iklan tentang kepercayaan Jawa, seperti Primbon, Ramal, Manjur, dan lainnya.

Fenomena ini diakui Purwadi sebagai desakralisasi sistem Pancawara. Di sisi lain, itu menunjukkan kepercayaan masyarakat pada hal-hal mistis tetap kuat.


Sistem Penanggalan yang Digunakan di Dunia

Masyarakat dunia mengenal beberapa macam sistem penanggalan dan kalender. Sedikitnya, ada empat sistem penanggalan, yaitu kalender hijriyah, masehi, saka, dan Cina. Masing-masing kalender tersebut dibangun dengan menggunakan mekanisme penghitungan yang berbeda satu sama lain.

Kalender hijriyah atau kalender Islam, misalnya, menggunakan sistem kalender lunar (qomariyah) yang mengacu kepada siklus perputaran bulan. Kalender masehi menggunakan basis penghitungan kalender solar (syamsiyah) yang mengacu kepada siklus peredaran matahari.

Sementara itu, kalender saka dan kalender Cina menggunakan sistem penanggalan syamsiyah dan qomariyah atau sering disebut dengan istilah kalender luni-solar.

Penanggalan hijriyah
Dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah atau hari-hari penting lainnya, umat Islam berpatokan pada sistem penanggalan hijriyah. Bahkan, di banyak negara yang berpenduduk mayoritas Islam, kalender hijriyah digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari.

Kalender ini dinamakan kalender hijriyah karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun di mana terjadi peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 Masehi (M). Namun, penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriyah baru dilakukan enam tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW atau 17 tahun setelah hijrah, yakni semasa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

Namun demikian, sistem yang mendasari penghitungan kalender hijriyah telah ada sejak zaman pra-Islam. Sistem ini direvisi pada tahun ke-9 setelah hijrahnya Nabi SAW. Revisi sistem ini dilakukan setelah turunnya wahyu Allah, ayat 36-37 surah Attaubah, yang melarang penambahan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.

Kalender masehi
Kata 'masehi' (disingkat M) dan sebelum masehi (disingkat SM) biasanya merujuk kepada tarikh atau tahun menurut kalender gregorian. Awal tahun masehi merujuk pada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa al-Masih. Karena itu, kalender ini dinamakan masihiyah. Sebaliknya, istilah sebelum masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut.

Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sementara itu, penggunaan istilah masehi secara internasional dalam bahasa Inggris menggunakan bahasa Latin, yaitu anno domini (AD) yang berarti Tahun Tuhan kita dan sebelum masehi disebut sebagai before Christ (BC) yang bermakna Sebelum Kristus.

Selain itu, dalam bahasa Inggris juga dikenal sebutan common era (CE) yang berarti 'Era Umum' dan before common era (BCE) yang bermakna 'Sebelum Era Umum.' Kedua istilah ini biasanya digunakan ketika ada penulis yang tidak ingin menggunakan nama tahun Kristen.

Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat pada abad ke-8. Sistem ini mulai dirancang tahun 525. Namun, pada abad ke-11 hingga ke-14, sistem ini tidak begitu luas digunakan. Tahun 1422, Portugis menjadi negara Eropa terakhir yang menerapkan sistem penanggalan ini. Setelah itu, seluruh negara di dunia mengakui dan menggunakan konvensi ini untuk mempermudah komunikasi.

Meskipun tahun 1 M dianggap sebagai tahun kelahiran Yesus, bukti-bukti historis terlalu sedikit untuk mendukung hal tersebut. Para ahli menanggali kelahiran Yesus secara bermacam-macam, dari 18 SM hingga 7 SM.

Sejarawan tidak mengenal tahun 0-1 M adalah tahun pertama sistem masehi dan tepat setahun sebelumnya adalah tahun 1 SM. Dalam perhitungan sains, khususnya dalam penanggalan tahun astronomis, hal ini menimbulkan masalah karena tahun sebelum masehi dihitung dengan menggunakan angka 0. Maka dari itu, terdapat selisih satu tahun di antara kedua sistem.

Tahun saka
Kalender saka adalah sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiyah qomariyah (candra surya) atau kalender luni solar. Tidak hanya digunakan oleh masyarakat Hindu di India, kalender saka juga masih digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali, Indonesia, terutama untuk menentukan hari-hari besar keagamaan mereka.

Sistem penanggalan saka sering juga disebut sebagai penanggalan Saliwahana. Sebutan ini mengacu kepada nama seorang ternama dari India bagian selatan, Saliwahana, yang berhasil mengalahkan kaum Saka. Tetapi, sumber lain menyebutkan bahwa justru kaum Saka di bawah pimpinan Raja Kaniskha I yang memenangkan pertempuran tersebut. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Maret tahun 78 M.

Sejak tahun 78 M itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tahun masehi. Sejak itu pula, kehidupan bernegara, bermasyarakat, dan beragama di India ditata ulang. Oleh karena itu, peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, dan hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional.

Mengenai kaum Saka, ada yang menyebut bahwa mereka termasuk suku bangsa Turki atau Tatar. Namun, ada pula yang menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Sumber lain lagi menyebutkan bahwa mereka sebenarnya orang Yunani (dalam bahasa Sansekerta disebut Yavana) yang berkuasa di Baktria (sekarang Afghanistan).

Kalender Cina
Seperti halnya kalender saka, kalendar Cina juga menggunakan sistem penanggalan luni solar. Menurut legenda, kalendar Cina berkembang sejak tahun ketiga sebelum masehi. Para ahli menyepakati bahwa kalendar Cina sebagai patokan penanggalan yang paling lama digunakan di dunia. Kalendar ini adalah ciptaan pemerintah Huang Di atau Maharaja Kuning yang memerintah sekitar 2698-2599 SM.

Bukti arkeologi terawal mengenai kalendar Cina ditemukan pada selembar naskah kuno yang diyakini berasal dari tahun kedua sebelum masehi atau pada masa Dinasti Shang berkuasa. Pada masanya, dipaparkan tahun luni solar yang lazimnya 12 bulan, namun kadang-kadang ada pula bulan ke-13, bahkan bulan ke-14. Penambahan bilangan bulan dalam tahun kalendar memastikan peristiwa tahun baru tetap dilangsungkan dalam satu musim saja, sebagaimana kalender masehi meletakkan satu hari tambahan pada bulan Februari setiap empat tahun.

Di negara Cina sekarang, kalendar Cina hanya digunakan untuk menandai perayaan orang Cina, seperti Tahun Baru Cina, perayaan Duan Wu, dan Perayaan Kuih Bulan. Begitu juga dalam bidang astrologi, seperti memilih tahun yang sesuai untuk melangsungkan perkawinan atau meresmikan pembukaan bangunan baru. Sementara itu, untuk kegiatan harian, masyarakat Cina mengacu kepada hitungan kalender masehi.(rpb)

READ MORE >>

Rabu, 16 Desember 2009

Amerika Serikat: Decline or not Decline?

Jika Negara Superpower Amerika Serikat runtuh, apakah umat Islam bisa serta-merta menggantikannya?

Oleh: Alwi Alatas*


Kami tidak mengetahui mengapa tema tentang Amerika Serikat dan nasibnya ke depan sebagai pemimpin peradaban (bisa juga dibaca sebagai: polisi dunia) menjadi begitu menarik dibicarakan, khususnya dalam tiga bulan terakhir ini. Beberapa artikel yang dimuat dalam media-media ternama membahas tentang prospek kejatuhan dan keruntuhan Amerika Serikat sebagai sebuah superpower. Ada artikel yang menegasikan kemungkinan ini, tapi beberapa artikel lainnya memberikan afirmasi terhadap prospek keruntuhan Amerika Serikat. Sejarah tentunya tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga memahami masa lalu untuk ’membaca’ kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mengangkat tema ini pada kesempatan kali ini.

Kita mengetahui bahwa Amerika Serikat mulai tampil sebagai kekuatan yang dominan di dunia sejak awal abad kedua puluh. Kedudukannya semakin kokoh menggantikan posisi Inggris dan Eropa secara umum setelah pecahnya Perang Dunia Pertama. Namun pasca Perang Dunia Kedua, kedigdayaan Amerika Serikat mendapat tantangan serius dari kekuatan komunis dunia yang dipimpin oleh Uni Soviet. Kemudian, selama beberapa dekade dunia terbelah ke dalam dua blok besar: Kapitalis dan Komunis. Periode ini kita kenal sebagai masa Perang Dingin. Namun, komunisme di Soviet akhirnya runtuh satu dekade menjelang berakhirnya abad kedua puluh. Sejak itu, Amerika Serikat tampil sebagai satu-satunya superpower. Negara-negara kecil terpaksa menurut pada tekanan Amerika jika tidak ingin menerima nasib buruk seperti segelintir negara yang berani menantang.

Apakah ini merupakan the end of history seperti dikatakan Fukuyama? Keadaan ketika kapitalisme menjadi ideologi terakhir yang tak memungkinkan lagi terjadinya perubahan?. Akankah Amerika Serikat terus memimpin dunia, menjadi ’default power,’ meminjam istilah Josef Joffe, tanpa ada negara lain yang bisa menggantikannya memimpin peradaban? Mari kita akan lihat persoalan ini lebih mendalam.

Kepemimpinan Amerika Serikat dalam peradaban dunia sebetulnya merupakan bagian dari mata rantai kepemimpinan masyarakat Barat yang secara umum bisa dibagi dalam tiga periode. Pertama, era kebangkitan pertama peradaban Barat, berlangsung sejak jatuhnya Granada tahun 1492 – walaupun ketika itu peradaban Islam masih cukup kuat diwakili oleh Turki Utsmani, tapi kira-kira setengah abad kemudian Turki mulai mengalami kemerosotan. Pada masa ini peradaban Barat dipimpin oleh Spanyol dan Portugis dengan semangat utama yang bersifat spiritual dan keagamaan (Katolik). Periode kedua, kedudukan Spanyol-Portugis digantikan negeri-negeri Eropa yang berada di Utara (Inggris, Prancis, Belanda) dan bersifat sekuler. Pada periode kedua ini Eropa mencapai puncak kebudayaannya, khususnya pada abad kesembilan belas. Kebudayaan dan seni berkembang pesat, pemikiran dan filsafat (termasuk ideologi) mencapai puncaknya, Ilmu pengetahuan dan rasionalisme mewakili wajah peradaban Barat, kemakmuran juga mengalir ke negeri-negeri mereka.

Periode ketiga, kedudukan Eropa mulai digantikan Amerika Serikat hingga sekarang ini. Walaupun merupakan bagian dari peradaban Barat, tapi karakter yang dimilikinya berbeda. Amerika Serikat merupakan kekuatan yang pragmatis dan lebih menonjol dalam hal militer. Ia tidak berbudaya dan berseni sebagaimana halnya Eropa pada masa keemasannya. Kedudukan Amerika Serikat dibanding Eropa, meminjam kata-kata Max I Dimont dalam Jews, God, and History, seperti kedudukan Romawi kuno dibanding Yunani kuno. Romawi yang kuat secara militer tampak seperti raksasa yang bodoh bagi Yunani yang berseni dan berbudaya. Seperti itulah Amerika Serikat dimata sebagian kalangan di Eropa.

Sementara itu, peradaban Islam pada masa jayanya juga bisa dibagi dalam tiga periode. Karakter pada masing-masing periode tersebut memiliki beberapa kemiripan dengan yang ada pada peradaban Barat, walaupun tentu saja tidak sama persis. Periode pertama yang diwakili Khulafa al-Rashidin merupakan periode yang bersifat spiritual – tetapi spiritualisme dalam sejarah Islam ini memiliki karakter dan pengaruh yang sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada peradaban Barat. Periode berikutnya, yang mencapai puncaknya pada zaman Bani Abbasiyyah, merupakan masa berkembangnya kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Buku-buku asing diterjemahkan dan dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim.

Kemudian masuklah peradaban Islam pada periode ketiga yang dipimpin oleh Turki Utsmani. Turki Utsmani merupakan peradaban yang bersifat praktis dan kuat secara militer. Namun, setelah mencapai puncaknya pada pertengahan abad keenam belas, ia mulai mengalami penurunan. Posisinya mulai digantikan oleh peradaban Barat. Adakah Amerika Serikat dalam mata rantai peradaban Barat memiliki posisi yang sama dengan Turki Utsmani pada peradaban Islam? Adakah kekuatannya akan mengalami penurunan setelah ini, kemudian menjadi the sick man of the West, dan pada akhirnya mengalami disintegrasi yang serius dan bubar? Hanya sejarah yang bisa menjawab pertanyan ini nantinya.

Berbicara tentang kemungkinan disintegrasi Amerika Serikat, harian Kompas pada 12 Oktober 2009 lalu mengangkat sebuah tulisan berjudul ”Krisis di AS Picu Pemisahan.” Artikel itu menyebutkan protes sebagian masyarakat terhadap krisis ekonomi yang serius di Amerika Serikat dan keinginan mereka untuk memisahkan diri dari federasi. Krisis keuangan di AS telah menyebabkan banyak perusahaan besar runtuh dan banyak warga kehilangan pekerjaan. Sikap pemerintah pusat yang lebih berpihak pada perusahaan-perusahaan besar serta keputusan mereka untuk terus membiayai perang di Afghanistan dianggap oleh sebagian warga sebagai hal yang tidak bertanggung jawab. Mereka merasa kebijakan pemerintah AS sedang menggiring negara itu pada kehancuran. ”Emporium itu (AS, pen.) sedang ambruk,” kata Thomas Naylor, profesor ekonomi yang sudah pensiun dan kini memimpin gerakan Republik Vermont kedua. ”Apakah Anda ingin turut serta ambruk bersama Titanic atau mencari jalan alternatif selagi kesempatan masih ada?”

Kirkpatrick Sale, pemimpin sebuah lembaga studi yang mendalami isu separatisme, juga mengakui bahwa keinginan memisahkan diri dari pemerintah pusat serta aksi pembangkangan terhadap peraturan pusat pada waktu-waktu belakangan ini lebih serius dibandingkan pada tahun 1865. Isu pemisahan memang sedang bergema, redaktur pelaksana Fort Worth Star-Telegram, JR Labbe, menyatakan hal yang senada. Walaupun hal ini ditolak oleh Lyn Spillman, namun pihak yang mendukung separatisme yakin bahwa pemisahan diri merupakan pilihan terbaik yang perlu diambil oleh negara-negara bagian agar mereka tidak ikut runtuh bersama pemerintah pusat. Dikatakan bahwa setidaknya ada sepuluh negara bagian yang memiliki kecenderungan semacam ini.

Tiga hari sebelumnya (9 Oktober 2009), Kompas juga mengangkat persoalan ekonomi yang sangat mendalam di Amerika Serikat. Hal Ini boleh jadi akan membawa pada kehancuran negeri Paman Sam itu. AS memiliki hutang yang terlalu besar dan difisit ekonomi yang dialaminya demikian tinggi pada tahun 2009. Pemerintah Obama mencanangkan ekonomi akan pulih dan akan mengalami pertumbuhan 4 persen setelah 2010. Tapi tidak semua ekonom AS bersikap seoptimis ini. Sebagian merasa resesi ekonomi AS terlalu dalam dan cepat atau lambat krisis lanjutan akan kembali terjadi. John Glemp dari Global Policy Forum menyatakan bahwa masalah ekonomi AS bukan hanya defisit keuangan, tetapi juga hutang yang menumpuk dan melebihi kemampuan AS sendiri dalam menanggung bebannya. Terkait dengan persoalan ekonomi ini, Richard Duncan yang pada tahun 2003 menerbitkan buku berjudul The Dollar Crisis meramalkan bahwa AS akan mengalami kejatuhan seperti halnya Roma dulu.

Namun, tidak semua orang setuju dengan pandangan yang pesimistis ini. Josef Joffe dalam tulisannya di foreign Affairs edisi September/Oktober 2009 mempertanyakan ramalan tentang keruntuhan AS. Dalam tulisannya yang berjudul Default Power ia menyatakan bahwa ide tentang keruntuhan Amerika merupakan ramalan yang salah (false prophecy). Pesimisme semacam ini telah muncul pada setiap dekade sejak tahun 1950-an, mulai dari shock yang ditimbulkan oleh keberhasilan Soviet meluncurkan Sputnik, pidato Jimmy Carter soal malaise yang menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat AS, hingga ramalan sejarawan Yale, Paul Kennedy, pada akhir 1980-an yang memprediksikan keruntuhan AS disebabkan perluasan berlebihan diluar negeri dan pemborosan di dalam negeri. Tapi, bantah Joffe, semua itu tidak terbukti. Amerika hingga sekarang ini masih digdaya, bahkan semakin tak terbendung pengaruhnya sejak keruntuhan Soviet.

Siapa penggantinya?

Jika Amerika Serikat runtuh, negara mana yang siap untuk menggantikannya? Banyak orang menyatakan Cina, Uni Eropa, atau Rusia siap untuk tampil kemuka menggantikan AS. Tapi data-data yang ada, menurut Joffe, sama sekali tidak mendukung hal tersebut. Joffe mengajukan data-data bahwa AS masih jauh lebih unggul dibandingkan pada kandidat pesaingnya setidaknya dalam beberapa aspek kunci: ekonomi, diplomasi, militer, serta edukasi.

Ia menolak anggapan bahwa ekonomi AS, terlepas dari krisis yang dialaminya, akan tersusul oleh Cina atau yang lainnya dalam waktu dekat ini. Ekonomi AS bernilai $ 14,3 triliun, tiga kali lipat lebih besar Jepang yang berada di posisi kedua. Bahkan jika ekonomi empat kompetitornya – Jepang, Cina, Jerman, dan Perancis – digabungkan, AS hanya kalah sedikit saja. Joffe tidak bisa paham bagaimana Cina yang pendapatan perkapitanya hanya $ 2.900 dikatakan akan mampu menyusul AS yang pendapatan perkapitanya $ 47.000. Sebuah negara tidak semata-mata menjadi lebih kaya atau lebih kuat hanya dengan menambahkan 1,3 milyar penduduknya yang miskin, sindir Joffe.

Kalaupun pertumbuhan ekonomi Cina sempat mencapai angka dua digit dan karenanya diramalkan akan menyebabkan negeri tirai bambu ini pada akhirnya menyusul AS, Joffe tidak terlalu yakin Cina siap menggantikan AS. Cina terlalu bergantung pada ekspor – sementara yang diekspor kebanyakan bukan barang-barang berteknologi tinggi – dan rentan terhadap penurunan ekonomi dunia. Dengan mempertahankan pertumbuhannya, ekonomi Cina memang akan menyusul AS, tapi ia bakal terlanjur tua sebelum menjadi kaya.

Pengeluaran militer AS juga jauh melampaui negara-negara pesaingnya. Pada tahun 2008, AS membelanjakan $607 miliar di bidang pertahanan, hampir separuh dari total pengeluaran militer dunia. Belanja militer Cina kurang sepertujuh dari yang dikeluarkan AS. Uni Eropa juga tidak mampu menandingi Amerika dalam persoalan ini. Angkatan laut AS juga terlalu besar untuk disaingi negara-negara lainnya. Pada tahun 2005, jumlah kapal pada angkatan laut AS dalam ton melampaui tujuh belas pesaing terdekatnya digabung jadi satu.

AS juga memiliki visi dan semangat yang memadai dalam mengawal dunia. Hal semacam ini sulit didapati pada para pesaingnya, sehingga AS-lah yang selalu mengambil inisiatif dalam persoalan-persoalan dunia. Dan yang tidak kalah pentingnya, Amerika masih memimpin dalam bidang pendidikan. Dari 20 universitas terbaik dunia, semuanya ada di Amerika, kecuali 3 saja. Dari 50 universitas terbaik, hanya 11 yang berada di luar Amerika. Sementara itu, universitas terbaik India ada pada skala 200 dan 300-an, dan universitas terbaik Cina berada di urutan ke 200 dan 300-an. Kalaupun universitas-universitas AS banyak dipenuhi mahasiswa-mahasiswa asing, termasuk yang berasal dari Asia, maka bagi Joffe itu merupakan keunikan dan nilai lebih bagi AS karena mampu menarik mahasiswa-mahasiswa terbaik ke negaranya.

Argumentasi dan data-data yang diajukan Joffe pada bagian awal tulisannya sangat menarik, tapi pada bagian akhir tulisannya ia mulai terlihat seperti seorang pemuja Amerika Serikat. Ia menilai ekspansi AS diluar negeri sebagai kombinasi dari kepentingannya sendiri dan keinginan melayani pihak lain. Sementara kekuatan-kekuatan seperti Rusia dan Cina semata-mata dikendalikan oleh maksud serakah belaka. Ia menyatakan bahwa AS mengambil inisiatif dalam berbagai persoalan dunia: persoalan Korea Selatan dan Iran dengan nuklirnya, konflik Arab-Israel, perang dengan Taliban di Afghanistan, dan lain sebagainya. ”Pesan moralnya adalah,” demikian Joffe, ”kalau Amerika Serikat tidak perduli dengan persoalan berat yang ada, maka tak satu pun yang akan perduli.” Joffe seolah lupa bahwa semua persoalan yang disebutkannya itu masih jauh dari selesai, kalau tidak dikatakan Amerika sendiri sebagai penyebab berbagai persoalan tersebut menjadi berlarut-larut.

Sebagaimana judul tulisannya, Joffe mengklaim Amerika Serikat sebagai default power, ‘negara yang mengambil posisi sentral karena tidak ada kekuatan lain di dunia yang memiliki kekuatan serta tujuan yang memenuhi syarat.’ Istilah default power ini memang menarik. Dalam komputer istilah default menggambarkan keadaan yang otomatis akan berlaku ketika tidak ada opsi lain yang dipilih. Tapi lucunya, dalam bahasa Inggris kata default juga berarti ‘kegagalan dalam melakukan sesuatu’ (failure to do something), terutama dalam masalah ekonomi. Sebuah istilah yang penuh ironi bukan?

Diskusi ternyata belum selesai sampai di situ. Majalah Newsweek edisi 7 Desember 2009 mengangkat headline yang cukup menohok: “How Great Powers Fall”. Foto Gedung Putih yang diletakkan dalam posisi terbalik pada halaman mukanya memberi pesan yang jelas tentang apa yang sedang dibicarakan oleh majalan tersebut. Artikel utama yang diangkat oleh majalah itu, An Empire at Risk, ditulis oleh Nial Ferguson, seorang professor sejarah di Harvard. Ferguson mengajukan analisa yang sepenuhnya bersifat ekonomi, walaupun ia juga menyinggung dampak yang tidak hanya berkenaan dengan ekonomi.

Fergusson menyebutkan bahwa Amerika Serikat sedang berada dalam persoalan ekonomi yang sangat berat. Defisit AS pada tahun 2009 ini, yang mencapai 11,2 persen dari GDP-nya, merupakan yang terbesar dalam 60 tahun terakhir, bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan pada tahun 1942. ”Kelihatannya,” kata Ferguson, ”kita mengalami kebijakan fiskal untuk masa perang dunia, tanpa adanya perang itu sendiri.” Kalaupun AS kini sedang berperang di Irak dan Afghanistan, maka kedua peperangan itu sama sekali tidak signifikan jika dibandingkan dengan Perang Dunia kedua.

Selain persoalan defisit, hutang AS juga terlalu besar. Hutang itu diperkirakan akan meningkat terus dari $5,8 triliun pada tahun 2008 menjadi $14,3 triliun pada tahun 2019; dari 41% GDP menjadi 68%. Dengan pola yang sama, pada tahun 2039, hutang AS akan mencapai 91% dari GDP-nya, skenario terburuknya malah bisa mencapai 215% GDP yang berarti lebih dari dua kali output tahunan seluruh ekonomi AS, walaupun Ferguson sendiri tidak cenderung dengan perkiraan yang terakhir ini. Persoalan intinya adalah ketidakseimbangan yang parah antara pengeluaran federal dengan pendapatannya. Hal ini jelas tidak memungkinkan hutang AS berkurang pada masa-masa ke depan.

Amerika Serikat baru-baru ini mengalami krisis finansial yang serius dan kemudian diikuti oleh krisis fiskal. ”Biasanya,” Ferguson mengutip dari Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff, ”hutang pemerintah akan meningkat 86% dalam tiga tahun setelah krisis perbankan.” Dua kemungkinan akan terjadi pada saat terjadinya ledakan hutang ini: default (kali ini bermakna kegagalan keuangan), biasanya terjadi ketika hutang dalam mata uang asing (ini tidak berlaku pada AS), atau serangan inflasi besar-besaran. ”Sejarah semua kekaisaran besar Eropa penuh dengan episode-episode semacam ini.... kegagalan ekonomi (default) dan inflasi yang tinggi merupakan gejala-gejala yang paling pasti dari keruntuhan suatu imperium.”

Kemungkinan lainnya adalah peningkatan suku bunga riil (real interest rate), yaitu suku bunga aktual dikurangi inflasi. Ferguson menilai hal semacam ini bisa saja terjadi pada AS, dan ia malah lebih buruk dari kemungkinan sebelumnya. Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan pembayaran bunga pemerintah federal AS akan meningkat dari 8% pada tahun 2009 menjadi 17% pada tahun 2017, bahkan jika suku bunga tetap rendah dan terjadi pertumbuhan ekonomi. Jika suku bunga naik sedikit saja dan pertumbuhan tidak terjadi, maka pembayaran bunga AS akan segera mencapai 20%. ”Sejarah mengajarkan,” kata Ferguson, ”jika kamu mengeluarkan sebanyak seperlima penghasilanmu untuk hutang, kamu memiliki masalah. Menjadi terlalu mudah mendapati dirimu terjatuh ke dalam lingkaran setan hilangnya kredibilitas. Investor tidak akan percaya kamu mampu membayar hutang, dan karenanya mereka meminta bunga lebih tinggi, yang justru membuat posisimu semakin buruk.”

Masalahnya tidak selesai sampai disitu. Begitu pembayaran bunga menyentuh budget, maka harus ada yang dikorbankan, dan itu biasanya pengeluaran pertahanan. Sebenarnya, masih menurut CBO, penurunan budget untuk keamanan nasional sudah mulai terjadi. Pada tahun ini pengeluaran untuk pertahanan AS kurang 4% dari GDP, pada tahun 2015 akan turun menjadi 3,2%, dan pada tahun 2028 akan turun lagi menjadi 2,8%. Ke depannya, Ferguson memperkirakan, penurunan yang sama juga akan berlaku pada belanja kemanan sosial.

”This is how empires decline,” ujar Ferguson di akhir tulisannya. “It begins with a debt explosion. It ends with an inexorable reduction in the resources available for the Army, Navy, and Air Force.” Ada banyak contoh dalam sejarah terkait hal ini. Kerajaan Habsburg Spanyol berkali-kali men-default hutangnya antara 1557 dan 1696 lalu kemudian terjatuh dalam inflasi. Perancis pra-revolusi membelanjakan 62% pengeluaran kerajaannya untuk membayar hutang pada tahun 1788. Turki Utsmani dan Inggris juga menghadapi persoalan yang hampir sama menjelang kejatuhannya. Sekiranya Amerika Serikat tidak melakukan reformasi fiskal secara radikal, kemungkinan ia pun akan mengalami nasib yang sama.

Jadi bagaimana nasib Amerika Serikat berikutnya: decline or not decline (mundur atau tidak?) Kita akan bisa mengetahuinya secara pasti dengan berjalannya sejarah. Yang jelas, kebanyakan sejarawan percaya bahwa setiap bangsa dan perdaban memiliki umurnya sendiri. Setelah melewati masa puncak, semua akan mengalami kemunduran dan pada akhirnya runtuh. Fakta-fakta sejarah juga memperlihatkan kenyataan yang sama: belum ada satu peradaban pun yang mampu mengabaikan siklus ini dan terus menerus mengalami kemajuan. Al-Qur’an juga menyatakan hal yang sama: “Katakanlah: ...Tiap-tiap umat mempunyai ajal . Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak mendahulukan.” (QS 10: 49).

Jadi ini hanya persoalan waktu saja. Kalau orang-orang seperti Josef Joffe percaya bahwa kasusnya akan berbeda dengan Amerika, maka para pemikir dan sejarawan Eropa pada abad kesembilan belas juga percaya kalau mereka sudah mengetahui hukum sejarah dan karenanya boleh mencegah terjadinya penurunan (decline) pada peradaban mereka. Tapi setelah terjadinya perang dunia mereka menjadi pesimis, dan pesimisme mereka kemudian terbukti. Inggris dan Eropa mulai mengalami kemunduran. Posisinya digantikan oleh Amerika Serikat. Kini sebagian pemikir Amerika sendiri mulai merasa pesimis dengan posisi negara mereka sebagai superpower. Tampaknya pesimisme mereka tersebut akan menemui pembenaran pada beberapa dekade ke depan.

Akhirnya, pertanyaan tetap muncul berkenaan dengan siapa yang berpeluang menggantikan posisi Amerika Serikat. Sejauh ini banyak pihak cenderung melihat Cina sebagai kandidat terkuat. Tapi Cina pun masih memiliki persoalannya sendiri yang beberapa di antaranya sudah disinggung di atas. Peluang untuk mengambil peranan ini masih terbuka bagi berbagai bangsa yang ada di dunia.

Bagaimana dengan kaum Muslimin sendiri? Apakah mereka mampu menjawab tantangan ini dan tampil ke muka sekali lagi? Kami kira persoalan ini tidak begitu relevan bagi kaum Muslimin pada saat ini. Yang terpenting untuk dilakukan oleh kaum Muslimin adalah membenahi persoalan internal mereka terlebih dahulu agar selaras dengan al-Qur’an dan tuntunan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam.

Beberapa hari lagi kaum Muslimin akan menyongsong 1 Muharram 1431 hijriah. Alangkah baiknya jika kita mengokohkan komitmen untuk berhijrah dari perilaku yang tidak Islami menuju terbentuknya individu dan komunitas yang Qur’ani. Kalau itu sudah berhasil dilakukan, insya Allah tongkat estafet peradaban akan datang sendiri kepada kaum Muslimin. Wallahu a’lam. [Kuala Lumpur, Selasa, 28 Dzul Hijjah 1430/15 Desember 2009/www.hidayatullah.com]

*)Penulis sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia
READ MORE >>

Bingkai Kehidupan

"Save Palestine" Demonstration in Semarang

"Save Palestine" Demonstration in Semarang
Semarang, 21 Maret 2010

Mars PKS

Mars Partai Keadilan SEJAHTERA - Watch more Videos at Vodpod.

Harapan Masih Ada

Aktifitas Aleg DPRD Kota Semarang


Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur

Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur
Evendi Sunarko, SPd dan Sutopo, SE

Sekretariat DPC

Dewan Pengurus Cabang
Partai Keadilan Sejahtera
Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang
Jl. Menoreh Utara I/7 Semarang-Jawa Tengah
Telp (024)8501042

Jadwal Sholat

 

Copyright © 2009 by DPC PKS Gajahmungkur Rindu Semarang Berubah Powered By Blogger Design by PKSGM-Team