Simple Template For Entertainment News


Tempat Informasi Kegiatan Kader DPC PKS Gajahmungkur


GALLERY


Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Mei 2010

Cerita, "Kisah Nyata Frank Slazak"

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot.

Namun, sesuatu pun terjadilah. Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan , percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?

Aku sangat yakin bahwa akulah yang akan terpilih. “ Tuhan, biarlah diriku yang terpilih karena itu adalah anugerah yang terbesar dalam hiduku!” , begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih orang lain yaitu Christina McAufliffe.

Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam ?

Aku berpaling pada ayahku. Dan katanya: “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? 73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak... dan menewaskan semua penumpang.

Saat itulah aku menangis, dan perasaan kesal dan marah kepada Tuhan hilang…yang ada adalah perasaan yang sangat bahagia dan tersanjung…bahwa Tuhan benar-benar sayang kepada diriku.

Aku teringat kata-kata ayahku: “Semua terjadi karena suatu alasan.” Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang….
Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara:
1. Apabila Tuhan mengatakan YA. Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta.
2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang lain yang lebih sesuai untuk kita.
3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang terbaik sesuai dengan kehendakNYA.

Firman Allah dalam Al Quran :
" Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS 2:216)
READ MORE >>

Minggu, 23 Mei 2010

Cinta Luar Biasa Dari Laki-Laki Biasa

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana . Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan ?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!

Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

dipublikasikan kembali : pks-gajahmungkur.blogspot.com

READ MORE >>

Mencintai Tanpa Syarat (True Story From Central Java)

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun Mereka dikarunia 4 orang anak di sinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata, “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”. Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya, “Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.” Anak2ku… jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah….. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.” Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak Suyatno bercerita.

“Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”

READ MORE >>

Rencana yang Indah dari Allah


Pernahkah kita kecewa terhadap suatu hal?

Pernahkah kita sedih terhadap takdir Allah kepada kita?

Pernahkah terbersit di hati kita bahwa Allah tidak sayang pada kita karena Dia tidak mengabulkan permohonan kita?


Sedih dan kecewa adalah suatu hal yang wajar bila kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Tapi tahukah kalian bila "Seberapapun indahnya mimpi kita... Jauh lebih indah rencana Allah untuk kita".

Tahukah kalian bila Allah mengabulkan doa hamba-Nya dengan 3 cara;

- Pertama Allah menjawab YA dan langsung mengabulkan apa yang kita pinta,

- Kedua, Allah berkata TIDAK karena Allah akan memberikan hal yang jauh lebih baik dari yang kita pinta,

- dan terakhir, Allah berkata TUNGGU DULU, karena saat ini bukan saat yang tepat untuk dikabulkannya permintaan kita, Allah tahu saat yang terbaik untuk mengabulkannya.


Sejak awal SMA, saya sudah bercita-cita untuk menjadi seorang dokter. Saya benar-benar ingin menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta. Saya belajar keras supaya tembus SPMB di universitas impian. Tetapi Allah berkata lain. FKUI bukan tempat saya. Allah menempatkan saya di pilihan kedua, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya.


Kecewa? pasti. Sedih? tentu saja.

Orang tua dan teman-teman di sekitar saya berkata bahwa saya harus tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk mencicipi nikmatnya bangku kuliah. Masih bisa lulus SPMB di Fakultas Kedokteran dan universitas negeri lagi. Saya berusaha berpikir realistis bahwa saya masih termasuk orang yang amat sangat beruntung. Walaupun begitu, di sudut hati saya tersisa sebuah kekecewaan. Karena impian saya selama 3 tahun dibangku SMA tidak terwujud.

Terbersit rasa iri bila melihat teman-teman saya dengan bangganya memamerkan "jaket kuning" mereka. Saya akui, mungkin ketika itu saya termasuk orang yang kurang bersyukur. Tetapi seberapapun kerasnya berusaha, rasanya susah sekali menghilangkan rasa kecewa di hati saya.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai menerima keberadaan saya di FK Unair. Saya pun mulai bermimpi lagi. Melihat kesuksesan seorang kakak kelas menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional (MawapresNas), saya pun tergerak untuk mengikuti jejak beliau. Saya berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang baik dalam pelajaran, mengikuti berbagai macam organisasi kemahasiswaan dan juga mengikuti banyak kompetisi karya tulis ilmiah.

Walaupun saya bukan yang terbaik dalam kelas di bidang pelajaran dan sering mencuri-curi waktu dari padatnya perkuliahan FK untuk aktif di berbagai organisasi, juga sering kali kalah dalam kompetisi, tapi saya tidak menyerah. Saya berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi mawapresnas.

Tapi...lagi-lagi Allah berkata lain. Mawapresnas bukan jalan saya. Bahkan langkah saya hanya terhenti sebagai juara 3 mawapres tingkat fakultas. Lagi-lagi saya merasa kecewa. Saya merasa semua kerja keras saya sia-sia. Seberapa pun saya berusaha, saya tidak akan pernah dapat mewujudkan impian saya.

Namun, di tengah-tengah keterpurukan itu Allah memberikan hadiah yang tak terduga. Sebuah hal yang tak pernah terbersit sekalipun di benak saya. Dengan karunia dan izin dari Allah saya mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri selama 2 tahun untuk meraih gelar research master dari salah satu universitas ternama di Eropa.

Saya terhenyak. Bila saya tidak masuk FK Unair mungkin saya tidak akan bisa merasakan kuliah di luar negeri gratis.

Bila saya lolos mawapresnas, mungkin saya tidak mendapatkan kesempatan mengikuti beasiswa ini.

Subhanallah..Maha suci Engkau ya Allah yang telah merencanakan jalan yang indah dibalik semua ini. Jujur, bila saya berpikir realistis, masih banyak teman saya yang lebih layak untuk mendapatkan beasiswa ini.

Masih banyak orang yang jauh lebih pintar dari saya. Masih banyak orang yang lebih jago berbahasa Inggris. Masih banyak orang yang lebih berprestasi dari saya.

Tapi bila Allah sudah berkehendak, maka tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa menghentikannya.

Akhirnya Tanggal 7 agustus 2009 seorang anak manusia yang bernama Yelvi Levani pergi meninggalkan Indonesia menuju sebuah negeri baru, negeri impian untuk menuntut ilmu, negeri Belanda.

Allah pasti selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Walaupun di awal kita merasa kenyataan apa yang kita hadapi jauh dari hal yang kita impikan. Tapi percayalah,

"Seberapapun indahnya mimpi kita... Jauh lebih indah rencana Allah untuk kita".


Kuliah di luar negeri bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah awal dalam meraih mimpi-mimpi selanjutnya. Tentu saja pasti akan banyak kesulitan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Tapi Allah tidak akan membebani seorang hamba diluar kemampuan hamba-Nya.


Saya terdiam dan teringat bahwa seorang saudari pernah berkata kepada saya. Apa yang saya hadapi setimpal dengan apa yang saya didapatkan. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Termasuk beasiswa ini.


Saya harus bekerja keras sebagai bayaran atas beasiswa studi negeri ini.Tidak semua orang mendapatkan kesempatan kuliah di luar negeri GRATIS. Betapa pun sulitnya rintangan yang dihadapi saya harus yakin, semua rencana Allah selalu indah, tidak ada namanya kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah SWT.


Allah tidak pernah tidur. Tidak ada yang sia-sia dari sebuah kerja keras. karena Allah pasti akan memberikan rezeki kepada kita dari arah yang tidak disangka-sangka.

Oleh karena itu, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. "Apa-apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah, dan apa-apa yang menurut kita tidak baik, belum tentu tidak baik bagi Allah. Manusia tidak punya pengetahuan tentangnya. Tapi Allah maha tahu segalanya"


Mimpi saya terinspirasi dari banyak orang, dan saya berharap semoga sedikit cerita dari saya juga bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.

dari : eramuslim.com

dipublikasikan kembali : pks-gajahmungkur.blogspot.com

READ MORE >>

Senin, 17 Mei 2010

Cap Jempol Berwarna Biru, sebuah memoar tentang kisah kasih ibu

Sebuah memoar tentang pengorbanan dan cinta kasih Ibu


oleh : Amaltia Gunawan

Tidak pernah terbersit sedikitpun di hati ini untuk melakukan hal yang menyakiti ibu. Ternyata, tanpa saya sadari, saya pernah dan bahkan sering melakukannya.

Ibu pernah bercerita, dahulu ketika masih bayi saya nakal sekali. Jika menangis susah sekali berhenti, hingga tengah malampun ibu masih harus menggendong saya yang tidak pernah membolehkan ibu duduk untuk sekedar melepas sejenak penat dipundak, sementara badannya sudah lelah.

Tidak sampai disitu saja kenakalan saya, bahkan sampai ketika saya beranjak remajapun, jika diingat maka tak satupun hal yang saya lakukan yang tidak menyusahkan beliau. Namun ibu tetaplah seorang ibu yang selalu sabar dan tidak pernah mengeluh dalam menjalankan tugasnya sebagai ibu. Dalam setiap ketegarannya, jika mau menyisihkan sedikit saja hati untuk mengerti beliau, maka akan terlihat jauh di lubuk hatinya betapa sebenarnya beliau terluka, dalam, entah oleh saya atau oleh keadaan, keadaan ekonomi keluarga yang jauh dari bau sejahtera, apalagi setelah ditinggal bapak pergi ke Riau untuk bertransmigrasi setelah ada tawaran menggiurkan.

Waktu itu, hari pertama saya masuk di kelas baru. Saya naik kelas 5 SD. Saya bersekolah di sebuah sekolah keagamaan yang menjadi sekolah unggulan di kota saya. Orang tua sengaja menyekolahkan saya di sekolah tersebut. Biayanya tentu saja mahal untuk ukuran keluarga kami. Hal ini mereka lakukan supaya saya mendapatkan pendidikan yang baik dan tuntunan agama sebagai dasar hidup saya. Bapak ibu tidak mau saya seperti beliau yang hanya sampai kelas dua dan satu SD saja. Menyadari keadaan yang serba susah ini, saya berusaha untuk tidak mengecewakan bapak dan ibu saya yang sudah berjuang untuk masa depan saya dengan selalu menjadi juara umum di sekolah.

Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, saya berangkat ke sekolah dengan naik kendaraan umum, bis kota. Untuk sampai di sekolah, saya harus turun di halte dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 5 menit, begitupun sebaliknya ketika pulang dari sekolah. Kegiatan ini sudah saya lakukan secara rutin sejak kelas 2, atau semenjak Ibu sudah tidak bisa lagi mengantar saya ke sekolah, karena satu-satunya sepeda kumbang milik kami dipakai oleh bapak yang harus berangkat bekerja pagi-pagi sebagai buruh di pabrik sepatu yang jaraknya harus ditempuh selama 1,5 jam dengan mengayuh sepeda.

Namun, ada rasa kawatir juga dalam pikiran saya, yaitu rasa kawatir tidak mendapatkan kendaraan umum untuk pulang. Ya, karena bagi kami murid kelas 5 harus mengikuti les mata pelajaran hingga jam 5 sore, sedangkan di kota kami, kendaraan umum terakhir beroperasi hanya sampai ketika maghrib menjelang. Karena itulah, pernah sekali terucap kata dari saya kepada ibu meminta dibelikan sepeda setengah pakai sekedar untuk berjaga-jaga jika saya terpaksa pulang sekolah agak malam. Tetapi, ketika saya melihat keadaan orang tua saya, pikiran kekawatiran tersebut sirna, yang ada adalah semangat belajar yang tinggi tidak menghiraukan hambatan yang menghadang langkah saya. Toh, jika tidak mendapatkan kendaraan umum, saya bisa pulang dengan berjalan kaki. Bagi saya berjalan kaki pulang dari sekolah ke rumah selama 2 jam bukan hal yang berat.

Ketika jam sekolah hari pertama tersebut usai, saya bergegas keluar dari sekolah menuju halte untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang dengan bis. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Saya segera melangkah cepat menuju halte agar tidak ketinggalan bis terakhir.

Sesampainya di halte, saya mendapati ada koran tergeletak di atas tempat duduk. Barangkali karena sudah sore sehingga koran sudah tidak terlipat rapi lagi. Mungkin karena banyak orang yang membacanya. Sembari menunggu bis, saya mengambil koran tersebut untuk dibaca. Ternyata koran itu adalah koran hari sebelumnya. Saya baca koran itu setiap halamannya. Saya balik-balik setiap lembarnya untuk mencari rubrik yang menarik bagi saya, hingga sampailah saya pada halaman yang menampilkan rubrik tanya jawab kesehatan reproduksi.

Hari itu rubrik tersebut membahas pertanyaan seseorang yang saya duga wanita yang menanyakan mengenai pentingnya kiret setelah pengguguran kandungan. Tulisan di rubrik tersebut penuh dengan coret-coretan tidak beraturan dengan goresan yang tajam - layaknya goresan kemarahan sehingga lembaran koran yang membahasa rubrik tersebut sedikit terkoyak.

Saya tidak paham apa itu kiret, yang saya paham hanyalah mengenai pengguguran kandungan, yaitu janin yang masih ada di dalam kandungan ibu untuk dimatikan. Kemudian mata saya beralih ke sisi sebelah kanan rubrik itu, yaitu ruangan di tepi lembar koran selebar dua cm yang kosong tanpa ada tulisan berita. Di situ terdapat tulisan tidak rapi dengan huruf besar-besar dengan ballpoint bertinta biru, layaknya tulisan seorang yang sedang belajar menulis. Tidak panjang.

“Ketika di dalam kandungan, bayiku aku rawat sebaik aku merawat. Walaupun setiap tendangannya membuat perut mulas, tapi tetap saja aku bawa kemana aku pergi selama sembilan bulan.”

Dibawah tulisan berpena biru tersebut ada sebuah cap jempol berwarna biru pula. Tampaknya warna biru cap jempol tadi berasal dari tinta ballpoint yang sama.

Bis sudah datang. Saya hempaskan koran di atas bangku. Segera saya berlari menyambut bis.

Sesampai dirumah, ketika makan malam tiba, saya bertanya kepada ibu apa arti kata kiret seperti yang ada pada tulisan di rubrik yang saya baca tadi. Kemudian, ibu menjelaskannya dengan bahasa yang mudah saya pahami. Tiba-tiba ibu memeluk dan menciumi saya serta adik saya yang masih kecil. Selesai makan, saya melanjutkan alur kehidupan saya seperti hari biasanya, yaitu belajar dan terus tidur.

Hari Selasa, seperti hari sebelumnya, saya kembali berangkat ke sekolah sampai bel pukul 4 tanda sekolah sudah selesai berbunyi. Usai sekolah saya kembali berjalan menuju ke halte tempat dimana saya menyetop bis pulang. Disitu kembali saya temukan seonggok koran yang tak terlipat rapi. Namun, nampaknya koran itu bukan koran yang saya baca hari sebelumnya, koran itu bertanggal hari itu. Mungkin koran itu adalah milik pengguna halte yang sengaja ditinggalkan setelah selesai dibaca.

Untuk mengisi waktu dan membunuh sepi, sambil menunggu bis saya ambil koran tersebut untuk saya baca. Saya balik-balik halamannya. Kembali saya menemukan coretan tulisan-tulisan pendek. Tepatnya di tepi bagian kosong sebelah judul pemberitaan yang mewartakan program Keluarga Berencana yang dipropagandakan oleh Menteri Negara Kependudukan dan Kepala BKKBN kala itu, Haryono Suyono.

Pandangan mata saya kembali mengarah kepada tulisan besar-besar dan tidak rapi yang ditulis dengan tinta ballpoint biru di sisi sebelah kanan kolom berita tersebut. Muncul rasa ketertarikan saya, bukan pada berita Keluarga Berencana-nya, namun lebih kepada tulisan bertinta biru di bagian kosong sisi kanan berita. Saya menduga yang menulis adalah orang yang sama dengan yang membuat tulisan di hari sebelumnya. Tertulis satu baris kalimat pendek disitu.

“hidupku untuk anakku, anakku nanti pasti menjadi orang besar dan sukses!!!!” dalam bahasa Jawa. Tulisan bertinta biru tampak tergores dengan tegas, bahkan, selain diberi garis bawah juga diberi empat tanda seru di belakang kalimat.

Menarik kesimpulan dari dua tulisan bertinta biru yang saya temukan dalam dua hari berturutan, saya berpikir kalau orang yang menulis itu adalah orang yang sayang sekali dengan buah hatinya, mencintai dengan segala apa yang bisa dia korbankan. Begitu, lantas saya melanjutkan membaca sambil menunggu bis pulang.

Hari Rabu tiba. Hari itu saya pulang lebih sore dari biasanya. Saya mengikuti ekstrakurikuler pencak silat di sekolah sampai waktu menjelang maghrib tiba. Jam sekian di kotaku, bis kota kebanyakan sudah kembali ke garasi, pun halte juga sudah sepi. Biasanya, selepas magrib, halte tempat saya menyetop bis sekolah ditempati seorang pedagang kaki lima yang biasa menjual makanan. Namun, sepertinya waktu itu dia terlambat menggelar dagangannya. Merasa kawatir tidak bisa pulang naik bis, saya memacu jalan saya agak cepat.

Halte terlihat masih ratusan meter jauhnya dari saya berjalan. Nampak dari pandangan saya masih ada orang yang duduk disana sambil membalik-balik halaman koran dengan cepat. Sepertinya koran tersebut bukan untuk dibaca. Orang itu mengenakan baju hem gombrong berwarna coklat, tidak dikancingkan, mengenakan dalaman berupa kaos berwarna putih-kuning dan memakai topi biru.

Sekilas, orang itu seperti melihat ke arah saya, namun selesai melepas pandangannya ke saya dia lantas beranjak dari tempat duduk. Nampaknya dia sedang terburu-buru. Koran yang tadi dibalik-baliknya lantas cepat-cepat digulung kemudian dijejalkan kedalam lubang pagar bumi, tepat di pojok sebuah rumah yang berdiri di sebelah kanan halte.

Orang itu menyeberang jalan dengan setengah berlari. Sesekali ia menengok ke arah saya. Tak lama kemudian sosoknya hilang dari pandangan saya. Ia menghilang dibalik deretan mobil yang parkir di pinggir jalan seberang.

Hujan rintik-rintik turun, saya mempercepat jalan saya. Suasana di halte - terlihat dari posisi saya berjalan - nampak lengang sekali. Padahal, tadi saya berharap dengan adanya orang itu saya punya teman bicara sambil saya menunggu bis terakhir datang. Gerimis yang turun membuat suasana di halte tersebut serasa semakin lengang. Tak ada satupun yang datang menunggu bis atau sekedar untuk berteduh. Namun, saya tidak merasa sepi lagi ketika bis yang saya tumpangi untuk pulang datang menghampiri dan penuh sekali dengan penumpang. Di dalam bis saya tidak lagi merasakan sepi karena saya suka sekali mengobrol dengan sesiapa yang ada di dalam bis.

Sesampai di pemberhentian dekat rumah, saya turun dari bis dan menuju ke rumah dengan berlari. Hujan bertambah deras. Ternyata ibu sudah menyambut saya di depan pintu dengan secarik kertas di tangannya. Nampak sekali raut muka ibu berseri-seri. Saya cium tangan ibu dan mengucapkan salam.

“Ada apa, Bu? Wajah ibu nampak kalau ibu sedang berbahagia”

Ibu menyodorkan secarik surat yang lama dipegangnya. Ternyata surat dari Ibu Tien Soeharto yang menyatakan bahwa saya mendapatkan beasiswa sekolah dari Ibu Tien pribadi berupa buku-buku sekolah, seragam dan uang SPP yang dibayarkan langsung ke sekolah saya sampai saya selesai Sekolah Menengah Atas nanti. Ibu memeluk saya erat sekali, nampak sekali raut muka bahagia dan kelegaan karena beban ibu dalam mencari uang buat biaya sekolah menjadi berkurang. Beberapa bulan lalu, ketika saya masih kelas 4, saya memang pernah menulis surat kepada Ibu Tien yang isinya menyatakan bahwa saya ingin bersekolah setinggi-tingginya sedangkan orang tua saya tidak mampu. Saya meminta kesediaan Ibu Tien membantu mewujudkan cita-cita saya bersekolah tinggi.

Hari Kamis pertama kelas 5, saya berangkat dan pulang sekolah seperti hari sebelumnya. Hari itu kelas saya selesai agak malam kembali. Begitu bel berbunyi, saya segera memacu lari saya menuju halte seperti hari sebelumnya supaya saya masih bisa naik bis untuk pulang ke rumah.

Hari itu kembali saya tidak menjumpai pedagang yang biasa menggelar dagangan di halte, pikir saya mungkin dia berjualan agak lebih sore karena hari sering turun hujan. Seperti sore itu, hujan kembali turun meskipun baru gerimis. Saya menutupi kepala saya dengan tas. Tidak saya temukan seorangpun yang menunggu bis di halte seperti hari sebelumnya.

Saya melihat di bangku halte ada sebuah buku Teka Teki Silang. Saya tidak tahu buku itu milik siapa. Awalnya saya ragu untuk memegang buku itu sekedar membacanya lalu dikembalikan lagi karena buku itu bukan milik saya. Tetapi, kesepian halte dan dingin udara akibat hujan membuat saya punya keberanian untuk membuka buku tersebut. Saya balik-balik halamannya walaupun sebenarnya buku tersebut tidak menarik sama sekali buat saya. Hampir semua halaman masih kosong, hanya satu halaman yang sudah terisi, itupun hanya 2 baris mendatar pertanyaan yang terisi. Dua baris yang tertulis disitu adalah kata “TAHAJUD” dan kata “SEPEDA”. Keduanya ditulis dalam tinta biru. Setelah saya perhatikan, tulisan dalam halaman buku tersebut mirip dengan tulisan yang saya temukan pada lembaran koran hari sebelumnya, nampak tebal dan dengan tulisan layaknya seorang yang sedang belajar menulis, sangat tidak teratur. Lantas, saya berpikir bahwa yang menulis dalam buku Teka Teki Silang tersebut adalah orang yang sama yang menulis coretan-coretan di lembaran koran yang saya temukan di halte dua hari sebelumnya. Terlebih, ketika saya arahkan mata saya tepat ke bawah dari halaman tersebut, ada cap jempol berwarna senada dengan tinta ballpoint yang dipakai menulis jawaban teka-teki, yaitu biru.

Bis terakhir akhirnya terlihat dari jauh. Hujan semakin deras. Di bangku halte nampak sebuah tas plastik besar berwarna hitam terlipat rapi dan terselip diantara besi bangku. Lantas saya ambil tas tersebut karena pikir saya tas tersebut bisa untuk menutupi kepala saya jika ternyata hujan masih turun ketika saya turun dari bis dan menuju rumah.

Hari itu hari Jumat pertama kelas 5. Seperti biasa setelah selesai sekolah saya bergegas langsung menuju halte. Seperti biasa gerimis turun. Sudah beberapa hari kota kami diguyur hujan dan kebetulan hujan selalu jatuh sore hari. Hal tersebut nampak aneh bagi saya karena biasanya di akhir bulan Juli seperti itu seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Saya lantas memacu lari saya. Belum sampai di halte ternyata bis terakhir sudah menunggu di sana. Hari itu saya tidak lagi harus menunggu lama di halte.

Malam itu, kami makan malam dengan nasi lauk ikan asin dan kerupuk. Sambil lahap kami makan malam dengan tangan, kami bertiga saling bercakap bercengkerama. Ibu ternyata tidak makan, karena tangan ibu sakit untuk memegang. Ibu bilang jempol kanan ibu teriris waktu mengiris daging ikan asin yang liat. Tetapi lukanya hanya dibalut dengan kain, karena malam itu ibu tidak sempat keluar untuk membeli plester pembalut luka.

Ibu kemudian menceritakan bahwa bapak tidak lama lagi akan pulang. Pikir saya, kenapa bapak harus pulang ke rumah secepat itu. Bapak baru 3 bulan di Riau mencoba untuk transmigrasi setelah bapak tidak lagi bekerja di pabrik sepatu. Namun, Ibu tidak menjawab pertanyaan saya. Ibu hanya memberikan senyuman. Saya memahami bahwa memang ada sesuatu yang belum boleh saya ketahui.

Usai makan malam, kami bertiga beranjak. Ibu dan adik lantas menuju balik lemari untuk tidur, sedangkan saya menuju dimana tikar digelar di depan lemari. Ya, rumah kami hanya berisi dua bilik yang dipisahkan oleh sebuah lemari. Bilik di bagian dalam biasa kami gunakan untuk tidur berempat dengan dua lapis tikar yang dibawahnya kami alasi dengan sususan reng bambu, sedang di bagian depan lemari biasa kami gunakan sebagai tempat menerima tamu, tempat makan, tempat menyimpan perkakas kami yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari, dan tempat saya belajar.

Setelah duduk meletakkan tubuh di atas bangku kayu buatan bapak, saya mulai belajar. Saya belajar matematika sampai larut. Setelah selesai belajar, saya merapikan buku-buku saya. Saya melihat secarik kertas yang sudah diremas-remas. Pikir saya, daripada kertas tersebut dibuang, saya ingin gunakan kertas tersebut sebagai tempat coret-coret saya dalam belajar hitungan matematika pagi harinya di sekolah. Saya kemudian merapikan bekas remasan-remasan dari kertas yang kalau saya perkirakan kertas tersebut diambil dari menyobek dua halaman paling tengah buku.

Hari itu hari Sabtu, sehari menjelang akhir pekan pertama saya di kelas 5. Saya bersemangat sekali bersekolah karena seperti biasa, ketika akhir pekan tiba, saya bisa berdagang gasing dari bambu - buah tangan saya sendiri - di perempatan paling ramai di kota kami, perempatan di pusat keramaian kota. Saya berdagang supaya saya bisa punya uang saku sendiri tanpa harus merepotkan ibu. Namun, agak sedikti mengecewakan hati saya, karena sore itu seperti sore hari sebelumnya, turun hujan. Karena hujan, saya gelar dagangan hanya sampai menjelang waktu Isya. Begitu terdengar azan Isya, saya langsung pulang ke rumah dengan berjalan kaki.

Sampai di rumah hampir pukul 9 malam, tidak saya dapati seorangpun kecuali adik saya yang masih TK sudah terlelap tidur. Usai meletakkan gasing-gasing dagangan saya di pojok bilik di bawah box tidur adik saya, lantas saya menuju bilik depan. Saya duduk di bangku sambil mengeringkan kepala dengan handuk. Mata saya tertuju pada secarik kertas yang terlipat rapi layaknya sebuah surat. Di sebelah kertas tersebut sebuah ballpoint berwarna biru. Saya merasa penasaran sekali dengan kertas yang terlipat rapi tersebut. Jika itu surat, saya ingin mengetahui itu surat untuk siapa.

Saya buka kertas tersebut. Saya cermati tulisan di kertas tersebut. Tulisannya tidak rapi dengan huruf yang berjarak jarang-jarang dan tergores tebal dengan tinta biru. Saya terperanjat karena lantas pikiran saya tertuju pada tulisan di koran dan buku Teka-Teki Silang yang selalu saya temukan di halte. Saya serta merta berpikiran bahwa yang menulis secarik kertas tersebut adalah orang yang sama dengan yang menulis pada koran dan buku di halte tempat biasa saya menunggu bis pulang sekolah. Lantas, saya membaca isi tulisan tersebut.

Bapak, semoga bapak sehat di Riau. Ibu sedang mencari uang untuk bapak pulang ke rumah dan untuk membeli sepeda buat anak kita yang sudah kelas 5. Sekarang dia membutuhkan sepeda itu kalau-kalau dia harus pulang malam dari sekolah. Bapak yang tabah ya di sana, ibu sedang mencarikan uang untuk bapak pulang.

Ibu

Air mata saya meleleh tanpa saya sadari. Ibu ternyata sedang bekerja untuk kami. Tiba-tiba saya terperanjat, hati saya serasa sakit sekali. Di pikiran saya terbayang ibulah yang menulis mencoret-coret di koran dan buku di halte itu. Timbul pikiran yang bukan-bukan, yang menduga-duga bahwa ibulah yang menulis di koran dan buku di halte itu. Mata saya kemudian tertuju pada sebuah goresan tinta biru di bawah tulisan di surat tersebut. Nampak seperti cap jempol, tapi tidak nampak sidik jari jempol tergambar di goresan tinta biru tersebut. Bukan bekas alur-alur sidik jari jempol tapi lebih seperti alur berbentuk seperti benang teranyam tebal, mirip seperti alur-alur plester luka!!! Allahuakbar!! Air mata saya turun dengan deras sekali. Itu cap jempol ibu saya!!! Tangan ibu terluka tadi malam, pasti itu alur bekas cap jempol ibu yang sudah dibalut plester luka. Serta merta saya ambil secarik kertas tersebut, saya berlari melawan hujan deras berangin kencang. Saya berlari sekencang-kencangnya menuju ke halte tempat saya biasa menunggu bis terakhir pulang sekolah. Saya membayangkan ibu sedang berjualan ditempat tersebut.

Hampir setengah jam saya berlari tanpa henti di bawah hujan lebat sambil menggenggam secarik kertas tadi.Di depan terlihat halte gelap dan sepi tidak saya dapati seorangpun disitu. Saya berteriak memanggil-manggil nama ibu. Tapi tak ada sahutan dari ibu sama sekali. Lalu saya berlari ke sana kemari sambil meneriakkan kata “Ibu dimana”. Saya berlari berusaha mencari ibu ditempat lain. Saya menyeberang jalan dari halte tersebut ke arah pertokoan besar. Saya melihat seorang berbadan agak gemuk memakai baju hem laki-laki mengenakan topi biru KORPRI. Saya berlari menuju satu-satunya orang yang saya temui di sekitar halte itu. Orang itu sedang memberi aba-aba kepada mobil yang mau memarkir di depan pertokoan tersebut sambil berhujan-hujan.

Ya Allah, ampunilah hambamu. Saya merasa bersalah sudah menyusahkan ibu dengan minta dibelikan sepeda hingga ibu harus bekerja untuk saya di kala hari hujan begini. Saya menangis sejadi-jadinya, setelah saya dekati sosok tukang parkir tersebut, ternyata dia adalah ibu saya!!

Saya berlari ke arah ibu sambil berurai air mata menangis sejadi-jadinya. Saya teriakkan nama ibu berkali-kali hingga orang berpayung yang baru keluar dari mobil tersebut memandang kami. Ibu menoleh ke arah saya dan berbalik badan melihat ke arah saya. Ibu hanya terpaku berdiri ditempat yang sama. Saya peluk ibu erat sekali. Saya menangis sejadi-jadinya tanpa menghiraukan orang lain. Saya memeluk ibu lebih erat sambil menyandarkan kepala saya di perut ibu. Ibu membalas dengan pelukan dan menciumi saya sambil menenangkan tangis saya. Saya raih tangan kanan ibu. Saya lihat jempolnya, ternyata benar dugaan saya!! Jempol ibu berbalut plester namun plester tersebut berwarna biru seperti birunya tinta yang digunakan seseorang di halte itu membuat cap jempol, seperti birunya tinta yang digunakan membuat cap jempol di surat di atas meja. Saya kembali memeluk ibu erat, lebih erat sambil berdoa dalam tangisan saya. Berdoa kepada Allah supaya melindungi dan memberi kesehatan kepada ibu saya selalu. Secarik kertas di genggaman saya mulai rusak dan larut dengan air hujan. Saya lepaskan kertas itu supaya kedua tangan saya bisa lebih erat memeluk ibu di bawah derasnya hujan.

Kertas mulai rusak dan terbawa air hujan.

---------------------------------------------

Saya usap air mata yang meleleh di pipi, yang menetes di atas keyboard komputer di meja appartement saya. Saya raih headphone dan membuka VOIP. Saya bergegas menelepon ibu di Indonesia. Terdengar suaranya yang sudah serak dan terbata-bata karena usia. Ibu mengatakan bahwa ibu baru saja selesai sholat Shubuh. Di Indonesia memang sudah memasuki waktu Shubuh.

“Kenapa pagi-pagi sekali menelepon ibu? Bukankah di sana sudah tengah malam? Kenapa belum tidur?” begitu kata pertama yang terucap dari ibu menjawab telepon internet saya.

Saya mengatakan kepada ibu bahwa saya tidak ingin menunda-nunda menyampaikan berita gembira kepada ibu. Saya mengatakan kepada ibu dengan nada gembira bahwa saya selain sudah hampir selesai menempuh sekolah Master di Belanda, saya ternyata kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah PhD dari negara Belanda. Terdengar kembali suara ibu menjawab VOIP saya dengan suara lebih serak dan lebih berat, nampaknya ibu menangis gembira mengetahui kabar gembira dari saya. Lalu terucaplah kata dari ibu.

“Nak, Ibu hari ini seperti diberkahi. Ibu mempunyai anak-anak yang berbakti kepada orang tua dan taat kepada Allah. Inilah harta ibu yang paling berharga. Oh iya, tabungan ibu dan bapak sudah mencapai setengah dari biaya untuk berangkat haji beberapa tahun ke depan. Lalu, setelah bapak dan ibu berangkat haji, maka tunailah kewajiban bapak dan ibu. Menjalankan syariat dan membesarkan kalian berdua. Ibu dan bapak sudah siap jika waktu kami tiba dipanggil. Yang kami ingini hanyalah doa dari kalian berdua, jadilah kalian anak yang selalu taat kepada Allah, mendoakan kami, rukun diantara kalian berdua dan raihlah pendidikan setinggi yang kalian inginkan karena bapak ibu tidak bisa memberikan uang untuk kalian bersekolah sampai tinggi. Yang kami berikan hanyalah bara, bara di dada kalian berdua.”

Saya ambil nafas dalam-dalam sambil merasakan betapa besar cinta yang tersusupkan di dalam dada. Saya menutup telepon internet saya setelah ibu meminta saya untuk istirahat. Saya mendapatkan cinta yang luar biasa dari orang tua saya, terutama dari ibu. Saya tidur di musim panas yang berhari panjang ini. Sungkem saya dari jauh untuk ibu dan bapak saya di Indonesia.

Delft, The Netherlands

Amaltia Gunawan


diambil dari : http://amaltiagunawan.multiply.com

dipublikasikan kembali : http://pks-gajahmungkur.blogspot.com

READ MORE >>

Bingkai Kehidupan

"Save Palestine" Demonstration in Semarang

"Save Palestine" Demonstration in Semarang
Semarang, 21 Maret 2010

Mars PKS

Mars Partai Keadilan SEJAHTERA - Watch more Videos at Vodpod.

Harapan Masih Ada

Aktifitas Aleg DPRD Kota Semarang


Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur

Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur
Evendi Sunarko, SPd dan Sutopo, SE

Sekretariat DPC

Dewan Pengurus Cabang
Partai Keadilan Sejahtera
Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang
Jl. Menoreh Utara I/7 Semarang-Jawa Tengah
Telp (024)8501042

Jadwal Sholat

 

Copyright © 2009 by DPC PKS Gajahmungkur Rindu Semarang Berubah Powered By Blogger Design by PKSGM-Team