Sebuah memoar tentang pengorbanan dan cinta kasih IbuTidak pernah terbersit sedikitpun di hati ini untuk melakukan hal yang menyakiti ibu. Ternyata, tanpa saya sadari, saya pernah dan bahkan sering melakukannya.
Ibu pernah bercerita, dahulu ketika masih bayi saya nakal sekali. Jika menangis susah sekali berhenti, hingga tengah malampun ibu masih harus menggendong saya yang tidak pernah membolehkan ibu duduk untuk sekedar melepas sejenak penat dipundak, sementara badannya sudah lelah.
Tidak sampai disitu saja kenakalan saya, bahkan sampai ketika saya beranjak remajapun, jika diingat maka tak satupun hal yang saya lakukan yang tidak menyusahkan beliau. Namun ibu tetaplah seorang ibu yang selalu sabar dan tidak pernah mengeluh dalam menjalankan tugasnya sebagai ibu. Dalam setiap ketegarannya, jika mau menyisihkan sedikit saja hati untuk mengerti beliau, maka akan terlihat jauh di lubuk hatinya betapa sebenarnya beliau terluka, dalam, entah oleh saya atau oleh keadaan, keadaan ekonomi keluarga yang jauh dari bau sejahtera, apalagi setelah ditinggal bapak pergi ke Riau untuk bertransmigrasi setelah ada tawaran menggiurkan.
Waktu itu, hari pertama saya masuk di kelas baru. Saya naik kelas 5 SD. Saya bersekolah di sebuah sekolah keagamaan yang menjadi sekolah unggulan di kota saya. Orang tua sengaja menyekolahkan saya di sekolah tersebut. Biayanya tentu saja mahal untuk ukuran keluarga kami. Hal ini mereka lakukan supaya saya mendapatkan pendidikan yang baik dan tuntunan agama sebagai dasar hidup saya. Bapak ibu tidak mau saya seperti beliau yang hanya sampai kelas dua dan satu SD saja. Menyadari keadaan yang serba susah ini, saya berusaha untuk tidak mengecewakan bapak dan ibu saya yang sudah berjuang untuk masa depan saya dengan selalu menjadi juara umum di sekolah.
Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, saya berangkat ke sekolah dengan naik kendaraan umum, bis kota. Untuk sampai di sekolah, saya harus turun di halte dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 5 menit, begitupun sebaliknya ketika pulang dari sekolah. Kegiatan ini sudah saya lakukan secara rutin sejak kelas 2, atau semenjak Ibu sudah tidak bisa lagi mengantar saya ke sekolah, karena satu-satunya sepeda kumbang milik kami dipakai oleh bapak yang harus berangkat bekerja pagi-pagi sebagai buruh di pabrik sepatu yang jaraknya harus ditempuh selama 1,5 jam dengan mengayuh sepeda.
Namun, ada rasa kawatir juga dalam pikiran saya, yaitu rasa kawatir tidak mendapatkan kendaraan umum untuk pulang. Ya, karena bagi kami murid kelas 5 harus mengikuti les mata pelajaran hingga jam 5 sore, sedangkan di kota kami, kendaraan umum terakhir beroperasi hanya sampai ketika maghrib menjelang. Karena itulah, pernah sekali terucap kata dari saya kepada ibu meminta dibelikan sepeda setengah pakai sekedar untuk berjaga-jaga jika saya terpaksa pulang sekolah agak malam. Tetapi, ketika saya melihat keadaan orang tua saya, pikiran kekawatiran tersebut sirna, yang ada adalah semangat belajar yang tinggi tidak menghiraukan hambatan yang menghadang langkah saya. Toh, jika tidak mendapatkan kendaraan umum, saya bisa pulang dengan berjalan kaki. Bagi saya berjalan kaki pulang dari sekolah ke rumah selama 2 jam bukan hal yang berat.
Ketika jam sekolah hari pertama tersebut usai, saya bergegas keluar dari sekolah menuju halte untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang dengan bis. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Saya segera melangkah cepat menuju halte agar tidak ketinggalan bis terakhir.
Sesampainya di halte, saya mendapati ada koran tergeletak di atas tempat duduk. Barangkali karena sudah sore sehingga koran sudah tidak terlipat rapi lagi. Mungkin karena banyak orang yang membacanya. Sembari menunggu bis, saya mengambil koran tersebut untuk dibaca. Ternyata koran itu adalah koran hari sebelumnya. Saya baca koran itu setiap halamannya. Saya balik-balik setiap lembarnya untuk mencari rubrik yang menarik bagi saya, hingga sampailah saya pada halaman yang menampilkan rubrik tanya jawab kesehatan reproduksi.
Hari itu rubrik tersebut membahas pertanyaan seseorang yang saya duga wanita yang menanyakan mengenai pentingnya kiret setelah pengguguran kandungan. Tulisan di rubrik tersebut penuh dengan coret-coretan tidak beraturan dengan goresan yang tajam - layaknya goresan kemarahan sehingga lembaran koran yang membahasa rubrik tersebut sedikit terkoyak.
Saya tidak paham apa itu kiret, yang saya paham hanyalah mengenai pengguguran kandungan, yaitu janin yang masih ada di dalam kandungan ibu untuk dimatikan. Kemudian mata saya beralih ke sisi sebelah kanan rubrik itu, yaitu ruangan di tepi lembar koran selebar dua cm yang kosong tanpa ada tulisan berita. Di situ terdapat tulisan tidak rapi dengan huruf besar-besar dengan ballpoint bertinta biru, layaknya tulisan seorang yang sedang belajar menulis. Tidak panjang.
“Ketika di dalam kandungan, bayiku aku rawat sebaik aku merawat. Walaupun setiap tendangannya membuat perut mulas, tapi tetap saja aku bawa kemana aku pergi selama sembilan bulan.”
Dibawah tulisan berpena biru tersebut ada sebuah cap jempol berwarna biru pula. Tampaknya warna biru cap jempol tadi berasal dari tinta ballpoint yang sama.
Bis sudah datang. Saya hempaskan koran di atas bangku. Segera saya berlari menyambut bis.
Sesampai dirumah, ketika makan malam tiba, saya bertanya kepada ibu apa arti kata kiret seperti yang ada pada tulisan di rubrik yang saya baca tadi. Kemudian, ibu menjelaskannya dengan bahasa yang mudah saya pahami. Tiba-tiba ibu memeluk dan menciumi saya serta adik saya yang masih kecil. Selesai makan, saya melanjutkan alur kehidupan saya seperti hari biasanya, yaitu belajar dan terus tidur.
Hari Selasa, seperti hari sebelumnya, saya kembali berangkat ke sekolah sampai bel pukul 4 tanda sekolah sudah selesai berbunyi. Usai sekolah saya kembali berjalan menuju ke halte tempat dimana saya menyetop bis pulang. Disitu kembali saya temukan seonggok koran yang tak terlipat rapi. Namun, nampaknya koran itu bukan koran yang saya baca hari sebelumnya, koran itu bertanggal hari itu. Mungkin koran itu adalah milik pengguna halte yang sengaja ditinggalkan setelah selesai dibaca.
Untuk mengisi waktu dan membunuh sepi, sambil menunggu bis saya ambil koran tersebut untuk saya baca. Saya balik-balik halamannya. Kembali saya menemukan coretan tulisan-tulisan pendek. Tepatnya di tepi bagian kosong sebelah judul pemberitaan yang mewartakan program Keluarga Berencana yang dipropagandakan oleh Menteri Negara Kependudukan dan Kepala BKKBN kala itu, Haryono Suyono.
Pandangan mata saya kembali mengarah kepada tulisan besar-besar dan tidak rapi yang ditulis dengan tinta ballpoint biru di sisi sebelah kanan kolom berita tersebut. Muncul rasa ketertarikan saya, bukan pada berita Keluarga Berencana-nya, namun lebih kepada tulisan bertinta biru di bagian kosong sisi kanan berita. Saya menduga yang menulis adalah orang yang sama dengan yang membuat tulisan di hari sebelumnya. Tertulis satu baris kalimat pendek disitu.
“hidupku untuk anakku, anakku nanti pasti menjadi orang besar dan sukses!!!!” dalam bahasa Jawa. Tulisan bertinta biru tampak tergores dengan tegas, bahkan, selain diberi garis bawah juga diberi empat tanda seru di belakang kalimat.
Menarik kesimpulan dari dua tulisan bertinta biru yang saya temukan dalam dua hari berturutan, saya berpikir kalau orang yang menulis itu adalah orang yang sayang sekali dengan buah hatinya, mencintai dengan segala apa yang bisa dia korbankan. Begitu, lantas saya melanjutkan membaca sambil menunggu bis pulang.
Hari Rabu tiba. Hari itu saya pulang lebih sore dari biasanya. Saya mengikuti ekstrakurikuler pencak silat di sekolah sampai waktu menjelang maghrib tiba. Jam sekian di kotaku, bis kota kebanyakan sudah kembali ke garasi, pun halte juga sudah sepi. Biasanya, selepas magrib, halte tempat saya menyetop bis sekolah ditempati seorang pedagang kaki lima yang biasa menjual makanan. Namun, sepertinya waktu itu dia terlambat menggelar dagangannya. Merasa kawatir tidak bisa pulang naik bis, saya memacu jalan saya agak cepat.
Halte terlihat masih ratusan meter jauhnya dari saya berjalan. Nampak dari pandangan saya masih ada orang yang duduk disana sambil membalik-balik halaman koran dengan cepat. Sepertinya koran tersebut bukan untuk dibaca. Orang itu mengenakan baju hem gombrong berwarna coklat, tidak dikancingkan, mengenakan dalaman berupa kaos berwarna putih-kuning dan memakai topi biru.
Sekilas, orang itu seperti melihat ke arah saya, namun selesai melepas pandangannya ke saya dia lantas beranjak dari tempat duduk. Nampaknya dia sedang terburu-buru. Koran yang tadi dibalik-baliknya lantas cepat-cepat digulung kemudian dijejalkan kedalam lubang pagar bumi, tepat di pojok sebuah rumah yang berdiri di sebelah kanan halte.
Orang itu menyeberang jalan dengan setengah berlari. Sesekali ia menengok ke arah saya. Tak lama kemudian sosoknya hilang dari pandangan saya. Ia menghilang dibalik deretan mobil yang parkir di pinggir jalan seberang.
Hujan rintik-rintik turun, saya mempercepat jalan saya. Suasana di halte - terlihat dari posisi saya berjalan - nampak lengang sekali. Padahal, tadi saya berharap dengan adanya orang itu saya punya teman bicara sambil saya menunggu bis terakhir datang. Gerimis yang turun membuat suasana di halte tersebut serasa semakin lengang. Tak ada satupun yang datang menunggu bis atau sekedar untuk berteduh. Namun, saya tidak merasa sepi lagi ketika bis yang saya tumpangi untuk pulang datang menghampiri dan penuh sekali dengan penumpang. Di dalam bis saya tidak lagi merasakan sepi karena saya suka sekali mengobrol dengan sesiapa yang ada di dalam bis.
Sesampai di pemberhentian dekat rumah, saya turun dari bis dan menuju ke rumah dengan berlari. Hujan bertambah deras. Ternyata ibu sudah menyambut saya di depan pintu dengan secarik kertas di tangannya. Nampak sekali raut muka ibu berseri-seri. Saya cium tangan ibu dan mengucapkan salam.
“Ada apa, Bu? Wajah ibu nampak kalau ibu sedang berbahagia”
Ibu menyodorkan secarik surat yang lama dipegangnya. Ternyata surat dari Ibu Tien Soeharto yang menyatakan bahwa saya mendapatkan beasiswa sekolah dari Ibu Tien pribadi berupa buku-buku sekolah, seragam dan uang SPP yang dibayarkan langsung ke sekolah saya sampai saya selesai Sekolah Menengah Atas nanti. Ibu memeluk saya erat sekali, nampak sekali raut muka bahagia dan kelegaan karena beban ibu dalam mencari uang buat biaya sekolah menjadi berkurang. Beberapa bulan lalu, ketika saya masih kelas 4, saya memang pernah menulis surat kepada Ibu Tien yang isinya menyatakan bahwa saya ingin bersekolah setinggi-tingginya sedangkan orang tua saya tidak mampu. Saya meminta kesediaan Ibu Tien membantu mewujudkan cita-cita saya bersekolah tinggi.
Hari Kamis pertama kelas 5, saya berangkat dan pulang sekolah seperti hari sebelumnya. Hari itu kelas saya selesai agak malam kembali. Begitu bel berbunyi, saya segera memacu lari saya menuju halte seperti hari sebelumnya supaya saya masih bisa naik bis untuk pulang ke rumah.
Hari itu kembali saya tidak menjumpai pedagang yang biasa menggelar dagangan di halte, pikir saya mungkin dia berjualan agak lebih sore karena hari sering turun hujan. Seperti sore itu, hujan kembali turun meskipun baru gerimis. Saya menutupi kepala saya dengan tas. Tidak saya temukan seorangpun yang menunggu bis di halte seperti hari sebelumnya.
Saya melihat di bangku halte ada sebuah buku Teka Teki Silang. Saya tidak tahu buku itu milik siapa. Awalnya saya ragu untuk memegang buku itu sekedar membacanya lalu dikembalikan lagi karena buku itu bukan milik saya. Tetapi, kesepian halte dan dingin udara akibat hujan membuat saya punya keberanian untuk membuka buku tersebut. Saya balik-balik halamannya walaupun sebenarnya buku tersebut tidak menarik sama sekali buat saya. Hampir semua halaman masih kosong, hanya satu halaman yang sudah terisi, itupun hanya 2 baris mendatar pertanyaan yang terisi. Dua baris yang tertulis disitu adalah kata “TAHAJUD” dan kata “SEPEDA”. Keduanya ditulis dalam tinta biru. Setelah saya perhatikan, tulisan dalam halaman buku tersebut mirip dengan tulisan yang saya temukan pada lembaran koran hari sebelumnya, nampak tebal dan dengan tulisan layaknya seorang yang sedang belajar menulis, sangat tidak teratur. Lantas, saya berpikir bahwa yang menulis dalam buku Teka Teki Silang tersebut adalah orang yang sama yang menulis coretan-coretan di lembaran koran yang saya temukan di halte dua hari sebelumnya. Terlebih, ketika saya arahkan mata saya tepat ke bawah dari halaman tersebut, ada cap jempol berwarna senada dengan tinta ballpoint yang dipakai menulis jawaban teka-teki, yaitu biru.
Bis terakhir akhirnya terlihat dari jauh. Hujan semakin deras. Di bangku halte nampak sebuah tas plastik besar berwarna hitam terlipat rapi dan terselip diantara besi bangku. Lantas saya ambil tas tersebut karena pikir saya tas tersebut bisa untuk menutupi kepala saya jika ternyata hujan masih turun ketika saya turun dari bis dan menuju rumah.
Hari itu hari Jumat pertama kelas 5. Seperti biasa setelah selesai sekolah saya bergegas langsung menuju halte. Seperti biasa gerimis turun. Sudah beberapa hari kota kami diguyur hujan dan kebetulan hujan selalu jatuh sore hari. Hal tersebut nampak aneh bagi saya karena biasanya di akhir bulan Juli seperti itu seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Saya lantas memacu lari saya. Belum sampai di halte ternyata bis terakhir sudah menunggu di sana. Hari itu saya tidak lagi harus menunggu lama di halte.
Malam itu, kami makan malam dengan nasi lauk ikan asin dan kerupuk. Sambil lahap kami makan malam dengan tangan, kami bertiga saling bercakap bercengkerama. Ibu ternyata tidak makan, karena tangan ibu sakit untuk memegang. Ibu bilang jempol kanan ibu teriris waktu mengiris daging ikan asin yang liat. Tetapi lukanya hanya dibalut dengan kain, karena malam itu ibu tidak sempat keluar untuk membeli plester pembalut luka.
Ibu kemudian menceritakan bahwa bapak tidak lama lagi akan pulang. Pikir saya, kenapa bapak harus pulang ke rumah secepat itu. Bapak baru 3 bulan di Riau mencoba untuk transmigrasi setelah bapak tidak lagi bekerja di pabrik sepatu. Namun, Ibu tidak menjawab pertanyaan saya. Ibu hanya memberikan senyuman. Saya memahami bahwa memang ada sesuatu yang belum boleh saya ketahui.
Usai makan malam, kami bertiga beranjak. Ibu dan adik lantas menuju balik lemari untuk tidur, sedangkan saya menuju dimana tikar digelar di depan lemari. Ya, rumah kami hanya berisi dua bilik yang dipisahkan oleh sebuah lemari. Bilik di bagian dalam biasa kami gunakan untuk tidur berempat dengan dua lapis tikar yang dibawahnya kami alasi dengan sususan reng bambu, sedang di bagian depan lemari biasa kami gunakan sebagai tempat menerima tamu, tempat makan, tempat menyimpan perkakas kami yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari, dan tempat saya belajar.
Setelah duduk meletakkan tubuh di atas bangku kayu buatan bapak, saya mulai belajar. Saya belajar matematika sampai larut. Setelah selesai belajar, saya merapikan buku-buku saya. Saya melihat secarik kertas yang sudah diremas-remas. Pikir saya, daripada kertas tersebut dibuang, saya ingin gunakan kertas tersebut sebagai tempat coret-coret saya dalam belajar hitungan matematika pagi harinya di sekolah. Saya kemudian merapikan bekas remasan-remasan dari kertas yang kalau saya perkirakan kertas tersebut diambil dari menyobek dua halaman paling tengah buku.
Hari itu hari Sabtu, sehari menjelang akhir pekan pertama saya di kelas 5. Saya bersemangat sekali bersekolah karena seperti biasa, ketika akhir pekan tiba, saya bisa berdagang gasing dari bambu - buah tangan saya sendiri - di perempatan paling ramai di kota kami, perempatan di pusat keramaian kota. Saya berdagang supaya saya bisa punya uang saku sendiri tanpa harus merepotkan ibu. Namun, agak sedikti mengecewakan hati saya, karena sore itu seperti sore hari sebelumnya, turun hujan. Karena hujan, saya gelar dagangan hanya sampai menjelang waktu Isya. Begitu terdengar azan Isya, saya langsung pulang ke rumah dengan berjalan kaki.
Sampai di rumah hampir pukul 9 malam, tidak saya dapati seorangpun kecuali adik saya yang masih TK sudah terlelap tidur. Usai meletakkan gasing-gasing dagangan saya di pojok bilik di bawah box tidur adik saya, lantas saya menuju bilik depan. Saya duduk di bangku sambil mengeringkan kepala dengan handuk. Mata saya tertuju pada secarik kertas yang terlipat rapi layaknya sebuah surat. Di sebelah kertas tersebut sebuah ballpoint berwarna biru. Saya merasa penasaran sekali dengan kertas yang terlipat rapi tersebut. Jika itu surat, saya ingin mengetahui itu surat untuk siapa.
Saya buka kertas tersebut. Saya cermati tulisan di kertas tersebut. Tulisannya tidak rapi dengan huruf yang berjarak jarang-jarang dan tergores tebal dengan tinta biru. Saya terperanjat karena lantas pikiran saya tertuju pada tulisan di koran dan buku Teka-Teki Silang yang selalu saya temukan di halte. Saya serta merta berpikiran bahwa yang menulis secarik kertas tersebut adalah orang yang sama dengan yang menulis pada koran dan buku di halte tempat biasa saya menunggu bis pulang sekolah. Lantas, saya membaca isi tulisan tersebut.
Bapak, semoga bapak sehat di Riau. Ibu sedang mencari uang untuk bapak pulang ke rumah dan untuk membeli sepeda buat anak kita yang sudah kelas 5. Sekarang dia membutuhkan sepeda itu kalau-kalau dia harus pulang malam dari sekolah. Bapak yang tabah ya di sana, ibu sedang mencarikan uang untuk bapak pulang.
Ibu
Air mata saya meleleh tanpa saya sadari. Ibu ternyata sedang bekerja untuk kami. Tiba-tiba saya terperanjat, hati saya serasa sakit sekali. Di pikiran saya terbayang ibulah yang menulis mencoret-coret di koran dan buku di halte itu. Timbul pikiran yang bukan-bukan, yang menduga-duga bahwa ibulah yang menulis di koran dan buku di halte itu. Mata saya kemudian tertuju pada sebuah goresan tinta biru di bawah tulisan di surat tersebut. Nampak seperti cap jempol, tapi tidak nampak sidik jari jempol tergambar di goresan tinta biru tersebut. Bukan bekas alur-alur sidik jari jempol tapi lebih seperti alur berbentuk seperti benang teranyam tebal, mirip seperti alur-alur plester luka!!! Allahuakbar!! Air mata saya turun dengan deras sekali. Itu cap jempol ibu saya!!! Tangan ibu terluka tadi malam, pasti itu alur bekas cap jempol ibu yang sudah dibalut plester luka. Serta merta saya ambil secarik kertas tersebut, saya berlari melawan hujan deras berangin kencang. Saya berlari sekencang-kencangnya menuju ke halte tempat saya biasa menunggu bis terakhir pulang sekolah. Saya membayangkan ibu sedang berjualan ditempat tersebut.
Hampir setengah jam saya berlari tanpa henti di bawah hujan lebat sambil menggenggam secarik kertas tadi.Di depan terlihat halte gelap dan sepi tidak saya dapati seorangpun disitu. Saya berteriak memanggil-manggil nama ibu. Tapi tak ada sahutan dari ibu sama sekali. Lalu saya berlari ke sana kemari sambil meneriakkan kata “Ibu dimana”. Saya berlari berusaha mencari ibu ditempat lain. Saya menyeberang jalan dari halte tersebut ke arah pertokoan besar. Saya melihat seorang berbadan agak gemuk memakai baju hem laki-laki mengenakan topi biru KORPRI. Saya berlari menuju satu-satunya orang yang saya temui di sekitar halte itu. Orang itu sedang memberi aba-aba kepada mobil yang mau memarkir di depan pertokoan tersebut sambil berhujan-hujan.
Ya Allah, ampunilah hambamu. Saya merasa bersalah sudah menyusahkan ibu dengan minta dibelikan sepeda hingga ibu harus bekerja untuk saya di kala hari hujan begini. Saya menangis sejadi-jadinya, setelah saya dekati sosok tukang parkir tersebut, ternyata dia adalah ibu saya!!
Saya berlari ke arah ibu sambil berurai air mata menangis sejadi-jadinya. Saya teriakkan nama ibu berkali-kali hingga orang berpayung yang baru keluar dari mobil tersebut memandang kami. Ibu menoleh ke arah saya dan berbalik badan melihat ke arah saya. Ibu hanya terpaku berdiri ditempat yang sama. Saya peluk ibu erat sekali. Saya menangis sejadi-jadinya tanpa menghiraukan orang lain. Saya memeluk ibu lebih erat sambil menyandarkan kepala saya di perut ibu. Ibu membalas dengan pelukan dan menciumi saya sambil menenangkan tangis saya. Saya raih tangan kanan ibu. Saya lihat jempolnya, ternyata benar dugaan saya!! Jempol ibu berbalut plester namun plester tersebut berwarna biru seperti birunya tinta yang digunakan seseorang di halte itu membuat cap jempol, seperti birunya tinta yang digunakan membuat cap jempol di surat di atas meja. Saya kembali memeluk ibu erat, lebih erat sambil berdoa dalam tangisan saya. Berdoa kepada Allah supaya melindungi dan memberi kesehatan kepada ibu saya selalu. Secarik kertas di genggaman saya mulai rusak dan larut dengan air hujan. Saya lepaskan kertas itu supaya kedua tangan saya bisa lebih erat memeluk ibu di bawah derasnya hujan.
Kertas mulai rusak dan terbawa air hujan.
---------------------------------------------
Saya usap air mata yang meleleh di pipi, yang menetes di atas keyboard komputer di meja appartement saya. Saya raih headphone dan membuka VOIP. Saya bergegas menelepon ibu di Indonesia. Terdengar suaranya yang sudah serak dan terbata-bata karena usia. Ibu mengatakan bahwa ibu baru saja selesai sholat Shubuh. Di Indonesia memang sudah memasuki waktu Shubuh.
“Kenapa pagi-pagi sekali menelepon ibu? Bukankah di sana sudah tengah malam? Kenapa belum tidur?” begitu kata pertama yang terucap dari ibu menjawab telepon internet saya.
Saya mengatakan kepada ibu bahwa saya tidak ingin menunda-nunda menyampaikan berita gembira kepada ibu. Saya mengatakan kepada ibu dengan nada gembira bahwa saya selain sudah hampir selesai menempuh sekolah Master di Belanda, saya ternyata kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah PhD dari negara Belanda. Terdengar kembali suara ibu menjawab VOIP saya dengan suara lebih serak dan lebih berat, nampaknya ibu menangis gembira mengetahui kabar gembira dari saya. Lalu terucaplah kata dari ibu.
“Nak, Ibu hari ini seperti diberkahi. Ibu mempunyai anak-anak yang berbakti kepada orang tua dan taat kepada Allah. Inilah harta ibu yang paling berharga. Oh iya, tabungan ibu dan bapak sudah mencapai setengah dari biaya untuk berangkat haji beberapa tahun ke depan. Lalu, setelah bapak dan ibu berangkat haji, maka tunailah kewajiban bapak dan ibu. Menjalankan syariat dan membesarkan kalian berdua. Ibu dan bapak sudah siap jika waktu kami tiba dipanggil. Yang kami ingini hanyalah doa dari kalian berdua, jadilah kalian anak yang selalu taat kepada Allah, mendoakan kami, rukun diantara kalian berdua dan raihlah pendidikan setinggi yang kalian inginkan karena bapak ibu tidak bisa memberikan uang untuk kalian bersekolah sampai tinggi. Yang kami berikan hanyalah bara, bara di dada kalian berdua.”
Saya ambil nafas dalam-dalam sambil merasakan betapa besar cinta yang tersusupkan di dalam dada. Saya menutup telepon internet saya setelah ibu meminta saya untuk istirahat. Saya mendapatkan cinta yang luar biasa dari orang tua saya, terutama dari ibu. Saya tidur di musim panas yang berhari panjang ini. Sungkem saya dari jauh untuk ibu dan bapak saya di Indonesia.
Delft, The Netherlands
Amaltia Gunawan
diambil dari : http://amaltiagunawan.multiply.com
dipublikasikan kembali : http://pks-gajahmungkur.blogspot.com
Comments :
0 komentar to “Cap Jempol Berwarna Biru, sebuah memoar tentang kisah kasih ibu”
Posting Komentar