Simple Template For Entertainment News


Tempat Informasi Kegiatan Kader DPC PKS Gajahmungkur


GALLERY


Tampilkan postingan dengan label suharna supranata (menristek). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suharna supranata (menristek). Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Oktober 2010

Menristek: Indonesia Perlu Pembangunan Berbasis Inovasi

Bogor (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata menegaskan bahwa Indonesia memerlukan pembangunan yang berbasis inovasi.

"Namun pembangunan berbasis inovasi ini hanya bisa berjalan dengan keterlibatan semua pihak dalam lingkungan yang kondusif untuk inovasi," katanya seperti disampaikan Drs Mu`arif, staf khusus bidang media Menristek melalui pesan singkat kepada ANTARA dari Kyoto, Jepang, Rabu.

Menristek berada di Kyoto untuk menyampaikan paparan ada "Scienceand Technology Society" (STS) Forum 2010 ke-7 yang berlangsung 3-5 Oktober 2010.

Forum STS merupakan forum pertemuan antarbangsa bidang sains dan teknologi yang dihadiri lebih dari 1.000 peserta yang mewakili kalangan pemerintah, industri dan perguruan tinggi, termasuk 30 Menristek dari berbagai negara, para industriawan terkemuka, dan para peraih nobel.

Pertemuan itu diharapkan melahirkan serangkaian rekomendasi bagi kerja sama riset dan teknologi di berbagai belahan dunia.

Menurut Menristek, daya dukung pembangunan dimaksud tidak hanya pada kebijakan sains dan teknologi, tapi juga regulasi dan kebijakan antar-kementerian, termasuk kebijakan ekonomi, pajak dan insentif keuangan, serta kebijakan pendidikan, perburuhan dan infrastruktur.

Ia menegaskan, kebijakan dan regulasi tersebut harus dapat berjalan ibarat sebuah orchestra dalam skala nasional dan berkelanjutan sehingga proses pembangunan inovasi sebagai kunci utama pendorong ekonomi bangsa.

Dalam pemaparannya, Menristek juga menekankan pentingnya membangun proyek-proyek percontohan dari penerapan inovasi yang melibatkan berbagai lembaga yang mewakili aktor inovasi dari beragam sektor.

Tujuh fokus

Dikemukakannya bahwa proyek-proyek percontohan tersebut tidak lepas dari tujuh bidang fokus dari penerapan riset dan teknologi yang dikelola Kemenristek mulai dari ketahanan pangan, energi, kesehatan dan obat, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, serta pertahanan dan material maju.

Dengan proyek-proyek percontohan tersebut, menurut dia, diharapkan sinergi dalam membangun kebersamaan menerapkan sistem inovasi dapat berjalan dengan baik.

Terkait dengan itu, Kemenristek berkeinginan merevitalisasi Pusat Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) di Serpong. Revitalisasi yang dicanangkan berlangsung selama lima tahun tersebut akan menjadikan Puspitek sebagai Taman Sains dan Teknologi yang menghubungkan secara lebih kuat antara lembaga-lembaga penelitian dengan kalangan industri.

Sebelumnya, Menristek Suharna Surapranata juga menjelaskan beberapa capaian pembangunan ekonomi Indonesia yang mengindikasikan kemajuan.

Ia merujuk data World Economic Forum (WEF) Report yang menunjukkan naiknya posisi Indonesia pada Global Competitiveness Index (GCI) dari posisi 54 pada 2009 ke posisi 44 pada 2010.

Naiknya posisi ini, kata dia, tidak lepas dari semakin membaiknya kondisi makro ekonomi dan indikator pendidikan.

Menurut dia, sejak amandemen konstitusi yang mengamanatkan anggaran 20 persen untuk pendidikan, kebijakan ini menjadi penting dalam mendorong lebih kuat tumbuhnya masyarakat berbasis pengetahuan di Indonesia.

Dari semua kesuksesan tersebut, ada beberapa hal yang membutuhkan perhatian serius, yaitu infrastruktur dan kesiapan teknologi, termasuk pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

"Laporan WEF menunjukkan ketika indeks kesiapan teknologi membaik, salah satu dari lebih 70 indikator dalam rangking GCI, indikator kapasitas inovasi cenderung membaik pula," katanya.

Dalam laporan tersebut disebutkan rangking indeks inovasi Indonesia meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pad 2008 ada pada posisi 47, naik menjadi 39 pada 2009 dan kini ada di posisi 36 pada 2010,katanya.

Persoalannya, lanjut Suharna, terjadi kesenjangan antara penerapan teknologi dengan kemampuan berinovasi.

Kondisi ini merupakan tantangan terberat dalam membangun sistem inovasi nasional yang ingin menghubungkan dengan kuat antara universitas dan lembaga riset selaku penyedia teknologi dengan kalangan industri dan masyarakat umum sebagai pengguna teknologi.

Kementerian Ristek menyadari persoalan ini dan mencoba untuk fokus dalam menjembatani kesenjangan antara kalangan universitas dan lembaga penelitian dengan kalangan industri.

Saat ini, Kemenristek telah merestrukturisasi dan merancang ulang rencana strategis dari program kerja kementerian sehingga terjadi keberlanjutan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi secara lebih baik dari sisi penyedia (supply side) dan sisi pengguna (demand side).

READ MORE >>

Kamis, 31 Desember 2009

Produk Riset Belum Digunakan Masyarakat Luas

JAKARTA (SuaraMedia New - Program Riset Unggulan Strategis Nasional (Rusnas) yang difasilitasi oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) menelurkan beragam produk teknologi. Akan tetapi, belum semua hasil dari pengembangan program tersebut mendapat tempat di hati konsumen.


Sejak program ini pertama kali diluncurkan pada 2000 hingga 2009, delapan program yang dikembangkan dibawah pengawasan Ristek telah menghasilkan produk yang cukup menjanjikan di pasaran.

Namun menurut Asisten Deputi Urusan Pengembangan Sistem Insentif Kementerian Ristek Irwan Ibrahim, belum semua dari hasil pengembangan teknologi tersebut digunakan masyarakat.

"Belum bisa diketahui, mana hasil produk pengembangan yang paling menonjol. Karena idealnya, produk-produk yang dihasilkan dari program Rusnas bisa diproduksi secara masal dan dipakai oleh masyarakat," kata Irwan saat berbincang di gedung BPPT, Rabu (30/12/2009).

Irwan menambahkan, pada kenyataannya prospek pasar dari hasil teknologi ini masih belum belum seperti yang diharapkan.

"Hasil teknologi yang dihasilkan program ini sebenarnya prospeknya bagus. Akan tetapi, pasar domestik kita sendiri tidak mendukung untuk menggunakan produk hasil pengembangan negeri sendiri. Jadi boleh dibilang belum menggembirakan," katanya.

Hal tersebut menurut Irwan terkendala oleh beberapa faktor. Yaitu kurangnya ketegasan pemerintah untuk 'memaksa' warga negaranya untuk menggunakan produk hasil teknologi sendiri. Selain itu, anggaran pengembangan teknologi yang sering terlambat turut menjadi faktor penghambat. Faktor lainnya disebabkan oleh keterbatasan fasilitas teknologi untuk pengembangan produk, dan terakhir mental warga kita yang masih lebih percaya dengan kualitas produk negara lain.
Sementara itu, Sejak tahun 2000, Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) mengembangkan sebuah program yang disebut dengan Rusnas yaitu Riset Unggulan Strategis Nasional (Rusnas).

Program ini dimaksudkan untuk berbagai sektor produksi strategis yang kurang dapat berkembang akibat lemahnya penguasaan di bidang teknologi.

Pada awal peluncuran Rusnas di tahun 2000, ada tiga program yang menjadi fokus pengembangan Ristek. Tiga program tersebut adalah TI dan Mikroelektronika, buah dan unggulan tropis dan budidaya ikan kerapu.

Selanjutnya di 2002 program tersebut ditambah dengan program pengembangan industri kelapa sawit, diversifikasi pangan serta pengembangan engine alumunium. Ristek memang tidak bisa memfasilitasi semua program yang membutuhkan bantuan. Namun setidaknya, pada tahun 2006 program tersebut ditambah dua lagi yaitu pengembangan energi baru dan industri sapi. Delapan program tersebut menjadi fokus Ristek selama kurun waktu 2000 hingga 2009.

Dalam sambutannya pada presentasi pencapaian Rusnas 2000 hingga 2009, di gedung BPPT, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata menyebutkan, total anggaran yang dikucurkan Ristek untuk delapan program tersebut mencapai lebih dari Rp124 miliar.

"Sebagian dari program tersebut telah hampir memenuhi parameter keberhasilan yang ditentukan. Sementara lainnya masih dalam proses pengembangan. Sehingga belum semua program mencapai tujuan yang ditetapkan," ujar Suharna dalam sambutannya.

Kendati demikian, Suharna menyebutkan Kementerian Ristek menghargai segala upaya, jerih payah dan kerjasama para peneliti dan lembaga pengelola Rusnas sejauh ini.(ok2)

READ MORE >>

Rabu, 23 Desember 2009

Pemerintah Belum Setuju Pembangunan PLTN

Mataram (ANTARA News) - Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Suharna Surapranata mengatakan pemerintah belum menyetujui pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sehingga perencanaan PLTN masih sebatas wacana.


Suharna mengemukakan hal itu ketika dikonfirmasi wartawan usai peresmian prototype Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Hybrida yang dibangun di Dusun Ketapang, Desa Pringgabaya, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa.

Peresmian penggunaan mesin pengolah tenaga angin dan matahari menjadi energi listrik itu dipadukan dengan penyerahan hak guna pakai PLT Hybrida dari Deputi Bidang Program Riptek Teguh Rahardjo selaku kuasa pengguna anggaran (KPA) kepada Bupati Lombok Timur M. Sukiman Azmy.

"Sampai hari ini pemerintah belum menyetujui pembangunan PLTN karena erat kaitannya dengan keamanan dan skala prioritas pemanfaatan sumber energi," ujar Suharna.

Menurut dia wacana untuk memberdayakan potensi energi nuklir terus dikaji sebagaimana pengkajian terhadap semua potensi energi.

"Setahu saya, pemerintah belum beri persetujuan. Sejauh ini masih memprioritaskan pemanfaatan energi batu bara dan panas bumi," ujarnya.

Ia mengakui saat ini pemerintah masih terus melakukan sosialisasi mengingat pada 2016 Indonesia harus sudah mengoperasikan PLTN secara komersial.

Target pengoperasian PLTN pada 2016 merupakan amanat Undang Undang Nomor 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJN), yang salah satu paragrafnya menyebutkan bahwa pada 2016 Indonesia harus sudah mengoperasikan PLTN.

Rencana pembangunan PLTN belum mendapat persetujuan pemerintah meski sudah ada lokasi potensial seperti di Jepara, Jawa Tengah.(*)
READ MORE >>

Teknologi untuk Sejuta Sapi di NTB

Menristek Siapkan Teknologi untuk Sejuta Sapi di NTB

Jakarta - Menristek Suharna Surapranata, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Gubernur NTB HM Zainul Majdi untuk mendukung Program Nusa Tenggara Barat Bumi Sejuta Sapi (NTB-BSS).

Kementerian Riset dan Teknologi akan membantu program tersebut dari sisi teknologi seperti pengembangan sorgum yang menjadi bahan baku pakan ternak dengan teknologi radiasi, teknologi inseminasi buatan dan teknologi gertak birahi untuk meningkatkan produktivitas sapi-sapi betina.

Menurut Menristek, program NTB-BSS merupakan suatu gerakan terobosan dalam pengembangan peternakan sapi dengan lebih mengutamakan pemberdayaan sumber daya lokal, sehingga terjadi percepatan pengembangan peternakan sapi menuju populasi satu juta ekor dalam waktu lima tahun (2009 – 2013).

"Menilik populasi sapi NTB saat ini yang telah lebih dari 500 ribu ekor pada tahun 2008 dan mengalami peningkatan setiap tahunnya, bukan tanpa dasar NTB berpeluang mengembangkan sekitar 2 juta satuan ternak sapi lagi di wilayahnya," kata Menristek lewat keterangan tertulis kepada detikcom, Selasa (22/12/2009)

Oleh karena itu, lanjut dia, perlu sentuhan teknologi bagi NTB-BSS dalam rangka mendorong peningkatan populasi sapi.

"Tidak hanya menyiapkan bibit yang baik tetapi juga ketersediaan pakan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan populasi sapi," kata Menristek.
(lrn/did)


READ MORE >>

Menneg Ristek: Pemenuhan Listrik Dipercepat

MATARAM, KOMPAS - Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata mengatakan, pemerintah tengah berupaya memenuhi kebutuhan listrik lewat program percepatan pemenuhan energi listrik tahap kedua sebesar 10.000 watt, menyusul program sejenis yang mulai direalisasikan di beberapa daerah.

”Proyek PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) dilanjutkan dan pemerintah kini menyiapkannya lewat proyek percepatan pemenuhan kebutuhan listrik 10.000 watt tahap kedua tahun 2010,” ujar Menneg Ristek pada acara peresmian mesin pembangkit listrik tenaga angin dan surya (hibrid) di Dusun Ketapang, Desa Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Selasa (22/12).

Menneg Ristek mengatakan, pemerintah menargetkan pasokan listrik lima persen dari energi terbarukan, seperti pusat listrik tenaga nuklir, PLTU, dan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Karena PLTN masih terkendala dan pengembangan PLTP direncanakan tahun 2013, target lima persen belum terpenuhi sehingga PLTU menjadi pilihan bagi daerah yang belum terlayani listrik.

READ MORE >>

Jumat, 04 Desember 2009

Menristek: PLTN Muria Tetap Berlanjut

Jakarta, (ANTARA News) - Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata menegaskan, bahwa kebijakan tentang rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tidak akan dihentikan dan tetap dilanjutkan.



"Rencana PLTN harus tetap ada. Persiapan `blue print`-nya masih terus dilakukan," katanya di sela "Executive Meeting" Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan Pemegang Izin tentang Program Proteksi Radiasi dan Kamanan Sumber Radioaktif di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, saat ini pemerintah masih harus memilih siapa yang akan menjadi pengelola PLTN yang rencananya akan dibangun di Semenanjung Muria, Jepara, Jawa Tengah, apakah, pemerintah (BUMN) ataukah swasta.

"PLTN memerlukan investasi," kata mantan peneliti di Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) itu.

Dalam proses persiapan tersebut, pihaknya saat ini masih terus melatih dan mendidik sumber daya manusia di Batan dan Bapeten menjadi ahli-ahli nuklir yang handal seiring rencana pembangunan PLTN yang dijadwalkan pada 2010 dan operasional PLTN pada 2016.

Ia menyesalkan, sejak dirinya menjadi peneliti di Batan dan mengikuti program pendidikan tenaga nuklir di Universitas Indonesia pada tahun 1978, rencana pembangunan PLTN terus tertunda hingga saat ini, padahal kebutuhan listrik terus meningkat.

Sementara itu, Kepala Bapeten Dr As Natio Lasman membantah jika hambatan pembangunan PLTN adalah soal investasi karena untuk PLTN dengan kapasitas 1.000 MW dibutuhkan investasi sekitar Rp20 triliun, tidak jauh dari alokasi APBN untuk subsidi BBM yang juga mencapai puluhan triliun rupiah per tahun.

Ia juga membantah jika SDM Indonesia tidak siap, terbukti dari pujian yang diberikan pakar nuklir internasional terhadap reaktor riset nuklir Batan, selain itu inspeksi safeguard IAEA (Badan Energi Atom Internasional) terhadap reaktor riset nuklir Batan pun hasilnya sama dengan hasil inspeksi Bapeten.

Ketakutan masyarakat akan PLTN dengan berkaca pada tragedi Chernobyl, menurut dia, juga suatu yang tak pada tempatnya, karena kecelakaan Chernobyl terjadi akibat ulah manusia yang menjadikan reaktor keempat Chernobyl sebagai eksperimen.

"Apa lagi sekarang ini teknologi sudah semakin maju dan tipe reaktor Chernobyl sudah tak pernah lagi digunakan," katanya.

PLTN memenuhi 16 persen kebutuhan listrik dunia (438 unit) di 30 negara. Sebanyak 78 persen kebutuhan listrik Perancis dipenuhi dengan tenaga nuklir, bahkan Jepang yang merupakan kawasan gempa, 34 persen listriknya dipasok PLTN.(*)

COPYRIGHT © 2009



READ MORE >>

Selasa, 24 November 2009

Berharap Gebrakan Menristek Baru

Berharap Gebrakan Menristek Baru
Azhari Sastranegara Dr Eng

Suharna memiliki pergaulan yang cukup luas di kalangan penggiat iptek. Terutama di Jepang. Berbekal pengalaman pernah menjadi peneliti di pusat penelitian Tsukuba Suharna memiliki jaringan yang luas dengan kalangan ilmuwan dan teknolog Jepang.



Jakarta - Terlepas dari proses seleksi menteri yang tidak lazim untuk posisi pembantu presiden (proses rekrutmen terbuka disertai wawancara dan disoroti media) seluruh posisi menteri untuk kabinet Presiden SBY periode 2009-2014 sudah terisi. Banyak kalangan yang menganggap komposisi menteri kali ini adalah hasil dari dagang sapi SBY dengan parpol pendukungnya.

Indikasinya adalah banyaknya menteri yang ditempatkan tidak sesuai dengan latar belakang keilmuannya atau pengalamannya. Padahal seseorang tanpa keahlian di bidangnya akan mudah distorsi dan dipengaruh pihak lain. Pemimpin harus show the way lead the way. Bagaimana bisa menunjukkan teladan kalau tidak faham pekerjaannya.

Para elit parpol yang terpilih tentu saja bereaksi dengan mengatakan bahwa menteri adalah jabatan politis. Yang menentukan kinerja kementerian adalah kepemimpinan sang menteri. Bukan keahlian spesifiknya.

Menteri diumpamakan manager tim sepak bola. Tidak harus seorang mantan pemain hebat. Yang penting bisa menggunakan dan memotivasi pemain hebat. Rasa-rasanya argumentasi keduanya ada sisi benarnya. Marilah kita lihat bukti seiring dengan akan berjalannya waktu.

Saya mencoba menyoroti salah satu kementerian yang menjadi pusat perhatian para penggiat teknologi dan ilmu pengetahuan yaitu Kementerian Riset dan Teknologi. Di samping Depdiknas Ristek adalah kementrian strategis untuk meningkatkan sumber daya manusia dan daya saing bangsa.

Sayangnya kementerian ini setelah era BJ Habibie seolah sekedar pelengkap penderita. Anggarannya minim. Tak bernasib baik seperti saudaranya Depdiknas. Out put-nya pun seakan hilang ditelan angin politik dan ekonomi yang selalu hiruk pikuk.

Di tengah permainan politik Kementerian Ristek seperti anak bawang yang disapa. "Maaf yah. Kamu belum saatnya mendapat perhatian lebih."

Nahkoda baru Kementerian Ristek, Suharna Surapranata, menjadi salah satu menteri yang mendapat komentar pro dan kontra. Sebagian mempertanyakan kompetensi Suharna di bidang iptek mengingat aktivitasnya yang menonjol selama ini adalah di lingkungan Majelis Pertimbangan Partai PKS.

Bagi mereka yang kontra Suharna boleh jadi sangat dihormati di kalangan PKS. Tapi, itu bukan berarti alasan untuk sukses memimpin kementerian yang membawahi banyak lembaga riset. Gelar Suharna yang "hanya S2 dan bukan doktor" juga menjadi salah satu sumber penilaian miring.

Selama ini nahkoda professor dan doktor saja tidak sanggup menaikkan prestasi ristek secara signifikan. Maklum, para pendahulu Suharna seperti Kusmayanto, Hikam, dan Zuhal adalah guru besar dan peneliti yang beken di tingkat nasional.

Dari sudut pandang sebagai seorang praktisi teknologi dan berdasarkan pengalaman beberapa kali berdiskusi intens dengan Suharna di berbagai event rasanya layak kita mengharapkan gebrakan-gebrakan yang cukup berarti akan diluncurkan dari Kantor Menristek.

Suharna memiliki pergaulan yang cukup luas di kalangan penggiat iptek. Terutama di Jepang. Berbekal pengalaman pernah menjadi peneliti di pusat penelitian Tsukuba Suharna memiliki jaringan yang luas dengan kalangan ilmuwan dan teknolog Jepang.

Hal ini antara lain terbukti ketika di bulan Ramadhan lalu dia besama beberapa personelnya dari MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia) berkunjung ke beberapa badan riset Jepang dan mendapat sambutan yang sangat antusias.

Kualitas jaringan yang dimiliki seorang menristek akan menjadi kunci berhasil atau tidaknya dia memimpin dan memberikan hasil yang nyata kepada dunia riset dan teknologi Indonesia. Sebagai politisi yang berasal dari PKS yang dikenal memiliki banyak sumber daya dari kalangan ilmuwan dan teknolog Suharna harus membuktikan klaim partainya sebagai partai anak muda yang berpendidikan. Atau partai masa depan Indonesia. Karena turut membidani lahirnya MITI besar kemungkinan MITI dan jaringannya akan menjadi motor andalan menristek meskipun barangkali tidak sekuat ICMI di masa BJ Habibie.

Organisasi MITI meskipun masih muda memiliki ilmuwan dan teknolog handal seperti Dr Warsito yang mendapat berbagai penghargaan tingkat internasional dan teman-temannya, atau Dr Eko Fajar yang dikenal sebagai peneliti chipset yang handal.

Salah satu tema besar yang diusung Kementerian Ristek sejak lama adalah alih teknologi dari negara industri maju. Tetapi, secara jujur harus kita akui kecepatan alih teknologi bangsa kita tertinggal jauh dari negara saingan seperti Malaysia dan Thailand.

Kita boleh berbangga memiliki pabrik pesawat terbang satu-satunya di Asia Selatan dan Tenggara. Atau berbangga dengan tiga reaktor penelitian nuklir yang cukup besar dan kompeten. Tetapi, melihat kemajuan teknologi bangsa secara umum kita masih harus sangat prihatin.

Seperti diketahui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2020 difokuskan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pangan, energi, teknologi informasi, transportasi, pertahanan keamanan, dan kesehatan. Tapi, pada teknologi transportasi misalnya, selama puluhan tahun menjadi tempat perakitan dan pemasaran produk otomotif buatan negara maju.

Kita bahkan belum mampu menelurkan satu saja mobil buatan bangsa sendiri yang siap diproduksi massal. Jangankan produksi mobil sendiri. Suku cadang yang ada di pasaran hampir semua barang impor.

Banyak PR yang harus diselesaikan menristek baru. Di samping mensinkronkan lembaga riset yang tumpang tindih menristek diharapkan dapat meningkatkan penerapan teknologi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat.

Dari sudut pandang praktisi teknologi tiga tema yang layak mendapat prioritas antara lain adalah pengembangan kerja sama riset antara universitas dan industri, kewajiban alih teknologi perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia, dan pengembangan teknologi tepat guna.

Pengembangan kerja sama riset antara universitas dan perusahaan adalah hal yang tidak dapat ditawar. Universitas tidak dapat berjalan sendiri dan terlepas dari kebutuhanr iil masyarakat. Di lain pihak dunia industri tidak bisa dibiarkan hanya membeli teknologi dari luar.

Universitas harus berfungsi sebagai mitra industri dalam mengembangkan produk yang dibutuhkan masyarakat. Pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator. Dengan kebijakan ini salah satu kendala universitas yaitu dana penelitian dapat diatasi. Di lain sisi perusahaan juga mendapatkan untung dengan inovasi-inovasi baru berbasis ilmiah.

Kewajiban alih teknologi perlu dibebankan kepada semua perusahaan asing yang memenuhi syarat tertentu. Syarat tersebut dapat berupa volume penjualan atau persentase share di Indonesia. Kebijakan ini bisa ditempuh dengan mewajibkan perusahaan yang meraup untung sangat banyak dari pasar Indonesia untuk membuat divisi penelitian dan pengembangan (litbang, R & D) di Indonesia.

Tidak cukup hanya dengan mensyaratkan persentasi kandungan produk lokal yang mudah disiasati dengan memilih produk lokal untuk komponen berteknologi rendah. Dengan kebijakan ini kita bisa berharap Nokia dan RIM yang produknya sangat banyak di Indonesia akan menularkan teknologi tingginya. Demikian juga dengan Toyota, Honda, atau pabrikan otomotif lain yang besar di Indonesia.

Tema ketiga, pengembangan teknologi tepat guna, adalah tema yang sudah lama diangkat tapi tetap relevan sampai saat ini. Bila dicermati, kebutuhan primer bangsa kita sebenarnya bisa diatasi dengan teknologi yang levelnya tidak terlalu canggih.

Listrik di daerah terpencil misalnya dapat dibangkitkan dengan kincir air atau turbin angin sederhana. Penggilingan padi dapat dibuat dari komponen yang mudah didapat di pasaran. Penerima gelombang siaran TV dan radio dapat dibuat bahkan dari wajan seperti yang telah didemonstrasikan Onno W Purbo dan teman-temannya. Perhatian pemerintah dalam hal ini menristek akan sangat membantu inventarisasi dan pengembangan teknologi tepat guna seperti ini.

Di atas hanyalah tiga tema besar dari sangat banyak masalah yang menanti perhatian menristek baru. Sebagai menteri yang diusulkan oleh partai politik Suharna memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa wakil parpol juga bisa profesional.

Klaim PKS bahwa partai ini didukung sumber daya manusia yang handal akan diuji. Apakah klaim tersebut hanya sebatas pamer kekuatan saja atau benar-benar merupakan kekuatan yang nyata bergantung pada kinerja Suharna sampai 2014. Dalam kurun waktu itu publik akan menilai sejauh mana kebenaran klaim PKS selama ini.

Selamat bekerja Bapak Menteri.




Azhari Sastranegara, Dr.Eng.

Penulis adalah peneliti dan praktisi teknologi. Sekarang berdomisili di Jepang dan bekerja pada litbang perusahaan otomotif. Pemimpin redaksi Majalah Teknologi Online INFOMETRIK (www.infometrik.com). Profil lengkap dapat dilihat di http://www.infometrik.com/editors/info/#azhari
READ MORE >>

Bingkai Kehidupan

"Save Palestine" Demonstration in Semarang

"Save Palestine" Demonstration in Semarang
Semarang, 21 Maret 2010

Mars PKS

Mars Partai Keadilan SEJAHTERA - Watch more Videos at Vodpod.

Harapan Masih Ada

Aktifitas Aleg DPRD Kota Semarang


Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur

Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur
Evendi Sunarko, SPd dan Sutopo, SE

Sekretariat DPC

Dewan Pengurus Cabang
Partai Keadilan Sejahtera
Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang
Jl. Menoreh Utara I/7 Semarang-Jawa Tengah
Telp (024)8501042

Jadwal Sholat

 

Copyright © 2009 by DPC PKS Gajahmungkur Rindu Semarang Berubah Powered By Blogger Design by PKSGM-Team