Simple Template For Entertainment News


Tempat Informasi Kegiatan Kader DPC PKS Gajahmungkur


GALLERY


Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Mei 2010

Proposal Hidup


Sukses itu bukan karbitan. Karena itu, jalan meraih sukses tidak mudah. Memang, tak sedikit yang merengkuh kesuksesan dengan cepat. Namun, banyak pula yang ”jatuh” setelah kesuksesannya meroket begitu cepat.

Maka, tak salah jika Jamil Azzaini berpesan bahwa jangan hanya berdoa jika menginginkan sesuatu. Tapi, kita juga mesti berusaha untuk mencapai keinginan tersebut. Dia membuktikannya dengan menulis semua hal yang didambakan. Semuanya terangkum dalam buku Tuhan, Inilah Proposal Hidupku (Gramedia Pustaka Utama, 2009).

***

Saya begitu tergugah saat melihat rombongan haji yang baru pulang dari tanah suci beberapa waktu lalu. Tidak secara langsung memang, saya hanya menyaksikannya lewat tayangan berita di televisi.

Ada jamaah yang kakinya cacat dan dibantu kursi dorong. Bahkan, ada pula yang tunanetra. Subhanallah. Saya mengira, sebagian di antara mereka mungkin bukan orang ”berpunya”. Lantas, saya berpikir, dari mana seseorang bisa menunaikan ibadah haji jika tak ”berpunya”. Faktanya, ada petani yang dapat pergi ke baitullah. Bahkan, ada tukang becak yang dapat berhaji.

Pada kesempatan lain, saya berjumpa dengan seorang teman dari sebuah lembaga yang bernaung di bawah Pemprov Jatim di Surabaya. Dia telah bekerja di situ kurang lebih enam tahun. Kali terakhir bersua, dia menyatakan akan keluar dari pekerjaannya karena dua alasan. Pertama, istrinya dipindah mengajar ke Jember, Jawa Timur. Kedua, rekan saya tersebut ingin berwirausaha.

Dia mengatakan punya sebuah harapan besar dengan berwirausaha itu. Saat saya menanyakan cita-cita tersebut, dia menjawab ingin memberangkatkan kedua orangtuanya berhaji.

”Saya tak bisa memberikan apa-apa kepada mereka. Saya ingin sekali bisa memberangkatkan mereka ke tanah suci Makkah sebelum mereka tiada,” tegasnya dengan nada optimistis.

Hal itu, lanjut dia, mungkin tak akan dapat terwujud jika dia tetap bekerja di lembaga tersebut. ”Sebab, gaji saya tak seberapa,” ucapnya. Begitu besar keyakinannya akan menggapai asa itu, teman saya tersebut tak pernah absen memanjatkan doa untuk bisa memberangkatkan orangtuanya. Bahkan, dia juga rajin berpuasa supaya Allah memperkenankan doanya.

Dia tak sekadar bermunajat, tapi juga menuliskan cita-citanya tersebut dan ditempelkan di tembok kamarnya. Dia mengatakan itulah proposal hidupnya saat ini. Apa yang dia inginkan dia tulis di kertas tersebut dan dia berusaha keras untuk bisa mewujudkannya.

Saya tertegun mendengar semua itu. Tak pernah terlintas sedikit pun soal itu sebelumnya. Selama ini, mungkin sebagian orang bermimpi akan cita-citanya. Namun, tak jarang yang mau untuk merealisasikan cita-cita itu. Orang saat ini lebih suka dengan yang serbainstan, tanpa didahului oleh usaha keras.

Agaknya, saya sepakat dengan Jamil Azzaini. Kita mungkin perlu merencanakan hidup. Hal itu bisa dituangkan dalam tulisan tentang rencana dan target hidup kita selama bernapas di alam fana ini. Itulah yang dia sebut sebagai proposal hidup. Dengan proposal hidup tersebut, kita dituntun untuk bercerita tentang betapa berharganya diri kita.

Memang, belum tentu setelah menulis, hidup kita serta-merta langsung berubah. Proposal hidup mungkin sekadar bekal. Sebab, kunci semuanya adalah motivasi, konsistensi, dan usaha keras untuk mewujudkan harapan serta cita-cita itu.

Wallahu a'lam bishshawab.

diambil dari : kotasantri.com

diterbitkan kembali : pks-gajahmungkur.blogspot.com

READ MORE >>

Senin, 03 Mei 2010

Pada Mulanya Cita-Cita


Di Badar yang penuh kenangan, tonggak-tonggak kejayaan Islam telah dipancangkan. Melalui perang yang memisahkan, dan kematian-kematian yang menegaskan. Saat Allah, Rasul, dan pasukan iman meraih kemenangan gemilang. Tetapi kenangan tentang Badar, hampir satu tahun kemudian, adalah kerinduan-dan juga sedikit kecewa-bagi mereka yang tak sempat menyaksikannya.

Rindu seorang beriman, akan puncak pencapaian hidup, ketika ia bisa mati mulia di jalan keyakinannya. Kecewa seorang mukmin, ketika ia tak bisa menjadi bagian dari kafilah terhormat itu. Terlebih orang-orang yang selamat dari Badar punya gelar sendiri: “golongan (ahlu) Badar”, mereka diampuni dosa-dosa masa lalu dan masa akan datangnya.

Rindu dan kecewa itu pula yang dirasakan Anas bin Nadhar. Sepenuh hatinya. Maka hari itu, lelaki baya yang juga paman Anas bin Malik itu, bergegas menemui Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, aku tidak bisa turut dalam perang pertama di mana engkau memerangi orang-orang musyrik. Sekiranya Allah membuatku menyaksikan perang lagi untuk memerangi orang-orang musyrik itu, niscaya Ia akan melihat apa yang akan aku perbuat.”

Anas sadar bahwa momentum pertama telah berlalu. Ia tertinggal. Tapi ia berharap, bahwa segalanya belum berakhir. Maka, ketika perang Uhud terjadi dan orang-orang muslim telah bergerak, Anas bin Nadhar bergegas pula seraya berdo’a, “Ya Allah aku memohon maaf atas apa yang dilakukan oleh para sahabat-sahabatku. Dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh para orang-orang musyrikin itu.”

Anas merangsek maju. Ia berjumpa dengan shhabat lain, Sa’ad bin Mu’adz. Ia berucap, “Wahai Sa’ad, aku mencium bau surga di belakang bukit Uhud.” Ia pun maju bertempur hingga gugur sebagai syuhada. Ada lebih delapan puluh luka di sekujur tubuhnya. Sampai-sampai tidak ada yang bisa mengenali kecuali saudara perempuannya. Itu pun hanya melalui potongan jarinya.

Lelaki baya itu telah berjanji, dan ia telah menepatinya.

Puncak kecamuk perjuangan selalu ada di medan perang. Meski hidup memberi tempat yang sangat luas bagi kosa kata perjuangan, tapi perang tetap menara tertinqginya. Karena di sana, perjuangan bertaruh di batas antara kematian dan kehidupan. Karenanya, ia punya bobot dan penghargaannya sendiri.

Namun begitu, tekad seorang Anas bin Nadhar dan bagaimana cara ia membayarnya adalah cermin tentang sebuah pilihan hidup dalam contoh perang, tapi inspirasinya luas hingga di luar konteks peperangan. Sebab, pada mulanya adalah cita-cita. Lalu kehendak. Sesudah itu perjuangan menepati janji-janji dan mengejar mimpi-mimpi. Itulah kesetiaan akan pilihan. Itulah perjuangan. Dan, itulah inti kehidupan.

Oleh karena itu, hidup sejatinya hanya bisa bergulir di tangan para pejuang. Yang memberi nafas bagi tarikan-tarikannya. Tetapi memutuskan diri untuk mengarungi hidup dengan spirit kejuangan, meniti jalan para pejuang, adalah pilihan yang tidak mudah. Meski sekadar untuk hidup saja, seseorang sesungguhrya harus berjuang. Untuk sekadar bisa makan, bisa minum dan bisa menjaiani hidup ini begitu saja, perlu perjuangan. Tidak ada yang benar-benar gratis dalam kehidupan ini.

Anas bin Nadhar bisa saja memilih sikap lain. Toh ia punya alasan untuk tidak ikut ke Badar. Toh, rombongan Rasulullah ke Badar, pada mulanya memang tidak diniatkan untuk berperang. Ia bisa memilih pemaknaan lain. Meski pun ia pada akhirnya harus ke Uhud, tapi bukan dengan kekecewaan dan kerinduan yang membuncah seperti itu. Bukan untuk membayar keterlewatan di Badar. Biasa saja. Datar. Dan mungkin enggan. Tapi, pilihan itu tidak diambilnya. Sikap itu tidak dipilihnya. la tahu bahwa ada permulaan, tapi tidak ada akhiran. Pemaknaan akan keterlewatan telah memberi dia energi yang luar biasa. Energi yang tidak semata menyema-ngati, tapi juga memberi kekuatan dan daya tahan untuk menepati janji.

Karenanya, berkaitan dengan peristiwa Anas ini, Allah menurunkan firman-Nya. “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya) supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 23-24).

Janji dan kesetiaan itu lebih merupakan panggilan hati dan pilihan jiwanya yang besar. Tidak semua yang tertinggal dari Badar merasakan apa yang dirasakan Anas. Maka di sini menjadi jelas bahwa semua itu kembali kepada soal pilihan. Pilihan untuk bercita-cita. Pilihan untuk membayar ketertinggalan.

Peristiwa demi peristiwa selalu datang. Yang baru menggantikan yang lama. Bersama kita atau bersama orang lain. Suka atau duka. Momentum bisa nadir setiap waktu. Dalam hiruk pikuk yang memekakkan. Kelahiran adalah momentum. Perkawinan adalah momentum. Kematian ortng lain adalah momentum. Perubahan status sosial adalah momentum. Kemerdekaan adalah momentum. Prosesi pemilihan pemimpin adalah momentum. Pengakuan adaian momentum. Tapi, itu semua tak punye arti apa-apa bila tidak pernah menghasilkan pemaknaan. Pemaknaan cara pejuang, yang mengerti bahwa hidup punya harga. Pemaknaan para pekerja keras, yang menyadari bahwa hidup punya beban.

Sekali lagi, pada mulanya adalah cita-cita. Lalu kehendak. Sesudah itu, adalah kesetiaan mengejar mimpi dan menepati janji cita-cita itu.

Betapa banyak orang-orang yang terlewatkan darinya momentum-momentum bersejarah. Alangkah banyak orang-orang yang tertinggal kesempatan-kesempatan menentukan. Tetapi semua itu tak menghasilkan pemaknaan apa-apa. Dingin. Tak ada gelisah, apalagi gejolak.

Sebabnya sangat jelas, pemaknaan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berjiwa pejuang. Dalam lingkup apapun. Di medan apapun. Di ruanr-ruang kantor yang transaksinya kian pengap. Di ladang-ladang dan hamparan hutan yang tuannya semakin gelap. Di rumah kecil tempat seorang ibu setia mendengar tangis anak-anaknya yang lapar. Di sekolah-sekolah tempat para guru memahat pikiran dan garis masa depan. Di sana, ada banyak sumber pemaknaan. Inspirasi cita-cita. Untuk kemudian melahirkan kehendak. Bagi mereka yang berjiwa pejuang.

Tetapi puncak pemaknaan itu sendiri, terletak pada seperti apa akhir cita-cita perjuangan dimaksud. Dan bagi Anas, segalanya sangat jelas: surga. Begitulah kerinduan akan surga memutar balik cita-cita Anas, lalu mengantarkankanya untuk menapaki jalannya: dari ikrar permulaannya, pemaknaan kehendaknya, lalau menunjukkan jalan pertarungannya. Tidak ada kerinduan seorang mukmin melebihi kirinduannya akan surga. Tak ada puncak cita-cita melampaui keinginan masuk surga Allah, yang luasnya seluas langit dan bumi.

Anas bin Nddhar, juga orang-orang yang mengerti makna sebuah momentum yang terlewatkan, orang-orang yang telah memutuskan untuk Lercita-cita lalu menepatinya, tidak akan mundur selangkah pin hingga janji itu terpenuhi.

Maka bercita-citalah kita. Sebab sejujurnya telah banyak yang terlewatkan dari hidup kita. Mungkin di antara kita sudah berumur. Tertinggal sangat banyak kebaikan di usia muda. Mungkin di antara kita telah memasuki usia muda. Tetapi sangat terlambat untuk menjadi dewasa secara religi. Mungkin di antara kita telah banyak bergelimang dosa. Tertinggal sangat banyak kesempatan mengubah diri.

Bercita-citalah kita. Sebagai seorang mukmin yang berjiwa pejuang. Dengan surga sebagai ujung pengharapannya. Tetapi cita-cita itu ada jalan terapannya. Pengharapan itu ada pengorbanannya. Mungkin sangat lama dan melelahkan. Sebab perjuangan hidup ini selalu ada awalnya, tetapi tak pernah ada akhirnya. Ia seperti kafilah panjang, bila di antara kita tak sudi mengikutinya, ada banyak orang lain yang setia bersamanya.

Sumber: Tarbawi Edisi 82 Th. 5/Shafar 1425 H/15 April 2004 M


pks-gajahmungkur.blogspot.com

READ MORE >>

Membangun Kemandirian


Oleh Budi Hartono dan Taufik Hidayatullah

“Rekreasi terbaik adalah bekerja. Musibah terbesar adalah keputusasaan. Keberanian terbesar adalah kesabaran. Modal terbesar adalah kemandirian.” (Ali Bin Abi Thalib)

Badai krisis belum juga berlalu. Krisis pun seolah menjelma sebagai sesuatu yang keberadaannya menakutkan. Hingga hanya ada satu lontaran pertanyaan universal: kapan krisis berakhir. Akibat krisis yang makin merajalela, puluhan perusahaan gulung tikar, belasan potensi bisnis musnah, ratusan investor kelelahan dan meninggalkan arena bisnis yang tak lagi menguntungkan. Ribuan orang kesulitan mendapatkan pekerjaan, jutaan yang lain kehilangan pekerjaan dan puluhan juta keluarga menjalani hidup di bawah garis kemiskinan.

Di negara ini, hingga akhir tahun 2003, jumlah pengangguran menembus angka 42 juta. Sebagai perbandingan, di negeri Paman Sam pada tahun 1999, tiap hari sebanyak 3000 orang terkena PHK. New York Times juga melaporkan bahwa 75 persen dari seluruh rumah tangga di AS mempunyai pengalaman “dekat” dengan PHK sejak tahun 1980. Begitulah keadaan negeri yang jadi icon dunia itu.

Krisis memang tidak pandang bulu, dia akan menyerang siapapun, si kuat apalagi si lemah, jika lengah dan salah. Fenomena ini membuat para pelaku ekonomi dan pekerja merasa tidak aman beraktivitas. Tak sedikit yang merasa dihantui pemecatan. Tidak peduli apakah ia staf, ma-najer, direktur perusahaan swasta atau pun milik pemerintah. Hingga muncul idiom: kini tidak ada pekerjaan yang aman, yang ada pekerjaan keamanan.

Kita telah diingatkan oleh Allah swt dalam firman-Nya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan padamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar.” (2: 155)

Efek krisis, domirasi terbesarnya dirasakan para korbannya. Perintah untuk bersabar itu mengharuskan mereka menelusuri kembali proses revitalisasi terhadap kapasitas inti mereka, yang berupa pemikiran, spirit, emosi, fisik dan jaringan sosial. Harus ada intervensi khusus pada kapasitas ini.

Peter Drucker, seorang pakar manajemen mengatakan, “Yang paling berbahaya dari krisis bukan krisis itu sendiri, melainkan pikiran yang jadi pedoman tindakan kita, yang memang sudah ketinggalan jaman.”

Dengan bahasa yang berbeda Steven R Covey, penulis buku Tujuh Kebiasaan yang Efektif mengatakan soal shift of paradigm atau perubahan pola pikir. Lebih jelas lagi Einstein menegaskan, “Kita tidak dapat memecahkan masalah pada tingkat berpikir yang sama ketika masalah itu diciptakan”.

Maka sadarilah, sangat perlu bagi kita untuk meng-upgrade pengetahuan. Misalnya dengan membaca, berdiskusi, menghadiri seminar atau pelatihan, pergi ke perpustakaan serta selancar di internet. Karena jenis alat itulah yang terbukti dapat menjadikan kita berpengetahuan dan berketrampilan.

Kita tidak bisa melakukan suatu tindakan jika tidak mempunyai motivasi. Kita tak akan pernah termotivasi jika tidak mengetahui apa manfaatnya. Maka tindakan mengetahui menjadi sesuatu yang sangat prioritas. Inilah mengapa para ahli psikologi dan kepribadian mengatakan bahwa titik yang paling mengakar dari struktur kepribadian manusia ada di pikiran-nya. Anda menentukan masa depan dengan pikiran dan gambaran yang Anda pegang hari ini.

Di masa kini dan mendatang, apa yang harus kita lakukan adalah mengenali dan menyelesaikan masalah dengan cepat. Camkan, bahwa saat ini pertumbuhan masalah lebih cepat dari pemecahan masalah itu sendiri.

Jay Lavinson dalam bukunya Gorilla Marketing menyebutkan beberapt aturan yang perlu kita miliki dalam menyongsong masa depan. Antara lain:

  1. Bersiaplah merubah baju kita. Perhatikan apa yang selama ini jadi kontek dari keyakinan, keinginan, pengetahuan dan tindakan kita. Sudahkah itu semua sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Jika sudah, tingkatkan dan dalami lagi. Jika belum, mintalah bimbingan dari yang profesional, saleh dan berintegritas. Ini penting untuk mendapatkan dan mengenali moment of truth dalam kehidupan kita.
  2. Belajarlah mencintai jaringan (network). Bangunlah aset yang sangat berharga ini. Kelak ia akan bermanfaat bagi kehidupan kita.
  3. Dunia di jaman ini adalah dunia yang terhubung melalui kabel komunikasi, maka hadapilah. Miliki pula keterampilan jenis ini, seperti mengakses internet, yang akan memudahkan kita bergerak dan cepat mendapat informasi.
  4. Apa yang kita peroleh tergantung pada apa yang kita pelajari. Mulailah untuk belajar kembali. Cari dan bentuklah lingkungan yang selalu menerapkan metode pembelajaran. Bersemangatlah untuk menjadi pembelajar sejati, karena kualitas kemandirian adalah hasil dari belajar, inovasi, dan perbaikan terus menerus.

Dalam In Search of Excellence, Tom Peters berpendapat tentang masa depan, “Gabungkan semua dan Anda akan memperoleh sesuatu yang agak mengejutkan. Tidak ada penolakan atas masa lampau di sini. Keahlian menjadi lebih penting dari waktu sebelumnya, dan tidak berkurang. Keahlian telah berubah hampir tidak terkenali. Jika tidak memiliki ketrampilan, motivasi, semangat terhadap sesuatu, Anda akan menghadapi masalah.”

Inilah perbekalan yang perlu dimiliki tiap pribadi dalam memunculkan kemandirian. Tiada hal yang dapat membuat kita bangga selain hidup dalam kemandirian. Raihlah kemandirian dengan semangat doa dan usaha.

Sumber: Tarbawi Edisi 82 Th. 5/Shafar 1425 H/15 April 2004 M


pks-gajahmungkur.blogspot.com

READ MORE >>

Jumat, 30 April 2010

Maju dan Tegarlah Berkat Kritikan!!


KRITIK. Kata yang tidak semua dari kita menyukainya, apalagi bila kritikan pedas yang diarahkan kepada kita itu tidak melihat situasi dan kondisi. Apapun yang dilakukan oleh manusia, baik ataupun buruk, itu tak lepas dari yang namanya kritikan. Aktivitas baik pun akan membuahkan kritikan, apalagi aktivitas buruk. Pengkritik tidak selamanya salah, namun tidak selamanya benar.

Terkadang maksud mengkritik itu baik, dengan tujuan agar seseorang mau membenahi diri, tetapi penyampaian kritik yang kurang tepat dapat dengan mudah membuat salah paham dan menghasilkan respon yang tidak baik dari pihak yang dikritik.

Terkadang pula kondisi hati yang lagi bad mood membuat orang salah persepsi dalam menilai sebuah kritikan. Misalkan teman anda berjerawat di keningnya, lalu anda menciumnya dengan maksud menunjukkan kasih sayang yang anda miliki pada teman tersebut, namun karena jerawat itu sakit bila disentuh, maka ciuman pada teman anda tersebut dapat menimbulkan reaksi marah. Maksud hati baik, namun kondisi tidak tepat, sehingga akan menimbulkan kejadian yang berakibat fatal.

Ada banyak tujuan maksud orang mengkritik, bisa karena peduli terhadap anda, juga sebaliknya, ada pula kritikan yang bersifat menjatuhkan. Anda bisa mendeteksinya dari pesan yang terkandung dari kritiknya dan dari adab dalam mengkritik. Jika mempunyai tujuan baik, pengkritik akan memilih menyampaikan kritik melalui cara yang santun dan bukan di tempat umum. Cara ini lebih cenderung akan membuat pihak yang dikritik bisa menerima dengan lapang dada, sepedas apapun kritik yang disampaikan. Namun jika kritikan tersebut di tempat umum, itu bisa membuat pihak yang dikritik tersinggung dan marah.

…Ada banyak tujuan maksud orang mengkritik, bisa karena peduli terhadap anda, juga sebaliknya, ada pula kritikan yang bersifat menjatuhkan…

Banyak cara menguatkan diri saat menghadapi kritikan, dan anda bisa menjadikan kritikan sebagai karunia besar dari Allah Yang Maha Rahman, antara lain:

1. Hadapi kritikan dengan sabar dan ikhlas

Anda semua tentunya tahu sejarah Rasul yang mulia saat mendakwahkan Islam ke bani Thaif. Saat itu istri tercinta beliau, Khadijah belum lama wafat. kesedihan menghampiri beliau, dan saat mendakwahkan Islam rahmatan lil ‘alamin, bukannya hal baik yang beliau terima, namun umpatan, makian dari warga yang terjadi saat itu, namun dengan penuh kesabaran Rasulullah bertahan dengan situasi yang pedih itu. Subhanallah, sebuah teladan yang sempurna bagi umatnya.

2. Jadikan kritikan sebagai training gratis untuk menguatkan kepribadian

Sekarang ini telah banyak diadakan seminar dan workshop pengembangan kepribadian oleh beberapa lembaga seperti Quantum Ikhlas, dll. Bahkan pembicara dari lembaga sejenis itu juga sudah merambah hingga ke luar negeri. Beberapa kali seminar seperti itu diadakan di negeri beton, dengan menghadirkan pembicara dari Indonesia, peserta selalu membludak. Walaupun biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit, tapi banyak peminat karena ingin ada peningkatan kualitas berpikir. Peserta harus mengikuti serangkaian program dan aturan yang ditentukan oleh pembicara.

Apa hubungannya antara kritik dengan seminar di atas?

Jika seminar di atas dilakukan berdasarkan pertimbangan yang matang, terencana, dan mengeluarkan uang, tapi hal ini tidak berlaku untuk sebuah kritik yang anda terima. Kritik itu bersifat spontan dari orang, tanpa diminta, anda bisa menjadikan kritikan dari orang lain untuk meningkatkan kekebalan mental secara gratis, maknai sebuah kritikan itu sebagai jembatan pembentukan pribadi yang kuat dan matang, jangan dipahami secara negatif yang dapat mengakibatkan semangat anda tercuri.

3. Nikmati kritikan-kritikan itu

Anda pasti tahu buah durian, aromanya yang menyengat membuat orang tidak tahan, namun rasa buahnya yang manis membuat lidah ingin mencicipinya. Jika anda termasuk orang yang tidak menyukai aroma durian, tapi menyukai rasa buahnya, cara paling efektif untuk memakannya adalah, nikmati saja rasa kelezatan buah durian, jangan fokus mencium baunya yang membuat anda ingin lari menjauhi. Begitupun sebuah kritikan, jangan fokus pada pedas dan menyakitkannya sebuah kritikan, tapi nikmati saja kritikan itu dengan santai, jadikan pembelajaran untuk menguatkan kesabaran.

…Jangan fokus pada pedas dan menyakitkannya sebuah kritikan, tapi nikmati saja kritikan itu dengan santai, jadikan pembelajaran untuk menguatkan kesabaran…

4. Berterima kasih pada pengkritik

Sulit memang menyembunyikan rasa kecewa bila dikritik oleh orang lain, tapi orang-orang yang berjiwa besar tidak menjadikan sebuah kritikan itu sebagai penghalang cita-citanya. Pepatah mengatakan,

‘Berterima kasihlah pada orang yang telah menjatuhkan anda, karena ia telah menguatkan kemampuan anda’. ‘Berterima kasihlah pada orang yang telah mengecam anda, karena ia telah menumbuhkan ketenangan dan kebijaksanaan anda’.

Jadi, makna kritikan itu hendaknya dipahami sebagai alat untuk menambah kebijaksanaan, kearifan, kedewasaan dalam menambah kualitas diri, bukan dipahami sebagai alat yang bersifat menjatuhkan.

You are what you think, anda sebesar perasaanmu.

Orang-orang besar seperti Thomas Alva Edison selalu menuai kritikan sewaktu proses melakukan riset, tetapi tidak pernah membuka telinga terhadap kritik yang dapat menjadi boomerang dalam meraih mimpinya.

5. Anda adalah nahkoda bagi hidup anda

Allah menganugerahkan hidup ini dengan sebaik-baik bentuk takdir, membekali kita akal yang berfungsi untuk berpikir, membedakan sesuatu yang baik dan buruk.

Anda bisa mendayagunakan anugerah Allah tersebut, hendak ke mana hidup ini anda bawa saat mengemudikan perahu anda, menuju pulau mimpi, tetapi di tengah perjalanan datanglah orang yang melubangi perahu anda, agar bocor dan air masuk ke dalam perahu anda. Apakah anda akan membiarkan orang tersebut menenggelamkan perahu anda, atau anda mencegah orang tersebut? Begitulah hidup, anda harus mempunyai serangkain mimpi/cita-cita, namun, janganlah mudah membiarkan orang lain merobek mimpi anda.

…Tak perlu takut atau marah terhadap kritik, jika anda yakin bahwa jalan yang di tempuh itu benar, teruslah melangkah…

6. Kritik itu sesuatu yang wajar

Kritik itu pasti akan mengikuti selama manusia itu bernafas, jadi tidak perlu fokus pada kritikan yang bersifat melemahkan, pepatah mengatakan, ’Tak seorang pun pernah meraih kesuksesan tanpa terlebih dahulu harus menggung hujan kritikan yang melemahkan hati dari kawan maupun lawan’, So tetap semangat terhadap segala kritik.

Jadi tidak perlu takut atau marah terhadap kritik, jika anda yakin bahwa jalan yang di tempuh itu benar, teruslah melangkah. [Yuli Anna Pendamba Surga/voa-islam.com]

READ MORE >>

Sabtu, 24 April 2010

Tips: Cara menghilangkan sifat pemalu, minder dan rendah diri


Sifat pemalu berbeda dengan sifat malu atau rasa malu. Sifat pemalu adalah karakter seseorang dengan sifat malu atau rasa malu yang berlebihan atau sering disebut minder. Sifat malu atau rasa malu harus dimiliki oleh setiaporang karena itu menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang bermoral. Apa jadinya kalau seorang tidak punya rasa malu. Mungkin dia akan telanjang di tengah jalan sepeti orang gila.

Begitu juga dengan sifat rendah diri, orang sering salah kaprah menyebut rendah diri sebagai rendah hati. Padahal keduanya sama sekali berbeda dan saling bertolak berlakang. Rendah diri adalah sikap yang timbul karena rasa minder dan kurang percaya diri. Sedangkan rendah hati adalah sebuah keadaan di mana seseorang terbebas dari sikap sombong dan meremehkan orang lain. Lalu bagaimana cara mengatasi sifat pemalu , minder dan rendah diri dalam diri seseorang? Ada beberapa tips yang bisa dilakukan.

1. Apa yang menyebabkan kamu merasa minder dan rendah diri?

Karena merasa banyak kekurangan? Karena merasa tidak mampu melakukan apa yang orang lain bisa lakukan?

Kita tidak harus selalu memandang ke atas. Kita juga tidak perlu menjadi orang lain. Jadilah diri sendiri dan itu sudah cukup menyenangkan. Mengenali potensi diri dan mengembangkannya adalah cara terbaik untuk meningkatkan rasa percaya diri. Jadi tidak perlu yang namanya malu atau minder

2. Siapa saja orang orang yang buat kamu malu dan minder?

Orang orang yang baru kamu kenal? Orang orang yang menurut kamu punya derajat lebih tinggi dari kamu?
Oke, mulailah dengan mengubah cara berfikir kamu. Setiap manusia adalah sama. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing bahkan untuk orang orang yang kamu anggap sempurna. Mereka sama seperti kamu, seperti saya, maka tidak ada alasan untuk merasa minder.

3. Berhentilah memikirkan kekurangan-kekuranganmu

Terimalah diri kamu apa adanya. Jadikan kekurangan kamu sebagai kelebihan. Tukul Arwana, adalah contoh yang tepat dalam hal ini. Lihat, bagaimana dia memaksimalkan kekurangannnya menjadi kelebihan yang justru tidak dimiliki orang lain. Selalu menutupi kekurangan hanya akan membuat kamu semakin terpuruk dalam sikap minder dan rendah diri.

4. Memperluas pergaulan

Bergaullah dengan orang orang yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Pelajari cara cara mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Cara mereka berkenalan dengan orang baru, cara mereka memperlakukan orang lain, cara menyikapi sebuah masalah, cara mengatasi situasi, dan lain lain. Banyak hal yang bisa kamu pelajari dan praktekan sendiri.

5. Mulailah belajar bertanya kepada orang baru

Belajar bertanya? Yups, bagi orang orang yang bukan pemalu bertanya kepada orang baru bukan sebuah masalah besar. Tapi, keadaan berbeda dengan orang orang pemalu. Rata rata dari mereka jarang sekali memulai pembicaraan atau sebuah pertanyaan. Hal ini hanya bisa dimengerti oleh orang yang sama sama pendiam.

6. Perhatikan penampilan

Mulailah memperhatikan penampilan kamu terutama saat keluar dari rumah. Penampilan yang baik dan maksimal dapat membantu kamu meningkatkan rasa percaya diri. Kamu tidak akan merasa minder dan malu saat bertemu dengan orang lain karena kamu sudah tampil All out. Menampilkan yang terbaik. Silakan baca artikel saya 8 Tips Agar Tampil Menarik.

7. Selalu bersikap tenang

Kesalahan utama orang orang pemalu adalah kurangnya self control (pengendalian diri). Terutama jika berada dalam situasi yang tertekan dan asing. Grogi, cemas, salah tingkah, berkeringat adlah beberapa indikasi seseorang sedang berada dalam tekanan. Sebenarnya hal itu bisa diatasi dengan beberapa tips ringan. Mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan akan membuat kita merasa sedikit lebih rileks dan tenang.

Singkirkan imajinasi negatif kamu mengenai apa yang sedang kamu hadapi. Hilangkan pemikiran bahwa orang orang sedang memperhatikan kamu dan berfikir negatif tentang kamu. Faktanya, semua berjalan biasa biasa saja tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Semua hal negatif kamu itu hanya ada dalam imajinasi kamu saja.

8. Coba sesuatu yang baru

Sering mencoba hal-hal baru akan lebih membuka wawasan serta pandangan kamu tentang hidup dan kehidupan. Yang pada akhirnya akan memberi kita sebuah pemahaman bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Semua manusia adalah sama. Kita punya kekurangan mereka juga. Mereka punya kelebihan kita pun memilikinya. Mereka bisa, maka kita juga bisa..!
"Keterbatasan hanyalah sebuah kesalahan dalam cara kita berfikir."

Seharusnya kita tidak memiliki satu pun alasan untuk merasa minder dan rendah diri..!
READ MORE >>

Jumat, 26 Maret 2010

Berpikir Besar Pesan Baru

by : Ovick Sang Musafir
Anda besar dengan berpikir besar. Anda kecil bila berpikir
kecil. Keterbatasan anda adalah pikiran anda. Mimpi
dianugerahkan agar anda bisa berpikir besar.

Maka bermimpilah menjadi besar. Mulailah dari pikiran anda.
Keberhasilan semata-mata bagaimana anda meletakkanya dalam
pikiran.

Tidak ada yang salah pada lingkungan sekitar.
Tidak pula salah pada waktu anda. Semua memberikan tempat
dan kesempatan bagi anda untuk meraih keberhasilan.
Tinggal anda mengambil langkah pertama, yaitu berpikir
besar.

Tak ada yang salah pada katak yang merindukan bulan.
Tak ada yang salah pada kera yang ingin menjadi dewa.
Jangan hiraukan ucapan orang lain. Bergaullah dengan
orang-orang yang berkepribadian besar.

Perlakukanlah diri anda dengan penuh rasa hormat, maka orang lain
akan menghormati anda sebagai orang besar.
dari :Keluarga Ukhuwah Islamiyah




READ MORE >>

Kamis, 18 Maret 2010

Di Saat Impian Belum Terwujud


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepadaNabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Setiap orang pasti memiliki impian dan cita-cita. Berbagai usaha pun dikerahkan untuk mencapai impian tersebut. Namun kadang usaha untuk menggapai impian kandas di tengah jalan dikarenakan berbagai rintangan dari dalam maupun dari luar. Tentu saja impian yang kami maksudkan di sini adalah impian yang logis yang bisa dicapai dan bukan hanya khayalan di negeri antah berantah. Di saat impian tadi belum terwujud, bagaimanakah cara untuk menggapainya? Semoga tulisan ini bisa memberikan solusi terbaik.

Belajar dari Kisah Ibrahim 'alaihis salam dan Istrinya

Suatu pelajaran yang patut dicontoh adalah kisah Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama istrinya, Sarah. Lihatlah impiannya untuk memiliki anak sekian lama, akhirnya bisa terwujud. Padahal ada tiga sebab yang menjadi penghalang ketika itu. Sarah sudah sangat tua, Ibrahim pun demikian dan Sarah adalah wanita yang mandul.[1] Ada ulama yang berpendapat bahwa ketika anaknya Ishaq itu lahir, Sarah berusia 90-an tahun dan Ibrahim berusia 100-an tahun.[2] Namun di usia sudah sangat senja seperti itu, Allah Ta'ala memudahkan mereka memiliki anak, yaitu Ishaq yang akan menjadi seorang Nabi. Mengenai kisah Ibrahim dan Sarah, kita dapat melihat dalam dua surat. Dalam kisah mereka, Allah Ta'ala menceritakan kedatangan tamu (para malaikat). Ia pun dan istrinya menjamu mereka dengan sangat baiknya dan malaikat tersebut membawa kabar gembira pada Ibrahim dan Sarah atas kelahiran Ishaq,

فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ (28) فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ (29) قَالُوا كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ (30)

“(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: "(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul". Mereka berkata: "Demikianlah Tuhanmu memfirmankan" Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. ” (QS. Adz Dzariyaat: 24-30)

Dalam surat Huud, Allah Ta'ala menceritakan,

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (71) قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ (72)

“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." ” (QS. Huud: 71-72)

Lihatlah bagaimana impian Sarah dan Ibrahim untuk memiliki anak baru terwujud setelah mereka berada di usia sangat-sangat tua. Ketika menyebutkan kisah ini, Allah Ta'ala pun mengatakan di akhir kisah bahwa Allah itu Al 'Alim (Maha Mengilmui) dan Al Hakim (Maha Bijaksana). Artinya, Allah Ta'ala memiliki ilmu yang sempurna. Sedangkan Allah itu Al Hakim menunjukkan bahwa Allah memiliki kehendak, keadilan, rahmat, ihsan, dan kebaikan yang sempurna. Di samping itu Allah Ta'ala pun betul-betul menempatkan sesuatu pada tempatnya. Inilah pelajaran di balik nama Allah Al Alim dan Al Hakim.[3] Suatu yang mustahil dapat terjadi jika Allah menghendaki. Suatu impian yang sulit terwujud dapat digapai dengan kekuasaan Allah. Allah Ta'ala berfirman,

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21). Maha Mulia Allah Ta'ala dengan segala sifat-sifatnya yang maha sempurna.

Pahamilah Takdir Ilahi

Ketahuilah setiap yang terjadi di muka bumi ini sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh sejak 50.000 tahun yang lalu sebelum penciptaan langit dan bumi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Jika seseorang mengimani takdir ini dengan benar, maka ia pasti akan memperoleh kebaikan yang teramat banyak. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” (Al Fawaid, hal. 94) [4]

Yang Allah takdirkan tidaklah sia-sia. Pasti ada hikmah di balik itu semua. Allah Ta'ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” (QS. Al Mu’minun: 115-116)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ (38) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq.” (QS. Ad Dukhan: 38-39). Oleh karena itu, jika impian itu belum terwujud, maka perlu kita pahami bahwa itulah ketentuan Allah. Allah menjanjikan hikmah di balik itu semua karena sifat hikmah yang sempurna yang Dia miliki.

Terus Tawakkal dan Berusaha Semaksimal Mungkin

Kita harus punya sifat optimis dengan selalu bertawakkal (menyandarkan hati pada Allah) dan tetap berusaha untuk menggapai impian yang kita cita-citakan. Ingatlah bahwa siapa saja yang bertakwa dan bertawakkal pada Allah Ta'ala dengan sebenar-benarnya, maka pasti Allah Ta'ala akan memberikan ia jalan keluar dan akan memberikan ia selalu kecukupan. Allah Ta'ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Perlu diperhatikan bahwa impian bukan sekedar angan-angan yang tidak ada realisasinya. Jika impian ingin dicapai, tentu harus ada usaha semaksimal mungkin. Cobalah kita saksikan contoh gampangnya adalah seekor burung ketika ia ingin menggapai impiannya untuk memperoleh makanan di hari itu, dia pun pergi ke luar sarangnya untuk mencari hajat yang ia butuhkan. Ketika pulang pun ia dalam keadaan tenang. Inilah yang diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Umar bin Al Khottob;derajat hasan). Lihatlah bagaimana seekor burung saja mewujudkan impiannya dengan mencari rizki, dengan berusaha semaksimal mungkin. Bagaimanakah lagi kita selaku insan yang diberi anugerah akal oleh Sang Kholiq?

Teruslah Memohon pada Allah

Untuk mewujudkan impian, janganlah lupakan Yang Di Atas. Kadang kita lalai dan hanya bergantung pada diri kita sendiri yang lemah dan tidak memiliki kemampuan apa-apa. Maka perbanyaklah do'a. Karena setiap do'a pastilah bermanfaat. Allah Ta'ala berfirman,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu'min: 60)

Jika ada yang bertanya, “Aku sudah seringkali berdo'a, namun mengapa impianku belum tercapai juga?” Kami bisa memberi jawaban sebagai berikut:

Pertama: Do'a boleh jadi terkabul, namun kita saja yang tidak mengetahui bentuk terkabulnya. Terkabulnya do'a bisa jadi dengan dipalingkan dari kejelekan dari do'a yang kita minta. Dan boleh jadi Allah simpan terkabulnya do'a tadi di akhirat kelak. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR. Ahmad, dari Abu Sa'id; derajat hasan)

Contohnya seseorang berdo'a, “Allahummar-zuqnii, Allahummar-zuqnii” (Ya Allah, berilah aku rizki. Ya Allah, berilah aku rizki). Boleh jadi do'a tersebut, Allah kabulkan segera atau diakhirkan. Allah Ta'ala Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba tersebut. Bahkan boleh jadi pula, Allah simpan do'a tersebut untuk meninggikan derajatnya di surga. Ini tentu saja lebih tinggi dari kebahagiaan di dunia. Kebahagiaan di akhirat kelak tentu jauh berbeda dari kebahagiaan di dunia. Malik bin Dinar mengatakan,

لو كانت الدنيا من ذهب يفنى ، والآخرة من خزف يبقى لكان الواجب أن يؤثر خزف يبقى على ذهب يفنى ، فكيف والآخرة من ذهب يبقى ، والدنيا من خزف يفنى؟

“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Lalu bagaimana lagi jika akhirat itu adalah emas yang akan kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang akan fana?”[5]

Kedua: Terkabulnya do'a boleh jadi diakhirkan agar seseorang tetap giat dan bersemangat dalam berdo'a. Ketika ia giat berdo'a, maka ia pun akan mendapatkan ketinggian derajat di akhirat kelak. Cobalah kita perhatikan apa yang terjadi pada para Nabi 'alaihimush sholaatu wa salaam. Mereka terus saja berdo'a dan memperbanyak do'a, namun terkabulnya do'a mereka diakhirkan agar mereka tetap semangat dalam berdo'a. Di antara contohnya adalah Nabi Ayyub 'alaihis salam yang diberi cobaan penyakit selama 18 tahun sehingga ia pun dijauhi kerabat dan yang lainnya. Namun ia tetap terus berdo'a dan berdo'a. Allah pun memujinya karena kesabarannya tersebut,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (QS. Shaad: 44)[6]

Ketiga: Boleh jadi do'a tersebut sulit terkabul karena beberapa faktor penghalang. Di antara faktor penghalang adalah seseorang mengangkat tangan ke langit, namun ia sering mengkonsumsi makanan, minuman dan menggunakan pakaian yang haram atau diperoleh dari hasil yang haram (sebagaimana disebut dalam hadits riwayat Muslim no. 1015, dari Abu Hurairah). Inilah yang membuat do'a seseorang sulit terkabul. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita rajin mengintrospeksi diri, siapa tahu do'a kita tidak kunjung terkabul karena sebab mengkonsumsi yang haram.

Penutup

Teruslah berusaha, memohon pada Allah, dan janganlah putus asa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim no. 2664, dari Abu Hurairah)

Jadikanlah impian kita semata-mata untuk tujuan akhirat dan bukan dunia semata. Jika ingin meraih kekayaan, jadikanlah ia sebagai amal sholih untuk tujuan akhirat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465, shahih)

Ketika impian tercapai, maka perbanyaklah syukur pada Allah dengan selalu taat dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Lihatlah bagaimana do'a Ibrahim ketika di usia senja ia masih diberi keturunan.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39)

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim: 39). Ada ulama yang mengatakan bahwa ketika Isma'il lahir, usia Ibrahim 99 tahun dan ketika Ishaq lahir, usia beliau 112 tahun.[7]

Semoga tulisan ini bermanfaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

(Artikel rumaysho)

Diselesaikan di saat safar di Pangukan-Sleman, 20 Rabi'ul Awwal 1431 H

[1] Faedah dari penjelasan Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di dalam Taisir Al Karimir Rahman, hal. 810, Muassasah Ar Risalah, Beirut, Libanon, cetakan pertama, 1423 H.

[2] Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Al Jalalain ketika menafsirkan surat Adz Dzariyat ayat 29.

[3] Lihat Ar Risalah At Tabukiyah (Zaadul Muhaajir), Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 42, terbitan Darul Hadits.

[4] Al Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 94, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H.

[5] Lihat Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/473, Mawqi' At Tafasir.

[6] Lihat penjelasan Syaikh Musthofa Al 'Adawi dalam Fiqh Ad Du'aa, hal 116, Maktabah Makkah, cetakan pertama, 1422 H.

[7] Lihat tafsir Al Jalalain ketika menjelaskan surat Ibrahim ayat 39.



READ MORE >>

Jumat, 12 Februari 2010

Cara Meningkatkan Produktivitas


Produktivitas adalah sangat penting bagi keberhasilan Anda. Apa pun profesi ini, produktivitas sangat dibutuhkan. Jika kita sebagai seorang karyawan, tentu kita akan dituntut untuk lebih produktif dalam bekerja. Perusahaan butuh karyawan yang produktif. Jika Anda seorang pebisnis, produktivitas akan meningkatkan keuntungan Anda. Lalu bagaimana cara meningkatkan produktivitas.

1. Pertama: Anda harus mau berubah. Jangan bermimpi Anda akan meningkatkan produktivitas Anda jika cara berpikir dan cara bekerja Anda tetap tidak berubah. Jadi langkah pertama ialah persiapkan diri Anda untuk berubah.
2. Kedua: Berpikir Di Luar Kotak. Untuk menemukan cara-cara baru, agar Anda bisa bekerja dengan lebih produktif, Anda harus berpikir di luar kotak. Lupakan cara-cara lama yang lambat, ganti dengan cara baru yang super cepat.
3. Ketiga: Berani Mengambil Keputusan dan Mengambil Resiko. Cara-cara baru memang mengandung resiko, tetapi ada peluang besar dibaliknya. Anda harus berani mengambil keputusan dan mengambil resiko, sebab jika tidak, Anda akan tetap bekerja dengan cara yang lambat.
4. Keempat: Tingkatkan kecepatan Anda bekerja. Bukan, bukan dengan tanpa istirahat. Anda bisa bekerja lebih cepat tetapi tetap istirahat, bahkan istirahat lebih baik. Anda harus menggunakan berbagai strategi, trik, alat, dan keterampilan tertentu untuk meningkatkan kecepatan Anda bekerja.
5. Kelima: Membangun Kebiasaan Produktif. Tahukah Anda kalau sebagian besar hidup Anda dikendalikan oleh kebiasaan. Jadi, jika Anda bisa membangun kebiasaan produktif maka otomatis tingkat produktivitas Anda akan naik.
6. Keenam: Jangan Lakukan Pekerjaan Rendah Nilai. Banyak orang yang terjebak dengan pekerjaan-pekerjaan bernilai rendah. Singkirkan pekerjaan tersebut, bayar orang, dan fokuslah pada 20% pekerjaan paling bernilai dalam hidup Anda.
7. Ketujuh: Atur Pekerjaan Agar Tidak Stress. Banyak pekerjaan akan membuat Anda stress, Anda perlu mengaturnya sedemikian hingga sehingga tingkat stress Anda berkurang. Maka, produktivitas Anda pun akan berkurang.
8. Kedelapan: Konsentrasi saat bekerja. Kenapa harus konsentrasi? Supaya Anda memberikan energi yang penuh, meminimalisir kesalahan, dan meningkatkan kualitas pekerjaan Anda. Dengan konsentrasi, pekerjaan Anda lebih cepat selesai dan kesalahan yang minimal.


READ MORE >>

Senin, 01 Februari 2010

renungan masa tua


Masa tua merupakan masa penentu kebahagiaan seseorang. Jika dia dalam masa tuanya sudah tidak lagi memikul berbagai beban dan problematika hidup, maka sungguh itu merupakan masa tua yang membahagiakan. Karena masa tua merupakan masa di mana seseorang sudah mulai mengurangi berbagai aktivitas hidup disebabkan menurunnya produktivitas dan kemampuan. Masa tua merupakan masa bagi seseorang menuai hasil kerja payahnya di masa muda. Jika seseorang sudah renta namun harus menanggung berbagai persoalan hidup, maka sungguh itu merupakan masa tua yang tidak membahagiakan. Di dalam kondisi yang sudah tidak mampu banyak berbuat, dia justru dituntut harus banyak berbuat. Dalam kondisi produktivitas menurun ia justru dituntut untuk berproduksi tinggi.


Adakah orang yang menginginkan masa tuanya sengsara? Adakah seseorang yang saat dia muda, punya banyak perusahaan dan kekayaan, lalu menginginkan agar nanti tatkala tua seluruh perusahaannya hancur tanpa dapat menikmatinya? Dan saat dia tidak mampu lagi untuk membangun perusahaannya itu? Pada saat bersamaan keturunannya belum bisa mandiri dan masih bergantung kepadanya? Lalu apakah yang dapat dia perbuat dengan tubuhnya yang sudah renta itu, dengan kemampuannya yang sudah mulai sirna itu? Sebuah gambaran yang seorang paling bodoh sekali pun tidak menginginkannya!

Itulah gambaran akhirat! Akhirat adalah puncak segala-galanya, penentu kebahagiaan dan kesengasaraan seseorang. Ibarat masa tua, akhirat adalah masa menuai, sedangkan kehidupan dunia adalah ibarat masa muda, masa bagi seseorang yang masih mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat. Justru di akhirat itulah manusia sangat membutuhkan terhadap hasil jerih payahnya tatkala di dunia, bukan di dunia sebagai hasil akhirnya. Maka merupakan kewajiban setiap muslim untuk senantiasa berorientasi terhadap kehidupan akhirat, sebagaimana manusia pada umumnya sangat berorientasi terhadap masa tuanya. Berbagai persiapan mereka lakukan, mengalokasikan dana pensiun masa tua, menginvestasikan harta untuk ini dan itu, membangun perusahaan dan bisnis, membeli lahan yang luas, dan masih banyak lagi yang mereka lakukan agar bisa hidup tenang di masa tua kelak.

Jika demikian khawatirnya manusia terhadap bayangan kebangkrutan masa tua di dunia, maka selayakanya mereka lebih khawatir lagi dengan “masa tua akhirat”. Dan itulah yang terjadi pada kaum salaf, para shahabat, tabi’in, para imam dan orang-orang shalih yang menempuh jalan mereka. Jika mereka ditaqdirkan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan rizki yang lapang (kaya), maka mereka sangat khawatir jika harta itu kelak akan mengurangi “jatah” mereka di akhirat. Sehingga mereka buru-buru menginfaqkan harta tersebut untuk sabilillah dan jalan-jalan kebaikan. Kesadaran mereka terhadap kebutuhan di akhirat sudah sedemikian besar, sehingga seluruh kemampuan mereka di dunia mereka gunakan untuk berbekal menyongsong kehidupan akhirat. Mereka telah menjual diri dan dunia mereka kepada Allah subhanahu wata’ala demi “masa tua” di akhirat, masa ketika mereka sudah tidak mampu lagi untuk beramal dan berbuat, masa ketika mereka menikmati usaha dan jerih payah di dunia. Mereka sangat khawatir jika di masa-masa ini, justru terjerumus dalam kebangkrutan dan kerugian yang besar.

Alangkah indahnya perumpamaan di dalam al-Qur’an tentang hal ini, sebagaimana firman-Nya, artinya, “Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (QS. al-Baqarah:266)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Telah berkata Umar bin al Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Aku membaca sebuah ayat di suatu malam yang membuatku terus begadang, yaitu (artinya), “Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur…dst” (QS.al-Baqrah:266). Apakah yang dimaksud oleh ayat itu?

Maka sebagian orang yang hadir berkata, “Allahu a’lam (Allah subhanahu wata’ala yang lebih Tahu).” Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sungguh aku tahu bahwa Allah itu Maha Tahu, namun aku bertanya jika salah seorang dari kalian mempunyai pengetahuan atau pernah mendengar tentang penjelasan ayat ini hendaknya memberitahukan apa yang telah dia dengar.” Maka orang-orang diam membisu, lalu dia melihatku sedang berbisik lirih. Kemudian berkata, “Katakan wahai anak saudaraku, janganlah engkau rendah diri (minder)”. Maka aku berkata, “Yang dimaksudkan ayat itu adalah amal.” Dia menghadap kami dan menjelaskan ayat itu dengan mengatakan, ” Engkau benar wahai putra saudaraku, maksud ayat itu adalah amal. Bahwa manusia paling butuh terhadap perkebunannya adalah ketika dia sudah lanjut usia dan banyak anak cucunya, dan keadaan manusia yang paling butuh terhadap amalnya adalah ketika di hari Kiamat. Engkau benar wahai putra saudaraku.” (Dikeluarkan oleh ‘Abd bin Humaid, Ibnul Mundzir, Ibnul Mubarak, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, al-Hakim dengan meringkas, dan dia menshahihkannya, dan kisah ini dikuatkan dengan riwayat imam al-Bukhari).

Ayat ini menerangkan, bahwa akhirat bagi seorang mukmin adalah segala-galanya. Sebagaimana dalam kehidupan dunia, masa tua adalah masa penentu kebahagiaan seseorang.

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebut kan bahwa menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ayat ini menjelaskan tentang perumpamaan seseorang yang tadinya kaya dan banyak melakukan amal kebaikan, lalu Allah subhanahu wata’ala mengujinya dengan melalui godaan syetan sehingga ia berbalik melakukan kemaksiatan, dan akhirnya amal-amal kebaikan tersebut lenyap tenggelam.

Jadi jelasnya ayat ini merupakan permisalan tentang amal seseorang yang tadinya dia senatiasa melakukan kebaikan-kebaikan, lalu di tengah perjalaan hidupnya dia berubah haluan menjadi melakukan keburukan-keburukan. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala dari hal itu. Akhirnya amalnya yang terkahir mengalahkan amalnya yang terdahulu yang baik. Kemudian ketika ia sangat butuh terhadap amalnya yang pertama, tatkala dalam kondisi sulit dan sempit (di akhirat) ternyata dia tidak memperolah pahala amal itu sedikit pun karena telah sirna.

Oleh karena itu dikatakan, “Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Yakni membakar buahnya dan menghangus kan pohon-pohonnya, dapat kita bayangkan bagaimana keadaannya!

Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari jalur al-Aufi dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Allah subhanahu wata’ala telah membuat perumpamaan yang sangat bagus, dan seluruh perumpamaan dari Allah adalah bagus. Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah, Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (QS. al-Baqarah:266)

Beliau berkata dalam permisalan firman Allah subhanahu wata’ala, “Kemudian datanglah masa tua pada orang itu, sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil di penghujung umurnya. Maka kebun itu ditimpa oleh angin keras yang mengandung api sehingga membakarnya, sedangkan dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk mengembalikan kebun itu seperti sedia kala. Pada saat yang sama keturunan nya masih belum bisa diandalkan untuk memperbaiki kondisi kebun itu agar lebih baik. Demikan juga dengan orang-orang kafir pada hari Kiamat, ketika mereka kembali ke hadapan Allah subhanahu wata’ala mereka tidak mempunyai kebaikan yang dapat diandalkan. Sebagaimana si empunya kebun itu sudah tidak mempunyai kekuatan dan apa-apa lagi untuk mengembalikan kebunnya seperti sebelumnya. Orang kafir itu tidak punya amal kebaikan yang dapat memberikan manfaat kepada dirinya, sebagaimana si pemilik kebun tidak bisa mendapat manfaat apa-apa dari anaknya yang masih lemah. Si kafir ini terhalang dari pahala pada saat ia sangat membutuh kannya sebagaimana si pemilik kebun ini tidak bisa menikmati hasil kebun di kala dia sangat butuh terhadapnya, yakni di masa ia sudah renta, dan anak cucunya pun tak mampu berbuat apa-apa.

Maka apakah anda ingin nanti di akhirat, tatkala anda butuh terhadap semua pahala kebaikan, namun pahala-pahala tersebut ternyata sirna?? Tentu tidak! Oleh karena itu hendaknya kita semua waspada dari perkara-perkara yang dapat merusak dan membatalkan amal kebaikan. (Abu Ahmad)

http://tarbiahmoeslim.wordpress.com/
READ MORE >>

Jumat, 29 Januari 2010

MERASA DIRI PALING MERANA


Saat itu saya tengah berada di kota Jeddah, Saudi Arabia. Terpapar dihadapan saya sebuah koran berbahasa Arab di lobby hotel. Tergerak saya melihat berita dan artikel yang tertulis di sana, hingga saya temukan sebuah tulisan yang amat bermanfaat ini.

Tersebutlah kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama Ra'fat. Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut yang ia idap. Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan membuat Ra'fat mengalami penyakit di atas.

Ra'fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga. Ra'fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti seorang pesakitan.




Demi mencari upaya sembuh, maka Ra'fat mengikuti saran dokter untuk berobat ke sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China. Ia berangkat ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah parah. Maka saat Ra'fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus diambil tindakan operasi segera. Ketika Ra'fat menanyakan berapa besar kemungkinan berhasilnya. Dokter menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty.

"50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak berhasil mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!" jelas sang dokter.

Mendapati bahwa boleh jadi ia bakal mati, maka Ra'fat berkata, "Dokter, kalau operasi ini gagal dan saya bisa mati, maka izinkan saya untuk kembali ke negara saya untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang saya kenal. Saya khawatir bila mati menghadap Allah Swt namun saya masih punya banyak kesalahan terhadap orang yang saya kenal." Ra'fat berkata sedemikian sebab ia takut sekali atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.

Dengan enteng dokter membalas, "Terlalu riskan bagi saya untuk membiarkan Anda tidak segera mendapatkan penanganan. Penyakit liver ini sudah begitu akut. Saya tidak berani menjamin keselamatan diri Anda untuk kembali ke tanah air kecuali dalam 2 hari. Bila Anda lebih dari itu datang kembali ke sini, mungkin Anda akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver Anda."

Bagi Ra'fat 2 hari itu cukup berarti. Ia pun berjanji akan kembali dalam tempo itu. Serta-merta ia mencari pesawat jet yang bisa disewa dan ia pun pergi berangkat menuju tanah airnya.

Kesempatan itu betul-betul digunakan oleh Ra'fat untuk mendatangi semua orang yang pernah ia kenal. Satu per satu dari keluarga dan kerabat ia sambangi untuk meminta maaf dan berpamitan. Kepada mereka Ra'fat berkata, "Maafkan aku, Ra'fat yang kalian kenal ini sungguh banyak kesalahan dan dosa... Boleh jadi setelah dua hari dari sekarang saya sudah tidak lagi panjang umur..."

Itulah yang disampaikan Ra'fat kepada orang-orang. Dan setiap dari mereka menangis sedih atas kabar berita yang mereka dengar dari orang yang mereka cintai dan kagumi ini.

Ra'fat menyambangi satu per satu dari mereka. Meski dengan tubuh yang kurus tak berdaya, ia berniat mendatangi mereka untuk meminta doa dan berpamitan. Dan kondisi itu membuat Ra'fat menjadi sedih. Ia merasa menjadi manusia yang paling merana. Ia merasa tak berdaya dan tak berguna. Sering dalam kesedihannya ia membatin, "Ya Allah.... rupanya keluarga yang mencintai aku.... harta banyak yang aku miliki... perusahaan besar yang aku punya.... semuanya itu tidak ada yang mampu membantuku untuk kembali sembuh dari penyakit ini! Semuanya tak ada guna... semuanya sia-sia!"

Rasa emosi batin itu membuat tubuh Ra'fat bertambah lemah. Ia hanya mampu perbanyak istighfar memohon ampunan Tuhannya. Memutar tasbih sambil berdzikir kini menjadi kegiatan utamanya. Ia masih merasa bahwa dirinya adalah manusia yang paling merana di dunia.

Hingga saat ia sedang berada di mobilnya. duduk di kursi belakang dengan tangan memutar tasbih seraya berdzikir. Hanya Ra'fat dan supirnya yang berada di mobil itu. Mereka melaju berkendara menuju sebuah rumah kerabat dengan tujuan berpamitan dan minta restu. Saat itulah menjadi moment spesial yang tak akan terlupakan untuk Ra'fat.

Beberapa ratus meter di depan, mata Ra'fat melihat ada seorang wanita berpakaian abaya (pakaian panjang wanita Arab yang serba berwarna hitam) tengah berdiri di depan sebuah toko daging. di sisi wanita tadi ada sebuah karung plastik putih yang biasa menjadi tempat limbah toko tersebut. Wanita tadi mengangkat dengan tangan kirinya sebilah tulang sapi dari karung. Sementara tangan kanannya mengumpil dan mencuil daging-daging sapi yang masih tersisa di pinggiran tulang.

Ra'fat memandang tajam ke arah wanita tersebut dengan pandangan seksama. Rasa ingin tahu membuncah di hati Ra'fat tentang apa yang sedang dilakukan wanita itu. Begitu mobilnya melintasi sang wanita, sekilas Ra'fat memperhatikan. Maka ia pun menepuk pundak sang sopir dan memintanya untuk menepi.

Saat mobil sudah berhenti, Ra'fat mengamati apa yang dilakukan oleh sang wanita. Entah apa yang membuat Ra'fat menjadi penasaran. Keingintahuannya membuncah. Ia turun dari mobil. lemah ia membuka pintu, dan ia berjalan tertatih-tatih menuju tempat wanita itu berada.

Dalam jarak beberapa hasta Ra'fat mengucapkan salam kepada wanita tersebut namun salamnya tiada terjawab. Ra'fat pun bertanya kepada wanita tersebut dengan suara lemah, "Ibu..., apa yang sedang kau lakukan?"

Rupanya wanita ini sudah terlalu sering diacuhkan orang, hingga ia pun tidak peduli lagi dengan manusia. Meski ada yang bertanya kepadanya, wanita tadi hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah si penanya. Sambil mengumpil daging wanita itu berkata, "Aku memuji Allah Swt yang telah menuntun langkahku ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 orang putriku tidak makan. Namun hari ini, Dia Swt membawaku ke tempat ini sehingga aku dapati daging limbah yang masih bertengger di sisi tulang sisa. Aku berencana akan membuat kejutan untuk ketiga putriku malam ini. Insya Allah, aku akan memasakkan sup daging yang lezat buat mereka...."

Subhanallah. ...! bergetar hebat relung batin Ra'fat saat mendengar penuturan kisah kemiskinan yang ada di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka ada manusia yang melarat seperti ini. Maka serta-merta Ra'fat melangkah ke arah toko daging. Ia panggil salah seorang petugasnya. Lalu ia berkata kepada petugas toko, "Pak..., tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun!"

Kalimat yang meluncur dari mulut Ra'fat membuat wanita tadi menghentikan kegiatannya. Seolah tak percaya, ia angkat wajah dan menoleh ke arah Ra'fat. Kini mata wanita itu menatap dalam mata Ra'fat seolah ia berterima kasih lewat sorot pandang.

Merasa malu ditatap seperti itu, Ra'fat menoleh ke arah petugas toko. Ia pun berkata, "Pak..., tolong jangan buat 1 kg dalam seminggu, aku rasa itu tidak cukup. Siapkan 2 kg dalam seminggu dan aku akan membayarnya untuk setahun penuh!" Serta-merta Ra'fat mengeluarkan beberapa lembar uang 500-an riyal Saudi lalu ia serahkan kepada petugas tadi.

Usai Ra'fat membayar dan hendak meninggalkan toko daging, maka terhentilah langkahnya saat ia menatap wanita tadi tengah menengadah ke langit sambil mengangkat kedua belah tangannya seraya berdoa dengan penuh kesungguhan:

"Allahumma ya Allah... berikanlah kepada tuan ini keberkahan rezeki. Limpahkan karunia-Mu yang banyak kepadanya. Jadikan ia manusia mulia di dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan batin.....dst"

Panjang sekali doa yang dibaca oleh wanita tersebut. Kalimat-kalimat doa itu terjalin indah naik ke langit menuju Allah Swt. Bergetar arsy Allah Swt atas doa yang dibacakan sehingga getaran itu terasa di hati Ra'fat. Ia mulai merasakan ketentraman dan kehangatan. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hampir saja Ra'fat menitikkan air mata saat mendengar jalinan indah kalimat doa wanita tersebut. Andai saja ia tidak merasa malu, pastilah buliran air mata hangat sudah membasahi pipinya. Namun bagi Ra'fat pantang menangis..., apalagi dihadapan seorang wanita yang belum ia kenal.

Ra'fat lalu memutuskan untuk meninggalkan wanita tersebut. Ia berjalan tegap dan cepat menuju mobilnya. Dan ia belum juga merasakan keajaiban itu! Ya, keajaiban yang ditambah saat Ra'fat membuka dan menutup pintu mobil dengan gagah seperti manusia sehat sediakala!!!

Sungguh doa wanita itu memberi kedamaian pada hati Ra'fat. Sepanjang jalan di atas kendaraan Ra'fat terus tersenyum membayangkan doa yang dibacakan oleh sang wanita tadi. Perjalanan menuju rumah seorang kerabat itu menjadi indah.

Sesampainya di tujuan lalu Ra'fat mengutarakan maksudnya. Ia berpamitan dan meminta restu. Ia katakan boleh jadi ia tidak lagi berumur panjang sebab sakit liver akut yang diderita.

Anehnya saat mendengar berita itu dari Ra'fat, sang kerabat berkata, "Ra'fat..., janganlah engkau bergurau. Kamu terlihat begitu sehat. Wajahmu ceria. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa engkau sedang sakit."

Awalnya Ra'fat menganggap bahwa kalimat yang diucapkan kerabat tadi hanya untuk menghibur dirinya yang sedang sedih. Namun setelah ia mendatangi saudara dan kerabat yang lain, anehnya semuanya berpendapat serupa.

Dua hari yang dimaksud pun tiba. Ia didampingi oleh istri dan beberapa anaknya kembali datang ke China. Hari yang dimaksud untuk menjalani operasi sudah disiapkan. Sebelum masuk ruang tindakan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan itu dipelajari maka ketua tim dokter pun bertanya keheranan kepada Ra'fat dan keluarga:

"Aneh....! dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra'fat rusak parah dan harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver ini menjadi sempurna lagi?!"

Kalimat dokter itu membuat Ra'fat dan keluarga menjadi bahagia. Berulangkali terdengar kalimat takbir dan tahmid di ruangan meluncur dari mulut mereka. Mereka memuji Allah Swt yang telah menyembuhkan Ra'fat dari penyakit dengan begitu cepat. Siapa yang percaya bahwa Allah yang memberi penyakit, maka ia pun akan yakin bahwa hanya Dia Swt yang mampu menyembuhkan. Jangan bersedih dan merasa hidup merana. Sadari bahwa dalam kegetiran ada hikmah bak mutiara!

Cahaya Langit,

Bobby Herwibowo
READ MORE >>

Bingkai Kehidupan

"Save Palestine" Demonstration in Semarang

"Save Palestine" Demonstration in Semarang
Semarang, 21 Maret 2010

Mars PKS

Mars Partai Keadilan SEJAHTERA - Watch more Videos at Vodpod.

Harapan Masih Ada

Aktifitas Aleg DPRD Kota Semarang


Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur

Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur
Evendi Sunarko, SPd dan Sutopo, SE

Sekretariat DPC

Dewan Pengurus Cabang
Partai Keadilan Sejahtera
Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang
Jl. Menoreh Utara I/7 Semarang-Jawa Tengah
Telp (024)8501042

Jadwal Sholat

 

Copyright © 2009 by DPC PKS Gajahmungkur Rindu Semarang Berubah Powered By Blogger Design by PKSGM-Team