Simple Template For Entertainment News


Tempat Informasi Kegiatan Kader DPC PKS Gajahmungkur


GALLERY


Senin, 07 Desember 2009

Sok Herois Tapi Egois

ZAMAN Rambo sudah berlalu. Bruce Lee pun tinggal kenangan. Lagipula, manalah mungkin seorang diri belaka melawan dan menaklukkan musuh yang banyak. Film-film macam itu tak seronok menontonnya, walaupun film hanya sekedar hiburan. Jangan khilaf jika ada yang berpendapat, bahwa film pun adalah pencerahan. Tak sekedar killing time!

Skandal Bank Century pun bukanlah hiburan. Tapi sesuatu yang sangat serius, karena jika benar telah merugikan negara sebesar Rp 6,7 triliun, bukan angka yang kecil. Jika digunakan untuk membeli mesin pembangkit baru listrik, mungkin bisa mencapai 600 sampai 1000 Megawatt. Sedikitnya ikut menolong mengatasi “penyalaan bergilir” yang masih menghantui.

Yang menggetarkan hati, sekarang ramai-ramai pihak yang berkehendak misteri kasus Century tersibak. Tidak bergaya Rambo, sang single fighter. Ada Pansus Angket, BPK, PPATK, KPK, Polri. Berbagai elemen masyarakat, seperti ICW dan sebagainya.Berbagai tokoh, Amie Rais, Gus Dur, Megawati Syafii Ma’arif dan Hasyim Mudjadi. Termasuk Menteri Keuangan Srimulyani, Wapres Boediono dan Presiden Yudhoyono.

Fenonema tersebut menggirangkan hati. Musuh bersama hanya satu, yakni mereka yang bermain, jika benar, dalam kasus Bank Century. Namun kita terperangah, jika front bersama tersebut terpecah dan saling berlomba mencari kredit poin dan pada akhirnya sebuah prestasi sebagai “hero” dalam mengungkapkan kasus itu.

Posisi pimpinan Panitia Angket saja di DPR terkesan diperebutkan. Ada yang menghendaki yang duluan menyoal kasus inilah yang menjadi pimpinan dan bukan yang datang belakangan. Maklum, semula fraksi PDIP dan Golkar lah yang menjadi pionir. Fraksi Demokrat tadinya “diam” tapi kini ikut menyokong.

Kesannya seolah-olah jika Fraksi Demokrat menjadi pimpinan, maka panitia angket akan tersendat-sendat jika arah penyelidikan menuju partainya sendiri, meskipun penyelidikan belum berlangsung. Artinya, belum ada data yang akurat menunjukkan kemungkinan itu.

Kritisisme memang tidak salah sepanjang tidak paranoid. Skeptisme adalah babak pengujian yang tak ada salahnya. Sebab bila pun fraksi lain menjadi pimpinan panitia angket bisa juga kritisisme ditampilkan, misalnya kalau-kalau temuan panitia nanti dijadikan pula bargaining dalam kasus politik dan hukum.

Kedua gejala itu, jika boleh disebut demikian, tak perlu ada. Tapi semua pihak fokus kepada tujuan bersama, yakni tersibaknya misteri kasus Bank Century yang ramai diperdebatkan. Jangan sampai ketika panitia angket bekerja, sesama mereka saling sikut pula. Ini tontonan yang tak lucu!

Gejala itu diperkuat dengan tuduhan kelompok Bendera bahwa aliran dana itu mengalir ke Partai Demokrat, yang kemudian menuai pengaduan partai itu sebagai kasus pencemaran nama baik ke Polda Metrojaya. Ironisnya, kasus Century belum tuntas, sudah muncul kasus lain.

Saling berlomba menjadi “hero” dan berlomba pula “paling bersih” rasanya bisa membuat strategi untuk mencapai tujuan bersama menjadi terhalang. Tak berarti gairah beramai-ramai menjadi “penghalang” pula.

Ibarat sebuah kesebelasan sepak bola, kelihatan semua pemain berlomba hendak menjadi goal getter. Akibatnya, tak ada yang mau memberi umpan ala striker. Ujung-ujungnya bola tak kunjung gol, dan kesebelasan itu kalah dengan getir. Penonton pun masygul.

Jangan Monopoli
Dalam kisah klasik China pernah terjadi seorang musuh bersama tak kunjung mati terbunuh karena terlalu banyak pihak yang ingin membunuhnya. Saban ada yang hendak membunuhnya, ada saja yang menghalanginya. Rupanya setiap pendekar ingin merebut nama sebagai hero sehingga tujuan bersama tak tercapai.

Padahal, dalam kasus Century, suasana sangat kondusif dan favourable. Sarana yang mengusut kasus Century tersedia, payung hukumnya ada, tenaganya ada. Namun tujuan bersama belum tentu tercapai jika terjadi perlombaan, dan persaingan hendak menjadi hero.

Jika masing-masing pihak mempunyai tujuan dan agenda kepentingan yang berbeda-beda pula, jadilah strategi menjadi tidak selaras. Tak mustahil saling menikung, dan tujuan bersama semakin rapuh dan jauh.

Tampaknya, kepentingan individu dan kepentingan kelompok haruslah diselaraskan dengan kepentingan bersama dan jangan sampai saling berbenturan. Janganlah masih-masing pihak memberikan tontonan yang menjengkelkan rakyat banyak. He, Bung, rakyat bisa melihat, menilai sebelum menjatuhkan vonis, siapa yang benar-benar berbuat untuk kepentingan bersama.

Boleh saja, dan siapa saja berhak berperan sehingga ikhtiar menyelesaikan kasus Century tercapai tetapi tidak bermain monopoli. Keragaman itu perlu keselarasan, sehingga menjadi sebuah harmoni yang indah, jika diibaratkan dalam dunia musik. Lao Tzu berkata, bahwa nada tinggi dan rendah akan menciptakan musik, bukan?

Saya membayangkan semua kekuatan elemen bangsa, termasuk kelembagaan yang berperan menyingkapkan kasus itu bagaikan anak-anak sungai yang mengalir dari air di lereng dan kaki bukit, tapi akhirnya bersatu di sungai besar. Sungai inilah yang kemudian mengalir ke kuala tujuan bersama, idaman bersama anak negeri ini.

Sebab jika tidak “menyatu” kita terbayang akan banyak sekali tampil para Rambo atau Bruce Lee. Bukannya mereka hendak mengalahkan musuh, tapi saling bertarung satu sama lain, dan akhirnya satu persatu keok. Pemenang terakhir pun sudah lelah dan letih kehilangan energi, sehingga dengan mudah ditaklukkan oleh sang musuh bersama.

Jika itu yang terjadi, maka pepatah lama “arang habis besi binasa” pun terjadi. Sementara besi yang hendak ditempa menjadi cangkul, atau traktor sebagai metafor tujuan bersama hanya tinggal angan-angan belaka. Kelak generasi mendatangkan pun menertawai kita, dan berkata, “inilah mereka yang sok herois tapi egois.” (*)

Comments :

0 komentar to “Sok Herois Tapi Egois”

Posting Komentar


Jadwal Sholat

 

Copyright © 2009 by DPC PKS Gajahmungkur Rindu Semarang Berubah Powered By Blogger Design by PKSGM-Team