Simple Template For Entertainment News


Tempat Informasi Kegiatan Kader DPC PKS Gajahmungkur


GALLERY


Minggu, 02 Mei 2010

Renungan mengingat “KEMATIAN”


Adakah orang yang mendebat kematian dan sakaratul maut? Adakah orang yang mendebat kubur dan azabnya? Adakah orang yang mampu menunda kematiannya dari waktu yang telah ditentukan? Mengapa manusia takabur padahal kelak akan dimakan ulat? Mengapa manusia melampaui batas padahal di dalam tanah kelak akan terbujur? Mengapa berandai-andai, padahal kita mengetahui kematian akan datang secara tiba-tiba?

“Sesungguhnya kematian adalah haq, pasti terjadi, tidak dapat disangkal lagi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS: Qaaf: 19)

Adalah salah bila seseorang yang mengira bahwa kematian itu hanya ke-fana-an semata dan ketidak-adaan secara total yang tidak ada kehidupan, perhitungan, hari dikumpulkan, kebangkitan, surga atau neraka padanya!! Sebab andaikata demikian, tentulah tidak ada hikmah dari penciptaan dan wujud kita. Tentulah manusia semua sama saja setelah kematian dan dapat beristirahat lega; mukmin dan kafir sama, pembunuh dan terbunuh sama, si penzhalim dan yang terzhalimi sama, pelaku keta’atan dan maksiat sama, penzina dan si rajin shalat sama, pelaku perbuatan keji dan ahli takwa sama.

Pandangan tersebut hanyalah bersumber dari pemahaman kaum atheis yang mereka itu lebih buruk dari binatang sekali pun. Yang mengatakan seperti ini hanyalah orang yang telah tidak punya rasa malu dan menggelari dirinya sebagai orang yang bodoh dan ‘gila.’ (Baca: QS: At-Taghabun:7, QS: Yaasiin: 78-79)

Kematian adalah terputusnya hubungan ruh dengan badan, kemudian ruh berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dan seluruh lembaran amal ditutup, pintu taubat dan pemberian tempo pun terputus.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Alloh menerima taubat seorang hamba selama belum sekarat.” (HR: At-Turmu-dzi dan Ibn Majah, dishahihkan Al-Hakim dan Ibn Hibban)

Kematian Merupakan Musibah Paling Besar!!

Kematian merupakan musibah paling besar, karena itu Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menamakannya dengan ‘musibah maut’ (QS: Al-Maidah:106). Bila seorang hamba ahli keta’atan didatangi maut, ia menyesal mengapa tidak menambah amalan shalihnya, sedangkan bila seorang hamba ahli maksiat didatangi maut, ia menyesali atas perbuatan melampaui batas yang dilakukannya dan berkeinginan dapat dikembalikan ke dunia lagi, sehingga dapat bertaubat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dan memulai amal shalih. Namun! Itu semua adalah mustahil dan tidak akan terjadi!! (Baca: QS: Fushshilat: 24, QS: Al-Mu’minun: 99-100)

Ingatlah Penghancur Segala Kenikmatan!!

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan agar banyak mengingat kematian. Beliau bersabda, yang artinya: “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (maut)” (HR: At-Tirmidzi, hasan menurutnya). Imam Al-Qurthubi rahimahulloh berkata, “Para ulama kita mengatakan, ucapan beliau, “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan”, merupakan ucapan ringkas tapi padat, menghimpun makna peringatan dan amat mendalam penyampaian wejangannya. Sebab, orang yang benar-benar mengingat kematian, pasti akan mengurangi kenikmatan yang dirasakannya saat itu, mencegahnya untuk bercita-cita mendapatkannya di masa yang akan datang serta membuatnya menghindar dari mengangankannya, sekalipun hal itu masih memungkinkannya.

Namun jiwa yang beku dan hati yang lalai selalu memerlukan wejangan yang lebih lama dari para penyuluh dan untaian kata-kata yang meluluhkan sebab bila tidak, sebenarnya ucapan beliau tersebut dan firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Ali ‘Imran ayat 185, (artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”) sudah cukup bagi pendengar dan pemerhati-nya.!!”

Siapa Orang Yang Paling Cerdik?

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Alloh, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR: Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri)

Faedah Mengingat Kematian

Di antara faedah mengingat kematian adalah:
- Mendorong diri untuk bersiap-siap menghadapi kematian sebelum datangnya.
- Memperpendek angan-angan untuk berlama-lama tinggal di dunia yang fana ini, karena panjang angan-angan merupakan sebab paling besar lahirnya kelalaian.
- Menjauhkan diri dari cinta dunia dan rela dengan yang sedikit.
- Menyugesti keinginan pada akhirat dan mengajak untuk berbuat ta’at.
- Meringankan seorang hamba dalam menghadapi cobaan dunia.
- Mencegah kerakusan dan ketamak-an terhadap kenikmatan duniawi.
- Mendorong untuk bertaubat dan mengevaluasi kesalahan masa lalu.
- Melunakkan hati, membuat mata menangis, memotivasi keinginan mempelajari agama dan mengusir keinginan hawa nafsu.
- Mengajak bersikap rendah hati (tawadhu’), tidak sombong, dan berlaku zhalim.
- Mendorong sikap toleransi, me-ma’afkan teman dan menerima alasan orang lain.


Wallahu ‘a’lam bishshawab.

~tebArkan SLm & JADikaN LAh HAri INi lebiH baik darI PD hari KEmariN~

sumber : http://tarbiahmoeslim.wordpress.com/

pks-gajahmungkur.blogspot.com

READ MORE >>

Orisinalitas Dakwah


oleh : Ust. Hilmi Aminuddin

Jika kita berbicara tentang ashalah dakwah, tentu saja ini sebuah masalah yang besar, karena terkait langsung dengan ashalah Islamiyah. Tidak mungkin dibicarakan dalam 1–2 halaman situs ini. Orisinalitas dakwah tidak memiliki mabadi (prinsip), kecuali mabadi imaniyah dan fikriyah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tulisan ini adalah upaya untuk menyegarkan pemahaman kita.

Ashalah dakwah islamiyah itulah yang dipakai gerakan Islam di mana-mana, tak ada perbedaannya. Betapa luasnya pembicaraan tentang ashalah dakwah seluas pembahasan tentang Islam. Salah satu keistimewaan dakwah ialah ruang lingkup yang tercakup dalam syumuliyah dan takamuliyah (universalitas dan integralitas) ajaran Islam, juga keterpaduan dari perjuangan, tatanan, serta sistem yang diterapkan.

Masalah syumuliyah dan takamuliyah itu lebih ke pendekatan prinsipil, tetapi dari pendekatan operasional terlihat kemampuan dakwah Islam kontemporer untuk mewarisi nilai-nilai Islam dan nilai-nilai dakwah dari para Rasul dan Anbiya, para shahabat Nabi dan juga para salafus shalih. Kemampuan itu dalam bentuk tawazun (keseimbangan) dalam melakukan langkah-langkah ta’shiliyah (orisinalisasi) dan tathwiriyah (improvisasi), mutawazinah baina khuthuwat al ta’shiliyah wa khuthuwat al tathwiriyah.

Itulah salah satu tamayuz (keistimewaan) dakwah kontemporer yang sebenarnya merupakan tamayuz islami yang banyak diabaikan gerakan dakwah, meskipun kita respek dan mengakui eksistensi perjuangan mereka sekaligus mengakui keikhlasan dan pengorbanan mereka dalam berjuang. Tetapi, qudrah ad da’wah dalam menyeimbangkan ta’shiliyah dan tathwiriyah di zaman modern ini harus benar-benar dilaksanakan secara konsisten.

Sudah barang tentu, apabila kita membahas dakwah antara upaya orisinalisasi dan improvisasi perlu waktu yang panjang. Di sini saya hanya ingin menyampaikan sedikit sebagai dzikra (peringatan) dan sebagai resume terhadap perjalanan dakwah yang sudah kita lakukan.

Konsistensi kita dalam menjaga ta’shil dan tathwir sangat penting bagi keselamatan kita sendiri, baik secara pribadi maupun sebagai sebuah entitas gerakan dakwah. Sebab, tanpa adanya keseimbangan antara orisinalitas dan modernitas akan banyak sekali kemungkinan penyimpangan dakwah akibat mengabaikan prinsip keaslian dan pengembangannya. Kita mengetahui universalitas dan integralitas dakwah tergambar dari upaya membangun hablun minallah dan hablun minannas yang baik.

Kemampuan kita dalam menjaga keseimbangan dari aspek ta’shil bertitik berat pada utuhnya komitmen kita kepada Allah dan Rasul-Nya, al Kitab dan as Sunnah. Sementara konsistensi kita dalam membangun khuthuwat at tathwiriyah adalah menjaga hablun minannas dengan baik. Tanpa kedua aspek itu, maka akan terjadi inkhirafat (penyimpangan) yang menimbulkan bala dan malapetaka di dunia dan akhirat.

Kemampuan kita dalam mengelola dakwah dari sisi ta’shiliyah lebih dekat kepada konteks hubungan kita dengan Allah dari aspek moral, ma’nawiyah dan ruhiyah yang dibentengi dengan sehatnya aqidah kita dari kemusyrikan yang kecil maupun besar, dari kemusyrikan yang tampak maupun tersembunyi, yang menyelinap dalam pikiran kita. Dengan selalu memperhatikan khuthuwat ta’shiliyah kita memelihara keutuhan ruhiyah, fikriyah, dan manhajiyah secara baik.

Salah satu cara untuk mempertahankan kesadaran tentang pentingnya khuthuwat ta’shiliyah, dalam konteks pembinaan di masa tamhidiyah atau takwiniyah, adalah kesadaran akan posisi manusia (manzilat al insan) di hadapan Allah Ta’ala.

Pertama, posisi manusia sebagai makhluk penting disadari, betapapun tingginya ilmu dan jenjang keulamaan kita, betapapun terhormatnya jabatan kita di masyarakat atau negara. Menghidupkan kesadaran akan posisi sebagai makhluk penting dalam aspek ketergantungan kepada Sang Khaliq. Tidak satupun makhluk ciptaan yang tidak bergantung kepada Pencipta-nya.

Tidak ada satupun produk yang tidak memiliki ketergantungan pada pembuatnya. Produk keluaran pabrik saja, merek-merek mobil yang terkenal sekalipun tergantung dari produsen yang membuatnya, baik ketergantungan teoretis dengan petunjuk manualnya, maupun ketergantungan atas software atau hardware dalam beragam spare parts yang besar maupun kecil. Itu tampak sepele, namun sangat penting untuk menunjukkan kesadaran kita bahwa manzilah kita di hadapan Allah hanyalah makhluk. Itu merupakan modal dasar untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Kesadaran kedua dari manusia di hadapan Allah adalah sebagai hamba. Kesadaran ini penting dibangun sebagai apresiasi dari keinginan, kehendak, dan rencana yang sangat terkait dengan grand design yang sudah ditentukan Allah. Kesadaran sebagai makhluk bersifat mutlak, sedang kesadaran sebagai hamba bisa relatif, banyak yang menolak. Kita tidak mempunyai kehendak apapun, kecuali dengan apa yang dikehendaki Allah Ta’ala. Ayat al-Qur’an banyak menjelaskan sisi aqidah dengan memusatkan kesatuan kehendak, keinginan, dan rencana segala sesuatu sesuai dengan iradah-Nya. Itulah tugas manusia sebagai hamba-Nya.

Ketiga, kesadaran manusia sebagai junud (tentara) Allah. Sebagai prajurit kita harus merasakan adanya jalur komando dari Allah dan Rasul-Nya yang mutlak ditaati, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an. Itulah posisi kita sebagai prajurit yang senantiasa siap menerima komando. Insya Allah, jika ketiga jenis kesadaran itu dijaga dengan baik melalui upaya-upaya ta’shil yang mengarah pada ashalah islamiyah dan dakwah, maka gerakan akan senantiasa tumbuh.

Setelah kesadaran akan posisi manusia, maka selanjutnya kesadaran akan watak asli manusia (thabiat al insan). Humanity by nature, kata orang, kemanusiaan yang sesuai dengan tabiat yang telah ditentukan Allah. Kesadaran ini penting agar kita tidak terjebak pada persepsi-persepsi yang mungkin timbul dari rencana-rencana terhadap evaluasi tarbiyah, seolah-olah hal itu akan mengangkat dan melepaskan kita dari watak kemanusiaan. Kita dididik melalui proses tarbiyah untuk mengutuhkan kemanusiaan kita, bukan melepaskannya, baik menuju kemuliaan yang seringkali diidentikkan dengan watak malaikat. Kita tetap seorang manusia, namun ingin menjadi manusia seutuhnya. Yang penting bagaimana mengelola kelebihan dan kekurangan yang kita miliki.

Jangan digambarkan dari proses tarbiyah akan muncul insan yang kamil tanpa cacat. Kita adalah manusia sebagaimana Ibnu Adam lain yang memang diberi kehormatan, tetapi tetap saja bisa lupa dan sering berbuat salah. Manusia adalah makhluk yang sering berbuat salah. Kesadaran itu sangat penting agar dengan kelebihan dan kekurangan manusiawi kita bisa mengelolanya. Dengan demikian kita akan terjaga dari ghurur (arogansi) seperti Fir’aun yang merasa dirinya adalah Tuhan, atau juga terjaga dari keputusasaan yang melumpuhkan dakwah. Kita berjuang sesuai dengan fitrah, sesuai dengan tabiat insaniyah ataupun tabiat kauniyah yang terdapat dalam diri, masyarakat dan alam semesta.

Ketiga adalah kesadaran akan tugas kemanusiaan (risalat al insan) kita. Kita memiliki misi ibadah dan pengabdian. Segala gerak hidup: apa yang kita miliki, apa yang kita lakukan adalah ibadah. Sehingga, apapun yang kita miliki harus dikalkulasi, akankah meningkatkan ibadah kita kepada Allah atau tidak. Misi total kita adalah pengabdian kepada-Nya.

Keempat kesadaran akan misi khilafat al insan. Mengapa manusia diberi kemuliaan? Karena kita diberi tugas yang besar, yaitu menjalankan khilafah (pengayoman dan kepemimpinan) yang pada hakekatnya berlaku untuk semua orang, baik mu’minuhum wa kufrahum, mereka yang beriman dan amanah maupun tidak.

Kesadaran itu penting agar kita selalu merasa dalam tugas (on duty), tak ada perasaan mau cuti. Mungkin kita perlu rehat. Ya, rehat itu dalam rangka mengumpulkan potensi kita untuk melaksanakan tugas lainnya. Bukan berarti cuti secara total dengan tidak ada kaitannya terhadap misi dan wazhifah kita. Maka, dalam tarbiyah dikenal adanya program rihlah dan mukhayam dalam rangka membangun potensi agar langkah kita lebih kuat dan cepat dalam akselerasi perjuangan ini.

Jika kesadaran tentang manzilat al insan, thabiat al insan, risalat al insan, dan wazhifat al insan tadi selalu dijaga, maka proses ta’shiliyah akan senantiasa hidup. Upaya orisinalisasi harus terus dipertahankan, agar kita terhindar dari efek negatif, salah satunya berupa pelarutan.

Jika kita mengabaikan khuthuwat at ta’shiliyah, maka dakwah kita akan mengalami pencairan dan pelarutan. Biasanya sebelum larut akan mencair terlebih dulu, sebab madah jamidah (benda padat) itu sulit dalam pelarutan, tetapi madah ma’iyah (benda cair) paling mudah untuk melarut. Dalam dakwah jamahiriyah kita berinteraksi dengan segala jenis manusia. Banyak persentuhan dengan manusia dari segala jenis organisasi dan ideologi bisa menyebabkan tamayu’ al khuluqi (pencairan perilaku). Nau’udzubillah, hal itu akan berlanjut pada idzabah al khuluqiyah (pelarutan perilaku), jika kita tidak berpegang teguh pada ashalah.

Akibat dari tamayu’ dan idzabah ini sudah jelas, indikatornya yang paling menonjol adalah tasahul (menggampangkan atau menyepelekan) segala pelanggaran. Kita memang harus toleran atas efek negatif tarbiyah manusia, tetapi bukan mengampangkan, karena itu harus ditindaklajuti dengan ilaj tarbawi (terapi edukatif) atau ilaj ijtimai (sosial), ilaj tanzhimi (organisasional) atau ilaj iqtishodi (finansial), semuanya bisa kita lakukan tergantung masalah yang terjadi.

Semua kondisi direspon dan diantisipasi agar tidak membesar. Sudah tentu kita sebagai dai harus memperhatikan diri sendiri dan orang lain yang berada di bawah pengawasan kita. Penyimpangan berawal dari tasahul lama-lama menjadi idzabiyah, segalanya serba boleh (permisif), dalilnya gampang dicari. Akhirnya menjadi dalil tunggal, yakni kedaruratan. Yang paling harus kita waspadai adalah awal pelarutan sebagaimana tadi diungkapkan.

Dalam merespon tugas yang semakin berkembang mungkin terjadi tamayu’ wa idzabiyah dalam ubudiyah mahdlah, karena terlalu sibuk sehingga dalam sebulan penuh tercatat: shaum (puasa) nol, tahajud nihil. Dalam baramij tarbiyah semua program itu ada, tetapi sifatnya sebagai stimulan (ayyam al bid, usbu’ ruhi dan sebagainya). Buah stimulasi adalah munculnya iradah dzatiyah atau tarbiyah dzatiyah dengan amal dzati di luar program itu. Harus diwaspadai agar tamayu’ khuluqi dan idzabah ubudiyah ini tidak timbul. Bila dibiarkan akan berlanjut pada idzabah fikriyah (ideologis) dan kacau balau. Kita akan mengambil fikrah dari kiri-kanan dan meninggalkan manhaj yang benar.

Apabila sudah terkena idzabah khuluqiyah, ta’abudiyah, dan fikriyah, maka akan timbul idzabah aqidiyah. Mulanya mengakui kesejajaran aneka ragam keyakinan, misalnya di kalangan internal Islam (antara ajaran Syiah dan Sunnah) adalah sama. Kemudian berkembang keluar dengan menyamakan ajaran lain seperti komunisme, sosialisme, dan Islam sama saja untuk manusia juga. Kebenaran yang mutlak hanya dalam Islam, pemahaman seperti itu menjadi luntur.

Memang semua ajaran ada kebenarannya, tetapi tidak semuanya benar, yang jelas banyak kesalahannya. Jika lemah dalam langkah-langkah ashalah, maka akan terjadi idzabiyah dan tamayu’ di berbagai sektor. Jika hal itu terjadi pada suatu golongan, maka sudah tentu terjadi kehancuran dunia dan akhirat.

Bila ta’shiliyah tidak diimbangi dengan tathwiriyah akan menimbulkan tajamud. Mungkin akan merasa bahwa dirinya sajalah yang akan masuk surga dan yang lain adalah al ma’un, kufr dan sebagainya. Golongan itu tidak dapat memanfaatkan pengalaman dan potensi orang lain. Ketika terjadi mutajamid ruhi, maka pemikiran akan sulit menerima masukan dari orang lain. Bila terjadi tajamud aqidi, maka akan terasa dengan aqidah semata semuanya akan beres, tetapi aqidah bukan segala-galanya.

Memperhatikan idealitas, rasionalitas dan realitas. Mereka yang mengabaikan ketiga hal itu terkena wahm. Memperhatikan realitas saja akan melahirkan sikap pragmatis, memperhatikan idealitas saja akan menghasilkan perfeksionis, tetapi tak bisa melaksanakan. Sementara memperhatikan rasionalitas saja akan melahirkan sikap teoretis belaka.

Kita harus mampu mengkomunikasikan rencana dakwah kita dengan baik. Kemampuan mengkomunikasikan ini intinya ada pada qudrah mukhatabah, yakni qawlan sadida atau kalimat yang tepat. Bisa bersikap tegas, lembut, sindiran dan lain-lain. Patokannya adalah “khatibunnas ala qadri uqulihim” (sesuai kemampuan intelektual), “khatibunnas ala lughatihim” (memperhatikan budaya dan bahasa kaumnya), karena manusia adalah anak lingkungannya.

Sebagai dai kita harus memiliki qawlan sadida, baik melalui pendekatan intelektual, sosial maupun budaya. Yang pertama adalah mengakui keberadaannya, kemudian mencari cara yang tepat untuk mendekatinya. Dalam Al-Qur’an ada seruan: “Ya ayyuhannas…ya ayyuhalladzina amanu…” dan sebagainya. Dengan pemilihan kata yang tepat, maka “yuslih lakum amalakum”. Menghasilkan kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Lebih besar dari itu semua adalah ampunan dari Allah.

pks-gajahmungkur.blogspot.com

READ MORE >>

Ummu Sinan Al-Aslamiyah: Tekad Kuat untuk Menggapai Kemuliaan Akhirat


Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Quraisy, Anshar, Juhainah, Aslam, Asyja’, dan Ghifar adalah para budak. Mereka tidak memiliki tuan lain selain Allah dan Rasul-Nya.”

Dalam riwayat lainnya Nabi Muhammad bersabda, “Aslam dibaguskan oleh Allah, Ghifar diampuni oleh Allah. Aku tidak mengatakan hal itu, tetapi Allah SWT mengatakannya.”

Aslam adalah salah satu kabilah yang paling dicintai Rasulullah, karena para anggota kabilah tersebut memeluk Islam dengan ketaatan dan ketundukan yang total. Salah seorang dari mereka yang beruntung mendapatkan keutamaan Allah adalah Ummu Sinan Al-Aslamiyah, seorang shahabiyah yang mengikuti berbagai peristiwa bersama Rasulullah, baik dalam keadaan aman maupun ketika sedang berjihad. Dia juga berbaiat kepada beliau dan meriwayatkan hadits dari beliau.

Ummu Sinan selalu berupaya untuk mematuhi segala perintah Rasulullah, sehingga Allah membuatnya sangat berkecukupan pada Perang Khaibar. Dia berupaya menyiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh untuk berjihad, sebagai salah seorang mujahidah dari kalangan istri-istri para sahabat.

Berangkat dengan Berkah dari Allah

Ummu Sinan Al-Aslamiyah memiliki kisah yang indah berkenaan dengan jihad dan pertempuran. Dia memiliki wawasan mumpuni berkenaan dengan peran wanita ketika berada di tengah-tengah barisan para mujahidin. Salah satu perannya adalah pemberi minum untuk prajurit yang terluka dan mengobati mereka yang cedera. Bahkan, Ummu Sinan memiliki ketrampilan dalam menunggang kuda dan seni peperangan.

Ketika panggilan jihad berkumandang, maka seketika Ummu Sinan bertekad untuk ikut berangkat memberikan bantuan semampunya. Dia menuturkan, “Ketika Rasulullah hendak berangkat ke Khaibar, maka aku menghadap kepada beliau dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku hendak berangkat bersama engkau sekarang ini. Aku hendak membawakan kantung air minum, mengobati yang sakit atau terluka. Jika tidak, maka aku bersedia menjadi pengawas kafilah.”

Rasulullah bersabda, “Berangkatlah engkau dengan berkah dari Allah. Engkau memiliki para sahabat yang telah berbaiat kepadaku dan aku mengizinkan mereka semuanya, dari kaummu dan dari luar kaummu. Jika engkau suka, maka tetaplah bersama kaummu. Jika engkau suka, maka bersamalah dengan kami.” Aku mengatakan, “Bersama engkau wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Hendaknya engkau bersama Ummu Salamah, istriku.”

Berkat peran dan kontribusinya dalam jihad, tak jarang Ummu Sinan diberi bagian yang banyak dari harta rampasan perang. Ummu Sinan menceritakan, “Ketika penaklukan Khaibar, Rasulullah mengucurkan sebagian harta rampasan perang. Beliau memberiku untaian kalung berwarna merah dan perhiasan dari perak yang didapat dari harta rampasan perang. Beliau juga memberiku kain beludru dan selimut dari Yaman serta kuali dari kuningan. Ketika itu beberapa sahabat terluka dan aku mengobati mereka dengan obat yang berasal dari keluargaku, kemudian mereka menjadi sembuh. Setelah itu aku pulang bersama Ummu Salamah. Ketika hampir masuk Kota Madinah, dan ketika itu aku mengendarai unta milik Nabi, Ummu Salamah berkata kepadaku, “Unta yang engkau tunggangi adalah milikmu, Rasulullah telah memberikannya kepadamu.”

Bersiap untuk Perang Tabuk

Perang Tabuk terjadi pada Rajab tahun ke-9 Hijriah. Dalam perang tersebut Rasulullah menginstruksikan sebuah serbuan yang ditujukan kepada Kerajaan Romawi. Rasulullah menyeru dan mengimbau kaum muslimin untuk berjihad dan mengeluarkan sedekah untuk biaya peperangan. Maka berdatanganlah kamu laki-laki membawa sedekah yang sangat besar jumlahnya. Mereka berlomba-lomba untuk menafkahkan harta dan mengeluarkan sedekah semampu mereka.

Adapun kaum wanita, mereka mengirimkan apa yang mereka sanggup kirimkan. Mereka pun memiliki kontribusi yang sangat besar dengan kedermawanan dan kemurahan hati mereka. Tak terkecuali Ummu Sinan. Dia termasuk donatur Perang Tabuk yang ambil bagian dalam berinfak, sebagaimana para wanita yang lain.

Bahkan Ummu Sinan menceritakan, “Aku menyaksikan kain terbentang di hadapan Rasulullah di rumah Aisyah, Ummul Mukminin. Di atas kain tersebut terdapat gelang, gelang untuk bawah bahu, gelang kaki, anting-anting, cincin, dan para wanita pembantu yang dikirimkan untuk membantu para anggota pasukan tentara mempersiapkan segala perlengkapannya.”

Meriwayatkan Hadits Mulia

Keutamaan lainnya yang ada pada diri Ummu Sinan adalah upayanya dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah dan menghafalnya.

Inilah sekelumit tentang sirah shahabiyah yang mulia, mujahidah, dan pecinta akhirat. Ummu Sinan tak segan untuk meninggalkan urusan duniawi dan bertekad kuat menggapai kemuliaan di akhirat. Dia termasuk wanita yang namanya diabadikan sejarah Islam dan beruntung dengan berbagai anugerah serta keutamaan pada dirinya. Semoga Allah ridha kepadanya. [ganna pryadha/voa-islam.com]
READ MORE >>

Ummu Dzar Al-Ghifariyah: Teladan Istri Setia Pendamping Suami


Shahabiyah yang akan kita telusuri kisahnya kali ini adalah Ummu Dzar, istri shahabat Abu Dzar Al-Ghifari. Kesetiaannya mendampingi suami, layak diteladani. Betapa tidak, karena beliau ikhlas merawat dan menemani sang suami hingga ajal menjemput . Dalam kesendirian di padang pasir liar nan luas membentang.

Rabadzah, tempat tinggal Abu Dzar Al-Ghifari

Karena adanya perbedaan pendapat, dengan Utsman bin Affan, maka Abu Dzar Al-Ghifari dan keluarganya memilih Rabadzah, padang pasir liar sebagai tempat tinggal mereka. Sebuah keputusan yang sangat berani. Karena daerah tersebut sangat jarang dilalui kafilah. Dan mereka pun hidup tanpa ada tetangga di kanan dan kirinya.

Sang istri yang shalihah, tanpa keluh kesah , dengan setia, mendampingi Abu Dzar Al-Ghifari dan anaknya. Hidup dalam kesederhanaan yang amat sangat. Ditambah lagi, di kemudian hari Abu Dzar Al-Ghifari menderita sakit yang cukup parah.

Menjelang ajal menjemput

Ajal pun semakin dekat, Ummu Dzar selalu berada di sisi sang suami untuk mengurus segala keperluannya. Melihat kondisi, yang semakin parah … Ummu Dzar akhirnya menangis di samping sang suami.

Abu Dzar bertanya, “ Apa yang kamu tangiskan, padahal maut itu pasti datang ?”

“ Karena engkau akan meninggal, padahal pada kita tidak ada kain untuk kafanmu!” jawab Ummu Dzar pilu.

Abu Dzar tersenyum dengan amat ramah, seperti layaknya orang yang akan merantau jauh. Lalu berkata kepada istrinya itu,” Janganlah menangis! Pada suatu hari, ketika saya berada di sisi Rasulullah saw bersama beberapa sahabatnya saw, saya dengar Beliau saw bersabda,” Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang akan disaksikan nanti oleh serombongan orang-orang beriman!”

Semua yang ada di majelis Rasulullah saw telah meninggal di kampung dan di hadapan jama’ah kaum muslimin. Tidak ada lagi yang hidup di antara mereka kecuali aku.

Nah, inilah aku sekarang menghadapi maut di padang pasir. Maka perhatikanlah jalanan, kalau-kalau rombongan orang-orang beriman itu sudah datang !

Demi Allah, saya tidak bohong, dan tidak pula dibohongi!”

Tak berapa lama, Abu Dzar pun kembali ke hadirat Allah SWT. Innalillahi wa inna illaihi rooji’un.

Kenyataan yang ada

Subhanallah! Apa yang diucapkan Abu Dzar sungguh menjadi kenyataan. Karena tentu saja dia tidak berbohong, dan pasti tidak dibohongi. Karena Rasulullah SAW adalah ma’shum.

Tidak lama berselang, sesudah Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya, tampak serombongan kafilah yang sedang berjalan cepat di padang sahara itu. Subhanallah! Kafilah itu adalah Kafilah kaum mukminin yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Ibnu Mas’ud, merasa sangat trenyuh, karena ia melihat sesosok tubuh yang terbujur seperti jenazah, sedang di sisinya duduk seorang perempuan tua, Ummu Dzar dan anaknya yang sedang menangis.

...Subhanallah! Betapa kesetiaan, ketegaran dan ketabahan Ummu Dzar, sangat layak dicontoh. Setia dan istiqamah mendampingi sang mujahid pilihan, hingga akhir hayatnya....

Subhanallah! Betapa kesetiaan, ketegaran dan ketabahan Ummu Dzar, sangat layak dicontoh. Setia dan istiqamah mendampingi sang mujahid pilihan, hingga akhir hayatnya. Walaupun harus bertempat tinggal di padang pasir liar, padahal usianya sudah sangat tua. Dan tanpa harta yang berharga, hingga, kain untuk mengkafani suaminya pun tidak dimilikinya.

Ibnu Mas’ud, membelokkan tali kekangnya ke arah perempuan tua tersebut. Diikuti anggota rombongan dibelakangnya. Saat pandangan matanya tertuju pada tubuh sang jenazah … tampak olehnya wajah sahabatnya … sahabat seaqidah, sahabat seperjuangan dalam membela tegaknya Islam. Dialah Abu Dzar . Maka, air mata pun mengucur deras dari kedua pelupuk matanya. Innalillahi wa inna illaihi rooji’un. Ia pun berkata, “Benarlah ucapan Rasulullah SAW. Anda berjalan sebatang kara. Mati sebatang kara. Dan dibangkitkan sebatang kara !”

Ibnu Mas’ud RA pun duduk, lalu bercerita kepada para sahabatnya maksud dari pujian yang diucapkannya.

‘ Anda berjalan seorang diri, mati seorang diri, dan dibangkitkan nanti seorang diri !”

Ucapan itu terjadi di waktu Perang Tabuk, tahun kesembilan Hijriah.

Perang Tabuk

Perang Tabuk, adalah perang melawan pasukan Romawi yang cukup menakutkan. Mereka berada di satu tempat dan siap menggempur umat Islam. Saat itu, musim panas teramat teriknya. Sehingga tidak banyak kaum muslimin yang menyambut seruan Rasulullah SAW.

Mereka yang ikut pun, akhirnya berguguran di tengah jalan, satu demi satu . Sebagian disebabkan azam yang tidak mantap. Abu Dzar sempat tertinggal oleh rombongan, karena keledai yang ditungganginya, berjalan sangat gontai. Disebabkan lapar yang sangat dan teriknya matahari yang membakar. Namun Abu Dzar tidak patah semangat.

Akhirnya, karena tidak ingin tertinggal dalam kesempatan jihad, saat itu, Abu Dzar bertekad melanjutkan perjalanannya, mengejar rombongan Rasulullah saw dengan berjalan kaki, sambil memikul beban bawaannya.

Subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, ia berhasil . Alhamdulillah, bi-iznilah Abu Dzar dapat bertemu kembali dengan rombongan Rasulullah saw saat mereka beristirahat. Azam yang kuat, memberikan hasil akhir yang diharap.

Sungguh, menggapai surga adalah hal yang tidak mudah dan hanya diberikan kepada hamba-hambanya yang terpilih …

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat” (Qs. Al-Baqarah 214).

Sebagai muslimah, banyak hal dapat kita lakukan dan persiapkan untuk berkhidmat di jalan-Nya. [ummu izzah/voa-islam.com]

Maroji: 101 Wanita Teladan di Masa Rasulullah SAW oleh Hepi Andi Bastoni.

READ MORE >>

Ummu Hakim: Mujahidah Tangguh yang Menewaskan 7 Tentara Romawi


UMMU HAKIM binti Harits bin Hisyam adalah sosok mujahidah tangguh, setelah ia memeluk Islam. Sebelum keislamannya, ia bersama suaminya Ikrimah bin Abu Jahal termasuk kelompok yang memerangi Rasulullah SAW dalam Perang Uhud. Ummu Hakim merupakan salah seorang dari sepuluh (10) perempuan terkemuka Quraisy yang memeluk Islam saat Fathu Makkah (penaklukan Mekkah).

Ia adalah sosok istri, yang sangat mendorong suami untuk masuk Islam dan berjihad, hingga meraih syahid. Karena Ummu Hakim terlebih dahulu masuk Islam. Sedangkan suaminya, Ikrimah bin Abu Jahal, sempat melarikan diri dari kota Mekkah, saat penaklukan Mekkah. Disebabkan takut dibunuh oleh kaum Muslimin.

Mencari Suami

Setelah berbai’at kepada Rasulullah SAW, Ummu Hakim berkata kepada Rasulullah SAW, “ Wahai Rasulullah, Ikrimah pergi melarikan diri ke Yaman. Dia takut engkau akan membunuh dia maka berilah jaminan keamanan untuk dia.” Rasulullah saw bersabda,” Dia dijamin keamanannya.”

Ummu Hakim segera bergegas keluar untuk mencari suaminya. Akhirnya, ia berhasil menjumpai Ikrimah ketika dia sudah berada di Pantai Tihamah. Dia akan segera berlayar mengarungi samudera. Ketika dia hendak menaiki bahtera, nahkodanya berkata kepada dia, “Ucapkanlah kalimat ikhlas!”

Ikrimah bertanya, “ Apakah yang harus aku ucapkan?”
“Ucapkanlah la ilaha illallah .
“Aku tidak lari, kecuali dari kalimat itu.”
Ummu Hakim menjumpainya dan berkata, “ Wahai anak pamanku, saya datang kepadamu dari hadapan orang yang paling kuat menyambung hubungan keluarga, orang yang paling banyak berbuat baik, dan orang yang paling baik. Engkau jangan membinasakan dirimu sendiri.” Aku sudah memintakan jaminan perlindungan untukmu dan mereka memberinya.”
Ikrimah bertanya,” Benarkah kamu berbuat demikian ?
Istrinya menjawab,” Iya, saya menyampaikan hal itu kepada beliau dan beliau memberikan jaminan keamanan untukmu.”

Ikrimah bin Abu Jahal bersyahadat dan Gugur Syahid

Ummu Hakim dan suaminya Ikrimah bin Abu Jahal segera menemui Rasulullah saw. Dan kehadirannya disambut gembira oleh Rasulullah saw.
Ikrimah berkata, “ Wahai Muhammad, sesungguhnya istriku ini memberitahuku bahwa engkau memberi jaminan keamanan kepadaku.”
Rasulullah saw menjawab, “ Benar, kamu aman.”
“Kepada apa engkau mengajakku, wahai Muhammad ?”
“Aku mengajakmu untuk bersaksi bahwa tiada sesembahan kecuali Allah dan bahwasanya aku adalah utusan Allah, kamu menegakkan sholat, kau tunaikan zakat, dan kamu kerjakan ini dan itu.” Sampai beliau menyebutkan semua ajaran Islam.
“Demi Allah, tiadalah ajakanmu itu kecuali menuju kepada kebenaran dan perkara yang sangat bagus. Demi Allah, kamu sebelum mengumandangkan da’wah itu sudah dikenal sebagai orang yang paling benar ucapannya dan paling baik perilakunya.”
“Sekarang aku bersaksi bahwa tiada sesembahan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya sekaligus utusan-Nya.”

Pada suatu pertempuran melawan Romawi, Ikrimah bin Abu Jahal dan istrinya terlibat didalamnya. Ikrimah berjihad dengan sungguh-sungguh dan luar biasa. Alhamdulillah, Allah menghadiahkan syahid untuknya.
Hayatilah wahai muslimah, betapa besar peran Ummu Hakim. Dimulai sejak ia menjadi perantara antara suaminya dan Rasulullah saw hingga ia peroleh jaminan keamanan. Hingga sang suami bersyahadat, bahkan berakhir syahid di jalan-Nya.
Sungguh, wahai muslimah, kita memiliki peran yang besar dalam mendukung perjuangan tegaknya Islam.

Ummu Hakim menikah

Setelah suaminya syahid, Ummu Hakim menikah dengan shahabat yang mulia, Khalid bin Sa’id bin Ash RA. Saat Khalid menyampaikan niatnya kepada Ummu Hakim. Beliau menjawab, “Apa tidak sebaiknya kita tunda saja, sampai Allah mengalahkan tentara Romawi yang akan menyerang kita nanti?”

Khalid berucap,” Firasatku mengatakan bahwa aku akan terbunuh pada perang besok.”
Akhirnya, keesokkan harinya walimah pernikahan digelar dan penuh barokah. Makanan tidak kunjung habis, hingga tentara Romawi menyerang.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar! Khalid bin Sa’id bin Ash RA meraih syahid di hadapan istri tercinta.

Ummu Hakim, tak ingin tertinggal dengan peluang mulia yang ada. Dengan sigap ia meraih, tiang tenda, yang semalam digunakan untuk tenda walimah pernikahannya.
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar !!! bi-iznilah ia berhasil membunuh 7 (tujuh) tentara Romawi.

Sungguh, dia telah mencapai puncak perjuangan. Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha. [ummu izzah/voa-islam.com]

Maroji’:

  1. Mawar-mawar Padang Pasir (judul asli: Masyahir an-Nisa’ al-Muslimah) karya Ali bin Nayif asy-Syuhud.
  2. Muslimah Berjihad, karya Syaikh Yusuf Al-‘Uyairi.
READ MORE >>

Ummu Haram binti Milhan: Teladan Kebajikan yang Syahid di Laut Putih


Keluarga Milhan Al-Anshari tergolong keluarga para sahabat mulia yang beruntung mereguk manisnya keimanan. Di dalam hati mereka bersemi rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka beruntung menyantap hidangan Islam dan hidup bahagia. Dengan izin Allah, mereka akan mendapatkan balasan yang baik di akhirat. Mereka tergolong orang-orang yang terdahulu masuk Islam. Di antara mereka yang beruntung mendapatkan keridhaan Allah adalah Ummu Haram binti Milhan bin Khalid Al-Anshariyyah An-Najjariyyah. Dia adalah bibi seorang sahabat mulia, yaitu Anas bin Malik, dan istri seorang sahabat bernama Ubbadah bin Ash-Shamit.

Ibnu Umar berkata, “Rasulullah SAW datang di Masjid Quba dengan berkendaraan atau berjalan kaki, lalu mengerjakan shalat dua rekaat.” (HR. Muslim)

Di Quba, dibangun sebuah masjid berdasarkan ketakwaan. Allah berfirman, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya.” (At-Taubah: 108)

Di lembah yang penuh berkah inilah (Quba), Ummu Haram tinggal dan termasuk sebagai salah seorang penduduknya. Dia memiliki kedudukan mulia di sisi Rasulullah. Banyak riwayat menerangkan bahwa Rasulullah sangat hormat kepadanya dan sering berkunjung ke rumahnya, sekaligus tidur siang di sana. Dan terkadang beliau shalat di sana.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Anas, “Suatu ketika Rasulullah datang kepada kami. Ketika itu tiada orang selain saya, ibuku, dan bibiku (Ummu Haram). Beliau bersabda, “Bangunlah kalian semua. Sungguh aku akan melaksanakan shalat dengan kalian.” Lalu beliau shalat dengan kami. Setelah itu beliau berdoa untuk kami dan ahli bait demi mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.”

Ketika suatu hari Rasulullah berziarah kepada Ummu Haram, dia membuatkan makanan dan menghidangkannya kepada beliau. Ummu Haram duduk seraya memeriksa kepala Rasulullah yang mulia untuk membersihkan kutu darinya, kemudian Rasulullah tertidur. Setelah terbangun, beliau tertawa dan memberikan kabar gembira kepada Ummu Sulaim bahwa dia adalah seorang yang akan mendapatkan syahid. Oleh karena itu dia dipanggil “Asy-Syahidah”. Kelak, prediksi Rasulullah tersebut akan mendapatkan relevansinya.

Ummu Haram termasuk salah seorang shahabiyah yang memiliki jasa besar dalam mendirikan bangunan-bangunan kemuliaan dan merealisasikan amal-amal shalih. Dia adalah suri teladan yang baik dalam berbagai keutamaan.

…Ummu Haram telah membangun berbagai bidang kebaikan yang tidak terhitung jumlahnya. Kebajikan yang paling menonjol darinya adalah kecintaan menjadi syahid di jalan Allah, kedermawanan, dan sikap itsar

Ummu Haram telah membangun berbagai bidang kebaikan yang tidak terhitung jumlahnya. Kebajikan yang paling menonjol darinya adalah kecintaan menjadi syahid di jalan Allah, kedermawanan, dan sikap itsar (mengutamakan orang lain). Lebih dari itu, dia juga adalah perawi hadits Nabi yang mulia. Dia meriwayatkan lima buah hadits dari Rasulullah. Para sahabat dan tabiin yang terkenal pun meriwayatkan hadits darinya.

Seperti kebanyakan para sahabat wanita lainnya, Ummu Haram pun memiliki kontribusi yang besar membantu pasukan kaum muslim dalam berbagai peperangan. Ummu Haram selalu menunggu rombongan pasukan perang kaum muslimin agar bisa turut serta dengan mereka. Bahkan dia tak segan untuk bergabung dengan pasukan muslim bertempur memerangi musuh Islam.

Diceritakan bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan terjadi berbagai penaklukan besar di darat. Khalifah Utsman berpandangan bahwa untuk penyerangan ke Romawi harus bertolak dari Pulau Cyprus, dengan armada laut. Kemudian Khalifah Utsman memutuskan penyerangan itu jadi dilaksanakan. Timbullah pertanyaan, “Bagaimana tentara Islam dapat menyerang Romawi, sedangkan mereka tidak pernah naik kapal laut sebelumnya.”

Untuk mengatasi perkara tersebut, Khalifah Utsman mengadakan musyawarah. Mereka puas dengan penyerangan Cyprus yang tidak direncanakan sebelumnya. Angkatan laut pasukan Islam pun terbentuk setelah musyawarah tersebut. Pada saat itu, Khalifah Utsman mengizinkan Muawiyah bin Abu Sufyan untuk menggunakan kapal laut guna mengadakan serangan ke Cyprus, mereka pun berlayar dari Syam. Kemudian Allah menetapkan kemenangan bagi kaum muslimin, dan Cyprus pun menjadi bagian kekuasaan kaum muslimin.

Dalam peperangan tersebut Ummu Haram masuk ke dalam jajaran para mujahidah. Dia mendapatkan syahid dalam peperangan itu. Dengan demikian, berita gembira yang diterimanya dari Rasulullah menjadi kenyataan dalam waktu yang tidak lama. Hadits tentang kesyahidannya diriwayatkan enam imam hadits di dalam kitab mereka. Sebagaimana tertulis dalam kitab sirah, biografi, dan thabaqat. At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dengan sanadnya dari Anas bin Malik. Suatu ketika Rasulullah SAW datang kepada Ummu Haram binti Milhan, lalu dia memberi Rasulullah makanan. Dia duduk seraya mencari kutu dari kepala Rasulullah, sampai beliau tertidur. Kemudian beliau terbangun dan tertawa. Ummu Haram bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Diperlihatkan kepadaku rombongan manusia dari umatku. Mereka berlayar untuk berperang di jalan Allah. Mereka laksana para raja yang sedang bergembira. Aku (Ummu Haram) berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan diriku bagian dari mereka.” Rasulullah pun berdoa untuknya, lalu meletakkan kepalanya dan tertidur kembali. Beliau terbangun dan kembali tertawa.

Ummu Haram berkata, “Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Diperlihatkan kepadaku rombongan manusia dari umatku. Mereka berlayar untuk berperang di jalan Allah. Mereka laksana para raja yang sedang bergembira.” Ummu Haram bertanya, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan diriku bagian dari mereka.”

Rasulullah bersabda kepadanya, “Engkau termasuk golongan awwalun, orang-orang yang terdahulu.” Anas menceritakan, “Dikatakan bahwa pada zaman Muawiyah bin Abi Sufyan, Ummu Haram ikut berlayar. Ketika mendarat, Ummu Haram diserang binatang tunggangannya hingga wafat.”

…mimpinya tentang kesyahidan telah menjadi kenyataan. Ummu Haram termasuk salah seorang mujahidah pertama dalam Islam yang ikut penyerbuan di Laut Putih…

Demikianlah, mimpinya tentang kesyahidan telah menjadi kenyataan. Ummu Haram termasuk salah seorang mujahidah pertama dalam Islam yang ikut penyerbuan di Laut Putih. Dia menjemput kesyahidan di jalan Allah setelah pertempuran di laut itu. Sungguh indah ketika Abu Na’im menyebutkan tentang Ummu Haram, dia berkata, “Manusia paling mulia. Syahidah di pertempuran laut. Perindu surga. Dialah Ummu Haram.”

Ummu Haram syahid pada tahun 27 Hijriah dan dimakamkan di Cyprus. Hisyam Al-Ghaz menyebutkan, “Makam Ummu Haram binti Milhan berada di Cyprus. Orang-orang mengatakan bahwa ini adalah makam wanita shalihah.” Semoga Allah ridha kepada Ummu Haram binti Milhan dan menjadikannya bersama orang-orang terdahulu di dalam Surga Firdaus. [ganna pryadha/voa-islam.com]

Referensi: Ahmad Khalil Jam’ah, Nisaa` min ‘Ashri An-Nubuwwah.

READ MORE >>

Bingkai Kehidupan

"Save Palestine" Demonstration in Semarang

"Save Palestine" Demonstration in Semarang
Semarang, 21 Maret 2010

Mars PKS

Mars Partai Keadilan SEJAHTERA - Watch more Videos at Vodpod.

Harapan Masih Ada

Aktifitas Aleg DPRD Kota Semarang


Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur

Ketua DPC dan Ketua Kaderisasi DPC PKS Gajahmungkur
Evendi Sunarko, SPd dan Sutopo, SE

Sekretariat DPC

Dewan Pengurus Cabang
Partai Keadilan Sejahtera
Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang
Jl. Menoreh Utara I/7 Semarang-Jawa Tengah
Telp (024)8501042

Jadwal Sholat

 

Copyright © 2009 by DPC PKS Gajahmungkur Rindu Semarang Berubah Powered By Blogger Design by PKSGM-Team