Jakarta, RMOL. Ketika didirikan pada 20 Juli 1998, partai yang dulu bernama Partai Keadilan (PK) ini dipandang ibarat bayi yang baru lahir. Enak dipandang, menggemaskan, dan tak bakal merepotkan.Karena dianggap masih bayi, kehadirannya juga tidak diperhitungkan. Apalagi, tak ada tokoh sentral yang bisa menopang kekuatan partai dan jadi jualan untuk mendulang suara. Mereka yang ada di PK hanya barisan anak-anak mudah aktivis dakwah kampus. Jadilan PK hanya dipandang sebagai penggembira Pemilu 1999.
Tetapi, faktanya ternyata tidak begitu. Mengawali keikutsertaannya dalam Pemilu 1999, partai ini mampu meraih 1,4 persen suara (7 kursi DPR). Prestasi politik partai dakwah ini dibanding partai Islam lainnya terus meroket.
Berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada 20 April 2002, partai ini kembali ikut Pemilu 2004. Hasilnya, PKS meraup 7,34 persen suara (45 kursi DPR). Lima tahun kemudian, pada Pemilu 2009 PKS meraih 7,88 persen suara (57 kursi DPR).
Dilihat dari grafiknya, ada peningkatan jumlah suara yang diraih PKS. Dibanding PDIP yang punya tokoh sentral Megawati Soekarnoputri, PAN dengan Amien Rais, dan Partai Demokrat dengan daya tarik SBY, PKS mampu bersaing dan masuk dijajaran elit papan tengah.
Padahal, partai ini tak punya tokoh yang bisa ‘dijual’ untuk mendulang suara.Tetapi, dengan program yang ditawarkan dan mengemas kampanye yang menarik, PKS mampu meyakinkan pemilih.
PKS mampu keluar dari politik personal dan lebih mengedepankan sistem serta pola kaderisasi yang kuat. Penguatan daya tarik PKS bukan pada personal tetapi pada pelembagaan partai politik yang sehat.
Melihat grafiknya yang terus meningkat dalam tiga kali pemilu, wajar kalau kemudian PKS memasang target menembus tiga besar pada Pemilu 2014 mendatang. Banyak hal yang harus dibenahi PKS untuk mewujudkan ambisinya itu.
Perspektif pemilih terhadap partai politik kini terus bergeser. Mereka tak lagi melihat ideologi, tetapi program apa yang ditawarkan. Realitas ini harus mampu dibaca PKS jika ingin tampil menjadi partai besar.
Apalagi, meski mayoritas pemilih Indonesia beragama Islam, namun dalam menentukan pilihan dan penyaluran aspirasi, mereka tak terlalu peduli dengan identitas partai. Pemilih lebih mengedepankan pertimbangan rasional ketimbang agama.
PKS memang harus lebih lentur dalam menjaring dan mengembangkan dukungan pemilih dengan memahami karakter mereka jika ingin menambah suara. Selain itu, beragam program PKS yang menyentuh langsung pemilih juga harus terus dipertahankan. Karena ini merupakan strategi yang cukup efektif dalam menarik simpati publik.
Hasil Pemilu 2009 juga harus menjadi bahan introspeksi dan pembenahan di internal PKS. Basis massa perkotaan yang selama dua kali pemilu menjadi penopang suara PKS dan direbut kembali dari tangan Partai Demokrat. PKS juga harus merawat basis pemilih di pedesaan dan luar Jawa.
Tercapai atau tidaknya PKS memenuhi target menembus tiga besar, sangat tergantung dari seberapa besar partai dakwah itu mampu menawarkan program yang bisa menyentuh semua kalangan dan melepaskan citranya sebagai partai ekslusif.[rap]
Comments :
0 komentar to “Mengukur Kemampuan PKS Tembus 3 Besar”
Posting Komentar