
GAZA (Berita SuaraMedia) – Tawa riuh keluar dari mulut para penonton ketika bendera Amerika Serikat dilambaikan di dalam stadion sepak bola Kota Gaza, ketika tim AS menantang Serbia dalam ajang Piala Dunia tiruan.
Tim Amerika Serikat, yang sebagian besar terdiri dari para pekerja sosial dari kawasan Al-Maghazi yang dipenuhi para pekerja AS, dihadapkan dengan tim Serbia dari kawasan Az-Zeitoun di Kota Gaza, dan para penonton dibuat terheran-heran dengan semangat dan sorak-sorai saat bendera Amerika dikerek di atas tiang.
Suka cita dan dukungan untuk tim AS sebagian besar dikarenakan para pekerja kemanusiaan yang seluruhnya berasal dari kantor Program Pengembangan PBB (UNDP), yang mengorganisir dan mensponsori pertandingan tersebut. Direktur salah satu program UNDP di Gaza mengenakan kaos bernomor punggung 20.
UNDP bergabung bersama dengan Asosiasi Sepak Bola Palestina dan membuat 16 tim nasional yang berbeda-beda, mengajak para kontestan Palestina dari seluruh penjuru Jalur Gaza dan mengikutsertakan para pekerja sosial dari negara berbeda untuk bermain di bawah bendera negara masing-masing.
Sebelum pertandingan, para pemain mengatakan kepada kantor berita Ma’an bahwa pertandingan tersebut merupakan pesan kepada komunitas internasional bahwa rakyat Gaza ingin hidup damai bersama dengan seluruh dunia, bahwa yang mereka inginkan adalah sepak bola, bukan peperangan.
Rami Hamdan, yang juga bermain untuk tim Amerika, mengatakan bahwa meski ia merasa amat senang bisa bermain bersama para pekerja UNDP, rasa senangnya terhadap AS terhenti jika mengingat kebijakan luar negeri AS saat ini.
“Kami membedakan pemerintah dan rakyat AS, dan kami yakin rakyat Amerika berbeda dengan pemerintahan mereka,” katanya.
Ayman Muhy Ad-Din dari kantor berita Al-Jazeera, yang merekam pertandingan tersebut, tersenyum. “Rakyat Palestina selalu mampu menciptakan rasa senang semacam ini di tengah tragedi,” katanya. Ia menambahkan bahwa pertandingan tersebut adalah peluang baik untuk membuka mata dunia mengenai penderitaan di Gaza.
“Media Barat punya peranan besar dalam memelintir gambaran kehidupan Palestina sebenarnya dan tidak berfokus pada sisi positif Palestina,” kata koresponden Al-Jazeera tersebut, ia berharap rekaman pertandingan “Piala Dunia” tersebut dapat ditayangkan dalam bahasa Arab dan Inggris di Al-Jazeera, dan dari Al-Jazeera ke ruang tamu-ruang tamu (pemirsa di) dunia Barat.
Ironi dari dukungan para penonton yang bertepuk tangan saat bendera AS dinaikkan tidak lepas dari pengamatan Ismail Matar, seorang anggota Asosiasi Sepak Bola Palestina.
“Menaikkan bendera Amerika di jantung Gaza, di stadion terbesar dan terbaik (Gaza) seharusnya menjadi pesan tersendiri bagi rakyat Amerika,” katanya, “pertandingan ini membawa pesan kepada AS dan dunia bahwa kami, rakyat Gaza, merindukan kebebasan dan perdamaian.”
“Piala Dunia” tersebut digelar untuk menarik perhatian terhadap blokade Israel yang membuat Jalur Gaza selayaknya “penjara raksasa” yang sudah berlangsung tiga tahun lamanya. Tim-tim yang berlaga memperebutkan trofi yang terbuat dari logam bekas sisa-sisa serbuan Israel di Gaza.
Patrick McGrann, pengorganisir pertandingan tersebut, mengatakan bahwa Piala Dunia Gaza diselenggarakan untuk menyoroti blokade tiga tahun yang menghalangi sebagian besar penduduk Jalur Gaza yang berjumlah 1,5 juta orang tersebut, termasuk para atlet, pergi ke luar.
Kompetisi sepanjang dua minggu tersebut diawali pada hari Minggu dengan dibuka oleh pertandingan antara tim Italia dan Palestina. Sebagian besar tim yang turut serta diberi nama seperti tim-tim raksasa sepak bola, seperti Brazil, Spanyol dan Perancis.
Tim-tim tersebut memiliki kontingen kecil orang asing dari negara-negara tersebut. Sebagian besar di antaranya berasal dari kalangan pekerja sosial yang bertugas di Jalur Gaza. (dn/mn/yn)pks-gajahmungkur.blogspot.com
Comments :
0 komentar to “Piala Dunia Tiruan, Upaya Gaza Ungkap “Penjara Raksasa” Israel”
Posting Komentar