ANKARA (SuaraMedia News) – Menandai 95 tahun Pertempuran Gallipolli, Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan telah mengatakan bahwa tidak ada parlemen dari negara manapun yang dapat menantang sejarah Turki, mengacu pada keputusan di berbagai parlemen di seluruh dunia yang menyatakan bahwa pembunuhan bangsa Armenia yang hidup di bawah kekuasaan Ottoman pada tahun 1915 adalah genosida. Erdogan berada di Canakkale untuk mengenang para prajurit yang terbunuh dalam Pertempuran Gallipolli tahun 1915, yang dimenangkan oleh pasukan Ottoman dan menjadi dasar untuk Perang Kemerdekaan Turki dan pondasi Republik Turki delapan tahun kemudian di bawah Mustafa Kemal Ataturk.
“Saya harus tekankan bahwa prajurit negeri ini lebih besar daripada sejarah dan bahwa sejarah negeri ini sebersih dan sejelas matahari. Tidak ada parlemen dari negara mana pun yang dapat menodainya,” ujar Erdogan.
Erdogan juga mengatakan bahwa jika peristiwa di Anatolia timur pada tahun 1915 itu akan diperjelas, maka itu akan dilakukan melalui arsip-arsip, dokumen, memoar, laporan, surat dan gambar-gambar, “Bukan parlemen yang berada ribuan kilometer jauhnya,” seraya menambahkan bahwa terdapat dokumen, laporan, surat, dan gambar-gambar baru yang muncul mengenai Pertempuran Gallipoli dan bahwa sejumlah sejarawan mendedikasikan seumur hidup mereka untuk membagi sejarah ini.
Bangsa Armenia di seluruh dunia telah lama melakukan lobi-lobi, mengklaim bahwa 1.5 juta dari mereka dibunuh oleh Turki Ottoman dalam Perang Dunia I, namun Turki membantah bahwa kematian itu adalah genosida, seraya mengatakan bahwa jumlah korban jiwa telah dilebih-lebihkan dan bahwa mereka yang terbunuh adalah korban perang sipil dan kerusuhan. Erdogan mengatakan beberapa negara yang memiliki keinginan menjajah di Canakkale saat itu kini membuat pengumuman yang tidak bertanggung jawab dan penilaian yang tidak adil terhadap Turki, yang membutuhkan permintaan maaf. “Tidak ada genosida dalam peradaban kami. Peradaban kami adalah peradaban cinta, toleransi, dan persaudaraan,” tambah Erdogan. “Mereka yang bertahan di masa lalu tidak akan pernah mencapai masa depan yang cerah.”
Sementara itu, sebelumnya Menteri Luar Negeri Ahmet Davutoglu berada di Pemakaman Cebeci Asri, Ankara, memperingati tanggal 18 Maret. Ia mengatakan bahwa tanggal itu memberikan kesempatan pada pejabat Kementerian Luar Negeri untuk mengenang martir-martir kementerian.
Davutoglu mengatakan bahwa Turki telah kehilangan 39 pejabat dinas luar negerinya dalam 28 serangan teroris sejak tahun 1973. “Tidak ada pejabat dinas luar negeri yang pernah mengalami serangan sebanyak itu. Kami telah dan akan memperlihatkan ketegasan kami melawan semua serangan teroris, terutama ASALA (Pasukan Rahasia Armenia untuk Pembebasan Armenia),” ujarnya.
ASALA adalah organisasi teroris yang menarget diplomat Turki di Eropa selama tahun 1970an dan 1980an. (rin/tz)
Comments :
0 komentar to “Erdogan: Tak Ada Parlemen Yang Mampu Merubah sejarah Turki”
Posting Komentar