Simple Template For Entertainment News


Tempat Informasi Kegiatan Kader DPC PKS Gajahmungkur


GALLERY


Jumat, 04 Desember 2009

Umar bin Abdul Aziz 1

Umar bin Abul Aziz: Kebijakan Politiknya Rahmat bagi Semesta Alam (1)

”Saya tidak pernah melakukan shalat di belakang seorang imam pun yang hampir sama shalatnya dengan shalat Rasulullah Saw. daripada anak muda ini, yaitu Umar bin Abdul Aziz.” Zaid menambahkan, ”Dia sempurna dalam melakukan ruku’ dan sujud, serta meringankan saat berdiri dan duduk” (Zaid bin Aslam dari Anas).


Umar bin Abdul Aziz bin Marwan dikenal dengan panggilan Abu Hafsh lahir di Hulwan, sebuah desa di Mesir pada tahun 61 H. Ibunya, Ummu ‘Ashim adalah putri ‘Ashim bin Umar bin Khaththab dilahirkan tidak lebih dari 50 tahun setelah wafatnya Rasulullah Saw. dimana saat itu para sahabat dan tabi’in masih memiliki ikatan batin dan kehidupan yang amat akrab dengan Rasul. Jadi, Umar bin Abdul Aziz adalah cucu Umar bin Khaththab dari garis keturunna (nasab) ibunya. Ayahandanya, Abdul Aziz bin Marwan, pernah menjadi gubernur di daerah itu.

Dengan demikian, Umar bin Abdul Aziz dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan istana dan tumbuh dalam buaian kemewahan. Ia dan keluarganya memiliki kekayaan melimpah – sebagaimana umunya keluarga raja-raja Dinasti Umayyah – yang diperoleh sebagai tunjangan raja kepada keluarga dekatnya. Disebutkan, dari perkebunannya saja, Umar memiliki penghasilan 50.000 asyrafi (dinar) per tahun. Tentu saja, saat itu ia hidup secara mewah sebagaimana lazimnya kaum bangsawan, dengan pakaian, rumah, kendaraan, dan perlengkapan yang hanya mungkin dimiliki oleh para pangeran. Maka wajar, bila pada masa remajanya dia suka berfoya-foya.

Meski demikian, orangtuanya tak pernah melupakan akan pentingnya pendidikan agama. Maka sejak kecil Umar sudah biasa menghafal Al-Qur`an. Kemudian ayahandanya mengirimnya ke Madinah untuk belajar berbagai ilmu agama. Umar banyak berguru kepada Ubaidillah bin Abdullah. Dengan bekal ilmu itulah Umar semakin bijak menyikapi berbagai persoalan di masyarakat, terutama yang berkenaan dengan prinsip dasar peradaban Islam di masa Rasulullah Saw. dan Khulafaur Rasyidin. Umar pun memiliki pandangan lain tentang sistem kekhalifahan yang diwariskan secara turun temurun.

Umar bin Abdul Aziz kini dikenal sebagai orang yang sangat saleh. Gaya hidup suka berfoya-foya langsung ditinggalkannya dan menggantinya dengan akhlak Islami. Ketika ayahandanya meninggal, Abdul Malik bin Marwan, yang pada saat itu menjabat sebagai Khalifah, memintanya untuk datang ke Damaskus untuk dinikahkan dengan anaknya yang bernama Fathimah.

Isyarat bahwa Umar bin Abdul Aziz akan menjadi ”orang besar” sudah ada ketika ayahandanya melihat bekas luka di bagian wajah Umar akibat tendangan seekor binatang. Peristiwa itu terjadi ketika beliau masih kanak-kanak. Ketika ayahnya menghapus darah yang mengalir di wajahnya, ayahnya berkata, “Jika kamu adalah orang yang terluka dibagian wajah dari kalangan Umayyah, maka engkau akan menjadi orang yang bahagia” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir).

Pernyataan ayahanda Umar ini merujuk kepada pernyataan Umar bin Khaththab, ”Akan ada dari keturunanku seorang anak yang di wajahnya ada bekas luka. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Tarikhnya). Prediksi Umar bin Khaththab diperkuat oleh pernyataan Ibnu Umar, “Kami pernah berbicara bahwa dunia ini tidak akan runtuh sebelum ada seorang laki-laki yang memimpin dari kalangan keluarga Umar bin Khaththab yang berbuat sebagaimana Umar berbuat.” Pada awalnya orang-orang mengira bahwa yang dimaksud oleh Ibnu Umar itu adalah Bilal bin Abdullah bin Umar, karena dia memiliki tahi lalat di wajahnya. Hingga akhirnya Allah Swt. mendatangkan Umar bin Abdul Aziz.

Al-Walid bin Muslim juga menceritakan perihal isyarat itu. Menurutnya, seseorang yang berasal dari daerah Khurasan berkata, ”Dalam mimpi saya melihat seseorang datang kepada saya dan berkata, ’Jika orang yang di wajahnya ada luka dari kalangan Bani Marwan telah berkuasa, maka pergilan kamu dan baiatlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang pemimpin yang adil.”

Ketika Al-Walid bin Abdul Malik menjadi Khalifah menggantikan Abdul Malik (ayahnya), Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi gubernur Madinah dari tahun 86 H – 93 H. Namun, pada tahun 93 H dia diberhentikan oleh Al-Walid lantaran kebijakan Umar tidak sejalan dengan kebijakan Al-Walid yang menjurus kepada penyimpangan. Umar pun lalu kembali ke Damaskus.

Al-Walid juga berusaha keras mencopot kedudukan saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik, dari posisinya sebagai Putra Mahkota yang kelak akan menggantikannya. Ia menginginkan agar yang menjadi Putra Mahkota adalah anaknya sendiri. Para pembesar dan pejabat negara yang ada pada waktu itu menyetujui langkah Al-Walid, baik secara suka rela maupun terpaksa. Namun, Umar bin Abdul Aziz menolak mentah-mentah keinginan Al-Walid itu dengan berkata, ”Di leher kami ada bai’at.” Pernyataan Umar itu diulang-ulang di berbagai forum dan kesempatan hingga akhirnya Al-Walid memenjarakannya dalam sebuah ruang yang sempit dengan jendela tertutup, dengan harapan Umar akan mati karena kelaparan dan sesak nafas.

Setelah tiga hari dikurung, akhirnya Al-Walid membebaskannya. Kondisi Umar ketika dibebaskan sangat memprihatikan. Lehernya agak miring. Mengetahui kondisi itu, Sulaiman bin Abdul Malik berkata, ”Dia (Umar) adalah pengganti setelah saya.”

Kesalehan Umar bin Abdul Aziz
Kesalehan Umar sudah dikenal ketika beliau menjadi gubernur Madinah. Zaid bin Aslam meriwayatkan dari Anas, ”Saya tidak pernah melakukan shalat di belakang seorang imam pun yang hampir sama shalatnya dengan shalat Rasulullah Saw. daripada anak muda ini, yaitu Umar bin Abdul Aziz.” Zaid menambahkan, ”Dia sempurna dalam melakukan ruku’ dan sujud, serta meringankan saat berdiri dan duduk.”

Kesalehan Umar makin bertambah ketika beliau menjadi Khalifah. Bahkan Umar bukan hanya dikenal sebagai seorang ahli ibadah, tetapi dia memiliki pemahaman yang mendalam dan rinci (al-fahmu ad-daqiq) dalam masalah-masalah keagamaan. Sehingga beliau dijadikan rujukan dalam berbagai masalah oleh banyak orang. Sampai-sampai Maimun bin Mahran berkata, ”Para ulama di hadapan Umar bin Abdul Aziz adalah murid-muridnya.”

Proses taqarrub ilallah yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz, membuat beliau diberikan berbagai keistimewaan (karamah) oleh Allah Swt. Abu Nu’aim meriwayatkan dari Rayyah bin Ubaidah, dia berkata, ”Umar bin Abdul Aziz keluar dari rumahnya untuk menunaikan shalat. Saya melihat ada seseorang yang sangat tua bersandar ke tangan Umar. Saya berkata dalam hati, sesungguhnya orangtua itu berhati gersang. Usai shalat, saya bertanya kepada Umar, ”Wahai Amirul Mukminin, semoga Allah memberkati anda. Siapa gerangan kakek tua yang bersandar di tangan anda?”

Umar balik bertanya, ”Apakah anda (Rayyah) melihatnya?”

Rayyah bin Ubaidah menjawab, ”Benar, saya melihatnya.”

Umar berkata, ”Tidak salah dugaanku, engkau seorang laki-laki saleh. Ketahuilah, kakek tua itu adalah Nabi Khidir, saudaraku. Dia datang untuk memberitahu bahwa saya akan memimpin umat ini dan akan berlaku adil terhadap mereka.”

Maimun bin Mahran juga meriwayatkan dari Abu Hasyim bahwa seorang laki-laki menemui Umar bin Abdul Aziz dan berkata, ”Saya bermimpi melihat Rasulullah Saw. dalam tidurku. Dalam mimpi itu, aku melihat Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. ada disamping kanan Rasulullah, sedangkan Umar bin Khaththab Ra. disamping kirinya. Tiba-tiba kedua orang itu berselisih pendapat, sedangkan engkau (Umar bin Abdul Aziz) duduk di depan Rasulullah. Rasulullah Saw. berkata kepadamu, ’Wahai Umar, jika nanti kamu menjadi penguasa, maka berbuatlah sebagaimana kedua orang ini (Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab) berbuat.”

Untuk meyakinkan kebenaran mimpi itu, Umar meminta orang itu untuk bersumpah dengan nama Allah. Orang itu kemudian bersumpah atas nama Allah. Maka Umar pun menangis.

Sebagaimana sifat para nabi dan salafush shalih, Umar bin Abdul Aziz amat benci pada perbuatan dusta, karena dusta selalu akan mendatangkan bencana bagi pelakunya dan umat manusia. Ibrahim as-Sakuni menceritakan bahwa Umar pernah berkata, ”Aku tak pernah berdusta sejak aku tahu bahwa dusta itu akan mendatangkan bencana bagi pelakunya.”

Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang sangat takut kepada Allah Swt. Istrinya bercerita, bahwa jika Umar masuk rumah, maka dia aka berbaring di tempat shalat sunnahnya. Dia terus menangis hingga akhirnya tertidur. Al-Walid bin Abi as-Saib berkata, ”Saya tidak pernah melihat orang yang lebih takut kepda Allah daripada Umar bin Abdul Aziz.”

Menjadi Khalifah
Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai Khalifah berdasarkan surat wasiat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik pada tahun 99 H. Waktu itu Umar bin Abdul Aziz baru berumur 37 tahun. Dia menjabat Khalifah selama dua tahun lima bulan sebagaimana masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. Di masa pemerintahannya, Umar telah memenuhi dunia dengan keadilan, mengembalikan semua harta yang diambil secara tidak halal pada masa kekhalifahan sebelumnya. Beliau menghapus tradisi jahiliyah dan membangun tradisi Islam.

Umar bin Abdul Aziz tidak mau menduduki kursi kekuasaan sebelum menanggalkan sikap kesewenang-wenangan si kuat terhadap si lemah dan membatalkan tradisi jahiliyah yang selama ini dianut oleh keluarganya yang diwarisi oleh para pemimpin sebelumnya yang berlaku zalim kepada rakyatnya. Ia telah mengubah tradisi buruk itu dan menggantinya dengan perilaku mulia yang seharusnya ditempuh oleh seorang Amirul Mukminin.

Ketika dirinya dinyatakan sebagai pengganti Sulaiman bin Abdul Malik, Umar terkulai lemas dan berkata, ”Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah memohon perkara ini kepada Allah satu kali pun.”

Hal itu dinyatakannya di hadapan rakyatnya sesaat setelah ia dibaiat, ”Saudara-saudara sekalian, saat ini saya batalkan pembaiatan yang saudara-saudara berikan kepada saya, dan pilihlah sendiri Khalifah yang kalian inginkan selain saya.” Hal itu dilakukan lantaran Umar tidak mau memangku jabatan sebelum ada kerelaan dari umat atas penunjukan dirinya sebagai Khalifah. Namun, rakyat tetap pada keputusannya, yaitu membaiat Umar bin Abdul Aziz.

Dikisahkan oleh Umar bin Muhajir, sesaat setelah Umar bin Abdul Aziz dibaiat menjadi Khalifah, ia berdiri di hadapan khayalak, lalu memuji Allah dan berkata, ”Wahai hadirin sekalian, sesungguhnya tidak ada satu kitab suci pun setelah Al-Qur`an, dan tidak akan ada nabi setelah Muhammad Saw. Ketahuilah bahwa saya bukan pembuat undang-undang. Saya hanyalah seorang pelaksana. Saya juga bukan orang yang membuat ajaran-ajaran baru (bid’ah), saya hanyalah sebagai pengikut. Saya bukanlah orang terbaik di antara kalian. Justru saya adalah orang yang memilkul beban berat. Sesungguhnya orang yang melarikan diri dari seorang pemimpin yang zalim, dia bukan orang zalim. Ketahuilah bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk apabila dia berada dalam kemaksiatan.” Wallahu a'lam bishshawab. (Bersambung).

Umar bin Abdul Aziz: Kebijakan Politiknya Rahmat bagi Semesta Alam (2)
Rubrik: Taujihat Tgl: 17/5/2005

Oleh Syamsu Hilal

Setelah menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz melakukan gebrakan yang tidak diduga sebelumnya, terutama oleh keluarga, famili, dan orang-orang terdekatnya. Banyak orang yang tercengang melihat kebijakan-kebijakan beliau yang tidak biasa dilakukan oleh orang-orang yang tengah berkuasa.


PKS Online: Di antara kebijakan-kebijakan politiknya antara lain:

1. Menolak fasilitas kekhalifahan untuk dirinya yang dianggapnya berlebihan. Para petugas kekhalifahan yang hendak mengawalnya dengan kendaraan khusus mendapatkan sesuatu yang di luar dugaan. Umar menolak kendaraan dinas, dan meminta kepada salah seorang di antara mereka untuk mendatangkan binatang tunggangannya.

Al-Hakam bin Umar mengisahkan, ”Saya menyaksikan para pengawal datang dengan kendaraan khusus kekhalifahan kepada Umar bin Abdul Aziz sesaat dia diangkat menjadi Khalifah. Waktu itu Umar berkata, ’Bawa kendaraan itu ke pasar dan juallah, lalu hasil penjualan itu simpan di Baitul Maal. Saya cukup naik kendaran ini saja (hewan tunggangan).’”

’Atha al-Khurasani berkata, ”Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pelayannya untuk memanaskan air untuknya. Lalu pelayannya memanaskan air di dapur umum. Kemudian Umar bin Abdul Aziz menyuruh pelayannya untuk membayar setiap satu batang kayu bakar dengan satu dirham.”
’Amir bin Muhajir menceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz akan menayalakan lampu milik umum jika pekerjaannya berhubungan dengan kepentingan kaum Muslimin. Ketika urusan kaum Muslimin selesai, maka dia akan memadamkannya dan segera menyalakan lampu miliknya sendiri.

Al-Hakam bin Umar meriwayarkan bahwa Umar bin Abdul Aziz memiliki 300 penjaga. Umar berkata kepada para pengawalnya, ”Sesungguhnya aku memiliki penjaga untuk kalian dan untukku, juga ada penjaga ajalku. Maka, siapa yang ingin tetap berada di sini, tetaplah di sini, dan siapa yang ingin pulang, pulanglah kepada keluarga kalian.”

2. Menerapkan pola hidup sederhana, khususnya untuk diri dan keluarganya. Yunus bin Abi Syaib berkata, ”Sebelum menjadi Khalifah tali celananya masuk ke dalam perutnya yang besar. Namun, ketika dia menjadi Khalifah, dia sangat kurus. Bahkan jika saya menghitung jumlah tulang rusuknya tanpa menyentuhnya, pasti saya bisa menghitungnya.”

Hal senada diungkapkan putranya, Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz ketika ditanya oleh Abu Ja’far al-Manshur perihal jumlah kekayaan ayahnya. Ja’far bertanya, ”Berapa kekayaan ayahmu saat mulai menjabat sebagai Khalifah?” Abdul Aziz menjawab, ”Empat puluh ribu dinar.” Ja’far bertanya lagi, ”Lalu berapa kekayaan ayahmu saat meninggal dunia?” Jawab Abdul Aziz, ”Empat ratus dinar. Itu pun kalau belum berkurang.”

Kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz dalam kehidupan benar-benar diilhami oleh perilaku hidup sederhana Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Beliau sangat sederhana dalam berpakaian. Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik menjenguk Umar bin Abdul Aziz yang sedang sakit. Maslamah melihat pakaian Umar sangat kotor. Maslamah berkata kepada istri umar, Fathimah binti Abdul Malik, ”Tidakkah engkau cuci bajunya?” Fathimah menjawab, ”Demi Allah, dia tidak memiliki pakaian lain selain yang ia pakai.”

Pada kesempatan lain Umar bin Abdul Aziz shalat Jum’at di masjid bersama orang banyak dengan baju yang bertambal di sana-sini. Salah seorang jamaah bertanya, ”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadamu kenikmatan. Mengapa tak mau kau pergunakan walau sekedar berpakaian bagus?”
Umar bin Abdul Aziz tertunduk sejenak, lalu dia mengangkat kepalanya dan berkata, ”Sesungguhnya berlaku sederhana yang palin baik adalah pada saat kita kaya dan sebaik-baik pengampunan adalah saat kita berada pada posisi kuat.”

Umar bin Abdul Aziz juga sangat sederhana dalam makanan. Seorang pelayan Umar, Abu Umayyah al-Khashy berkata, ”Saya datang menemui istri Umar dan dia memberiku makan siang dengan kacang adas. Saya katakan kepadanya, ’Apakah setiap hari tuan makan dengan kacang adas?’” Fathimah menjawab, ”Wahai anakku, inilah makanan tuanmu, Amirul Mukminin.”

’Amr bin Muhajir berkata, ”Uang belanja Umar bin Abdul Aziz setiap harinya hanya dua dirham.” Sedangkan Yusuf bin Ya’qub al-Khalil berkata, ”Umar bin Abdul Aziz memakai pakaian dari bulu unta yang pendek. Sedangkan penerangan rumahnya terdiri dari tiga bambu yang di atasnya ada tanah.”

Umar bin Abdul Aziz juga senantiasa mengerjakan urusan-urusan kecil yang sebenarnya tidak pantas dikerjakan oleh seorang Amirul Mukminin. Seperti diungkapkan oleh Abu Umayyah bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah masuk ke satu kamar mandi. Tiba-tiba kamar mandi itu rusak, maka dia memberperbaikinya sendiri.

3. Menghapuskan hak-hak istimewa yang diberikan kepada keluarganya. Umar mengumpulkan Bani Marwan dan berkata, ”Sesungguhnya Rasulullah Saw. memiliki tanah fadak, dan dari tanah itu dia memberikan nafkah kepada keluarga Bani Hasyim. Dan dari tanah itu pula Rasulullah Saw. mengawinkan gadis-gadis di kalangan mereka. Suatu saat, Fathimah memintanya untuk mengambil sebagian dari hasil tanah itu, tapi Rasulullah Saw. menolaknya.

Demikian pula yang dilakukan Abu Bakar Ra. dan Umar Ra. Kemudian harta itu diambil oleh Marwan dan kini menjadi milik Umar bin Abdul Aziz. Maka saya memandang bahwa suatu perkara yang dilarang Rasulullah Saw. melarangnya untuk Fathimah adalah bukan menjadi hakku. Saya menyatakan kesaksian di hadapan kalian semua, bahwa saya telah mengembalikan tanah tersebut sebagaimana pada zaman Rasulullah Saw.” (Kisah ini diriwayatkan dari Mughirah).

Al-Awza’i meriwayatkan, ketika Umar bin Abdul Aziz menghapuskan hak-hak istimewa kepada anggota keluarganya, mereka berusaha membujuk Umar untuk mengembalikan hak tersebut. Umar berkata, ”Harta yang ada padaku tak cukup untuk kalian. Sedangkan mengenai harta kaum Muslimin ini, maka hak kalian sama dengan hak kaum Muslimin yang berada di ujung dunia.”

Wahib al-Wadud mengisahkan, suatu saat beberapa kerabat Umar bin Abdul Aziz dari Bani Marwan mendatangi rumah Umar. Saat itu Umar tengah uzur tak bisa menemui mereka. Lalu mereka berpesan kepada anaknya yang bernama Abdul Malik, ”Tolong katakan kepada ayahmu bahwa para Khalifah terdahulu selalu memberikan keistimewaan dan uang kepada kami, karena mereka tahu kedudukan kami. Sementara ayahmu kini telah menghapuskannya.”

Abdul Malik lalu menyampaikan hal itu kepada ayahnya. Setelah kembali, Abdul Malik berkata kepada mereka, ”Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku” (Umar mengutip firman Allah QS Al-An’am: 15).

Salah seorang famili Umar bin Abdul Aziz yang bernama ’Anbasah bin Said al-’Ash menemuinya untuk menyampaikan keluhannya, ”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya para Khalifah sebelum kamu biasa menanggung kebutuhan-kebutuhan kami, tapi kini kamu menghapuskan kebiasaan itu untuk kami, padahal kami memiliki keluarga. Apakah kamu izinkan saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami?” Umar menjawab, ”Sesungguhnya orang yang paling dicintai di antara kamu adalah orang yang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri.”

Lalu Umar bin Abdul Aziz menasehatinya, ”Perbanyaklah mengingat mati. Karena jika kamu berada dalam kesempitan hidup, maka kamu akan merasa lapang. Dan jika kamu berada dalam kelapangan hidup, maka kamu akan merasa sempit.”

4. Mengembalikan harta kekayaan yang dimilikinya dan keluarganya kepada Baitul Maal. Suatu saat, Umar bin Abdul Aziz memanggil istrinya, Fathimah binti Abdul Malik yang memiliki banyak perhiasan berupa intan dan mutiara, ”Wahai istriku, pilihlah olehmu, kamu kembalikan perhiasan-perhiasan ini ke Baitul Maal atau kamu izinkan saya meninggalkan kamu untuk selamanya. Aku tidak suka bila aku, kamu, dan perhiasan ini berada dalam satu rumah.” Fathimah menjawab, ”Saya memilih kamu daripada perhiasan-perhiasan ini. Bahkan bila lebih dari itu pun aku tetap memilih kamu.”

5. Mengangkat orang-orang saleh di jajaran pemerintahannya. Setelah mencopot Khalid sebagai pengawal kekhalifahan lantaran telah menghukum orang tidak sesuai dengan kesalahannya, Umar bin Abdul Aziz meminta ’Amr bin Muhajir untuk menjadi salah seorang pengawalnya. Umar berkata, ”Wahai ’Amr, engkau tahu bahwa antara saya dan kamu tidak ada hubungan kekerabatan, kecuali kerabat dalam Islam. Namun, saya mendengar bahwa kamu banyak membaca ayat-ayat Al-Qur`an, dan saya melihat kamu melakukan shalat di suatu tempat yang kamu kira tidak ada seorang pun yang dapat melihatmu. Saya melihat kamu melakukan shalat dengan baik. Dan kamu adalah salah seorang dari golongan Anshar. Ambillah pedang ini dan sejak saat ini kau kuangkat sebagai pengawalku.”

6. Menolak suap dalam bentuk apa pun. ’Amr bin Muhajir meriwayatkan, suatu saat Umar bin Abdul Aziz ingin makan apel, kemudian salah seorang anggota keluarganya memberi apel yang diinginkan. Lalu Umar berkata, ”Alangkah harum aromanya. Wahai pelayan, kembalikan apel ini kepada si pemberi dan sampaikan salam saya kepadanya bahwa hadiah yang dikirim telah sampai.”

’Amr bin Muhajir mempertanyakan sikap Umar tersebut, ”Wahai Amirul Mukminin, orang yang memberi hadiah apel itu tak lain adalah sepupumu sendiri dan salah seorang yang masih memiliki hubungan kerabat yang sangat dekat denganmu. Bukankah Rasulullah Saw. juga menerima hadiah yang diberikan orang lain kepadanya?”

Umar bin Abdul Aziz menjawab, ”Celaka kamu, sesungguhnya hadiah yang diberikan kepada Rasulullah Saw. adalah benar-benar hadiah, sedangkan yang diberikan kepadaku ini adalah suap.”

7. Menolak sistem kekhalifahan yang diwariskan secara turun-temurun. Ja’unah mengatakan, suatu ketika Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz, putranya, meninggal dunia. Umar memujinya. Lalu Ja’unah bertanya kepada Umar, ”Apakah jika dia masih hidup, kamu akan mewasiatkan agar dia menjadi penggantimu?”
Umar menjawab, ”Tidak.”

”Lalu mengapa kamu memujinya?” tanya Ja’unah lagi.

”Karena saya khawatir, bila saya mengangkatnya, dia akan dihormati lantaran ayahnya dihormati,” jawab Umar.

8. Menghapuskan budaya materialistik di kalangan pejabat. Putra Umar bin Abdul Aziz yang bernama Abdul Aziz mengisahkan, beberapa orang bawahan Umar menulis surat kepadanya. Di antara isi suratnya berbunyi, ”Sesungguhnya kota telah rusak. Jika Amirul Mukminin memberikan kepada kami sejumlah uang agar kami memperbaiki kota itu, maka kami akan melakukannya.” Umar membalas surat itu, ”Jika kamu membaca surat ini, maka jangalah kota itu dengan cara kamu berlaku adil dan bersihkan jalan-jalannya dari kezaliman. Karena itulah sebenar-benar perbaikan.”

9. Melakukan amar ma’ruf nahi munkar secara bijaksana. Suatu ketika Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz, salah seorang putra Umar, menemui ayahnya, dan berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, jawaban apa yang engkau persiapkan di hadapan Allah Swt. di hari Kiamat nanti, seandainya Allah menanyakan kepadamu, ’Mengapa engkau melihat bid’ah, tapi engkau tidak membasminya, dan engkau melihat Sunnah, tapi engkau tidak menghidukannya di tengah-tengah masyarakat?’”
Umar menjawab, ”Semoga Allah Swt. mencurahkan rahmat-Nya kepadamu dan semoga Allah memberimu ganjaran atas kebaikanmu. Wahai anakku, sesungguhnya kaummu melakukan perbuatan dalam agama ini sedikit demi sedikit. Jika aku melakukan pembasmian terhadap apa yang mereka lakukan, maka aku tidak merasa aman bahwa tindakanku itu akan menimbulkan bencana dan pertumpahan darah, serta mereka akan menghujatku. Demi Allah, hilangnya dunia bagiku jauh lebih ringan daripada munculnya pertumpahan darah yang disebabkan oleh tindakanku. Ataukah kamu tidak rela jika datang suatu masa, dimana ayahmu mampu membasmi bid’ah dan menghidupkan Sunnah?”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Ja’unah, Umar bin Abdul Aziz berpesan kepada ’Amr bin Qais sebagai pejabat baru di Ash-Shaifah, ”Terimalah orang yang baik di antara mereka, dan ampunilah orang-orang jahatnya. Janganlah kamu berada di bagian paling depan di kalangan mereka, sehingga kamu dibunuh, dan jangan pula menjadi orang yang berdiri di bagian paling belakang, sehingga kamu akan gagal. Jadilah di tengah-tengah dimana posisimu dapat dilihat dan suaramu dapat didengar.”

Ibnu Asakir juga meriwayatkan dari As-Saib bin Muhammad, Al-Jarrah bin Abdullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz sebagai berikut: Sesungguhnya orang-orang Khurasan adalah orang-orang yang sulit diatur, kecuali dengan pedang dan cemeti. Jika Amirul Mukminin mengizinkanku memerintah mereka dengan pedang dan cemeti, maka saya akan lakukan.

Dalam surat balasannya, Umar bin Abdul Aziz menulis: Telah sampai surat yang kaum kirimkan kepadaku yang menyebutkan bahwa penduduk Khurasan tidak bisa diatur kecuali dengan pedang dan cemeti. Namun, saya yakin bahwa apa yang kamu katakan itu adalah bohong. Mereka pasti bisa diatur dan diperbaiki dengan keadilan dan kebenaran. Maka, sebarkanlah itu di antara mereka.

10. Menegakkan keadilan dan mengabdikan diri untuk menyejahterakan umat. Tekad Umar bin Abdul Aziz untuk menyejahterakan rakyatnya dan menegakkan keadilan adalah prioritas utama. Fathimah binti Abdul Malik, istrinya, pernah menemuinya sedang menangis di tempat shalatnya. Lalu istrinya berusaha membesarkan hatinya. Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Wahai Fathimah, sesungguhnya saya memikul beban umat Muhammad dari yang hitam hingga yang merah. Dan saya memikirkan persoalan orang-orang fakir dan kelaparan, orang-orang sakit dan tersia-siakan, orang-orang yang tak sanggup berpakaian dan orang yang tersisihkan, yang teraniaya dan terintimidasi, yang terasing dan tertawan dalam perbudakan, yang tua dan yang jompo, yang memiliki banyak kerabat, tapi hartanya sedikit, dan orang-orang yang serupa dengan itu di seluruh pelosok negeri. Saya tahu dan sadar bahwa Rabbku kelak akan menanyakan hal ini di hari Kiamat. Saya khawatir saat itu saya tidak memiliki alasan yang kuat di hadapan Rabbku. Itulah yang membuatku menangis.”

Keseriusan Umar bin Abdul Aziz dalam menegakkan keadilan dapat disimak dalam tafsir yang ditulis Ibnu Abi Hatim. Dalam kitab itu disebutkan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz memanggilnya dan berkata, ”Katakan kepadaku tentang keadilan.”
Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi berkata, ”Engkau telah menanyakan suatu perkara yang sangat besar. Jadilah engkau kepada anak kecil laksana seorang ayah, dan kepada orangtua laksana seorang anak kecil. Sedangkan kepada yang sebaya laksana seorang saudara, demikian pula kepada kaum wanita. Berilah manusia sanksis sesuai dengan kesalahanya, dan sesuai dengan kondisi fisiknya. Janganlah kamu memukul seseorang dengan satu cemeti pun karena kemarahanmu, sehingga kamu akan dianggap sebagai orang yang melampaui batas.”

Malik bin Dinar berkata, ”Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah, para penggembala domba dan kambing berkata, ”Siapa orang saleh yang kini menjadi Khalifah umat ini? Keadilannya telah mencegah serigala memakan domba-domba kami.”

Musa bin A’yun bercerita, ”Kami pernah menggembalakan domba-domba kami di Karman pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Saat itulah antara serigala dan domba berada di satu tempat. Namun, pada suatu malam kami mendapatkan seekor serigala telah memangsa seekor domba. Maka saya katakan, ’Pasti lelaki saleh itu kini telah meninggal. Lalu mereka mengaitkan kejadian itu dengan hari wafatnya Umar bin Abdul Aziz yang ternyata dia memang meninggal di malam saat serigala mulai memakan domba.”

Kisah ini dapat dimaknai bahwa pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz umat dan masyarakat hidup dalam keadaan sejahtera dan berkecukupan. Keadilan ditegakkan. Sehingga tidak ada orang yang merasa dizalimi atau dicurangi yang mengakibatkan munculnya pertikaian dan tindak kriminalitas.

Selama pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, umat dan masyarakat berada dalam kemakmuran. Tidak ada orang miskin dan terabaikan. Tak ada orang yang kelaparan. Semuanya hidup serba kecukupan. Hal ini diungkapkan oleh Umar bin Usaid, ”Demi Allah, Umar bin Abdul Aziz tidak meninggal dunia hingga seorang laki-laki datang kepada kami dengan sejumlah harta dalam jumlah besar dan berkata, ’Salurkan harta ini sesuai kehendakmu.’ Ternyata tak ada seorang pun yang berhak menerimanya. Sungguh Umar bin Abdul Aziz telah membuat manusia hidup berkecukupan.”

11. Melestarikan lingkungan hidup. Jisr al-Qashshab berkata, ”Saya melihat serigala dan kambing hidup damai di masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Lalu saya katakan, ’Subhanallah! Ternyata serigala sama sekali tidak berbahaya berada di tengah-tengah kambing?’”

Secara tekstual, pernyataan Jisr al-Qashshab ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa Umar bin Abdul Aziz benar-benar memperhatikan aspek lingkungan hidup, dimana semua makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan mendapatkan keadilan. Karena hutan dilestarikan, maka binatang-binatang liar seperti serigala tak perlu turun ke desa untuk mencari mangsa. Hewan-hewan tersebut telah mendapatkan segala apa yang dibutuhkan.

12. Menolak nepotisme. Al-Azwa’i menceritakan suatu ketika Umar bin Abdul Aziz duduk di rumahnya bersama para pembesar Bani Umayyah. Umar berkata, ”Sukakah jika kalian aku jadikan salah seorang pemimpin pasukan?” Mereka menjawab, ”Mengapa kau tawarkan kepada kami sesuatu yang kamu sendiri tidak mengerjakannya?” Umar berkata, ”Tidakkah kalian melihat hamparan tempat saya kini berada? Sesungguhnya saya menyadari sepenuhnya bahwa ia akan hancur dan sirna. Dan saya tidak suka bila tempat ini dikotori oleh kaki-kaki kalian. Lalu bagaimana mungkin akan saya jadikan kalian sebagai pemimpin dan pengawas orang-orang. Tidak mungkin. Dan jangan harap itu terjadi.”

Para pembesar itu berkata, ”Mengapa tidak? Bukankah kita memiliki hubungan kerabat? Bukankah kita juga berhak?”

Umar berkata, ”Antara kamu sekalian dan orang yang berada jauh di ujung dunia dalam pandanganku adalah sama. Tidak ada bedanya.”

13. Menghukum orang sesuai dengan kesalahannya. Yahya al-Ghassani menceritakan, ketika masih menjabat sebagai gubernur, Umar bin Abdul Aziz pernah melarang Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik untuk membunuh orang-orang Haruri (kaum Khawarij yang bermarkas di Desa Haruri). Umar memberi saran kepada Khalifah, ”Penjarakan saja orang-orang itu hingga mereka bertaubat.”
Lalu Sulaiman bin Abdul Malik mendatangkan salah seorang Haruri dan menyuruh orang itu bicara. Haruri itu berkata, ”Apa yang harus saya katakan wahai orang fasik anaknya orang fasik.” Ucapan orang Haruri itu diulanginya lagi di hadapan Umar bin Abdul Aziz.

Sulaiman bin Abdul Malik berkata kepada Umar, ”Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?”
Umar bin Abdul Aziz diam. Sulaiman berkata lagi, ”Saya ingin kamu menyampaikan pendapatmu tentang orang ini sekarang juga.”

Umar berkata, ”Cacilah dia sebagaimana dia mencacimu.”

Sulaiman berkata, ”Persoalannya tidak semudah itu.” Kemudian Sulaiman menyuruh pengawalnya untuk memenggal kepala Haruri.

Umar bin Abdul Aziz keluar dari ruangan itu dan bertemu dengan Khalid, pengawal Khalifah. Khalid berkata, ”Wahai Umar, bagaimana mungkin kamu menyuruh Khalifah untuk mencaci Haruri sebagaimana dia mencaci Khalifah? Demi Allah, tadinya saya mengira Khalifah akan menyuruhku untuk memenggal kepalamu.”

Umar bertanya kepada Khalid, ”Apa yang akan kamu lakukan seandainya Khalifah benar-benar menyuruhmu memenggal kepalaku?”
Pengawal itu berkata, ”Demi Allah, saya pasti akan lakukan itu.”

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah, Khalid datang menemuinya untuk bertugas sebagai pengawal Umar. Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Khalid, ”Letakkan pedang itu!” Lalu dilanjutkan dengan berdoa, ”Ya Allah, saya telah mencopot pedang itu dari Khalid dan saya memohon kepada-Mu janganlah Engkau angkat pedang itu untuk selamanya.”

Yahya al-Ghassani menceritakan, saat Umar bin Abdul Aziz mengangkatku sebagai pejabat di Mosul, aku mendapatkan wilayah itu dipenuhi tindak kriminal yang sangat tinggi. Lalu aku menulis surat untuk meminta nasehat kepada Umar apakah harus menghukum mereka dengan prasangka dan tuduhan tanpa bukti konkrit, atau dengan bukti-bukti dan keterangan yang jelas sebagaimana diajarkan di dalam Sunnah Rasulullah Saw.?”
Umar bin Abdul Aziz lalu mengirim surat balasan yang isinya perintah agar aku melakukan proses hukum berdasarkan fakta sesuai dengan Sunah Rasulullah Saw. ”Jika kebenaran dan keadilan tidak juga mampu menghadirkan perbaikan kepada mereka, maka jangan harap mereka akan menjadi baik,” jelas Umar.

Yahya menambahkan, ”Tatkala aku melakukan apa yang diperintahkan Umar, Mosul menjadi satu wilayah yang paling sedikit memiliki kasus tindak kriminal.”

Wallahu a'lam bishshawab

Comments :

0 komentar to “Umar bin Abdul Aziz 1”

Posting Komentar


Jadwal Sholat

 

Copyright © 2009 by DPC PKS Gajahmungkur Rindu Semarang Berubah Powered By Blogger Design by PKSGM-Team