Simple Template For Entertainment News


Tempat Informasi Kegiatan Kader DPC PKS Gajahmungkur


GALLERY


Jumat, 11 Desember 2009

Merencanakan Reuni Keluarga Di Surga

Orientasi Berumah Tangga

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim (66): 6)

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami mempertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia tergantung dengan apa yang dikerjakannya.” (QS Ath-Thur : 21)

Nabi Ibrahim sudah membangun rumah keluarganya di surga. Nabi Muhammad sudah pasti tidak diragukan lagi. Sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga pun mengikuti. Haritsan bin Nu’man sudah terdengar tilawahnya di surga. Dan masih banyak kisah-kisah lainya.

Berumah tangga bukan sekadar menjalankan fungsi ayah-ibu dan anak. Bukan pula semata proses penyatuan cinta kasih, menjalin romantisme dan harmonisme dalam sebuah keluarga yang baru. Berumah tangga adalah untuk beribadah kepada Allah, menjaga kesucian diri, dan merealisasikan amal bahwa berkeluarga adalah bagian dari sebuah gerakan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Sehingga, pusat perhatiannya dalam berkeluarga adalah meningkatkan kualitas ruhiyah, fikriyah, nafsiyah (emosi kejiwaan), jasadiyah, dan sosialisasi setiap anggota keluarganya.

Karena itu, membangun keluarga sakinah mawadah wa rahmah (samara) adalah sasaran yang ingin dicapai seorang muslim dalam membentuk berkeluarga. Dalam keluarga yang samara itulah kita akan melahirkan pribadi islami untuk saat ini dan masa depan.

Sebuah rumah tangga dibentuk karena ada orientasi di dalamnya. Dan orientasi yang terbaik, tentu saja mengimpikan kenikmatan yang tidak hanya untuk di dunia belaka, tetapi juga di akherat. Yakni berkumpulnya keluarga di Jannah An Na’iim; surga yang penuh kenikmatan; berkumpulnya ayah, istri, dan anak-anak yang shalih di taman Firdaus yang indah. Merencanakan rumah tangga akherat adalah membangun rumah tangga dunia dengan pemimpin yang beriman, yang dikelilingi oleh anak-anak yang shalih.

Menurut Ustadz Muhammad Ilyas, Lc, berkeluarga perlu dilandasi dengan niatan yang tepat. Ibarat sebuah gedung, niat adalah pondasinya. Sehingga kuat tidaknya sebuah keluarga dapat ditengok dari kuat tidaknya niatan seseorang untuk berkeluarga.

“Niat adalah yang pertama dalam segala hal. Lebih-lebih dalam membangun keluarga. Niat yang paling tepat ketika orang ingin menikah adalah karena Allah semata. Yakni menjalani hidup berkeluarga dalam rangka mengharap ridho Allah semata. Dengan begitu, ketika ada permasalahan dalam keluarga, masing-masing dapat kembali melihat orientasi apa yang hendak diraihnya saat awal menikah dahulu”, kata Muhammad Ilyas, Lc saat ditemui Hadila di kantornya, Ma’had Abu Bakar Ash-shidiq Surakarta.

Menjaga Diri Dan Keluarga Dari Api Neraka

Suami adalah nahkoda dalam bahtera rumah tangga. Ia adalah pemimpin tertinggi dari sebuah keluarga. Ia bertanggung jawab menafkahi keluarganya. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam surat Annisa ayat 34 yang artinya :

kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Tugas pokok seorang kepala keluarga adalah menjaga agar tidak satupun anggota keluarganya tersentuh api neraka. Tugas berat ini tentu tak mungkin ditanggung oleh seorang kepala keluarga sendiri tanpa ada keinginan yang sama dari setiap anggota keluarga. Artinya, akan lebih mudah jika seorang suami beristri seorang muslimah yang punya visi yang sama: sama-sama ingin masuk surga tanpa tersentuh api neraka. Karena itu, hubungan suami-istri, orang tua dan anak, adalah hubungan saling tolong menolong. Saling tolong menolong agar tidak tersentuh api neraka. Tolong menolong. Itulah kata kunci pasangan samara dalam mengelola keluarga. Suami-istri itu akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam mengelola keluarga mereka. Sungguh indah gambaran pasangan suami-istri yang seperti ini. Suaminya penuh rasa tanggung jawab, istrinya mampu menjaga diri dan menempatkan diri.

Hal diatas, sebagaimana yang disampaikan ustadz Muhammad Ilyas, Lc. “karena seorang suami adalah seorang pemimpin, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dalam berkeluarga. Hal ini telah disabdakan Rosulullah, “Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang mereka.”

Dalam menjalankan fungsinya ini, seorang suami tidak boleh bersikap masa bodoh, keras, kaku dan kasar terhadap keluarganya. Bahkan sebaliknya, ia harus mengenakan perhiasan akhlak yang mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang. Meski pada dasarnya ia adalah seorang yang berwatak keras dan kaku, namun ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih lagi dengan istri dan anak-anaknya, ia harus bisa bersikap lunak agar mereka tidak menjauh dan berpaling.

Rumah tangga orang-orang dulu, selalu mengutamakan lahirnya anak-anak shalih di tengah-tengah mereka ketimbang kebutuhannya yang lain. Dalam keterbatasan, mereka bekerja keras agar anak-anak mereka menjadi orang yang berbakti dan berguna. Mereka senantiasa menjaga keshalihan dan kesucian agar kelak anak-anak mereka, juga tumbuh dengan iman dan akidah yang suci. Banyak ulama istimewa yang lahir dari rumah tangga-rumah tangga yang juga memang sangat istimewa.

Segalanya Bermula Dari Keluarga

Abdullah Nashih ‘Ulwan menegaskan proses itu dimulai saat seorang memilih pasangan hidup yang saleh dan salehah untuk bisa melahirkan generasi yang saleh dan salehah pula. Hal ini merupakan sinergi dan korelasi. Bahwa apa yang dilakukan sekarang atau jauh-jauh hari sebelum ini akan berimplikasi nanti. Karena segalanya bermula dari keluarga, maka sudah sepantasnyalah sebuah keluarga merencanakan reuninya di surga sejak keluarga itu dibentuk.

Para orang tua, pemilik dan pemimpin rumah tangga, perlu menyadari bahwa rumah tangga yang damai dan rumah tangga akherat tidak dibentuk dengan pendidikan belaka. Di dalamnya ada doa. Ada ketaatan kepada Allah. Ada usaha untuk menjaga kebersihan diri. Kita pasti merindukan sebuah keluarga yang kelak bisa bersatu kembali di kehidupan yang lebih kekal, di surganya Allah SWT. Seperti keluarga orang-orang shalih itu.

Orang-orang besar seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, Muslim dan yang lain, adalah orang-orang yang lahir dan dibesarkan dalam rumah tangga yang dipenuhi keharmonisan serta semangat untuk meraih kehidupan yang baik di akherat. Rumah tangga yang dibangun karena ketaatan kepada Allah. Bukan dari rumah tangga yang dibangun di atas pondasi syahwat terhadap pesona dunia.

Figur Suami Sholeh

Nabi Muhammad SAW adalah suami yang sangat dicintai istri-istrinya. Banyak nash dari hadist yang menyebutkan bahwa Nabi muhammad merupakan suami yang sangat membahagiakan. Nabi sendiri bersabda, ““Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku).”

Termasuk akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau sangat baik hubungannya dengan para istrinya. Wajahnya senantiasa berseri-seri, suka bersenda gurau dan bercumbu rayu dengan istri, bersikap lembut terhadap mereka dan melapangkan mereka dalam hal nafkah serta tertawa bersama istri-istrinya. Sampai-sampai, beliau pernah mengajak ‘Aisyah Ummul Mukminin berlomba, untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.

Demikian yang diperbuat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang Rasul pilihan, pemimpin umat, sekaligus seorang suami dan pemimpin dalam rumah tangganya. Kita dapati petikan kisah beliau dengan keluarganya, sarat dengan kelembutan dan kemuliaan akhlak. Sementara kita diperintah untuk menjadikan beliau sebagai contoh teladan.



Comments :

0 komentar to “Merencanakan Reuni Keluarga Di Surga”

Posting Komentar


Jadwal Sholat

 

Copyright © 2009 by DPC PKS Gajahmungkur Rindu Semarang Berubah Powered By Blogger Design by PKSGM-Team